
Leny merangkul lengan Ayu dan mengajaknya masuk ke dalam hotel miliknya agar mereka semua bisa segera beristirahat mengingat waktu juga sudah hampir pagi. Karena mereka juga baru sampai di Jepang, jadi sudah di pastikan kalau tubuh mereka semua mengalami lelah.
Daniel merangkul Dion masuk ke dalam. Saat mereka berdua sampai di dalam, sang kepala hotel yang menunggu kedatangan Daniel di buat terkejut karena ia melihat sosok tuan mudanya ada dua orang.
Dia terus mengucek-ngucek matanya berulang kali berharap kalau itu semua hanya halusinasi saja karena ia juga belum ada istirahat dan pasti tubuh dan pikirannya menjadi lelah hingga menyebabkan ia mengalami halusinasi.
"Pasti kamu terlihat bingung kan?" tanya Daniel terkekeh.
"Maaf tuan muda, ini saya pasti sedang kelelahan dan mataku sampai menjadi halusinasi" jawab kepala hotel itu.
"Hahaha, kau sedang tidak berhalusinasi pak" ucap Dion memegang pundak pria tua itu.
"Hah?, jadi maksudnya kalian berdua?" tanya si kepala hotel itu kebingungan.
"Perkenalkan, aku Dion, aku saudara kembar dari Kak Daniel" jawab Dion tersenyum mengulurkan tangannya.
"Sa..saya Haris tuan, saya yang bertanggung jawab atas tempat ini" ucap Haris terbata-bata sambil menyambut uluran tangan dari Dion.
"Pak Haris ya" ucap Dion tersenyum.
"Pantas saja anda begitu fasih berbahasa Indonesia, ternyata anda memang warga negara Indonesia" timpal Dion.
"Semua pekerja di hotel ini memang orang dari negara kita tuan. Tuan Daniel yang menginginkannya" jawab Haris.
"Ya anggap saja sebagai membantu para saudara kita yang tidak dapat pekerjaan di negara kita sendiri" sela Daniel menjelaskan.
"Oh iya. Pak Haris tolong siapkan kamar untuk mereka ya" sambung Leny.
"Baik nona muda, akan segera saya siapkan kamar spesial untuk tuan dan nona sekalian" jawab Haris dan langsung pergi mempersiapkan sebuah kamar terbaik di hotel tersebut.
Tak lama kemudian, Pak Haris sudah kembali dan membawa 2 buah kunci kamar untuk mereka. Lalu dengan sopan ia memberikan kunci tersebut pada Dion.
"Kok kuncinya cuma dua?" tanya Leny bingung.
"Seharusnya tiga dong" timpal Leny.
"Maaf nona muda, bukankah tuan Dion dan tuan yang di sampingnya itu juga sudah menikah?" tanya Pak Haris.
Leny tersenyum dan menjawab "Maksud Pak Haris itu Alvin?" Pak Haris hanya mengangguk saja.
"belum Pak, Alvin dan Chelsea, belum menikah" timpal Leny memegang lengan Chelsea.
"Maafkan saya tuan Alvin, saya tidak tau kalau anda dan nona Chelsea itu belum menikah" ucap Pak Haris menundukkan kepalanya.
"Hahaha, tidak masalah Pak Haris. Dua kamar juga cukup kok" jawab Alvin tertawa menatap Chelsea penuh arti.
"Berani kau melakukan hal itu pada sahabatku ini, kau akan berhadapan langsung denganku" ucap Leny mengancam.
"Kau nikahin dulu dia, baru kau bebas melakukannya" timpalnya dengan tatapan tajam.
"Hehehe, ampun nona muda" jawab Alvin ketakutan.
"Pak bos tolong aku dong. Istrimu galak banget" ucap Alvin mengadu pada Daniel.
Daniel memiting leher Alvin lalu berkata "Aku setuju dengan apa yang di katakan oleh istriku".
"Niat bejatmu, harus di hilangkan dari dalam sini" timpal Daniel sambil menjintak kepala Alvin.
"Udah dong!. Ini udah subuh, sebaiknya kita istirahat saja" sela Ayu melerai.
"Iya nih. Kalau begitu Kak Chelsea tidur di kamarku saja" sambung Wulan.
"Kalau Kak Alvin berani macam-macam, biar aku yang akan membereskannya" timpal Wulan.
"Yaudah ayo kita pergi ke kamar aja, aku juga sudah lelah banget" ucap Kevin.
Keluarga Daniel akhirnya pergi ke kamar mereka masing-masing untuk segera mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah kelelahan karena seharian berada di rumah sakit itu.
Pukul 10 pagi, Daniel dan Leny masih tertidur pulas di atas ranjang mereka di karenakan mereka semua memang kurang waktu tidurnya. Akan tetapi Daniel tiba-tiba terbangun karena mendengar suara ponsel miliknya berdering. Daniel mengambil ponselnya yang ia letakan di samping lampu tidur yang berada di sebelah kanannya. Matanya masih sayup-sayup sambil menatap layar ponselnya, lalu ia langsung menggeser icon hijau setelah ia tau siapa yang menghubunginya.
"Iya ada apa?" tanya Daniel dengan nada suara khas seperti baru bangun tidur.
"Maaf tuan muda, kalau saya menggangu waktu istirahat anda" jawab si penelpon merasa tak enak hati.
"Tidak apa, lanjutkan" jawab Daniel dengan nada seraknya.
"Begini tuan. Saya ingin menyampaikan pesan dari anda malam tadi" ucap si penelpon tersebut.
"Pesan?, pesan apa?" tanya Daniel malas berfikir karena ia baru bangun dari tidurnya.
"Anda berpesan jika putra saya siuman, saya harus segera memberi tau anda" jawab si penelpon yang tidak lain adalah Souji.
"Memangnya putramu sudah sadar?" tanya Daniel.
"Sudah tuan. Pada saat ini dokter juga sedang memeriksa keadaan putra saya" jawab Souji.
"Baiklah, aku akan segera kesana" ucap Daniel, dan ia langsung mematikan ponselnya.
"Loh, istriku udah bangun rupanya" ucap Daniel tersenyum lalu tak lupa ia mencium kening Leny untuk memberikan kecupan selamat pagi.
"Siapa yang menelpon Ayah tadi?" tanya Leny.
"Souji Honey. Dia memberi kabar kalau putranya sudah siuman" jawab Daniel tersenyum menjelaskan.
"Apa Ayah akan kesana?" tanya Leny lagi.
"Tentu saja Honey. Ayah harus kesana dan Ayah juga akan meminta maaf pada anak itu" jawab Daniel.
"Kalau begitu Bunda juga ikut" ucap Leny bangkit dari duduknya dan ia duduk di pinggir ranjang sambil menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.
"Sebaiknya Bunda lanjutkan saja istirahatnya. Masalah ini biar Ayah yang urus" ucap Daniel membujuk.
"Tidak Ayah, Bunda harus ikut. Karena ada sesuatu yang ingin Bunda bicarakan pada putranya Souji" jawab Leny menjelaskan.
"Baiklah-baiklah istriku" ucap Daniel tersenyum sambil mencubit hidung Leny.
"Sebaiknya kita harus segera bersiap" timpal Daniel lalu ia langsung menggendong Leny dan ia bawa istrinya ke kamar mandi untuk mandi bersama.
Seusai mandi, bersama Leny langsung menitipkan Damin pada Wulan agar ia bisa menjaga keponakannya itu. Namun Damin tak ingin menjauh dari sang Ibunda dan mau tak mau Leny harus membawanya pergi ke rumah sakit bersama sang suami. Daniel juga meminta agar Dion dan lainnya agar ikut bersamanya terutama Alvin yang harus memeriksa keadaan anaknya Souji.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Daniel langsung beserta keluarga langsung menuju ke kamar rawat yang di mana anaknya Souji di rawat di dalamnya.
Ketika handle pintu di buka oleh Daniel, Souji yang sedang membantu putranya makan, sang anak di buat terkejut karena melihat sosok wajah Daniel yang ada depan matanya. Kejadian yang sangat menyiksa dirinya langsung terbayang Kemabli dalam ingatannya, rasa sakit yang ia rasakan juga masih menghantui dirinya.
"Papa!. Ke..kenapa pria kejam itu ada di sini?!" tanya sang anak ketakutan melihat Daniel yang berdiri di depannya.
"Dasar anak bodoh!" ucap Souji menegur anaknya.
"Asal kau tau!. Pria yang kau tunjuk itu adalah pemimpinku!" timpal Souji menjelaskan.
"Pe... pemimpin?" tanya sang putra terkejut, dan di anggukan oleh sang Papa.
"Ma...maksud papa, pria itu yang sudah membantu Papa ketika Papa di kepung oleh puluhan orang, dan pria itu yang mengalahkan mereka seorang diri?" tanya anaknya lagi.
"Ya, kau benar putraku. Tuan muda Daniel adalah penyelamat papa dari maut yang hampir memisahkan kita. Jika tidak ada tuan muda Daniel, mungkin kau sudah menjadi yatim-piatu" jawab Souji.
"Dan aku dengan bodohnya sudah menantang seseorang yang sudah menyelamatkan nyawa Papaku sendiri" ucap sang putra merasa menyesal.
"Suamiku, apa yang sedang mereka bicarakan?. Kenapa anak itu terlihat sedih?" tanya Leny berbisik.
"Pria tua itu menjelaskan pada putranya kalau Pak bos itu adalah seorang malaikat penyelamat dalam hidupnya. Jika tak ada suamimu, mungkin anaknya sudah menjadi seorang yatim-piatu" sambung Alvin yang menjawab.
"Intinya, anak itu sangat menyesal karena sudah mencoba untuk menghajar Kak Daniel, meskipun hal itu tidak mungkin terjadi. Justru malah dia yang terluka parah sampai masuk ke tempat ini" tambah Kevin.
Setelah mendengar penjelasan dari Alvin dan sang Adik, Leny melangkahkan kakinya mendekati ranjang yang di tempati oleh putranya Souji, karena ada hal yang sangat penting ingin Leny bicarakan pada siswa tersebut.
Souji yang menyadari kalau Leny mendekat, ia langsung bangkit dari duduknya dan hendak menyerahkan kursi untuk sang nona muda. Melihat tingkah sang Papa, siswa itu langsung mengetahui kalau wanita cantik yang sedang mendekati dirinya adalah istri dari pemimpin Papanya itu, dan ia mencoba ingin duduk karena merasa tidak sopan kalau berbicara pada nona mudanya dalam posisi berbaring. Namun pada saat ia ingin memaksakan tubuhnya untuk duduk, tiba-tiba rasa nyeri pada bagian kepalanya langsung membuat dirinya kesakitan dan tak mampu untuk duduk.
"Tidak usah memaksakan diri" ucap Daniel yang tiba-tiba sudah ada di samping putranya Souji dan membantunya berbaring lagi.
"Ma..maafkan saya tuan besar, saya tidak mengetahui kalau waktu itu adalah anda" ucap siswa itu menangis karena menyesal.
"Apa kamu bisa berbahasa Inggris?" sela Leny memotong menggunakan bahasa Inggris.
"Tentu saja nona besar" jawab siswa itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Leny.
"Chi..Chiaki" jawabnya gugup.
"Chiaki, untuk mewakili atas nama suamiku yang sudah membuatmu terluka parah seperti ini, aku benar-benar minta maaf padamu. Maafkan perbuatan suamiku ya" ucap Leny tersenyum tulus.
"Ti...tidak nona besar, yang seharusnya meminta maaf itu adalah saya. Karena dengan bodohnya saya sudah berani menghina dan menantang tuan besar" jawab Chiaki menyesal.
"Aku sangat memahami bagaimana keadaan mental dan sikapmu. Aku sangat mengerti kau seperti ini karena kau tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu bukan?" tanya Leny dan di anggukan dengan rasa ragu oleh Chiaki.
"Untuk itu aku yang seharusnya meminta maaf" timpal Leny.
"Nona muda..." ucap Souji terharu.
"Untuk mewakili nama suamiku, aku benar-benar minta maaf" ucap Leny membungkukkan badannya.
Semua orang yang melihat Leny melakukan hal seperti itu di buat terkejut. Karena ada istri dari seorang pemimpin besar Dark Shadow yang meminta maaf pada seorang anak-anak yang merupakan putra dari salah satu bawahannya. Sedangkan Daniel hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu hebat di matanya.
"No...nona besar, jangan seperti itu. Tolong jangan merendahkan tubuh anda di hadapan bawahan anda" ucap Chiaki merasa tidak sopan.
"Baiklah-baiklah, saya sudah memaafkan tuan besar. Jadi tolong bangkit lah nona muda" timpal Chiaki memohon.
"Terima kasih" ucap Leny tersenyum.
"Sebagai tanda terima kasihku karena sudah mau memaafkan perbuatan suamiku. Aku akan memberikan sebuah mobil untukmu, kau boleh memilih mau jenis mobil seperti apa. Setelah kau sembuh, kita akan ke kantor suamiku agar kau bebas memilih mau mobil yang mana" timpal Leny tersenyum.