Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SANG PENGHANCUR


Di dalam mobil hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Daniel yang tengah fokus dengan kemudinya, dan Joe yang sedari tadi terus memikirkan keadaan sang Adik.


Joe melirik ke arah Daniel, ia melihat wajah sahabatnya seakan sedang menahan amarah yang sebenarnya tak bisa di tahan. Joe cuma bisa menelan ludahnya secara kasar melihat wajah Daniel yang nampak menyeramkan baginya.


"Ki...kita mau kemana kapten?" tanya Joe ragu-ragu. Sedangkan Daniel tak menjawabnya, ia malah melirik ke arah Joe dengan tatapan yang membuat Joe semakin takut, lalu kembali fokus pada setirnya.


"Kita akan ke sebuah tempat yang akan membuatmu bahagia" jawab Daniel dingin dan pandangannya lurus ke depan tanpa melirik ke arah Joe yang terkejut.


"Kau jangan bercanda kapten!. Aku sedang bingung dan ketakutan dengan keadaan Adikku di bar itu. Kenapa kau malah mengajakku ke tempat yang tidak seharusnya kita kunjungi!" ucap Joe sedikit emosi.


"Diam, dan jangan banyak bicara!. Kau sendiri yang ingin ikut denganku" jawab Daniel dingin.


"Ayolah kapten, jangan bercanda!. Hatiku begitu gelisah!, Aku mengkhawatirkan Adikku" pinta Joe memohon.


"Apa wajahku terlihat bercanda saat aku berkata seperti tadi?" tanya Daniel menatap serius ke arah Joe.


"Jadi, kau benar-benar ingin membawaku ke tempat yang menurutmu bisa membuatku lebih tenang?. Sedangkan di tempat lain, Adikku sedang ketakutan?!" tanya Joe geram.


"Kau tidak akan tau, kalau kau belum mengunjunginya!" jawab Daniel seakan tak peduli dengan apa yang sedang di rasakan oleh Joe.


"Apa aku benar-benar sahabatmu?, apa begini caramu membantu sahabatmu?. Aku sedang terkena musibah, dan kau malah mengajakku untuk bersenang-senang?!" tanya Joe emosi.


Tanpa berkata apa-apa, Daniel justru semakin mempercepat laju mobilnya dan membuat Joe sampai tersentak karena terkejut karena Daniel secara tiba-tiba melakukan itu.


"Jika kau terus saja mengoceh, maka aku tidak akan segan-segan untuk menendang mu dari dalam mobil ini dengan kecepatan tinggi!" tegur Daniel dengan nada dinginnya.


"lebih baik diam, dan duduk manis saja di tempatmu!. Jangan menggangu konsentrasi ku" timpal Daniel.


"Oke!, aku akan diam dan akan dituruti apa maumu" jawab Joe kesal.


"Tapi!, jika terjadi apa-apa pada Adikku nanti!. Maka aku akan selesaikan persahabatan kita saat ini juga!" timpalnya tegas.


"Oke" jawab Daniel secara singkat.


Setelah usai berdebat, kini Joe hanya diam saja sambil terus memandangi ke arah luar melalu jendela di sampingnya. Akan tetapi, hati dan pikirannya selalu ada sang Adik yang sangat ia sayangi itu. Ia tak bisa menerima jika terjadi sesuatu hal yang buruk akan menimpah Adiknya itu.


Secara perlahan mobil mewah milik Daniel mulai melaju sedikit lebih pelan, dan mobil mewah berwarna hitam berbelok ke arah sebuah gang yang di sekelilingnya hanya ada sebuah pohon-pohon besar.


Kemudian mobil mewah itu terhenti di depan sebuah tempat yang di kenal sebagai markas tempatnya para berandalan yang hanya ingin bersenang-senang saja di dalam tempat yang menjijikkan itu menurut Daniel.


"Turun!. Kita sudah sampai" ucap Daniel.


"I..ini kan tempat Adikku di sandera?" batin Joe kebingungan.


"Kenapa kita kesini?, ini kan tempat Adikku di sekap kapten?" tanya Joe terkejut


"Inilah tempat yang akan membuat kita bersenang-senang" jawab Daniel.


"Sudah, jangan banyak bertanya, sebaiknya kita harus cepat. Aku sudah tak sabar ingin bersenang-senang di dalam sana" timpal Daniel tersenyum aneh. Membuat Joe semakin ketakutan melihat senyuman dari sahabatnya itu.


"Ta..tapi, apa kita di perbolehkan untuk masuk?. Kita masih di bawah umur, dan kita juga sedang menggunakan seragam sekolah?" tanya Joe khawatir.


"Kau cukup diam, dan jangan bersuara. Biar aku yang mengurus semuanya. Kau tinggal ikut bersenang-senang saja di dalam sana" jawab Daniel sambil membuka pintu mobilnya berniat keluar.


Mereka berdua langsung di stop oleh para petugas saat ingin masuk kedalam karena pakaian yang mereka kenakan seperti seragam anak sekolahan.


"Mohon maaf tempat ini bukan untuk anak-anak yang di bawah umur" tegur dua orang pria dengan tubuh yang besar menghadang jalan mereka berdua.


Merasa kesal karena ada orang yang berani menghentikan mereka, membuat Daniel emosi dan ia hanya menatap kedua petugas keamanan itu dengan tatapan dinginnya namun membuat kedua orang itu langsung ketakutan saat melihat tatapan mata Daniel itu, dan pada akhirnya mereka berdua di perbolehkan untuk masuk kedalam tempat para penerus neraka dunia itu.


"Hebat sekali kapten ku ini, tanpa mengatakan apapun, bisa membuat penjaga berbadan besar itu langsung ketakutan" batin Joe kagum.


"Sudah, jangan banyak bengong. Ayo kita segera bereskan mereka semua" ucap Daniel mengajak Joe masuk kedalam bar tersebut.


"Apa kau yakin?, orang-orang yang berada di dalam pasti bukan satu satu dua orang saja kapten. Aku yakin di sana banyak orang-orang yang mengerikan" tanya Joe khawatir dan ragu-ragu untuk masuk ke dalam.


"Kau pikir aku peduli dengan jumlah mereka?. Berapapun jumlah sampah-sampah itu, kalau melawan, akan ku bantai" jawab Daniel seakan tak peduli.


"Aku takut mati konyol kapten. Aku tak ingin mati di usia muda" ucap Joe takut.


"Kemana sosok Joe yang ku kenal?. Biasanya kau tidak takut pada siapapun?. Kenapa sekarang malah seperti ikan yang berada di darat?" tanya Daniel heran.


"Yang kita lawan di dalam sana itu ada seorang Yakuza kapten. Aku tak pernah berhadapan dengan orang-orang seperti itu" jawab Joe merasa takut.


"Apa rasa takutmu itu membuat rasa khawatir mu pada Adikmu menjadi hilang?" tanya Daniel mencoba meyakinkan Joe. Sedangkan Joe hanya terdiam dan menunduk.


"Jika kau bersamaku, akan ku pastikan kau akan baik-baik saja dan tak akan terluka. Bila perlu kau hanya diam, biar aku yang akan membereskan mereka semua sendirian" timpal Daniel.


"Ta.. tapi..." ucapan Joe terhenti karena Daniel langsung menarik tangan Joe masuk ke dalam bar yang menyekap Adiknya itu.


Setibanya mereka berdua di dalam, mereka langsung menjadi pusat perhatian para orang-orang yang sedang menikmati pesta obat-obatan terlarang. Hal itu membuat Joe semakin ketakutan karena baru pertama kali ia akan menghadapi musuh seperti itu. Sedangkan Daniel yang sudah terbiasa memusnahkan orang-orang seperti itu hanya menggeleng heran dengan tatapan jijik menatap para mangsanya.


"Oi, oi. Coba lihat, siapa tamu kita itu?" tanya salah satu dari mereka menatap remeh ke arah Daniel dan Joe.


Salah satu dari mereka menghampiri Daniel dan Joe. Dengan lagak sombong ia melihat Daniel serta Joe dari jarak yang begitu dekat seakan-akan meremehkan kedua siswa itu.


Kemudian ia merangkul bahu Daniel sembari berkata dengan sombongnya "Kenapa kalian kemari nak?, Apa kalian ingin mengantarkan nyawa secara suka rela?" mereka semua tertawa meremehkan kedua siswa tersebut.


Merasa kesal, Daniel mencengkram tangan pria yang merangkulnya tadi lalu ia juga langsung mematahkan lengannya. Suara tulang patah terdengar sangat jelas pada telinga mereka dan membuat mereka semua terkejut.


"Jauhkan tangan kotor mu itu dari tubuhku" tegur Daniel dengan nada dinginnya lalu ia langsung menendang pria tersebut sampai menghantam sebuah meja hingga patah.


"Berani sekali kau bocah!" ucap salah satu rekan pria malang itu membentak.


"Anak sekolah seperti kalian sebaiknya pulang saja dan menyusu pada Mama kalian! hahaha" sambung temannya tertawa dan rekannya yang lain ikut tertawa.


Dengan gerakan cepat Daniel tiba-tiba sudah berada di depan seorang pria yang sudah merendahkan dirinya. Lalu ia langsung mencengkram wajah pria itu dengan sangat kuat.


"Sampah sepertimu berani sekali merendahkan Ibuku!" ucap Daniel geram dan semakin mencengkram wajah pria itu, sampai membuat pria itu menjerit kesaksian.


Karena terpancing emosi, Daniel langsung merobek rahang pria itu dengan sangat mudah seperti merobek selembar kertas. Sontak membuat pria malang itu kehilangan nyawanya.


Melihat kedua temannya terluka dan salah satunya sudah tak bernyawa. Mereka yang lainnya merasa sangat marah dan langsung mengelilingi Daniel.


Joe yang semakin ketakutan melihat sahabatnya akan di keroyok hanya bisa kebingungan karena rasa takutnya itu yang ragu harus berbuat apa.


"Kapten!" teriak Joe khawatir.


Akan tetapi Daniel malah tidak merasa takut sedikitpun, ia malah merasa sangat senang saat orang-orang itu ingin mengeroyoknya.


"HAHAHA!" Daniel tiba-tiba tertawa.


Kemudian ia langsung bergerak dan menghajar satu persatu para Yakuza-Yakuza itu.


Joe yang melihat kejadian itu berlangsung di depan matanya hanya bisa melongo saat Daniel menghabisi para Yakuza itu dengan sangat mudah.


"Tujuanku ke sini bukan untuk bermain dengan sampah seperti kalian!" ucap Daniel dingin pada para Yakuza yang sudah pada tumbang olehnya seorang diri.


Tiba-tiba seorang pria yang sedikit lebih tua dari Daniel datang, dan betapa terkejutnya dia saat melihat para pelanggannya sudah berjatuhan dengan luka-luka di sekujur tubuh mereka.


"Ada apa ini?!, siapa yang melakukan semua ini?!" tanya pria itu sedikit emosi.


"Aku!" jawab Daniel dengan nada dinginnya.


Pria itu yang sudah di bakar api amarah, langsung menatap ke arah suara itu berasal. Namun ekspresi wajah langsung berubah saat tau orang tersebut.


"Tu...tuan muda?" ucap pria itu ketakutan, sedangkan Daniel terus menatap dingin ke arahnya.


"Aku sudah satu kali mengampuni mu dan memperingati mu untuk menutup tempat busuk ini!. Tapi kau malah membangkang dan masih tetap membuka tempat sampah ini!" ucap Daniel sambil terus menatap dingin ke arah pria itu.


"Apa kau ingin aku sendiri yang menghancurkan tempat haram ini beserta kau juga ha?!" timpal Daniel dengan nada dinginnya, dan membuat pria itu semakin ketakutan.


"A..aku.." penjelasan pria itu langsung di patahkan oleh Daniel karena tujuan utamanya bukan untuk membersihkan bar tersebut, melainkan untuk menyelamatkan Adik dari sahabatnya yang sedang di sekap.


"Sudahlah aku sedang tak ingin mendengarkan penjelasan mu" sela Daniel memotong.


"Cepat kau beritahu aku dimana bos mereka berada?!, dimana pak tua itu?!" timpal Daniel bertanya.


"Si...siapa maksud anda?!" tanya pria itu.


"Kau sudah tau siapa yang aku maksud!" jawab Daniel menatap dingin ke arahnya dan membuat pemilik bar yang bernama Venom itu semakin ketakutan.


"Di..dia sedang berada di ru...ruangan VVIP tuan" jawab pria itu gugup.


"Apa dia sedang bersama seorang wanita yang masih muda?" Yahya Daniel lagi.


"I...iya tuan" jawab pria itu mengangguk ketakutan.


"Joe, ayo segera kita bereskan dalangnya" ajak Daniel dan Joe hanya mengangguk saja.


Kemudian Daniel dan Joe langsung menuju ke tempat yang sudah di tunjukkan oleh pemilik tempat haram itu. Lalu Daniel mengehentikan langkahnya karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada pemilik tempat tersebut.


"Kau tunggu di sini!, jangan coba-coba untuk melarikan diri!. Jika kau masih sayang nyawa, turuti perintahku" ucap Daniel pada pria itu yang menunduk di belakangnya tanpa berbalik badan.


"Ba..baik tuan" jawab pria itu ketakutan, dan Daniel langsung pergi menuju ke ruangan tersebut.


Sedangkan di ruangan VVIP itu, terdapat seorang pria paruh baya dengan tato-tato yang menghiasi tubuhnya. Pria itu hanya berdua saja dengan seorang wanita yang masih muda dan begitu cantik. Wanita muda itu tidak lain adalah Adik perempuannya Joe yang di culik dan di sandera olehnya.


Pria bertato itu mendekati wanita muda itu yang sudah menangis ketakutan, akan tetapi pria itu sama sekali tak menghiraukannya sama sekali. Dengan senyum mesumnya ia semakin mendekati Adiknya Joe yang semakin ketakutan.


Pada saat pria itu ingin menikmati tubuh wanita muda itu, dengan tiba-tiba pintu ruangannya langsung di tendang oleh seseorang sampai membuat pintu tersebut hancur.


"Sial!, siapa yang sudah berani menggangguku?!" tanya pria itu penuh emosi dan menatap ke arah pintu dengan tatapan pembunuh.


Namun pada saat orang yang sudah menghancurkan pintunya dan masuk kedalam, raut wajah pria bertato itu langsung berubah saat tau siapa orang yang sudah menggangu kenikmatannya itu.