
Pemuda itu nampak kebingungan karena yang sebenarnya menculik Wulan adalah dia, bukan para rentenir tadi. Tapi entah kenapa Daniel malah menuduh mereka menjadi pelaku penculikan tersebut.
"Semua sudah beres, kau tidak perlu takut akan teror dari lagi" ucap Daniel mendekati Wulan dan pria itu.
"Te..te...terima kasih banyak tuan muda" jawab pria itu.
"Ta..tapi yang sebenarnya terjadi.." ucapan pria itu langsung di patahkan oleh Daniel.
"Aku sudah tau, kalau yang menculik Adikku adalah kamu" ucap Daniel sambil membuka topengnya.
Ketika pria itu melihat wajah Daniel, ia sangat terkejut karena matanya melihat kalau sosok Daniel ada dua. Berulang kali ia mengucek matanya namun hasilnya tetap kalau Daniel ada dua.
"Apa kau pikir sedang halusinasi?" tanya Daniel terkekeh.
"Ke..kenapa sosok tuan muda ada dua?" tanya pria itu sambil terus mengucek-ngucek matanya.
"Matamu itu tidak bersalah, kami memang ada dua orang. Kami ini kembar" jawab Daniel.
"Pa..pantas saja, hehe" ucap pria itu menggaruk tengkuknya.
"Ma...maafkan saya tuan, karena saya sudah menculik Adik anda" timpal pria itu menunduk ketakutan.
"Sa..saya tidak bermaksud sama sekali. Sa..saya terpaksa melakukan ini" tambahnya menjelaskan.
"Sudahlah, tak usah kau pikirkan lagi masalah itu. Aku juga tau kalau kau hanya terpaksa melakukan ini karena sampah-sampah tadi" jawab Daniel menepuk pundak pria itu agar pria itu merasa tenang dan tidak ketakutan.
"Kau jangan takut lagi, karena mereka tidak akan mengganggumu lagi" timpal Daniel tersenyum.
"Terima kasih banyak tuan, anda dan Adik anda sudah benar-benar membantu saya keluar dari masalah ini" ucap pria itu.
"Jika saya tidak bertemu dengan Adik anda, mungkin mereka akan tetap terus menghantui saya" timpalnya membungkuk.
"Tak usah kau pikirkan lagi, semua sudah aman" ucap Wulan.
"Kau sudah bisa lebih tenang meneruskan bisnismu itu" tambahnya.
Mendengar kata bisnis, sontak membuat raut wajah pria itu langsung berubah menjadi sedih. Ia mengingat begitu besarnya perjuangannya untuk membangun bisnis miliknya dari nol, namun harus hancur karena ulah rentenir yang terus mengejarnya.
"Semuanya sudah hancur nona. Sekarang aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan untuk makan saja sulit" jawab pria itu dengan wajah yang begitu murung.
"Aku akan membantumu" ucap Daniel memotong.
"Kau tidak sebut saja berapa banyak modal yang kau butuhkan" timpalnya.
"Ti..tidak usah tuan. Dengan anda menolong saya dari kejaran mereka saja sudah benar-benar membantu hidup saya. Tolong jangan seperti ini" jawab pria itu merasa tidak enak.
"Anggap saja aku memberikanmu sebuah pinjaman. Tapi ini tanpa harus kau membayar bunganya" jawab Daniel.
"Kapanpun kau ada uang lebih, kau boleh mengembalikannya, bahkan dengan mencicil sekalipun" tambahnya.
"Ta..tapi tuan.." ucapan pria itu lagi-lagi dipotong oleh Daniel.
"Jika kau menolak, maka akan ku beri pelajaran karena sudah berani menculik Adikku" ucap Daniel mengancam.
Mendengar kata barusan, membuat mata pria itu langsung melotot seakan mau keluar karena ia sangat ketakutan kalau Daniel menyakiti dirinya.
"Sudah, sebaiknya kau terima saja bantuan darinya. Lagi pula uang segitu tidak akan membuatnya miskin kok" sambung Alvin meyakinkan.
"Ta..tapi anda kan tidak kenal dengan saya, bagaimana mungkin anda mau membantu saya?" tanya pria itu.
"Aku percaya kau itu orang baik, jujur, dan mau bekerja keras. Tidak peduli dengan aku yang harus mengenalmu terlebih dahulu. Aku hanya membutuhkan kepercayaan darimu saja" jawab Daniel tersenyum.
Di tengah-tengah perdebatan antara mereka, tiba-tiba ponsel milik Daniel berdering. Kemudian ia langsung mengecek ponselnya dan ia langsung terkejut karena melihat panggilan telepon dari istrinya yang begitu banyak.
"Ha..halo Honey" ucap Daniel setelah menekan tombol hijau.
"Akhirnya Ayah mengangkat telepon dari Bunda juga" jawab Leny merasa lega.
"Ayah kemana saja?, kok keluar tidak bilang-bilang?. Bahkan para lelaki juga tidak ada di sini. Oh iya, apa Adiknya Bunda ada bersama dengan Ayah?" timpal Leny melemparkan begitu banyak pertanyaan.
"Sabar Honey, satu-satu dong nanyanya" jawab Daniel sedikit pusing harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu.
"Iya, Ayah sedang bersama mereka. Adiknya Bunda juga ada bersama dengan kita kok, sebentar lagi kami akan pulang dan akan Ayah ceritakan di sana nanti" timpalnya menjelaskan.
"Yasudah. Yang penting kalian baik-baik saja, Bunda akan menunggu kalian pulang" jawab Leny tersenyum lega.
"Iya istriku, maaf kalau sudah membuat Bunda menjadi khawatir" ucap Daniel dan mereka berdua menyelesaikan panggilan telepon tersebut.
Setelah usai melakukan panggilan telepon dari sang istri, kini Daniel melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda tadi. Daniel terus menekan pria itu agar ia mau menerima pemberian dari Daniel tadi.
"Jadi, bagaimana?. Sebutkan saja angkanya, dan aku akan langsung mentransfer ke rekening milikmu" tanya Daniel sambil memainkan ponselnya.
"Apa anda yakin ingin membantu orang yang sudah berani menculik Adik anda?" tanya pria itu masih tidak percaya.
"Apa wajahku terlihat seperti bercanda?" tanya Daniel balik menatap pria itu dengan serius.
"Ba.. baiklah tuan" jawab pria itu ketakutan setelah melihat wajah Daniel yang terus menatap dirinya.
Setelah Daniel memberikan modal untuk pria itu. Mereka semua langsung segera kembali ke hotel agar Leny dan yang lainnya tidak merasa khawatir lagi.
Sesampainya mereka di hotel, Leny langsung berlari dan memeluk Wulan karena ia merasa sangat mengkhawatirkannya Adik kesayangan itu.
"Dasar kamu, Adik kecilku yang nakal!" ucap Leny sambil terus memeluk Wulan.
Wulan tersenyum dan membalas pelukan dari Leny. Lalu ia berkata sambil mengelus-elus pundak sang Kakak "Aku baik-baik saja kok Kakakku".
"Lain kali, kalau pergi itu izin dulu" ucap Leny menjewer telinga Wulan dengan gemas.
"Hehehe, iya Kak maaf ya" jawab Wulan tersenyum.
"Yaudah, yang penting kamu tidak apa-apa" jawab Leny tersenyum.
Malam harinya...
Leny terus memantau pada karyawannya mempersiapkan hidangan dan hiasan pada tempat pesta yang ia gelar. Tak lupa juga sesekali ia turun tangan membantu langsung para karyawannya untuk mempersiapkan acara yang ia buat.
Setelah semuanya beres dan nampak indah di matanya, Wajahnya langsung tersenyum puas melihat semua arahan darinya sangat sesuai dengan ekspektasi yang ia bayangkan.
"Terima kasih banyak ya semuanya. Kalian benar-benar membantuku" ucap Leny tersenyum pada para karyawan yang ada di hotel miliknya.
"Sama-sama nona muda. Sudah sewajarnya kami melakukan hal ini" jawab Pak Haris.
Satu persatu karyawan kantor yang ia undang sudah mulai berdatangan. Mereka semua terkejut melihat hotel milik Leny yang begitu luas. Kedua bola mata mereka terus memandangi setiap sudut hotel yang nampak begitu indah itu.
Lalu datang seorang wanita yang begitu cantik masuk kedalam hotel itu. Bahkan wanita itu menjadi pusat perhatian dari para tamu undangan yang lain, sedangkan Leny tersenyum sambil menunggu wanita itu datang menghampiri dirinya.
"Akhirnya manager kita yang baru sudah datang" ucap Leny menyambut kedatangan Olivia dan langsung memeluknya setelah Olivia mendatangi dirinya.
"Tempat ini begitu mewah ya" ucap Olivia tersenyum kagum sambil terus memandangi setiap sudut di hotel tersebut.
"Tuan Daniel memang pria begitu sukses di usia beliau yang masih terbilang masih muda" tambahnya tersebut kagum.
"Sudahlah, jangan terus memuji kami" ucap Leny terkekeh.
"Sebaiknya kalian nikmati saja pesta ini. Jangan sungkan-sungkan ya" timpalnya tersenyum, dan mereka semua ikut tersenyum bahagia sambil menikmati pesta yang di gelar oleh Leny.