Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
BERTEMU KEMBALI


Disela-sela tegangnya latihan, tiba-tiba handphone yang ada di saku celana Daniel berdering, dan di saat itu pula Fauzi juga tengah menyerang Daniel. Daniel mengambil ponselnya yang terus berdering, ia tersenyum ketika melihat nama si penelepon pada layar ponselnya. Ia langsung mengangkat panggilan telepon tersebut tanpa memperdulikan tinjuan Fauzi yang mendekat ke arahnya. Tanpa melihat sang Adik pun Daniel masih bisa menangkis bahkan melakukan serangan balik meskipun ia sedang dalam keadaan menelpon.


"Iya, ada apa Honey?" tanya Daniel sambil menangkap tinjuan dari Fauzi.


"Ayah dimana?" tanya Leny balik.


"Ayah lagi berada di markas latihan" jawab Daniel sembari mendorong Fauzi menggunakan tenaga dalam hingga lagi-lagi Fauzi menabrak Kevin dan Rian yang tengah berdiri tak jauh di belakangnya.


Dion dan Wulan tertawa melihat Rian dan yang lainnya saling menindih untuk yang kedua kalinya.


Daniel memberi kode dengan mengangkat tangan kirinya ke arah depan yang dimana Rian dan kedua Adiknya masih saling menindih. Mereka bertiga langsung mengerti apa yang Daniel maksud yaitu latihan hari ini telah usai karena Daniel mendapatkan panggilan telepon dari istrinya.


"Temani Bunda ke mall dong Ayah, stok buah, roti untuk Damin, susu, cemilan, dan keperluan di kamar mandi sudah hampir habis" pinta Leny dengan nada manjanya.


"Iya istriku, Ayah akan kembali ke hotel" jawab Daniel tersenyum dan pasangan suami-istri yang selalu terlihat mesra itu langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


"Aku harus pulang" ucap Daniel sambil meletakkan ponselnya ke dalam saku kembali.


"Memangnya ada apa Kak?" tanya Fauzi penasaran.


"Kakak ipar kamu minta di kawal ke mall" jawab Daniel sembari membersikan tubuhnya yang terasa sedikit berdebu.


"Biasa, bulanan" timpalnya.


"Kan biasanya keperluan kamar sudah di siapkan oleh pihak hotel Kak. Apa lagi Kakak sebagai pemiliknya" selah Kevin kebingungan.


"Kakak tinggal memberi perintah pada mereka, pasti apa yang Kakak ipar butuhkan akan segera datang" timpal Kevin menjelaskan.


"Kau seperti tidak mengenal Kakak ipar mu saja" jawab Daniel terkekeh.


"Dia sosok wanita mandiri yang tidak ingin menyusahkan orang lain" timpal Daniel tersenyum.


"Tapi kali ini Kakak ipar sedang menyusahkan Kakak" sela Fauzi tertawa.


"Pletak"...(Rian menyentil kening Fauzi). Sedangkan kan mereka hanya tertawa karena sudah sangat mengenali sikap dari Fauzi yang suka menjadi badut di dalam keluarga mereka dan mereka sangat menyukai hal tersebut.


"Yasudah, aku harus kembali ke hotel. Kalian lanjutkan saja latihannya" ucap Daniel merapikan pakaian.


"Aku juga ingin kembali ke hotel. Latihan ini membuat cacing di dalam perutku berdemo dan sepertinya ada yang sudah membakar ban karena terlalu lapar" sambung Fauzi mengelus perutnya.


Rian langsung memiting leher sang Adik lalu berkata dengan gemas "Yang ada di dalam pikiran kamu itu hanya makan dan makan saja ya" mereka semua tertawa lagi melihat Rian dan Fauzi yang tengah bercanda.


"Tidak dong. Ada Angel, Keyla, serta keluarga kita yang ada di dalam pikiranku" jawab Fauzi mengejek dan masih dalam posisi pitingan Rian.


"Yaudah. Kalau kalian ingin kembali, Ayo kita pulang bareng aja" ajak Daniel menyela.


"Jangan terlalu banyak main-main" timpalnya menegur Rian dan Fauzi yang tengah bermain seperti anak kecil.


"Entah ni Kalian berdua. Sudah punya anak pun masih bersifat seperti anak-anak, bahkan mengalahkan anaknya sendiri" sambung Wulan mengejek.


"Ayo buruan. Jangan membuat singa betina menunggu, karena kalian akan menanggung resikonya jika dia sudah masuk dalam mode menerkam" ucap Kevin merangkul kedua pria dewasa yang tengah bertingkah seperti anak-anak.


"Iiihhh, aku tak mau di telan olehnya" ucap Fauzi bergidik ngerih membayangkan jika Kakak iparnya mengamuk.


"Bahkan suaminya saja sulit untuk menjinakkannya" timpal tertawa dan Daniel hanya menggeleng menghadapi Adiknya yang sedikit sengklek itu.


"Sekali lagi anda berkata jelek tentang Kakakku, jangan salahkan kalau sepatu yang aku pakai ini masuk dalam ke mulut anda yang lemes itu" tegur Wulan merasa tak terima dengan ejekan Fauzi terhadap Kakaknya.


"Noh, rasain!. Gak kena oleh singa, di hajar oleh kucing" sambung Kevin mengejek.


"Udah Ayo buruan. Istriku pasti kebingungan mencari ku" ajak Dion.


"Oiya, Kak Dion kan kabur dari kamar tanpa sepengetahuan istrinya" ucap Fauzi nyeletuk.


"Kak!, mulutmu nomor berapa sih?!" tanya Wulan geram.


"35" jawab Fauzi


"Ni, sepatuku nomor 29" ucap Wulan melihat ke arah kakinya yang tengah menggunakan sepatu.


Setelah lelah bercanda, mereka semua keluar dari tempat latihan Dark Shadow dan langsung mengemudikan mobil mereka ke hotel. Karena sedikit kelelahan, Daniel menggunakan auto pilot pada mobilnya dan ia beristirahat.


Setibanya di kamar hotel, Daniel tersenyum melihat istrinya yang tengah bersolek di depan cermin. Ia langsung memeluk istrinya dari belakang yang sedang sibuk memoles wajahnya lalu Daniel mencium pundak sang istri.


"Ayah mandi gih, tolong mandikan Damin juga" ucap Leny sambil menggunakan lipstik pada bibirnya.


"Iya Honey" jawab Daniel. Namun ia masih terus memeluk sang istri dan bahkan memejamkan matanya.


"Ayah, buruan dong!. Lihat tu Damin udah ngeliatin dari tadi" ucap Leny sedikit geram.


"Iya-iya bawel" jawab Daniel mencubit hidung Leny dan ia langsung menuju ke ranjang Damin yang tengah duduk menatap dirinya dengan senyuman saat sang Ayah sudah mulai mendekat seakan Damin tau kalau sosok pria tampan yang begitu mirip dengannya adalah Ayahnya.


Daniel menggendong putra tampannya menuju ke kamar mandi dan kedua pria itu mulai membersihkan tubuhnya. Sedangkan Leny tersenyum karena ia bisa berdandan dengan tenang tanpa ada gangguan dari sang suami.


"Akhirnya bisa fokus. Kalau tadi tidak aku suruh buru-buru mandi, bisa-bisa bakal terjadi perang di ranjang" gumam Leny tersenyum dan masih berdandan di depan cermin.


"Dasar suamiku, dia tau bagian tubuh mana yang membuatku menginginkan hal itu" timpalnya menggeleng.


Seusai berdandan dan kedua pria tampannya Leny juga sudah terlihat rapih, keluarga kecil itu mendatangi keluarganya yang sedang berada di restoran hotel karena mereka bertiga pergi dalam posisi makan siang.


"Loh, Cucu Nenek mau kemana sayang?" tanya Ibu Rani tersenyum melihat Damin yang begitu tampan.


"Mau ke mall Nek" jawab Leny menirukan suara anak kecil.


"Siang-siang begini?" tanya Ayu.


"Makan saja dulu" sambungnya.


"Tidak, kami bisa makan di luar" jawab Leny tersenyum.


"Yaudah, hati-hati ya sayang" ucap Ibu Rani lembut.


"Daniel, tolong kamu jaga menantu dan cucunya Ibu!. Awas sampai kenapa-kenapa" tegur Ibu Rani mengancam sedangkan Leny terkekeh melihat suaminya yang tengah di ancam oleh mertuanya.


"Iya Bu iya" jawab Daniel lembut.


"Yaudah, kami pamit dulu" timpal Daniel mengacak rambut Wulan yang tengah menyendokan makanan ke dalam mulutnya.


"Hhhmmm" gerutu Wulan kesal karena perbuatan sang Kakak.


Kini keluarga kecil yang terlihat selalu bahagia itu sudah berada di dalam mobil dan sedang berjalan menuju ke sebuah mall mewah yang berada di kota tempat hotel mereka berada.


Setengah jam kemudian mobil mewah milik Daniel sudah masuk ke dalam tempat parkir yang berada di mall tujuan mereka.


Seusai memarkirkan mobilnya dengan rapih, mereka bertiga langsung masuk ke dalam mall yang begitu besar itu.


Leny mengambil troli belanja lalu mereka bertiga berjalan menelusuri setiap isi mall tersebut mencari semua yang menurut Leny harus di belinya.


Damin yang sedari tadi memperhatikan troli belanja, tiba-tiba ia tubuhnya menggeliat hingga Damin sedikit kesulitan saat menggendong putranya.


"Damin mau duduk di situ ya?" tanya Daniel menunjuk ke arah troli yang tengah di bawa sang istri, dan di anggukan oleh Damin.


Daniel menghela nafasnya sambil tersenyum lalu meletakkan putra tampannya sebuah besi duduk yang ada di troli belanja tersebut, dan mereka bertiga melanjutkan perjalanan mencari kebutuhan mereka.


Disaat Leny dan Daniel tengah sibuk memilah-milah di sebuah rak yang berisikan susu bayi, tiba-tiba ada sosok wanita yang tidak sengaja menabrak Daniel.


"Aduh, maaf-maaf" ucap wanita itu menggunakan bahasa Jepang tanpa menatap ke arah Daniel.


"Tidak masalah" jawab Daniel.


Wanita yang tengah sibuk membersihkan pakaian karena terjatuh tadi pun langsung terhenti karena ia seakan mengenali suara tersebut.


Ketika ia mendongak, ia langsung terkejut saat melihat Daniel, dan juga tak kalah terkejutnya saat melihat wajah wanita yang sepertinya ia juga mengenalinya.


"Da...Daniel? tanya wanita itu gugup karena terkejut.


"Jasmine?" tanya Daniel juga..