Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MASALAH SUDAH BERES


Setelah Kevin menelpon inspektur Yuddy, selang beberapa menit beberapa mobil polisi datang ke kantor Daniel untuk membawa para preman yang masih bernafas dan yang sudah tak bernyawa itu, agar bisa di tindak lanjuti.


Tak lama setelah inspektur Yuddy beserta anggotanya datang, Leny juga datang bersama sang putra yang ingin bertemu dengan suaminya untuk melepas rindu mereka.


Leny kebingungan melihat situasi yang terjadi pada kantornya yang nampak berantakan dan bnyak orang-orang asing yang terkapar di sana.


"Ada apa ini?, kok banyak orang-orang aneh pada tiduran di kantor?" tanya Leny setelah menghampiri Kevin.


"Tadi banyak serangga yang berterbangan dan berbuat kotor di sini kak, jadi mau tak mau kami harus membereskannya" jawab Kevin dan di anggukan oleh Leny.


"Kakakmu ada didalam?" tanya Leny lagi.


"Dia lagi mengejar dalangnya" jawab Kevin yang langsung menggendong Damin.


"Haduh. Gak kakak, gak adik, sama aja" keluh Leny menghela nafasnya.


"Mereka yang memulainya kak, kalau gak kami lawan, bisa-bisa ni kantor bisa hancur" ucap Kevin membela diri.


"Yalah, yalah. Terus mana ni kakak kamu?, kok gak balik-balik?" tanya Leny lagi.


"Mungkin dia masih belum puas bermain-main kak" jawab Kevin santai.


"Permisi tuan, semua pelaku sudah kami amankan. Apa masih ada yang lain?" ucap inspektur Yuddy bertanya.


"Kemungkinan masih ada satu atau dua orang lagi. Mereka masih di kejar kakakku" jawab Kevin.


"Untuk apa tuan Daniel repot-repot mengejar sampah masyarakat seperti mereka?" tanya inspektur Yuddy lagi.


"Menurut Kakakku, di antara mereka ada dalang di baling kerusuhan ini" jawab Kevin menjelaskan.


Tiba-tiba ponsel milik inspektur Yuddy berdering. Saat ia melihat siapa yang menelepon, inspektur Yuddy langsung tersenyum.


"Hehe, yang kita bicarakan ternyata menelpon" ucap inspektur Yuddy.


"Angkat pak, aku ingin tau di mana suamiku berada" ucap Leny.


"Baik nona" jawab inspektur Yuddy.


"Halo tuan, ada apa?" tanya inspektur Yuddy.


"Inspektur ada dimana?" tanya Daniel balik.


"Saya sedang berada di kantor anda tuan" jawab inspektur Yuddy sangat sopan.


"Apa kalian bisa kesini?, ada satu mayat dan satu lagi masih hidup sepertinya" ucap Daniel sembari melihat si kepala preman yang sedari tadi tidak sadarkan diri.


"Baik tuan, kami akan segera kesana. Tolong beritahu lokasi anda" ucap inspektur Yuddy.


Setelah selesai melakukan panggilan telepon, Daniel langsung mengirimkan titik lokasi dia sedang berada saat ini. Kemudian inspektur Yuddy dan para anak buahnya langsung pergi ketempat lokasi Daniel.


Selang 15 menit, akhirnya inspektur Yuddy beserta anak buahnya sampai di tempat Daniel yang tengah memungut tubuh pria yang ia cincang tadi.


Tiba-tiba seorang wanita keluar dengan menggendong bayi tampan yang sangat mirip dengan Daniel. Wanita itu ialah sang istri yang ternyata ikut mendatangi lokasi suaminya.


"Ayah!" panggil Leny dengan bibir yang merenggut.


"Eh, Bunda?" jawab Daniel tersenyum kikuk.


"Hehe. Maaf Honey, Ayah keasikan bermain" ucap Daniel cengengesan.


"Gak mungkin Ayah balik ke kantor dengan penampilan seperti itu" ucap Leny.


"Iya Ayah juga tau Honey" jawab Daniel.


"Oh iya. Pak inspektur, ini mayatnya udah gak utuh. Maaf ya, aku terlalu asik bermain soalnya" ucap Daniel cengengesan.


"Ya mau gimana lagi tuan, semua sudah terjadi" ucap inspektur Yuddy.


"Tapi tuan harus ikut kami ke kantor untuk menjelaskan semuanya, dan agar kami tau apa motif di balik penyerangan besar pada kantor tuan" timpal inspektur Yuddy.


"Yaudah, pak inspektur atur saja. Saya ikut" jawab Daniel santai.


"Kalau begitu, kami akan membereskan ini terlebih dahulu. Besok jangan lupa tuan beserta yang ikut dalam inside ini hadir di kantor ya" ucap Inspektur Yuddy dan di balas dengan jari jempol oleh Daniel.


"Jika sudah tidak ada lagi, kami mohon pamit tuan" ucap inspektur Yuddy dengan sopan.


"Okey, hati-hati Inspektur" jawab Daniel dan di anggukan oleh inspektur Yuddy.


Lalu Leny membawa sang suami kembali pulang kerumah, menyuruhnya untuk membersihkan diri karena tak mungkin juga suaminya kembali ke kantor dalam keadaan seperti seorang zombie yang penuh dengan dara di sekujur tubuhnya.


"Ayah ni ada-ada aja deh, bermain-main sampe seperti itu. Jangan terlalu asik main-main deh, kasih contoh yang baik untuk anaknya" tegur Leny menyebikkan bibirnya.


"Ayah apa mau kalau Damin sudah besar nanti bakal seperti kamu Ayahnya hm?" timpal Leny bertanya.


"Iya Honey iya. Maaf ya" ucap Daniel tersenyum manis.


"Udah deh, jangan seperti itu lagi. Nanti semakin banyak musuh Ayah" pinta Leny.


"Kalau mereka menggangu terlebih dahulu, maka Ayah balas. Ayah gak bakal seperti ini jika tidak ada yang mengusik Honey. Apa lagi sampai menggangu kalian" ucap Daniel menjelaskan.


"Iya Bunda tau. Tapi kan masih bisa di bicarakan baik-baik, di musyawarah dulu, jangan asal main kekerasan mulu" sambung Leny menyarankan.


"Bunda paham kalau Ayah itu sosok lelaki yang tak tertandingi, Ayah juga seseorang pemimpin assassin nomor satu di Asia, Bunda tau Ayah. Tapi Ayah juga harus berfikir, kalau Ayah terus membantai dan membunuh orang, dosanya itu loh suamiku" timpal Leny yang begitu khawatir dengan sang suami.


"Honey. Kalau boleh jujur, selama Ayah berada di Dark Shadow, sudah banyak nyawa yang Ayah cabut. Ratusan atau bahkan ribuan" ucap Daniel.


"Itu resiko orang yang sudah masuk ke dunia gelap, apa lagi menjadi raja di sana. Mau tak mau Ayah harus bertindak, karena di dunia itu kalau kita tidak memangsa, maka kita yang akan di mangsa Honey" timpal Daniel.


"Hmm. Iya deh suamiku, yang penting Ayah terus sehat dan berada di samping kami" ucap Leny ikut tersenyum.


"Tentu saja Ayah akan selalu berada di sisi kalian selama nyawa Ayah masih ada di raga ini" jawab Daniel tersenyum sambil mengelus kepala sang istri.


"Masalah dosa dan neraka, biar Ayah yang menanggungnya. Bagi Ayah keselamatan kalian yang utama. Mungkin Ayah memang sudah benar-benar durhaka terhadap Tuhan, tapi mau bagaimana lagi, ini semua sudah menjadi pilihan Ayah" timpal Daniel.


"Ayah harus berubah dan bertaubat. Allah itu maha pengampun kok. Mau sebesar apapun dosa Ayah, Allah akan selalu mengampuni hambanya yang tulus bertaubat kok" ucap Leny menasehati.


"Insya Allah Ayah akan mengikuti kata-kata Bunda. Kalau tidak khilaf, hehe" ucap Daniel terkekeh.


"Ayah...!!" rengek Leny menyebikkan bibirnya.


"Terima kasih ya Honey, Bunda itu sosok istri yang sempurna di mata Ayah, Ayah sangat beruntung menjadi suamimu" ucap Daniel tersenyum tulus...