
Angel terlihat sangat panik dan ketakutan melihat Kakaknya yang tiba-tiba pingsan, tak henti-hentinya air matanya menetes membasahi pipi Leny yang tengah tak sadarkan diri dalam pelukannya.
"Kak!, bangun Kak!. Jangan buat aku sedih" rengek Angel menangis.
Daniel berjongkok, kemudian ia mengecek keadaan sang istri. Tak ada rasa khawatir sedikitpun pada dirinya melihat istrinya yang tengah pingsan itu. Karena ia tau kalau Leny akan baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan Kakakku kak?" tanya Angel masih menangis.
Daniel tersenyum sambil mengelus kepala Angel, lalu ia berkata "Tenang saja, Kakak kamu baik-baik saja kok. Dia hanya kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan energi sewaktu ia marah tadi". Namun Angel masih tak bisa tenang begitu saja melihat sang Kakak tak kunjung sadar.
"Kenapa ini semua bisa terjadi pada Kakakku?!, aku tidak menyangka kalau Kakak Leny memiliki kepribadian seperti ini?!" Tanya Angel khawatir.
"Mungkin, Kakak kamu bisa sampai seperti ini karena ia terlalu lama memendam emosi selama waktu yang begitu lama. Namun, karena dia sudah tak bisa lagi membendungnya, semua emosi yang selama ini ia simpan sendiri akhirnya sampai kepuncak nya. Karena itu ia tadi berubah menjadi seperti orang yang kerasukan setan" jawab Daniel menjelaskan.
"Selama ini Kakak kamu ini selalu memendam semuanya sendirian. Di setiap ia ingin menikmati waktu luang bersama keluarganya, pasti selalu ada pengacau yang menghalangi, seperti saat ini. Tapi mungkin untuk kali ini, mayat yang ada di sana sedang tidak beruntung. Dia menjadi samsak amarah untuk Kakak kamu ini" timpal Daniel menambahkan.
"Tapi Kakakku baik-baik saja kn Kak?" tanya Angel memastikan.
Daniel tersenyum, lalu ia menjawab "Percayalah padaku. Kakak kamu baik-baik saja kok, dia hanya butuh waktu untuk istirahat". Lalu Daniel tersenyum sambil memperhatikan wajah sang istri yang tengah mendengkur karena kelelahan.
"Lihat, dia malah mendengkur kan?" timpal Daniel tersenyum gemas.
Angel menyeka air matanya sembari menjawab "Iya, Kakak benar. Mungkin Kak Leny hanya kelelahan saja". Lalu Angel tersenyum lega melihat kalau Leny baik-baik saja.
"Terima kasih banyak ya Angel, kamu begitu sangat menyayangi istriku ini. Meskipun aku dan suamimu tidak ada hubungan darah, tapi kalian begitu menyayangi keluargaku. Aku benar-benar bahagia memiliki keluarga besar seperti kalian semua. Bagiku kalian adalah saudara terbaikku" ucap Daniel tersenyum.
"Apa yang terjadi padamu Kak?, apa kau sedang demam?" tanya Fauzi sambil menyentuh kening Daniel menggunakan punggung telapak tangannya.
"Angel, apa aku boleh menggantung suamimu ini?" tanya Daniel meminta izin sambil menatap geram ke arah sang Adik.
"Hahaha, silahkan saja Kak. Aku juga ingin meminta tolong padamu untuk membuat dia bisa lebih serius lagi" jawab Angel tersenyum sambil memejamkan sebelah matanya.
"Terima kasih suamiku, kamu sudah berhasil mencairkan suasana yang panas ini" batin Angel tersenyum sambil melihat Daniel dan suaminya tengah bercanda.
"Hahaha, ampun Kak. Jangan piting aku lagi" ucap Fauzi tertawa terbahak-bahak dengan posisi leher yang tengah di piting oleh Daniel.
Angel hanya tersenyum bahagia karena melihat Kakak iparnya yang tengah asik bercanda dengan suaminya itu, dan Damin juga begitu sangat bahagia melihat Ayah dan Pamannya yang begitu saling menyayangi.
Tiba-tiba Leny yang tengah pingsan dalam pangkuannya Angel mulai beraksi seakan-akan ingin siuman. Angel yang tau akan hal itu langsung melerai pertikaian antara suami dan Kakaknya yang sibuk bermain.
"Kak Daniel!, sepertinya istrimu sudah siuman!" teriak Angel memanggil.
Mendengar itu Daniel dan Fauzi langsung menyudahi permainan mereka, lalu Daniel buru-buru menunju ke tempat sang istri yang tengah tertidur.
Daniel berjongkok dan terus membelai kepala Leny yang tengah berusaha membuka matanya. Ia hanya terus tersenyum dengan tangannya yang tak henti-hentinya mengelus kepala sang istri. Hal tersebut membuat Angel ikut tersenyum bahagia.
"Honey..." panggil Daniel dengan lembut setelah Leny sudah membuka matanya.
"Kakak!" tangis Angel pecah kembali dan bercampur dengan senyuman.
"Angel, kenapa kamu menangis sayang?" tanya Leny dengan nada orang baru siuman.
"Dasar!. Kakak bodoh!" jawab Angel dan ia langsung memeluk Leny bercampur isak tangisnya. Sedangkan Leny hanya terdiam karena ia juga masih belum paham kenapa tiba-tiba Angel menangis sambil terus memeluknya.
"Fauzi?!, apa yang telah kau perbuat pada Adikku hah?!" tanya Leny menatap tajam ke arah Fauzi karena ia berfikir kalau Angel menangis gara suaminya sendiri.
"Lah?,. Dia yang melakukannya, aku pula yang di fitnahnya" gumam Fauzi memutar bola matanya jengah.
"Hah?, apa kau bilang?" tanya Leny geram.
"Damin, tolong Paman kamu ini nak" ucap Fauzi sambil berjongkok di belakangnya Damin yang tengah berdiri di depan Leny.
"Nda!, no-no" ucap Damin sambil menggoyangkan jari telunjuk di hadapannya Leny. Tingkah lucu Damin membuat mereka semua tertawa gemas melihat bayi tampan itu yang begitu pintar dan menggemaskan.
"Iya sayang" jawab Leny tersenyum gemas sambil mengelus kepala Damin.
"Dasar!. Adik durhaka!" timpal Leny sambil menatap geram Fauzi.
"Sebaiknya kita kembali saja ke hotel, Bunda harus istirahat" ucap Daniel tersenyum sambil mengelus kepala Leny.
"Oiya. Ayah, kemana para Genk motor tadi?" tanya Leny penasaran.
Daniel tersenyum sambil menunjuk ke arah seorang pria dengan kondisi tubuh yang sudah berantakan dan kepala terbelah hingga mengeluarkan isi di dalamnya.
Leny langsung terbelak saat melihat pemandangan yang sangat menjanjikan itu. Dengan polosnya ia terus termenung menatap mayat tersebut.
"Apa yang telah Ayah lakukan?. Kenapa Ayah sampai harus membuat tubuhnya seperti itu?" tanya Leny dengan polosnya dan kedua bola matanya terus menatap ke arah jenazah tersebut. Sedangkan Daniel hanya tersenyum sambil menggeleng saja.
"Iya, Honey, maafin Ayah ya" jawab Daniel tersenyum sambil mengelus kepala sang istri.
"Kepala Bunda kok terasa pusing ya?" tanya Leny sambil memegangi kepalanya.
"Yaudah, sebaiknya kita kembali saja ke hotel Honey" ajak Daniel dengan lembut, dan di anggukan oleh Leny.
Angel membantu Leny berdiri, mengingat kalau sang Kakak yang baru siuman. Pasti tenaga Leny belum kembali sepenuhnya.
Setelah Leny berhasil berdiri meskipun di bantu. Namun pandangannya masih terasa kunang-kunang.
"Kakak bisa jalan sendiri?" tanya Angel yang masih memegangi tubuh Leny.
"Bisa kok dek" jawab Leny tersenyum paksa karena harus menahan rasa pusing yang menyerang kepalanya.
Namun, pada saat Leny ingin melangkah, tiba-tiba tubuhnya hampir terjauh kembali. Untung saja Angel dengan cepat langsung memegangi tubuh Leny yang hampir saja terjatuh.
"Makasih ya dek. Maaf Kakak merepotkan kamu" ucap Leny tersenyum pahit.
"Sudahlah Kakak, jangan terlalu banyak bicara. Simpan tenaga Kakak, kita harus cepat kembali ke hotel agar Kakak bisa segera istirahat" jawab Angel khawatir.
Daniel langsung menggendong sang istri agar mereka bisa segera kembali ke hotel, mengingat cuaca yang semakin dingin dan salju yang perlahan mulai turun.
Melihat kemesraan Daniel dan Leny, membuat Fauzi ingin melakukan hal yang sama pada sang istri.
"Sayang, apa kamu ingin seperti itu?" bisik Fauzi menggoda.
Tanpa menjawab, Angel hanya menggendong Keyla yang tengah berdiri di depannya. Lalu ia langsung menyerahkan putri mereka ke tangannya Fauzi, sembari berkata "Daripada Papa menggendong Mama, lebih baik bawa putri kamu ini". Hal tersebut membuat Fauzi cemberut saja, dan Angel menggendong Damin agar mereka semua bisa kembali ke hotel secepat mungkin.