Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENUJU LOKASI TEMPUR


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh kedua kelompok besar yaitu sebuah perang yang akan menentukan siapa yang terkuat dan untuk membalas dendam.


William sudah tak sabar menunggu hari ini. Dia berlatih dengan sangat keras agar bisa menghabisi orang yang telah membunuh Ayahnya beberapa tahun yang lalu.


Tak peduli dengan musuh yang akan menghalanginya nanti. Target utamanya hanya Daniel seorang, ia tak akan membiarkan ada satu orangpun yang membunuh pria yang di juluki sebagai Akai raion itu kecuali dirinya.


Jasmine yang merasa membutuhkan sedikit olahraga karena seluruh tubuhnya akhir-akhir ini ia belum pernah menghabisi atau memusnahkan orang lagi. Jadi Jasmine mengajukan diri ikut dalam peperangan ini karena ia juga harus mengasah kekompakan ia dan Wulan yang sudah memiliki julukan Two Beautiful Assassin.


Daniel merasa senang karena Jasmine yang merupakan seorang penembak terhebat di Dark Shadow ingin membantu dirinya. Kehebatan Jasmine dengan senjata api maupun memanah tiada duanya, ia mampu membunuh musuh melalu jarak yang cukup jauh menggunakan senjata favoritnya.


Dion yang baru pertama kali ikut dalam situasi yang harus bertaruh nyawa itu merasa sangat semangat. Namun Daniel selalu berpesan untuk berhati-hati dan saling melindungi satu sama lain agar bisa lebih mudah meraih kemenangan dan memperkecil kehilangan banyak teman yang gugur.


"Aku sudah tak sabar untuk segera memusnahkan mereka semua" ucap Dion tersenyum senang.


"Bersemangat boleh, tapi kamu harus tetap ingat dengan apa yang selalu aku sampaikan" sela Daniel memotong.


"Kakak tenang saja, semua yang Kakak amanah kan sudah aku simpan dengan jelas dalam memori otakku" jawab Dion tersenyum.


Jasmine hanya menatap kedua saudara kembar tampan itu. Ia masih belum terbiasa dengan dua sosok Daniel yang sama sekali tidak ada celah untuk membedakan mereka berdua. Bahkan ia masih sering salah memanggil di saat mereka berdua tengah tidak bersama-sama.


"Dua pria tampan yang sangat sulit untuk di bedakan" batin Jasmine tersenyum.


"Ada apa denganmu Jasmine Sensei?. kenapa kamu terus memperhatikan mereka berdua?" tegur Wulan menggoda dan berhasil membuyarkan lamunannya.


"Apa kamu menyukai mereka" sambungnya menaik turunkan kedua alisnya.


"Ini mulut kalau berbicara tidak pernah di filter dulu ya" ucap Jasmine geram sambil mencengkram kedua pipi Wulan dengan gemas menggunakan satu tangannya.


"Apa kamu ingin melihatku di terkam oleh kedua betina mereka ha?" timpalnya geram.


"Amvun Kak" jawab Wulan sedikit kesulitan berbicara karena mulutnya masih di cengkram oleh Jasmine.


"Dasar kamu ini murid durhaka" ucap Jasmine gemas mencubit kedua pipi Wulan.


"Ampun Kak, sakit" jawab Wulan dengan wajah imutnya dan membuat Jasmine semakin gemas.


"Jasmine, apa kemampuan menembak mu sudah tumpul?" tanya Daniel dan membuat mereka berdua menyudahi bercandanya.


"Apa kamu meragukan kemampuanku?" tanya Jasmine dengan senyuman menantang.


"Hahaha, aku harap kemampuan menembak mu masih sama dengan julukan mu selama ini" jawab Daniel tersenyum.


"Anda tidak perlu meragukan saya tuan muda" ucap Jasmine tersenyum manis namun penuh arti.


"Apa aku bisa minta tolong?" pinta Daniel menatap Jasmine dengan tatapan serius.


"Ada apa?, sepertinya sangat serius" tanya Jasmine tak kalah seriusnya.


"Gunakan keahlian khusus yang kamu miliki untuk melindungi Dion dari jarak jauh, aku masih khawatir dengannya. ini pertama kalinya dia ikut berperang" jawab Daniel dengan tatapan yang serius.


"Tanpa kamu minta sekalipun, aku akan melindungi kalian semua" ucap Jasmine.


"Kita ini keluarga, jadi kita harus saling melindungi satu sama lain, jangan sampai salah satu di antara kita sampai terluka. Kita juga harus membantu para bawahan kita yang ikut berpartisipasi dalam perang besar ini" sela Rian memotong.


"Ternyata Kakakku bisa mengeluarkan sebuah kata-kata yang benar juga ya" sambung Fauzi tersenyum sambil merangkul Rian.


"Aku pikir isi kepala Kakak sudah berjamur dan tidak bisa berfungsi lagi" timpalnya tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Enteng banget tu mulut berbunyi" jawab Rian kesal dan langsung memiting leher sang Adik sambil menjitak kepalanya dengan gemas.


Sembari menunggu kedatangan para kelompok yang sudah di mintai bantuannya pada Daniel datang ke markas mereka, Jasmine memutuskan latihan untuk mempertajam kemampuan dalam hal tembak menembak dan agar julukan yang ia miliki selama ini tidak luntur.


Dion yang baru pertama kali melihat Jasmine berlatih, hanya bisa kagum saat memperhatikan Jasmine bermain dengan senjata api. Daniel yang tau sang Adik terfokus pada cara Jasmine berlatih hanya tersenyum lalu ia menghampiri Dion.


"Hebat banget si Jasmine ya Kak" ucap Dion salut.


"Itu masih belum seberapa" jawab Daniel tersenyum dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku celananya.


"Sebenarnya dia akan semakin maksimal ketika menggunakan dua senjata. Karena dia *B**eautiful Shooter With Two Guns* " timpal Daniel menjelaskan.


"Panjang banget nama julukannya" jawab Dion.


"Dia juga memiliki sebuah julukan lain ketika dirinya dan Wulan bersatu" ucap Daniel tersenyum.


"Apa itu Kak?" tanya Dion yang semakin penasaran.


"Two beautiful Assassin " jawab Daniel tersenyum bangga menatap Jasmine yang tengah berlatih.


"Sangat sulit mengalahkan mereka berdua ketika mereka bersatu. Kehebatan mereka tidak bisa di anggap remeh, karena di balik kecantikan mereka, pasti ada kekejaman yang sangat ganas dalam diri mereka berdua" timpalnya menjelaskan.


Tak lama kemudian, Daniel dan yang lainnya mendengar beberapa suara mobil yang terparkir di depan gedung mewah tersebut. Daniel langsung tersenyum ketika para bawahannya sudah tiba di markas mereka.


Lalu para orang-orang yang menggunakan mobil mewah itu langsung masuk kedalam dan langsung memberi hormat pada Daniel yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka semua.


"Selamat pagi tuan muda. Maaf jika kedatangan kami sedikit terlambat" ucap salah satu dari bawahannya Daniel.


"Yang penting kalian semua baik-baik saja dan selamat sampai ke sini dengan keadaan yang tidak kekurangan apapun" jawab Daniel tersenyum.


"Persiapkan diri kalian semua, karena kita akan segera berangkat ke tempat yang sudah di tentukan oleh grup Valkery itu. kalahkan mereka semua, kita raih kemenangan kita semua" timpal Daniel serius bersemangat.


Setelah semua anggotanya berkumpul, Daniel langsung mengajak mereka semua menuju ke tempat yang sudah di janjikan oleh kelompok yang di pimpin oleh William.


45 menit kemudian, Daniel dan para bawahannya sudah sampai di tempat tersebut. Ternyata William dan kelompoknya sudah sampai terlebih dahulu.


Sebelum menghampiri kelompok yang di pimpin oleh William, Daniel menggunakan topeng yang selalu ia pakai ketika berperang agar tidak banyak orang yang mengenali wajahnya karena ia tak ingin akan semakin banyak musuh yang mengincar ia dan keluarganya ketika wajahnya di kenali banyak orang.


Dion yang duduk di sebelah sang Kakak hanya bertanya-tanya mengapa Kakaknya harus menutupi wajahnya dengan topeng tersebut.


"Kenapa Kakak menggunakan itu?" tanya Dion bingung.


"Biar keren aja" jawab Daniel bercanda.


"Udah Ayo buruan, tadi katanya kamu sudah tidak sabar untuk menghabisi mereka semua yang berada di sana" timpal Daniel keluar dari dalam mobil dan di ikuti oleh seluruh bawahannya.


Dengan santai Daniel berjalan mendekati kelompok pimpinan William yang sedari tadi menunggu kedatangan musuhnya. Daniel berjalan dan membawa pedang yang di kenal haus akan darah yaitu Ryu Ken, sedangkan yang lainnya juga membawa senjata masing-masing sesuai dengan keahlian mereka semua.


Dion tersenyum senang sambil membawa tongkat besi miliknya seperti Sun Go Kong yang membawa toya sakti miliknya.


"Aku pikir anda dan kelompok sampah anda itu takut untuk menemui ku di tempat yang akan menjadi kuburan kalian semua" ucap Wiliam tersenyum meremehkan.


"Apa anda begitu takut pada saya, sampai-sampai anda harus menutupi wajah anda dengan benda itu?" timpal William tertawa mengejek dan seluruh anak buahnya tertawa mendengarnya.


"Ku harap ilmu yang kau miliki seimbang dengan omong kosong mu yang terlalu besar itu" jawab Daniel dengan nada dinginnya.


"Karena aku tidak akan mengampuni kau dan juga kelompok yang kau miliki itu. Aku pastikan tidak ada satupun dari kalian yang bisa pulang hidup-hidup" timpal Daniel dengan nada bicaranya yang dingin namun menakutkan.