
Setelah para orang-orang Gagak Hitam yang telah mengganggu Mama Yuni musnah, kini kehidupan Daniel beserta keluarganya sudah tak ada konflik dan ketegangan lagi.
Hubungan antara Dion dan Ayu juga sudah semakin serius, mereka berdua sudah ingin segera menikah mengingat usia Damin yang sudah bisa di bawa jika dalam pesta.
Dion dan Ayu memang sudah berencana akan menikah jika usia keponakan mereka sudah menginjak 2 bulan atau lebih.
Awalnya mereka berdua berniat menikah setelah Windy melahirkan anaknya, agar Riski beserta keluarganya juga bisa ikut berkumpul di antara kebahagiaan Dion dan Ayu. Namun, Riski dan Windy menolaknya, mereka tak ingin menghambat kebahagiaan untuk Dion dan Ayu.
Windy juga berpesan kalau ia akan berusaha untuk menghadiri acara pernikahan Dion dan Ayu nanti, meskipun usia kandungannya sudah menginjak hampir 8 bulan di saat pernikahan mereka kelak.
Hari Minggu ini, Dion dan Ayu tengah berkunjung ke rumah Daniel, mereka berdua sudah sangat merindukan sosok bayi kecil itu. Tak lupa juga Dion membelikan banyak mainan baru untuk keponakan tampannya itu.
"Apa kau gila?!, Damin masih kecil!. Untuk apa kau membawa mainan banyak sekali?!" tanya Daniel merasa heran melihat kembarannya itu.
"Gak papa lah Kak, Damin kan keponakanku" jawab Dion merasa tak bersalah
"Iya tapi dia kan belum paham!" protes Daniel menoyor kepala Dion
"Berisik!" ucap Leny dan Ayu berbarengan, sontak membuat kedua saudara kembar itu langsung terdiam tak berdaya
"Damin sayang, lihat itu tingkah Ayah dan Pamanmu!. Seperti anak-anak" ucap Ayu mengejek
"Iya ni, buat bising aja!" sambung Leny
"Dia yang mulai!" protes Dion menunjuk sang Kakak
"Apa?!, aku yang kau salahkan?!" tanya Daniel tak terima dan langsung memiting leher milik Dion, sampai-sampai membuat Damin tersenyum melihat tingkah mereka
"Bisa diam gak?!" tegur Leny dan Ayu lagi serentak
"Ada apa sih ini?!, kok ribut-ribut?!" tanya seorang wanita paruh baya yang sudah berada di belakang mereka
"Ibu?!" ucap mereka berempat terkejut
"Loh Ibu sama siapa?" tanya Leny celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang bersama sang Ibu mertuanya
Tiba-tiba seorang pria paruh bayah ikut masuk menyusul sang Istri sambil membawa banyak paper bag di kedua tangannya.
"Ayah?!" sapa mereka lagi
"Halo Cucu Oma" ucap Ibu Rani langsung menghampiri Damin yang tengah dalam pangkuan Ayu
"Apa itu Ayah?" tanya Daniel penasaran
"Perlengkapan Cucuku dan mainan baru" jawab Ibu Rani yang sudah menimang Damin kecil
"Ya Tuhan, ternyata Ayah dan Ibu lebih parah dari Dion" ucap Daniel menepuk jidatnya
"Kenapa?!, ingin protes?!. Mau di cap jadi Anak durhaka?" tanya Ibu Rani tak terima
"Rasain tu, kan kena marah sama Ibu" ejek Dion menoyor kepala Daniel dan membuat Damin tersenyum lagi melihatnya sampai membuat sang Oma merasa gemas.
"Bagaimana pernikahan kalian?" tanya Ibu Rani memecah perdebatan yang tak penting tadi
"Sudah 90% beres kok Bu, hanya tinggal baju untuk keluarga kita saja yang masih dalam proses penjahitan
"Wah sebentar lagi Damin bakal punya Adik ni" ucap Leny menggoda dan sukses membuat pipi Ayu merah merona karena malu
"Apaan sih Kak!" protes Ayu tertunduk malu
Leny semakin gemas melihatnya dan terus menerus menggoda calon Adik Iparnya itu tanpa henti.
"Sayang!, udah dong. Jangan di godain terus Ayunya, kasian tu mukanya udah merah mirip buah tomat" tegur Ibu Rani
"Hehe, abisnya seru Bu" jawab Leny cengengesan
Seorang wanita turun dari tangga dengan wajah yang baru bangun tidur. Ia terpaksa harus bangun dari mimpinya karena mendengar suara keributan sampai ke tempat tidurnya dan membuatnya mau tak mau harus bangun
"Ada apa sih Kak?!, berisik banget" tanya wanita itu sambil menguap dan mata masih sayu
"Astaghfirullah ni Anak gadis, jam segini baru bangun?!" ucap Ibu Rani heran melihat tingkah dari Anak gadisnya itu
Mata milik Wulan langsung terbelak mendengar suara yang sangat ia kenali itu masuk kedalam telinganya.
"I..ibu?!" ucap Wulan menjadi kikuk melihat sang Ibu yang sudah menatapnya dengan tajam
"Mandi sana!" perintah Ibu Rani dan langsung di iyakan oleh Wulan
Wulan langsung berlari menuju kamarnya dan langsung membersihkan diri dari keringat yang sudah menempel di tubuhnya. Sedangkan Ibu Rani hanya menggeleng saja melihat tingkah dari Anak gadisnya itu.
"Pasti kalian terlalu memanjakannya" ucap Ibu Rani menggelengkan kepalanya
"Ya mau bagaimana lagi Bu, setiap aku ingin memarahinya, Istriku langsung memarahiku" ucap Daniel seakan mengadu kepada sang Ibu
"Iya wajar dong!, Wulan kan Adik aku. Kalau ada yang berani memarahinya, maka akan ku marahi balik" jawab Leny menjulurkan lidahnya
"Tu kan Bu!" ucap Daniel mengadu
"Ahk!. Udah-udah, jangan ribut lagi!. Ibu pusing melihat Adik kalian itu, Anak gadis kok seperti itu" ucap Ibu Rani melerai perdebatan antara Daniel dan Leny.
"Mungkin itu turunan dari Kakaknya itu Bu" jawab Leny menunjuk ke arah Daniel menggunakan dagunya
"berarti sama seperti Dion juga dong" sambung Ayu menatap kearah calon Suaminya itu
"Kalau begitu, selamat ya!. Sebentar lagi kamu akan menjadi alarm hidup, sama sepertiku" ucap Leny berjabat tangan dengan Ayu
"Apa-apaan kalian berdua ini?!" protes Daniel tak terima
"Dion kau harus membantu" pinta Daniel menatap Dion
Dion mengangkat kedua bahunya dan menjawab "Maaf Kak, aku gak mau di terkam oleh singa betina"
"Ahrk!. Terserah kalian lah, pusing Ibu dengarnya" ucap Ibu Rani pergi membawa Cucunya menuju taman belakang rumah di ikuti oleh Ayah Leo
"Damin kalau udah besar jangan seperti Ayah kamu yang sayang" ucap Ibu Rani menciumi pipi sang Cucu.
________________________
DI TAMAN BELAKANG RUMAH MILIK DANIEL...
Ibu Rani dan Ayah Leo tengah bersantai menikmati kesunyian di bangku yang tersedia di taman milik Daniel. Senyuman bahagia terukir pada bibir kedua orangtua itu mengingat bahwa keluarga besar mereka sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.
"Ibu merasa sangat bahagia sekali, Daniel sudah menikah dengan wanita yang ia cintai dan sudah memiliki seorang putra yang sangat tampan ini" ucap Ibu Rani menatap sang Cucu yang tengah duduk di pangkuannya.
"Dion dan juga Ayu juga sebentar lagi akan menyusul mereka. Riski juga akan segera memiliki Anak. Ibu sangat bahagia sekali Ayah, karena di hari tua kita, kita memiliki Anak-anak yang sangat menyayangi kita meskipun mereka semua bukan berasal dari rahim ibu" timpal merasa terharu
Ayah Leo tersenyum dan membelai lembut kepala Damin lalu berkata "Ayah juga Bu. Pasti Kak Elang dan juga Mbak Aqila ikut senang melihat kedua putranya sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.