
Para siswa pembuat onar itu saling tatap setelah Daniel berbicara seperti tadi, mereka semua kemudian mentertawakan Daniel yang mereka anggap hanya sebuah lelucon saja. Sedangkan Daniel hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak-anak itu yang sangat meremehkan dirinya.
"Kalian mengingatkanku tentang diriku 8 tahun yang lalu" ucap Daniel tertawa seakan meremehkan.
"Apa Paman dulu seorang preman seperti kami atau yang selalu di ganggu oleh preman?" tanya salah satu dari mereka semakin merendahkan Daniel.
"Paling Paman ini hanya seorang pecundang yang selalu di injak-injak oleh teman-temannya semasa dulu" sambung temannya.
"Sedangkan kami semua ada laki-laki kuat yang selalu menang jika berkelahi" timpalnya.
"Hahahaha, hahahaha!" tawa Daniel terbahak-bahak.
"Hey bocah!. Orang hebat itu di akui, bukan mengakui. Sebaiknya kalian kembali ke sekolah kalian, dan mulai belajar dengan benar saja, sebelum kalian akan menyesal" timpal Daniel dengan sisa tawanya.
"Hey Paman!, sebaiknya kau yang kembali kelasmu dan memberi pelajaran pada murid-murid mu yang manja itu saja, sebelum anda kami kirim ke rumah sakit" ucap ketua mereka mengancam Daniel sambil menunjuk Daniel dengan sebuah tongkat baseball di tangannya.
"Kalau saja kalian bukan seorang bocah!, udah ku sobek mulut kalian satu persatu" batin Daniel.
"Tidak baik rasanya kalau aku memukul mereka semua. Mungkin aku akan memberi sedikit pelajaran untuk bocah-bocah ini, dan akan ku buat mereka menghormati orang yang lebih tua" timpalnya.
"Ada apa Paman?, kenapa anda diam saja?, takut? hahaha" tanya salah satu dari mereka tertawa.
Daniel tidak lagi menjawab pertanyaan mereka ataupun dia sudah tak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia malah berjalan mendekati para siswa berandalan tersebut dan para murid-murid nakal itu justru mengelilingi Daniel dengan tatapan seperti seekor binatang buas sambil memukul-mukul senjata yang mereka genggaman di atas tanah.
Haruka serta guru lainnya sangat mengkhawatirkan Daniel di tambah Daniel yang semakin terpojok dalam lingkaran pada murid bandel itu. Haruka yang sudah kehilangan akal sehat ingin menghampiri Daniel dan berniat untuk membantunya, namun saat ia ngin pergi, tiba-tiba tangan Joe langsung meraihnya agar wanita berkacamata itu tidak pergi menghampiri Daniel.
"Jika anda ingin menghampiri Daniel Sensei, sebaiknya buang saja pikiran sempit itu. Anda akan hanya membebani Daniel Sensei saja Haruka" ucap Joe sambil memegangi pergelangan tangan Haruka.
"Tapi Daniel Sensei dalam keadaaan berbahaya pak kepala sekolah" bantah Haruka mencoba melepaskan tangannya dari Joe.
"Kamu pikir Daniel Sensei akan kalah dengan bocah-bocah ingusan seperti mereka?" tanya Joe.
"Meskipun mereka masih anak sekolah, tapi jumlah mereka lebih dari 10 orang. Tidak mungkin bagi Daniel Sensei menang seorang diri" jawab Haruka dengan wajah yang penuh rasa khawatir.
"Aku yang lebih mengenalnya, jika aku bilang jangan khawatir, ya kalian semua tidak perlu khawatir" ucap Joe meyakinkan mereka.
"Haruka Sensei, sebaiknya kita percayakan saja mereka pada Daniel Sensei, kita hanya bisa berdoa saja untuknya" ucap Miu mencoba menenangkan Haruka.
Perlahan perlawan Haruka pada tangan Joe yang terus memegangi pergelangannya mulai melemah dan Joe juga perlahan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Haruka.
"Bagus-bagus" ucap Joe tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Haruka dengan lembut dan mereka semua ikut tersenyum.
"Ya Tuhan, tolong lindungi Daniel Sensei" batin Haruka berdoa sambil terus menatap Daniel tanpa berkedip.
Murid-murid nakal itu merasa sudah berada di atas angin setelah berhasil mengelilingi Daniel. Mereka semua tertawa seakan-akan merendahkan Daniel yang mereka pikir sudah tak berdaya di hadapan mereka, namun tanggapan Daniel hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba ponsel milik Daniel berdering, lalu Daniel mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Ketika ia melihat ponselnya ia tersenyum saat tau kalau yang menelepon dirinya adalah sang istri. Kemudian Daniel menekan icon hijau dan meletakkan ponselnya di telinganya.
"Halo Honey" jawab Daniel.
"Wah sudah mau mati masih sempat-sempatnya menerima panggilan telepon" ucap salah satu siswa itu dengan nada geram, namun Daniel tak menghiraukan ucapan siswa tersebut dan membuat mereka semakin emosi.
"Kenapa di sana seperti banyak sekali suara keributan suamiku?" tanya Leny lewat panggilan telepon.
"Ah, biasa Honey. Ayah sedang berolahraga" jawab Daniel tersenyum.
"Siapa yang menantang Ayah lagi?" tanya Leny yang sudah tau maksud dari jawaban suaminya itu.
"Hanya kecoa-kecoa kecil saja istriku" jawab Daniel.
Mendengar ucapan itu membuat para murid nakal itu semakin naik pitam karena merasa kalau mereka seperti di remehkan oleh Daniel.
"KURANG AJAR KAU ORANG TUA!" teriak salah satu dari mereka.
Lalu beberapa dari murid-murid itu mencoba menyerang Daniel, mereka berlari sambil mengayunkan senjata pada senjata mereka masing-masing. Namun dengan mudahnya Daniel mampu menghindari serangannya mereka tanpa melihatnya karena ia memfokuskan perhatiannya pada sang istri yang sedang menelponnya.
"Apa perlu Bunda tutup teleponnya Ayah?, agar Ayah bisa fokus pada mereka?" tanya Leny.
"Tidak perlu Honey, Ayah bisa menyelesaikan tanpa harus menutup telepon" jawab Daniel dengan santai.
Pukulan senjata mereka justru mengenai mereka sendiri karena Daniel berhasil menghindar dengan sangat mudah. Akibat pukulan baseball yang sangat keras, membuat beberapa murid yang menyerang Daniel barusan langsung tak sadarkan diri dan bergeletakan di jalan. Mereka semua terkejut melihat teman-teman mereka yang sudah tak sadarkan diri akibat serangan barusan.
Joe langsung tertawa karena ia merasa kalau Daniel sedang melakukan sebuah pertunjukan komedi di depan matanya. Sedangkan Haruka serta guru lainnya sangat mengagumi sosok Daniel dan membuat mereka semakin terpesona.
"Tu lihat, tanpa melihat pun Daniel Sensei bisa mengalahkan beberapa dari mereka, bahkan dia tidak menyentuh mereka sedikitpun" ucap Joe sambil tertawa.
"Pantas saja Daniel Sensei bisa menghindari serangan dari Luka-san tadi. Bahkan tanpa melihat saja Sensei bisa membuat para berandalan itu pingsan begitu" ucap Saki tersenyum kagum melihat kehebatan Daniel barusan.
Setelah melihat beberapa temannya pingsan, siswa nakal yang masih tersisa langsung menatap Daniel dengan sedikit rasa was-was. Mereka harus memikirkan sebuah strategi untuk menyerang Daniel.
"Oh iya, Damin mana Honey?" tanya Daniel yang masih melanjutkan teleponnya dengan sang istri.
"Itu lagi main sama Tantenya" jawab Leny sambil menatap Damin dan Wulan yang sedang asyik bermain.
"Wulan sudah pulang?" tanya Daniel.
Lalu dua dari siswa yang mengelilingi Daniel ingin mencoba menyerang Daniel lagi dari depan dan belakang karena mereka yakin jika mereka menyerang Daniel dari titik buta, pasti serangan mereka akan berhasil mengenainya.
Namun semua ekspektasi mereka tak sesuai, karena Daniel tiba-tiba memutar badannya dan dia berada di belakang salah satu murid yang menyerang Daniel. Lalu ia mendorong siswa itu dan serangan mereka lagi-lagi mengenai mereka sendiri.
"Sudah suamiku, sepertinya Wulan juga sudah selesai dengan urusannya" jawab Leny yang melihat Wulan begitu bahagia bermain dengan Damin.
"Apa Wulan ada bercerita Honey?" tanya Daniel.
"Apa-apaan ini? sudah dua kali Paman ini mengalahkan mereka. Bahkan dia juga tidak fokus pada kita?" tanya pemimpin mereka sambil melihat teman-temannya yang sudah pingsan di jalan.
"Orang tua ini bukan orang sembarangan, kita harus berhati-hati" ucap pemimpin mereka memperingati para anak buahnya yang masih berdiri.
"Tadi Wulan hanya menceritakan kalau dia sudah memberi pelajaran pada Zahra dan suaminya, Wulan juga memberi tau kalau mereka tidak akan berani lagi menunjukkan wajahnya di hadapan kita lagi" jawab Leny dengan tatapan mata yang terfokus pada putra dan adiknya.
"Entah ancaman apa yang dibuatnya sampai-sampai Zahra tak berkutik di hadapan adikku itu" timpal Leny tersenyum melihat Wulan.
"Ya memang seperti itu Wulan Honey, dia tidak akan berhenti mengejar targetnya sampai mereka menyerah" ucap Daniel menjelaskan.
Tiba-tiba ada salah satu siswa yang mengelilingi Daniel itu berteriak, tanpa berpikir panjang dia berlari menuju Daniel dan langsung menyerangnya secara membabi buta. Daniel yang masih asik mengobrol dengan sang istri malah bisa menghindari serangannya walaupun secara acak.
"SIALAN KAU!, SIALAN KAU!. BERANI SEKALI KAU MEMBUAT TEMAN-TEMANKU SEPERTI ITU!" teriak siswa itu sambil terus mengayunkan senjatanya ke arah Daniel.
Tanpa melihat bocah tersebut, Daniel masih bisa menghindar dengan mudahnya dan membuat siswa itu semakin menggila.
"WOI BODOH!, APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak pemimpin mereka namun siswa itu tak mendengar ucapan dari bosnya sendiri dan tetap terus menyerang Daniel tanpa henti.
Setelah beberapa pukulan dia layangkan dan ia justru hanya menyerang angin, membuat siswa itu kehabisan tenaga. Ia langsung berhenti sejenak untuk menyerang Daniel dengan nafas yang tersengal-sengal.
Siswa itu sudah kelelahan menyerang Daniel yang sedari tadi berhasil membaca serangannya meskipun serangan tersebut secara acak. Dia terus menatap Daniel penuh amarah dengan nafas yang sudah ngos-ngosan.
"Apa yang kau lakukan bodoh?!" tanya pemimpin mereka sambil menghampiri salah satu anak buahnya.
Namun belum sempat ia berhenti melangkah, tiba-tiba siswa yang sudah kelelahan itu mencoba ingin menyerang Daniel lagi dengan sisa tenaga yang ia miliki. Saat siswa itu mengayunkan senjatanya ke arah Daniel, Daniel berhenti bergerak. Ketika pukulan baseball itu sudah berada tepat di depan matanya, Haruka dan mereka yang melihatnya langsung menutupi wajahnya karena takut melihat Daniel akan terkena pukulan baseball yang sangat keras itu.
Pada saat mereka semua menutup mata, terdengar suara benturan keras di telinga mereka, dan mereka berfikir kalau Daniel terkena pukulan keras barusan. Namun Joe membuka suara yang membuat mereka semua terkejut walaupun dalam keadaan memejamkan mata.
"Gila Kapten, kau bisa membuat sebuah pukulan baseball yang sangat keras itu pecah hanya dengan meninjunya saja?" tanya Joe dengan mata terbelak.
Ternyata suara keras barusan adalah suara benturan dari tinju Daniel yang memukul benda keras itu hingga membuat pemukul baseball itu pecah dan pecahannya malah terkena bos dari murid-murid nakal tersebut sampai kepalanya mengeluarkan darah.
Siswa yang terkena pecahan dari pemukul baseball itu hanya terdiam sambil terus menatap Daniel dengan mulut yang sedikit terbuka. Secara perlahan tatapan siswa itu mulai berkunang-kunang, kakinya juga sudah tak sanggup menopang berat tubuhnya lagi. Tiba-tiba mereka semua terkejut melihat siswa nakal itu pingsan karena kepalanya yang terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Honey, udah dulu ya. Sepertinya Ayah sudah selesai berolahraga ni" ucap Daniel berbicara pada sang istri lewat telepon pintar miliknya.
"Iya suamiku. Ingat, bersihkan tangan atau tubuh Ayah sebelum kembali ke Hotel ya. Bunda gak mau memeluk Ayah kalau Ayah bau darah" ucap Leny mengancam.
"Hahaha, Bunda tenang aja. Ayah gak terkena noda itu sedikit pun kok" jawab Daniel tertawa.
"Yaudah, kalau begitu Bunda tutup teleponnya ya suamiku. Daahhh, Bunda cinta Ayah" ucap Leny.
"Iya Honey, Ayah juga cinta Bunda" jawab Daniel dan meletakan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
Setelah melakukan panggilan telepon dengan sang istri, Daniel malah menatap beberapa siswa nakal itu yang masih berdiri dan terluka sedikitpun dengan tatapan dingin.
"Mau lanjut atau gimana?" tanya Daniel dingin.
Mendengar ucapan Daniel barusan, membuat tubuh mereka gemetaran dan senjata yang mereka genggam langsung berjatuhan di jalan karena ketakutan mereka melihat Daniel.
"Sebaiknya kalian bawa teman-teman kalian ke rumah sakit, sebelum salah satu dari mereka mati karena kehabisan darah" ucap Daniel sambil terus menatap tajam murid-murid nakal tersebut.
"Ba..baik Sensei" jawab mereka dan langsung bergegas membawa beberapa teman mereka yang sudah tak sadarkan diri.