
Setelah lumayan lama mereka berdiskusi tentang masalah salah satu cabang milik Daniel yang tengah mengalami sedikit masalah karena perbuatan salah satu karyawannya, tak lama kemudian para pelayan restoran milik Daniel juga datang membawakan beberapa menu makanan yang sangat terkenal di tempat tersebut.
"Tuan dan nona muda, silahkan di nikmati menu terpopuler di restoran milik anda ini" ucap salah satu kepala pelayan di restoran itu.
"Wah, makanan ini sepertinya enak semua" jawab Leny tersenyum sambil memperhatikan beberapa makanan yang sedang di hidangkan di atas meja mereka.
"Nona muda, silahkan di coba. Ini adalah ayam saus yang banyak di gemari masyarakat yang berkunjung di restoran ini" ucap kepala pelayan mengambilkan makanan itu ke atas piring Leny.
"Terimakasih" jawab Leny tersenyum dan langsung menyantap makanan tersebut.
Setelah makanan itu masuk ke dalam mulut Leny, raut wajah Leny langsung tersenyum senang karena rasa pada makanan tersebut yang sangat begitu cocok pada lidah dan kerongkongannya.
"Ayam saus ini memang sangat enak, chef kalian memang hebat" ucap tersenyum bahagia memuji mereka.
"Kalau ini, apa namanya?" tanya Leny memperhatikan makanan yang ada di depan matanya.
"Kalau itu daging yang di panggang dengan menggunakan bara arang, dan di lumuri dengan bumbu khas racikan dari restoran ini sendiri" jawab kepala pelayan itu menjelaskan.
"Apa perbedaannya jika di panggang menggunakan oven?" tanya Leny lagi sambil memotong daging panggang tersebut.
"Jika menggunakan bara arang rasanya lebih lezat dan bumbunya meresap sampai kedalamnya nona, kematangannya juga hingga sampai ke dalam" jawab kepala pelayan itu menjawab.
"Dagingnya sangat empuk, dan bau dagingnya tidak ada lagi" ucap Leny sambil memperhatikan daging yang tertancap pada garpu nya.
"Oh iya, apa ini halal?" tanya Leny khawatir kalau makanan yang ada di tangannya itu haram di agama yang ia anut.
"Nona tenang saja, semua makanan di sini halal kok. Bahkan penyembelihan daging di tempat ini menggunakan syari'at agama kok" jawab kepala pelayan itu menjelaskan dan membuat Leny merasa lebih tenang jika ingin memakan seluruh makanan lezat yang ada di atas meja mereka.
"Syukurlah Alhamdulillah kalau begitu" jawab Leny dan langsung memasukkan daging tersebut ke dalam mulutnya.
Lagi-lagi mata Leny langsung terbuka lebar setalah merasakan bahwa betapa lezatnya daging tersebut. Bahkan daging tersebut sangat empuk dan mudah ia menelannya.
"Ini begitu enak, bahkan aku bisa menghabiskan seluruh daging di piring ini" ucap Leny yang langsung mengambil piring yang berisikan daging panggang tersebut dan langsung memakannya dengan lahap.
"Oh iya, untuk tuan muda kecil juga. Kami sudah menyiapkan makanan khusus untuknya" ucap kepala pelayan itu tersenyum melihat wajah tampan Damin.
"Semoga tuan kecil menyukainya" timpalnya tersenyum.
Daniel langsung mengambilkan makanan yang di sediakan untuk putranya itu lalu ia menyuapi ke mulut sang putra yang sibuk bermain.
"Damin sayang, ayo makan dulu" ucap Daniel sambil menyuapi sendok ke arah mulut Damin.
"Yayah, Yayah " panggil Damin dan langsung melahap sendok yang Daniel arahkan ke arahnya. Daniel tersenyum melihat putranya yang begitu lahap memakan makanannya.
"Saya senang melihat keluarga kecil anda yang begitu bahagia ini tuan" ucap Iyan yang ikut tersenyum melihat Damin yang begitu senang mengunyah makanannya.
"Saya rasa tuan kecil juga sangat menyukai makanan itu" timpalnya tersenyum gemas melihat wajah Damin yang belepotan.
"Ini minuman apa?" tanya Leny mengambil sebuah gelas yang berisikan sebuah air berwarna coklat dan ada potongan buah lemon di dalamnya.
"Oh ini, namanya lemon cola nona" jawab kepala pelayan itu menjelaskan.
"Terimakasih banyak atas pujiannya nona muda" ucap kepala pelayan itu menunduk.
"Maaf ya Iyan, aku sampai lupa dengan pembahasan tentang masalah kantor tadi karena begitu menikmati hidangan ini" ucap Leny sambil mengunyah daging panggang itu lagi.
"Haha, tidak masalah nona muda. Justru saya senang melihat keluarga anda yang begitu bahagia ini" jawab Iyan tersenyum.
"Lagian menurut tuan muda itu bukan masalah besar juga" timpalnya sambil menyedot minumannya.
"Uang masih bisa di cari. Tapi kalau masalah setia dan kepercayaan yang sudah di khianati, tidak akan selamat dari genggamanku" ucap Daniel geram mengepalkan tangannya.
Di saat wajah Daniel yang nampak terlihat emosi, tiba-tiba Leny menyodorkan garpu yang ada daging di atas ke mulut Daniel, dan sontak membuat Daniel langsung membuka mulutnya menerima makanan dari suapan sang istri.
"Makan!, jangan emosi melulu bawaannya" tegur Leny dan langsung merubah raut wajah Daniel yang sebelumnya dengan senyuman.
"Jadi, kapan kita akan melakukan misi ini tuan?" tanya Iyan mencair suasana hati Daniel.
"Lebih cepat lebih baik. Kalau bisa besok aku akan menyusup kesana" jawab Leny menyambung.
"Yang penting kamu urus bagaimana caranya agar aku bisa menyusup ke tempat itu" timpal Leny sambil fokus makan.
"Apa tidak terlalu cepat nona?" tanya Iyan merasa khawatir.
"Aku paling tidak bisa melihat orang lemah di injak-injak harga dirinya" jawab Leny dengan wajah serius.
"Orang-orang yang sok berkuasa dengan menggunakan milik orang lain, apalagi itu milik suamiku. Harus segera di beri hukuman agar mereka tau kalau di atas langit, masih ada langit!" timpalnya sambil menusuk daging panggang itu dengan geram.
"Nona muda jika marah, terlihat begitu menyeramkan. Aku harus berhati-hati, agar aku tidak kena semprot olehnya" batin Iyan menelan ludahnya secara kasar.
"Aku juga tidak akan berani jika harus berkhianat pada mereka berdua. Yang dimana kebaikan tuan muda Daniel tidak bisa di bayar, bahkan menggunakan nyawaku sekalipun" timpal termenung.
"Kita sedang menyusun rencana, kenapa kau malah melamun Iyan" tegur Leny dan langsung membuat Iyan tersadar dari lamunannya.
"Baiklah saya akan mengurusnya nona muda" jawab Iyan setelah tersadar dari lamunannya.
"Apa saya memasukan nona kesana sebagai direktur yang ingin berkunjung untuk memantau, atau sebagai pengganti dari manager licik itu?" tanya Iyan meminta saran.
"Jika kau melakukan itu. Pasti kedua kecoak licik itu langsung pandai berakting dan mengancam seluruh karyawannya untuk tutup mulut, agar kebusukan mereka tidak terlihat olehku" jawab Leny menjelaskan.
"Anda ada benarnya juga. Aku terlalu bodoh, sampai tidak bisa berfikir sampai sejauh itu, hehehe" ucap Iyan terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
"Maafkan saya nona atas kebodohan saya" timpalnya merasa tidak enak.
"Kau bukan bodoh Iyan, hanya saja pikiranmu yang sedang di penuhi oleh emosi itu yang membuatmu tidak bisa berfikir lebih jauh" jawab Leny menerangkan.
"Aku akan kesana sebagai karyawan baru, dan aku pasti bisa menyaksikan kebusukan mereka berdua" timpal Leny tersenyum penuh arti.
"Baiklah nona muda, saya akan mengurus semuanya" jawab Iyan tegas.
Setelah usai menyusun rencana, mereka bertiga langsung melanjutkan untuk menghabiskan semua makanan yang di hidangkan di atas meja mereka dengan hati dan pikiran yang sudah mulai tenang karena ada Leny yang menyelesaikan masalah tersebut.