
Leny, Wulan, Fauzi, Kevin, dan juga Alvin langsung buru-buru menuju ke bandara internasional Narita. Mengingat kondisi Daniel yang masih dalam keadaan sangat parah, tak ada waktu bagi mereka berlima untuk bersantai-santai, apalagi istirahat hanya untuk sekedar mengisi perut.
Pikiran mereka hanya tertuju pada Daniel yang tengah berjuang melawan penyakitnya itu. Leny juga tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan sang suami yang sangat ia cintai itu.
Kini mereka berlima sudah tiba di bandara internasional Narita yang berada di negara sakura tersebut. Tanpa membuang waktu mereka langsung masuk kedalam pesawat mewah milik Daniel dan sang pilot langsung membawa mereka terbang jauh meninggalkan negara yang di juluki negeri sakura itu.
Wulan yang sadar akan raut wajah kakaknya yang tampak sangat lelah pun menyarankan sang kakak untuk tidur, karena perjalanan mereka untuk sampai ke Indonesia masih butuh waktu beberapa jam kedepan.
Berbeda dengan kedua adik laki-lakinya Leny. Tanpa di suruh untuk istirahat, justru mereka sudah mengorok terlebih dulu sampai suara dengkuran mereka membuat Leny menjadi sulit untuk memejamkan matanya.
"Dasar adik-adik durhaka" keluh Leny yang langsung melemparkan sebuah bantal yang berada di dekatnya
Kevin dan Fauzi langsung terbangun dari mimpi indahnya karena merasakan ada sebuah benda yang jatuh tepat mengenai kepala mereka berdua.
"Kalau tidur, jangan pakai panduan suara ya!" tegur Leny dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Alvin hanya tersenyum sambil menggeleng saja melihat kedua sahabatnya yang di marahi oleh istri sang pemimpin mereka itu.
"Memangnya apa yang kami lakukan kak?" tanya Kevin yang memang tak tau apa yang telah lakukan
"Pakai menjawab lagi!" tegur Leny lagi
"Ya kan kami gak tau apa kesalahan kami" sambung Fauzi yang juga bingung
"Dengkuran kalian mengganggu nona muda" jawab Alvin menjelaskan
"Tu, udah di jawab kan!. Suara kalian membuat mataku sulit untuk terpejam" protes Leny menyilangkan kedua kakinya
"Iya kak maaf" ucap Kevin dan Fauzi secara bersamaan
"Hmm" jawab Leny dan langsung membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan dirinya
Perlahan Leny sudah mulai bisa tertidur dan bisa melupakan kesedihan yang ia alami meskipun hanya sebentar, tapi untuk ketiga adiknya sudah membuat mereka lebih baik. Mengingat betapa hancurnya Leny saat melihat keadaan suaminya yang sudah berada di ujung tanduk. Jika mereka tidak mempunyai seorang Alvin si pria bertangan ajaib, mungkin nyawa Daniel semakin sulit untuk di tolong.
Malam hari pun tiba. Pesawat mewah yang mereka gunakan juga sudah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Dengan perlahan sang pilot menurunkan pesawat yang ia terbangkan itu.
Pesawat mewah itupun sudah berada di atas tanah tanpa ada kendala sedikitpun, karena memang pilot itu adalah pilot pribadi milik keluarga Daniel, jadi Daniel tak akan memilih orang yang sembarangan untuk merawat dan menerbangkan pesawat mewah miliknya.
Mobil yang akan membawa mereka juga sudah menunggu di luar bandara. Dengan buru-buru mereka berlima langsung masuk kedalam mobil mewah berwarna hitam itu dan segera meluncur ke rumah sakit tempat dimana Daniel sedang berjuang.
Perjalanan menuju rumah sakit ternyata sedikit mengalami kemacetan yang membuat Leny menjadi sedikit kesal karena ia sudah sangat merindukan sang suami, namun harus terhalangi oleh puluhan kendaraan di sekitarnya.
"Arkk!! pake macet segala!" keluh Leny dengan nada kesalnya
"Sabar kak, sebentar lagi juga sampai kok" bujuk Wulan mencoba menenangkan sang kakak
"Gimana mau bisa tenang dek. Ini macet parah loh!. Mana rumah sakit masih jauh lagi" jawab Leny mengeluh
"Tenang kak tenang" bujuk Wulan lagi
"Oo.. Jadi si kampret-kampret ini biang masalahnya" ucap Leny menatap geram kearah kegaduhan itu
Karena ukuran truk itu yang begitu besar dan terparkir sembarangan di tengah jalan, sulit bagi kendaraan lain untuk melewatinya. Mobil yang di tumpangi oleh Leny dan yang lainnya juga terpaksa terhenti tepat di belakang truk itu.
Leny semakin lama semakin geram karena ia sudah sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami, namun ada aja penghalang di depannya. Tanpa pikir panjang, ia langsung keluar dan berniat untuk melabrak keduanya yang telah membuat kemacetan di tengah jalan.
Alvin, kevin, Fauzi, dan Wulan terkejut melihat Leny yang tiba-tiba langsung keluar, bahkan ia langsung menuju ke tempat pertikaian itu terjadi. Ketiga adiknya yang sudah hafal akan sifat kakaknya hanya menggeleng saja melihatnya, namun tidak dengan Alvin. Nampak ada rasa khawatir pada dirinya mengingat Leny yang seorang wanita yang dengan beraninya pergi menerobos tempat berbahaya menurutnya.
"Kalian apa gak khawatir?" tanya Alvin
"Dia itu mendatangi tempat berbahaya loh" timpalnya merasa risau
"Dia itu ibarat kak Daniel dalam wujud seorang wanita. Seakan tak ada bahaya untuknya" ucap Fauzi hanya menatap Leny dengan santai
Leny langsung menerobos masuk di tengah-tengah keributan tersebut dan sampai membuat Alvin melotot, ia sangat tak menyangka dengan keberanian dari seorang Leny yang dengan santainya langsung masuk kedalam pertikaian di antara beberapa pria itu.
"woy, woy. Bahaya woy!, dia dalam bahaya loh" ucap Alvin yang semakin khawatir.
Namun berbeda dengan tanggapan dari ketiga adiknya Daniel. Dengan santainya mereka membuka pintu mobil dan berjalan menuju ke tempat Leny yang sudah lebih dulu berada dengan langkah santai mereka.
Berbeda dengan Alvin, justru ia langsung buru-buru mendatangi tempat Leny yang menurutnya sangat berbahaya, ia takut terjadi apa-apa pada istri sang tuan mudanya itu.
"Ayo buruan woy!, malah santai aja" ajak Alvin memaksa langkah ketiga saudaranya itu
"Udah kak gapapa, kakakku pasti baik-baik saja kok" ucap Wulan menenangkan Alvin
Ditengah keributan itu ada beberapa pria yang tengah adu mulut. Leny yang belum tau inti permasalahannya hanya mencoba menyimak saja dan belum mau membuka suara.
"Kau buta atau gimana ha?" tanya seorang pria pada pria yang berada di depannya
"Kau yang aneh, sudah tau aku sedang membawa kendaraan yang besar, dan pandangannya pasti terbatas, apalagi yang begitu dekat dengan truk ini" jawab seorang pria yang sudah di pastikan supir truk itu
"Untung saja temanku gak tertabrak oleh mobil busukmu itu!" ucap pria itu dengan geramnya
"Ya kalian kalau bawa motor jangan juga ugal-ugalan dong!. Abis mabok ya?" protes supir truk tersebut
Adu mulut semakin memanas dan membuat telinga Leny ikutan panas. Tanpa sadar ia langsung ikut membuka suara agar pertikaian dan kemacetan bisa terselesaikan.
"Kalian berdua berisik banget ya!. Kalau mau ribut di ring aja sana!, jangan di tengah jalan. mengganggu jalanan orang aja!" tegur Leny dengan geramnya
"Kalian pikir ini jalan nenek moyang kalian ha!" timpalnya lagi dengan geram
"Sebaiknya kau diam saja nona!. Ini bukan urusanmu!" tegur pria yang diduga mabuk oleh supir truk tersebut
"Siapa bilang itu bukan urusannya?!. Daerah ini aku yang mengawasinya, dan wanita yang kau tunjuk-tunjuk barusan adalah atasanku!" tegur seorang pria yang tiba-tiba datang