Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SENJATA PILIHAN


Mereka semua sangat senang karena Dion berhasil membuktikan dirinya kalau dia juga bisa ikut berperang melawan grup Valkery dua hari mendatang. Daniel berjalan mendekati Dion sembari mengelus pipinya bekas pukulan dari Dion barusan.


"Pukulan darimu lumayan juga ya" ucap Daniel tersenyum sambil mengelus pipinya yang membiru.


"Hahaha, bagaimana denganku?. Seluruh wajahku terasa panas dan perih" tanya Dion dengan nafas yang kelelahan.


Wulan membantu Dion berjalan karena tubuhnya masih lemah dan tak sanggup untuk berjalan sendiri, jadi Wulan harus memapah tubuh Dion yang lebih tinggi darinya. Melihat Wulan yang nampak kesulitan menahan berat tubuh Dion, Fauzi dan Kevin langsung mengambil alih tubuh Dion agar mereka berdua saja yang memapahnya.


"Kamu tidak perlu sampai kesusahan seperti itu kucing kecilku" ucap Kevin tersenyum menatap Wulan, sedangkan Wulan langsung membuang mukanya karena tak ingin memperlihatkan wajah bahagia pada Kevin.


"Ayo kita bereskan saja orang-orang Valkery itu sekarang ini Kak" aja Dion dengan nada kelelahan.


"A...aku sudah siap" timpalnya terbata-bata karena kelelahan.


"Dasar bodoh, kau itu sudah mencapai batas. Yang ada kau akan menjadi beban jika kita melakukan hal itu" tegur Daniel sambil memukul kepala Dion dan mereka semua tertawa termasuk juga Dion.


"Sebaiknya kita kembali ke hotel. Agar istrimu bisa menyembuhkan luka-luka yang ada di tubuhmu itu" sela Ayah Leo memotong.


Mereka semua berjalan menuju ke tempat mobil yang mereka parkiran tadi di depan gedung mewah itu. Ketika Fauzi dan Kevin tengah memapah Dion yang sudah kehabisan tenaga, tiba-tiba Dion menghentikan langkahnya saat mereka melewati tempat persenjataan. Ia melihat ke sekeliling yang dimana banyak jenis senjata di depan matanya.


"Kau boleh pilih apa saja dari senjata yang berada di sana. Senjata pilihanmu, akan menjadi milikmu dan bisa kau gunakan untuk peperangan besar nanti" ucap Daniel menepuk pundak Dion.


Kedua bola mata Dion terus tertuju pada sebuah toya yang terbuat dari besi putih padat di lapisi cat warna emas dengan ukiran motif yang terlihat sangat cantik menurut Dion. Ia tersenyum melihat tongkat besi tersebut, dan ia memutuskan untuk memiliki senjata itu.


"Kau suka itu?" tanya Daniel menunjuk ke arah sebuah senjata yang mengikuti sorot mata sang Adik, sedangkan Dion hanya mengangguk.


Daniel berjalan mendekati tongkat besi yang berada di dinding. Setelah Daniel berdiri tepat di depan senjata pilihan sang Adik, ia menatap benda tumpul itu dengan bersilang dada. Kemudian ia tersenyum lalu menghela nafasnya dan langsung mengambil senjata tersebut.


Ia memainkan senjata tersebut dengan begitu lincah hingga membuat Dion menjadi tak sabar untuk memiliki benda tersebut. Setelah selesai pemanasan dengan senjata pilihan Dion, Daniel berjalan mendekati Dion dengan membawa toya tersebut dan langsung menyerahkannya pada sang Adik.


Dion tersenyum dan dengan senang hati ia menerima pemberian dari sang Kakak. Fauzi dan Kevin yang sedang merangkul Dion, mereka berdua langsung melepaskan pegangan mereka pada tubuh Dion agar ia bisa leluasa untuk bermain dengan senjata barunya. Dion sedikit terkejut setelah toya itu sudah berada di genggamannya, bahkan tubuhnya hampir terjatuh karena benda yang tengah ia pegang terasa sedikit berat.


"Ku pikir benda ini ringan, ternyata berat juga" ucap Dion tersenyum senang sambil menatap tongkat besi yang hampir setara dengan tinggi badannya.


"Tentu saja, karena itu terbuat dari besi putih yang padat dan senjata itu tidak akan berkarat" jawab Daniel.


"Jika benda ini aku pukul kan ke tubuh musuh, pasti dia langsung pingsan" ucap Dion tersenyum psikopat dengan mata yang terus menatap senjata baru pemberian dari sang Kakak.


"Dulu, aku pernah membuat kepala seseorang terbelah dua dengan menggunakan benda itu" ucap Daniel tersenyum sinis.


"Aku semakin tak sabar untuk segera menghantam kepala orang-orang Valkery itu dengan benda ini" ucap Dion tersenyum penuh arti.


"Sifat asli putraku akhirnya muncul juga, meskipun tak sekejam Kakaknya. Tapi aku belum tau kedepannya, mungkin saja dia bisa melampaui aku dan yang lainnya. Namun menurutku, sangat sulit baginya untuk melampaui Daniel, seperti aku yang selalu kalah selangkah dari Papa mereka bahkan salah satu dari putranya sudah melampaui ku" batin Leo termenung namun ada perasaan bahagia pada hatinya karena sudah berhasil membuat kedua putra Kakaknya menjadi hebat seperti saat ini.


Wulan kebingungan melihat Ayahnya yang tiba-tiba termenung dengan tangannya masih memegang pundak Dion. Kemudian Wulan mendekati pria paruh baya itu lalu ia menyentuh lengan sang Ayah dan membuat Leo tersadar dari lamunannya.


"Ayah kenapa melamun?" tanya Wulan sedikit kebingungan.


"Tidak ada Nak, Ayah hanya senang melihat kalian Anak-anak kami semua yang sudah berhasil dan juga sudah memiliki keluarga masing-masing. Tinggal kamu dan Kevin saja yang belum" jawab Ayah Leo tersenyum sambil membelai kepala putri angkat satu-satunya.


"Iiihhh, ternyata Ayah dan Kakak-kakak, sama saja, Ibu juga" ucap Wulan cemberut menyilang kan kedua tangannya. Leo tersenyum sambil mengelus kepala Wulan yang tengah cemberut namun nampak terlihat lebih imut.


"Ayah dan Ibu kamu hanya ingin melihat kalian putra-putri kami itu selalu bahagia dengan pilihan kalian masing-masing. Meskipun kalian bukan Anak kandung kami, tapi kami benar-benar sangat menyayangi kalian semua" ucap sang Ayah tersenyum.


"Carilah lelaki seperti Kakak-kakak kamu. Contohnya Daniel, Rian, dan juga Fauzi. Mereka bertiga begitu sangat menyayangi Kakak-kakak ipar kamu, ya meskipun otak Fauzi sedikit gesrek" timpal Ayah Leo terkekeh dan membuat Wulan juga tertawa kecil.


"Hachim...!!" tiba-tiba Fauzi bersin.


"Sepertinya ada yang sedang menjelek-jelekkan aku ni" ucap Fauzi sambil menggosok hidungnya yang sedikit gatal.


"Hahaha, siapa yang berani menjelek-jelekkan kamu Adikku?" tanya Rian tertawa merangkul bahu Fauzi.


"Manalah aku tau" jawab Fauzi acuh mengangkat kedua bahunya.


"Sudahlah, ayo pulang, aku sudah lapar" timpalnya dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka semua.


Rian menggeleng, dan langsung menyusul sang Adik yang sudah berjalan terlebih dahulu. Setelah dekat, Rian langsung menyentil telinga Fauzi karena meninggalkan tanggung jawabnya.


"Sakit Kak" keluh Fauzi sambil mengelus telinganya yang memerah karena sentilan dari Rian barusan.


"Apa kau lupa pada Kakakmu itu?!" tanya Rian geram menunjuk ke arah Dion yang tengah asik dengan senjata barunya.


"Oh iya lupa. Maklum lapar" jawab Fauzi santai dan langsung berjalan mendekati Dion lagi, sedangkan Rian hanya menggeleng heran melihat Adik koplak itu.


"Apa sudah selesai memandang benda mati itu Kak?" tegur Fauzi bertanya.


"Ayo kita pulang, luka Kakak itu harus segera di obati, dan Kakak juga butuh istirahat" timpalnya.


"Yaudah Ayo" ajak Dion dan menyerahkan senjatanya pada Rian.


"Akhirnya pulang juga" batin Fauzi tersenyum senang karena ia sudah kelaparan.