
Untuk menghias dan mendekor gedung yang begitu besar itu memakan waktu satu harian penuh. Meskipun keluarga Syahputra itu menyewa begitu banyak pendekor, masih juga belum bisa cepat selesai karena ukuran tempat itu begitu besar.
Bagi Daniel, masalah jumlah harga tidak penting. Ia akan membayar para pekerja yang bertugas menghiasi tempat tersebut agar acara yang sudah mereka tunggu-tunggu berjalan lancar tanpa adanya hambatan.
"Duh, apa bisa terkejar ini?. Besok kan pestanya akan di mulai" gumam Leny khawatir.
Daniel paham jika istrinya tengah khawatir, terlihat dari wajahnya yang begitu jelas menggambarkan rasa tersebut. Daniel tersenyum dan merangkul pinggang istrinya.
"Kenapa Honey?, khawatir?" tanya Daniel menebak.
"Bunda takut kalau persiapannya belum tuntas Ayah. sedangkan besok sudah acaranya" jawab Leny risau.
Daniel tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada punggung sang istri. Kemudian ia mencium tengkuk lehernya dan membuat Leny seakan ingin terbang melayang saat merasakan hal tersebut.
"Bunda tenang aja. Mereka semua pasti bisa menyelesaikan semuanya sebelum hari H" ucap Daniel sambil terus memeluk istrinya dari belakang.
"Bagaimana Ayah bisa setenang itu dan begitu yakin?" tanya Leny bingung.
"Karena mereka semua orang-orang yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan keluarga kita, dan hasilnya selalu sempurna menurut Ayah" jawab Daniel semakin mempererat pelukannya.
"Jadi, Bunda enggak perlu khawatir seperti itu. Pesta besok tidak akan ada hambatan kok" timpal Daniel tersenyum.
Di saat pasangan yang selalu terlihat romantis itu sedang bermesraan, tiba-tiba putra tampan mereka berjalan mendekati mereka dengan membawa puding di tangan mungilnya.
Daniel yang menyadari akan sang putra yang mulai mendekati mereka, ia langsung melepas pelukannya dan berjongkok untuk menyambut kedatangan putranya yang baru pandai berjalan.
Orang-orang yang melihat Damin tengah berjalan dengan sedikit kesulitan, menjadi gemas karena tubuhnya yang juga berisi karena suka makan.
"Tuan kecil..." panggil salah satu dari pendekor wanita dengan gemas menggunakan bahasa Jepang.
Wanita itu terlihat sangat gemas saat kedua bola matanya menatap bayi gembul yang tengah berusaha berjalan menuju kedua orang tuanya.
"Imutnya..." ucap mereka gemas.
"Sepertinya putra kita menjadi idola baru di kalangan wanita Honey" ucap Daniel tersenyum dengan posisi masih berjongkok menunggu putranya yang berjalan ke arahnya.
"Lebih baik Damin yang menjadi idola bagi kaum hawa. Jika Ayahnya yang menjadi idola para wanita, apa lagi para gadis. Siap-siap bakal Bunda potong terong milik Ayah itu" sela Leny menyindir.
"Yang suka kan mereka, bukan Ayah" jawab Daniel santai.
"Ooo... Sudah pandai menjawab ya?!" tanya Leny geram dan langsung memeluk leher Daniel. Kini mereka berdua sama berjongkok.
"Yayah.." Panggil Damin sambil terus berusaha berjalan menuju Daniel yang menunggu sang putra.
"Ayo sayang, Ayah di sini" ucap Daniel tersenyum sambil membuka kedua tangannya menyambut Damin yang mulai mendekat.
Damin semakin mempercepat langkahnya karena melihat sang Ayah yang sudah semakin dekat dengannya. Daniel tersenyum melihat putranya yang berjalan namun masih sedikit kesulitan mengingat ia yang baru pandai berjalan.
Damin langsung memeluk sang Ayahanda tercinta sambil menyerahkan puding yang ia pegang menggunakan tangan mungilnya itu. Daniel tersenyum lalu menciumi wajah putra tampannya itu. Leny juga tersenyum bahagia melihat kedua lelaki tampannya itu nampak bahagia.
"Siapa yang memberikan puding ini sayang?" tanya Leny membelai kepala Damin.
"Tante Wulan?" tanya Leny memastikan dan Damin hanya mengangguk saja.
"Ndaa dut" ucap Damin lagi dan membuat kedua orangtuanya terkejut saat putra mereka mengucapkan kata barusan.
"Ndaa dut?, maksud kamu Bunda kamu ini gendut?" tanya Leny terkejut dan di anggukan lagi oleh sang putra sambil tersenyum polos. Sedangkan Daniel hanya tertawa mendengar celotehan dari putranya barusan.
"Siapa yang mengajari kamu berkata seperti itu sayang?" tanya Leny geram sambil menatap sang suami karena ia merasa kalau suaminya lah yang mengajari putra mereka berkata seperti itu.
"Yayah" jawab Damin dengan polosnya.
"Sudah Bunda duga" ucap Leny menatap geram sang suami.
"Lah, sejak kapan Ayah mengajari kamu berkata seperti itu sayang?" tanya Daniel terkejut karena memang ia merasa tidak pernah mengajari hal tersebut. Namun Damin hanya tersenyum menatap Daniel.
"Tidak usah mengelak suamiku!. Anak kecil tidak mungkin berbohong" sela Leny memotong dan menatap tajam sang suami.
"Tapi Ayah memang benar-benar tidak pernah mengajari Damin seperti itu Honey" jawab Daniel membela diri karena memang tak pernah mengajari putranya berkata seperti itu.
"Iya memang Ayah tidak pernah mengajari Damin seperti itu. Tapi Ayah selalu memanggil Bunda dengan kata tersebut di depan Damin. Pasti kata-kata itu tersimpan dalam memori ingatannya" ucap Leny geram dan mencubit pipi Daniel.
"Hehehe, ampun Honey ampun" jawab Daniel terkekeh.
"Anggap saja itu panggilan sayang dari Damin untuk Bundanya yang cantik ini" timpal Daniel dan mencubit hidung Leny dengan gemas.
Damin hanya terkekeh saat melihat kedua orangtuanya yang tengah saling mencubit manja di depannya. Lalu tiba-tiba Damin langsung mencium pipi Daniel dan membuat mereka berdua terkejut hingga saling melepaskan cubitan masing-masing.
"Kok Ayahnya doang yang di cium sayang?. Bundanya juga dong" pinta Leny manja, namun Damin malah mencium Daniel lagi tanpa di pinta oleh sang Ayah, dan membuat Leny menyebikkan bibirnya.
"Iiihhh gantian Bunda dong sayang" ucap Leny lagi semakin manja. Akan tetapi lagi-lagi Damin hanya mencium Daniel kembali.
"Hahaha anak Ayah" tawa Daniel penuh kemenangan dan membalas ciuman dari putranya barusan. Sedangkan Leny hanya cemberut kesal melihat kedua pria tampannya itu.
Daniel tersenyum gemas saat melihat wajah istrinya yang sedang cemberut itu. Lalu ia menyuruh Damin untuk mencium Bundanya dan putranya langsung mengerti lalu mencium pipi Leny, membuat Leny tersenyum bahagia saat putranya melakukan hal barusan.
"Nah, gitu dong sayang" ucap Leny dan langsung menciumi wajah putra tampannya itu.
Kakek dan Neneknya Damin hanya tersenyum melihat keharmonisan dari keluarga kecilnya Daniel itu. Mereka bahagia karena Daniel memiliki istri serta putra yang begitu mencintainya.
"Lihat deh itu Ayah" ucap Rani menunjuk ke arah Daniel menggunakan dagunya.
"Iya Bu, Ayah juga sedari tadi memperhatikan kebahagiaan dari mereka kok" jawab Leo tersenyum bahagia.
"Cucu kita juga semakin pintar dan semakin menggemaskan ya. Tak terasa besok usianya genap satu tahun. Jika saja Kak Elang dan Mbak Aqila ada di sini, mungkin mereka juga sangat bahagia melihat kedua putranya sudah memiliki keluarga masing-masing" ucap Rani dengan nada sendunya.
Leo tersenyum dan langsung merangkul pundak sang istri yang terlihat sedang menahan air matanya.
"Sudah Bu, jangan sedih lagi. Jangan membuat suasana bahagia ini berubah menjadi tangisan" ucap Leo tersenyum sambil mengelus lengan sang istri.
"Iya suamiku" jawab Rani tersenyum dan terus menatap Daniel yang tengah berbahagia dengan keluarga kecilnya dari kejauhan.