Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PENGAMPUNAN


Kevin membawa pemimpin Yakuza itu pergi ke markas menggunakan mobilnya, Daniel juga langsung menyusul bersama istri dan juga adiknya Wulan menuju ke markas mereka untuk segera melakukan eksekusi pada pria tersebut.


Di sepanjang perjalanan mimik wajah Damin menggambarkan bahwa dia sedang dalam mood yang bahagia karena sedari tadi Damin selalu tertawa sampai tak bisa duduk dengan tenang di pangkuan Leny.


"Anak Bunda kenapa sih sayang? kok kelihatannya bahagia banget?" tanya Leny yang hampir kewalahan memegangi tubuh putranya yang begitu aktif bergerak. Sedangkan Damin hanya terkekeh sambil terus menempelkan bibirnya pada wajah Leny dan mereka semua hanya tersenyum melihat tingkah lucu dari Damin yang begitu menggemaskan.


"Apa yang akan Ayah lakukan pada pria itu?" tanya Leny.


"Pertama-tama Ayah harus bertanya padanya alasan dia kenapa berbuat onar di sekolah Joe" jawab Daniel.


"Ayah tidak bisa terima karena dia sudah membuat penjaga sekolah dan salah satu murid Ayah terluka seperti itu" timpal Daniel sambil menggenggam erat setir mobilnya.


"Langsung hajar saja Kak" sambung Wulan yang duduk di kursi belakang.


"Tidak bisa dek. Meskipun Kakak sangat geram dengannya, tapi kita juga harus tau motif dia datang dan menghancurkan sekolah. Pasti ada alasan yang kuat dari mulutnya" jawab Daniel.


"Yaudah itu sih terserah Kakak aja" ucap Wulan.


Sekitar 30 menit mereka berjalan, akhirnya mereka berempat sudah sampai di sebuah gedung bertingkat yang begitu besar tepat berada di depan mata mereka sampai membuat Leny terpesona melihat gedung tersebut, di tambah ada banyak mobil mewah terparkir rapih di depan gedung tersebut dan semua mobil mewah itu milik Daniel.


"Banyak banget mobil mewah di sini Ayah?" tanya Leny dengan pandangan yang tak lepas dari beberapa mobil mewah yang ada di hadapannya.


"Itu semua punya kita" jawab Daniel.


"Punya kita?" tanya Leny terkejut sedangkan Daniel hanya mengangguk saja.


"Kalau di parkir di rumah mau luas berapa tanah yang harus kita beli ini Ayah?, apa lagi garasinya" ucap Leny bertanya-tanya.


"Kalau semua ini kita bawa pulang, pasti di pikir orang-orang kita membuka showroom mobil ini" timpal Leny tersenyum takjub.


"Jika Bunda ingin, maka akan Ayah urus semuanya" ucap Daniel.


"Tidak Ayah, bunda tidak mau, ribet ngurusin mobil sebanyak ini" jawab Leny menolak.


"Udah deh ayo kita masuk, kok jadi malah membahas mobil pula" ucap Leny menggandeng tangan Daniel.


Kevin dan anak buah Daniel yang lainnya sudah menunggu kedatangan pemimpin mereka di dalam gedung tersebut. Tak lupa juga Kevin mengikat pria itu di sebuah kursi yang mereka sebut kursi maut dan Kevin juga menutupi wajah pria itu dengan kain hitam.


Sesampainya Daniel di depan pintu utama, mereka di sambut penuh hormat oleh beberapa anak buah Daniel yang bertugas menjaga pintu keamanan markas mereka.


"Selamat datang tuan besar, selamat datang nona besar, dan selamat datang tuan muda" ucap para anak buah Daniel yang bertugas menjaga di pintu.


"Bagaimana keadaan Dark Shadow selama aku tinggal di Indonesia?" tanya Daniel.


"Semuanya aman terkendali dan tidak ada yang mencari masalah dengan kita tuan" jawab salah satu dari bawahannya Daniel, sedangkan Leny yang tidak paham percakapan antara suaminya dan bawahnya hanya menatap dengan wajah kebingungan.


"Bagus!" ucap Daniel dan menggandeng tangan Leny menuju ke dalam markas miliknya.


Setelah Daniel masuk kedalam, seluruh bawahannya langsung bangkit kemudian mereka semua membungkukkan badan menyambut kedatangan dari pemimpin besar mereka. Leny merasa sedikit grogi berada di posisi tersebut karena baru pertama kalinya ia menjadi seorang wanita yang bagaikan seperti ratu yang begitu di segani oleh banyak orang.


"Aku seperti orang yang sangat penting saja di perlakukan seperti ini" batin Leny merasa sedikit merinding dalam posisi tersebut.


Kini pandangan Daniel tertuju pada seorang pria yang tengah duduk di depan matanya dengan tangan dan kaki terikat dan wajah yang tertutupi kain hitam. Lalu Daniel berjalan mendekati pria tersebut dan menyuruh Kevin membuka kain hitam yang menutupi wajahnya.


Ketika kain yang menutupi wajahnya di buka oleh Kevin, terlihat raut wajahnya yang menggambarkan begitu ketakutan dia ketika melihat Daniel berdiri tepat di depannya. Ia merasa kalau nyawanya sudah tak bisa terselamatkan lagi karena ia sudah berani mencari masalah pada Daniel.


"Apa tujuanmu melakukan penyerangan di sekolah itu pagi tadi?" tanya Daniel dengan tatapan dinginnya namun membawa tekanan yang menakutkan untuk orang yang melihatnya.


"Ma...maafkan saya tu..tuan muda, sa..saya tidak bermaksud melakukan hal itu" jawab pria itu penuh rasa ketakutan.


"A..a..anda juga sudah tau betapa setianya saya pada anda dan Dark Shadow" timpalnya.


"Justru itu aku tidak langsung menghabisi nyawamu karena aku tau kau tidak akan melakukan hal seperti itu tanpa alasan yang kuat" ucap Daniel.


"Sa..sa..saya melakukan itu karena pu..putra saya di buat terluka sampai masuk ke rumah sakit" jawab pria itu gugup.


"Lalu kenapa kau malah menyerang sekolah itu?!" tanya Daniel sedikit bingung.


"Salah satu temannya putra saya berkata kalau ada seorang guru di sekolah tersebut yang membuat putra saya sampai terluka seperti itu" jawab pria itu menjelaskan.


"Apa putramu salah satu murid dari sekolah Samehaya?" tanya Daniel dan di anggukan oleh pria tersebut.


"Aku yang melukai putramu, aku tidak tau kalau kau Ayahnya, akan tetapi dia terluka karena serangan dari temannya sendiri. Justru aku sama sekali tidak ada menyentuh mereka sedikitpun" jawab Daniel.


Mendengar ucapan dari Daniel barusan, membuat mata pria itu sampai melotot karena terkejut dan ia langsung menatap Daniel dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Ma..maafkan saya tuan, ini pasti kesalahan putra saya. Jika dia sudah sadar nanti aku akan menghukumnya lagi" ucap pria itu ketakutan sambil meneteskan air matanya.


"Kevin, lepaskan ikatannya" perintah Daniel.


"Baik Kak" jawab Kevin dan langsung melepaskan ikatan pada pria tersebut.


"Ji..jika saya harus mati, kematian ini memang pantas untuk saya karena ini salah saya yang sudah berani mencari masalah dengan tuan muda" ucap pria itu yang sudah pasrah akan nyawanya.


Setelah semua tali yang mengikat tubuh pria itu terbuka, Daniel menyuruh pria tersebut untuk bangkit dari duduknya kemudian Daniel memegang pundak pria tersebut.


"Siapa namamu?" tanya Daniel.


"So..Souji" jawab pria itu ketakutan.


"Souji, yang seharusnya meminta maaf itu aku, karena akulah yang membuatmu sampai seperti ini. Jika putraku berada di posisi tersebut, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan" ucap Daniel menatap Damin yang tersenyum menatap dirinya.


"Sebagai seorang bawahan ku, kesetiaan mu patut di acungi jempol. Peranmu sebagai seorang Ayah juga patut di contoh" timpal Daniel dan membuat Souji menunduk karena terharu mendengar perkataan Daniel barusan.


"Te..terima kasih tuan muda, perkataan anda membuat saya terharu" jawab pria itu tersenyum haru menatap Daniel.


"Bawa aku ke tempat putramu di rawat" ucap Daniel.


"Aku harus bertanggung jawab, karena aku putramu sampai terluka" timpal Daniel.