
Dion semakin menggila menghajar orang-orang yang menghalangi langkahnya untuk menuju ke arah Mario yang masih terkapar di lantai.
Semakin Dion mengamuk, semakin meningkat aura yang ia miliki. Bahkan aura yang ia keluarkan saat ini lebih besar dari seluruh aura yang ia miliki selama ini.
Emosi pada orang yang berada di depannya lah yang membuat aura miliknya semakin meningkat tanpa ia sadari.
Peperangan hebat itu juga tiba-tiba terhenti karena mereka semua bisa merasakan aura Dion yang semakin lama semakin besar. Daniel yang tadinya terus mengamuk sampai di buat terdiam saat merasakan aura milik Adiknya bisa sampai sebesar itu.
"Kau semakin meningkat" batin Daniel tersenyum.
"Apa ini benar aura yang kamu miliki nak?" batin Leo terkejut dan kedua bola matanya tak luput dari Dion yang terus-menerus menghajar orang-orang yang mengeroyok nya.
"Bahkan kekuatanmu ini hampir setara dari mereka bertujuh, atau mungkin sudah di atas Wulan, Jasmine, Fauzi, Kevin, dan bahkan Rian?!. Apa kau sudah di tingkat ketiga dari ketujuh tombak utama Dark Shadow?" batin Leo semakin terkejut.
Dion terus melangkah sembari menyingkirkan orang-orang yang menghalangi langkahnya untuk menuju ke tempat Mario berada. Hanya dengan sekali pukul, orang-orang yang menghadangnya itu langsung tumbang tak berdaya.
Erangan seperti seekor Macan terdengar dari mulut Dion, bahkan tanpa ia sadari sama sekali. Karena sudah di selimuti dengan emosi yang memuncak setelah ia mengetahui kebenarannya dari mimpi yang ia alami.
"MARIIIIOOOO!!!" ucap Dion penuh penekanan dengan tatapan matanya yang terlihat seperti seekor Macan yang kelaparan menatap mangsanya.
Orang-orang yang berada di sana terkejut saat Dion mengamuk memanggil nama pria tersebut. Marcel yang tengah fokus bertarung dengan Gira sampai harus terpaksa menghentikannya karena ia tiba-tiba mengkhawatirkan Papanya yang tengah di hampiri oleh seorang monster.
"WOY!, CEPAT HENTIKAN MONSTER ITU!" teriak Marcel memerintahkan seluruh bawahannya.
Mendengar perintah dari sang bos, mereka semua langsung bergegas mengelilingi Dion yang hendak menghampiri bos besar mereka.
"Kau tidak bisa kemana-mana lagi. Kali ini kau akan segera menemui ajalmu, dan kau akan segera berkumpul dengan pendahulu Dark Shadow di alam sana" ucap salah satu dari orang yang tengah mengelilingi Dion.
Disaat pria yang baru saja mengejek Dion tengah tertawa, tiba-tiba sebuah benda tumpul yang memiliki panjang lebih dari 150 meter terbang melayang menghantam kepalanya, sampai membuatnya tak sadarkan diri dan mengeluarkan darah dari kepalanya.
"Banyak bac0t!" ucap Dion dengan nada dinginnya.
"Jangan sekali-kali kau mengejek keluargaku!" timpalnya.
Melihat rekannya yang mati dengan mudah di tangan pria yang sudah berubah menjadi monster itu hanya membuat mereka tercengang saja. Mereka sampai terdiam sejenak sebelum salah salah satu dari mereka memberi aba-aba untuk menyerang dan mengeroyok Dion.
"B4j1ng4n kau!... SERANG!!!" teriak salah satu dari mereka
Setelah mendengar perintah dari rekannya, mereka semua langsung berlari menuju ke arah Dion yang berdiri di tengah-tengah mereka. Saat mereka sudah hampir mendekati Dion, tiba-tiba pria yang tengah di rasuki rasa amarah itu menghilang, dan satu persatu dari mereka tumbang dengan sendirinya. Sampai-sampai mereka yang tadinya sombong serta percaya diri kini berubah menjadi waspada dan saling menjaga.
"Kemana monster itu?" pikir mereka semua bergumam.
"Semuanya!, berhati-hatilah, dan saling menjaga satu sama lain!" ucap salah satu dari mereka. Kemudian mereka semua saling mengawasi satu sama lain.
"Lemah!" ucap seseorang dengan nada dinginnya dan memukul salah satu dari mereka kemudian menghilang lagi.
Pria yang baru saja di serang oleh Dion seketika langsung tumbang tak berdaya, dan membuat rekan yang lainnya semakin berwaspada.
"Orang-orang lemah seperti kalian tidak akan bisa menghentikan ku!" ucap Dion dengan bergema, lalu satu persatu dari mereka tiba-tiba terjatuh di atas lantai.
Hal yang di lakukan oleh Dion membuat Daniel dan yang lainnya merasa terkesan. Mereka semua sangat mengagumi kehebatan Dion yang tiba-tiba meningkat secara drastis.
"Sepertinya Dark Shadow memiliki satu monster lagi" ucap Hyuga merangkul Daniel. Sedangkan Daniel hanya berdehem sambil tersenyum.
"Kejadian ini mengingatkan ku pada peristiwa beberapa tahun yang lalu" sambung Kevin tersenyum.
"Apa yang terjadi padamu Kak?, kenapa kamu sampai mengamuk seperti ini?" gumam Wulan khawatir.
"Nampaknya kau sudah memiliki duo yang pantas kapten" ucap Hyuga tersenyum sambil menyikut-nyikut Daniel.
"ARKKKHHHH" teriak Dion sambil terus menghajar orang-orang yang ingin mengeroyoknya tadi.
"Apa yang merasuki mu?, sampai kau bisa sehebat dan selincah ini?" batin Daniel bertanya-tanya.
"Kenapa dengan orang itu?, kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi monster?" gumam Marcel terkejut.
"MARIIIIOOOO! KAU B4J1NG4N!!!" teriak Dion memaki-maki Mario.
"Kenapa dia terus-menerus berteriak memanggil nama Papaku?" batin Marcel khawatir.
"Kenapa dia memaki-maki si tua itu?" batin Daniel penasaran.
"Masalah apa yang ia miliki dengan si tua brengsek itu?" batin Gira bertanya-tanya.
"KAU HARUS MEMBAYAR SEMUANYA B4NG5AT!" teriak Dion lagi semakin memanas menghabisi orang-orang dari Harimau Berdarah itu.
"CEPAT HENTIKAN MONSTER ITU!, JANGAN SAMPAI DIA MENDEKATI PAPAKU!" teriak Marcel ketakutan. Namun hampir seluruh anak buahnya yang menghadang Dion pada berjatuhan.
Merasa semua bawahannya tak bisa di andalkan, dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Marcel berlari secepat mungkin untuk menghentikan amukannya Dion yang semakin tak terkendali.
"BERHENTI KAU MONSTER!" teriak Marcel sambil mengarahkan tinjunya ke arah Dion. Namun sayangnya Dion bisa menangkap kepalan tangan yang di berikan oleh Marcel dengan sangat mudah.
"Sampah lemah sepertimu jangan pernah coba-coba untuk menghalangiku!" ucap Dion dengan tatapan dinginnya.
Setelah berkata begitu, Dion langsung meremas kepalan tinju Marcel sampai membuat jari-jari tangannya patah dengan begitu mudahnya.
"ARKKKHHHH" teriak Marcel kesakitan.
Setelah mematahkan jari-jemari Marcel, Dion menarik tangannya Marcel yang masih ia genggam, lalu ia langsung menendang perut Marcel menggunakan dengkul dan membuat Marcel membungkuk kesakitan sambil memegangi perutnya yang sudah terasa mati. Belum sampai di situ, setelah Dion menendang perut Marcel, lalu Dion menendang kepala Marcel ke arah samping untuk membuangnya karena menghalangi langkahnya.
Tubuh Marcel terpental lumayan jauh dari tempat ia berdiri tadi, sampai-sampai ia memuntahkan darah setelah mendapatkan hadiah spesial dari Dion tadi.
"Jangan, sentuh Papaku" lirih Marcel kesakitan sambil merenggangkan tangan kanannya ke arah Mario yang masih saja terkapar.
Setelah berdiri tempat di depan Mario, Dion langsung mencekik lehernya dan mengangkat secara paksa, sampai kedua kaki Mario tak menapak tanah.
"TUA BANGKA B4J1NG4N" ucap Dion penuh emosi.
"KAU YANG MEMBUNUH KEDUA ORANG TUAKU!" timpal Dion semakin emosi.
Mendengar ucapan barusan, membuat Daniel terbelak. Ia langsung bergerak secepat mungkin menghampiri sang Adik yang hendak memukul Mario yang tengah di cekiknya.
Pada saat kepalan tinju Dion hampir mengenai wajah Mario, tiba-tiba Daniel berada di depannya dan langsung menangkap kepalan tinju sang Adik.
"Apa yang kau katakan barusan?, pembunuh Papa dan Mama?" tanya Daniel penasaran.