
Sepulangnya Kevin dari rumah sakit dimana sang kakak di rawat, tanpa membuang waktu ia langsung mencari keberadaan dokter Alvin sahabatnya itu.
Sebagai ahli pelacak yang paling hebat di Dark Shadow, ternyata julukan itu memang cocok di miliki oleh Kevin. Dalam waktu 15 menit ia sudah dapat menemukan keberadaan Alvin, bahkan ia bisa mengetahui tempat yang Alvin tinggali dengan detail tanpa samar-samar lagi.
"Yosh!. Besok aku akan kerumah sakit dan akan memberitahu kabar gembira ini" ucap Kevin tersenyum penuh kemenangan.
_____________________________
Riski dan Windy ternyata sudah berada di kediaman Daniel. Mereka memang sengaja menunggu kepulangan Leny dari rumah sakit. Riski juga sangat mengkhawatirkan keadaan Daniel, pria yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri.
Leny baru saja sampai di rumah dan sudah di sambut oleh pasangan tersebut. Damin yang melihat kepulangan sang Ibunda, ia langsung tersenyum kegirangan dan ingin segera di gendong oleh Bundanya untuk melepaskan rasa rindunya sedari pagi yang tak kunjung bertemu.
Seketika rasa sedih yang menyelimuti hati Leny menghilang saat melihat wajah tampan dari sang putra yang begitu mirip dengan suaminya itu. Dengan langkah cepat Leny langsung menuju sang putra yang sudah menunggu di depan pintu bersama paman dan bibinya.
"Putraku..." ucap Leny sembari membentangkan kedua tangannya
Damin yang sudah sangat merindukan sang Ibunda langsung meronta-ronta dalam gendongan Windy yang tengah hamil tua itu.
"Sabar sayang, Bunda kamu akan kemari kok" bujuk Windy dan langsung mencium pipi keponakannya yang tampan itu
Saat sudah sampai di depan pintu, Damin langsung meminta Leny untuk menggendongnya, dengan semangat Leny langsung menggendong sang putra dan menghujani puluhan ciuman untuk putra kesayangannya itu.
"Bunda sangat merindukan kamu sayang" ucap Leny dengan gemas sembari terus menciumi seluruh wajah Damin, sedangkan Damin tertawa kegelian.
"Bagaimana keadaan Daniel Len?" tanya Riski yang sedari tadi sangat mengkhawatirkan keadaan dari saudaranya.
Raut wajah Leny seketika langsung berubah menjadi murung dan ia menjawab "Sangat parah kak, seluruh syarafnya hampir rusak, dan darah tak kunjung berhenti keluar dari mulutnya"
"Bahkan dokter memvonis bahwa kesempatannya untuk hidup hanya 35% saja" timpalnya semakin sedih
"APA?!" Riski sangat terkejut mendengar keadaan dari saudaranya itu
"Sebaiknya bawa saja ia ke rumah sakit yang berada di luar negeri. Cari dokter terbaik di dunia ini yang mampu menyembuhkan suami kamu" ucap Windy memberikan sebuah saran
Leny tersenyum dan berkata "Kamu tenang saja sayang, ternyata Daniel memiliki teman seorang dokter yang sangat terkenal dengan julukan si tangan ajaib"
"Benarkah?, sehebat apa dia?!" tanya Windy penasaran
"Kata dokter seseorang dokter yang memeriksa suamiku tadi, dia adalah sosok dokter yang sangat hebat dan sangat di hormati oleh dokter-dokter lain yang mengakui kehebatannya" jawab Leny
"Dan bukan orang yang sembarangan yang bisa bertemu dengannya" timpalnya
"Jadi bagaimana cara kalian untuk bisa bertemu dengannya?" tanya Riski
"Ayah Leo berkata bahwa suamiku lah yang dulu membiayai seluruh kuliahnya sampai ia menjadi seorang dokter yang sangat hebat di masa sekarang" jawab Leny
"Pasti dia sangat menghormati suamiku yang sudah berjasa dalam hidupnya" timpalnya tersenyum yakin
"Sehebat itukah kau kampret?!" gumam Riski tersenyum tipis
"Jadi sudah di pastikan kalau Daniel bisa sembuh?" tanya Riski lagi.
"Kata seorang dokter yang memeriksa Ayahnya Damin tadi, ia sangat yakin kalau dokter itu bisa menyembuhkannya" jawab Leny merasa yakin
"Mau cari dimana?" tanya Leny menarik sebelah alisnya
"Kevin masih mencari keberadaannya, dan kami semua sedang menunggu kabar baik darinya" timpalnya
"Udah-udah, ini sudah malam!. Leny pasti lelah, dan Damin juga butuh asi darinya. Mereka berdua butuh istirahat" sela Windy
Kemudian Windy langsung menggandeng tangan Leny dan masuk kedalam rumah mewah milik Daniel meninggalkan Riski sendirinya di luar.
"Oh iya. Sayang!.. malam ini kita menginap di sini ya, aku ingin menemani Leny dan Damin" ucap Windy seakan meminta izin pada sang suami
Tanpa pikir panjang Riski langsung mengiyakan permintaan dari Istrinya yang tengah hamil tua itu untuk menginap di kediaman Daniel.
_______________________________
Pagi harinya, Leny sudah bersiap-siap untuk segera pergi kerumah sakit tempat sang suami di rawat, dan hari ini dengan terpaksa Leny harus menitipkan putra kecilnya pada sahabatnya lagi karena usia Damin yang tak memungkinkan jika harus di bawa ke rumah sakit. Setelah memberikan asi pada sang putra, Leny langsung pamit pada sahabatnya dan menitipkan putra tercintanya pada mereka berdua.
"Damin sayang, Bunda pergi ketempat Ayah kamu dulu ya nak. Doain semoga Ayah kamu cepat sembuh agar bisa berkumpul kembali dengan kita sayang" ucap Leny sembari mengelus-elus kepala sang putra. Kemudian Leny menciumi wajah putra semata wayangnya itu, lalu ia pergi menuju rumah sakit.
"Windy, kak Riski. Aku titip putraku ya" ucap Leny
"Damin jangan nakal-nakal ya sayang, jangan buat kesal aunty dan paman kamu" timpalnya seakan memperingati
"Iya Bunda, Damin pasti gak nakal dan akan mendengarkan perkataan dari aunty dan paman" jawab Windy menirukan suara seorang anak kecil
Leny tersenyum dan berkata "Yaudah aku berangkat dulu ya. Bye.."
"Da.. Bunda, hati-hati di jalan ya, jaga Ayahnya Damin" ucap Leny yang melambaikan tangannya Damin
Leny langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dimana sang suami berada. Dengan buru-buru ia berusaha agar bisa segera sampai ke rumah sakit itu, agar ia bisa melihat kondisi dari sang suami.
Selang 1 jam, Leny sudah tiba di tempat parkir yang berada di rumah sakit itu. Setelah ia memarkirkan mobilnya, dengan buru-buru ia langsung menuju ruangan dimana sang suami di rawat.
Leny menggunakan lift dan menuju lantai 3, dimana sang suami di rawat. Sesampainya Leny di lantai 3, ia melihat keluarga besarnya sedang berdiri di depan pintu ruang ICU dimana sang suami di rawat.
Karena merasa sangat khawatir saat melihat raut wajah dari seluruh keluarganya, dengan buru-buru Leny langsung mendatangi mereka dan langsung melontarkan pertanyaan tentang keadaan sang suami pada mereka.
"Ada apa ini?!, kenapa kalian semua seperti terlihat sangat cemas?!" tanya Leny merasa khawatir.
"Saat dokter berkata kalau Daniel sudah boleh di jenguk, Ibu yang pertama masuk dan melihat keadaan suami kamu. Saat Ibu menggenggam tangannya, tiba-tiba tangannya bergerak" jawab Ibu Rani
"Lalu bagaimana keadaannya Bu?" tanya Leny lagi berubah menjadi panik
"Dokter sedang memeriksanya sayang" jawab Mama Yuni
Selang beberapa waktu, dokter yang memeriksa keadaan Daniel keluar dari ruangan ICU dengan raut wajah yang sangat terkejut, dan Leny langsung mendesak sang dokter agar segera memberi tahu kondisi dari suaminya
"Bagaimana keadaan suamiku dok?" tanya Leny penuh rasa khawatir
"Kondisinya sedikit lebih baik, jantungnya juga sudah berdetak normal, namun syarafnya masih belum bisa di tangani. Kita harus segera membawanya pada dokter Alvin agar tuan Daniel bisa segera di sembuhkan" jawab sang dokter panjang lebar menjelaskan.