Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
ANGGOTA KELUARGA BARU


Wulan menjawab dengan wajah cemberut


"Ih kakak ini tidak bisa lihat adiknya bahagia"


Daniel bertanya


"Kamu bahagia karena apa adikku?, apa jangan-jangan kamu sudah mempunyai seorang kekasih?"


Wajah Wulan berubah menjadi merah dan spontan memukul Daniel dan dia berkata


"Sembarangan, aku belum memiliki kekasih kak. Aku hanya bahagia melihat kemesraan kalian"


Daniel tersenyum dan mencubit pipi Wulan


"Ah kamu memang adikku yang paling mengerti. Jika kamu sudah memiliki seorang kekasih, beritahu kami, jangan backstreet ya"


Leny memotong pembicaraan mereka dan menyuruh mereka makan. Setelah makan Leny akan memberi tahu kalau dia ingin Wulan tinggal bersama mereka.


Setelah mereka selesai makan, Wulan dan Leny membereskan meja makan dan Daniel pergi ke sofa untuk melihat berita di televisi, apakah dia terkena kasus atau aman dalam lindungan Yuddy.


Tak lama kemudian Leny dan Wulan datang bergabung dan membicarakan hal penting itu


Leny berkata


"Suamiku. Aku ingin berbicara hal penting terhadap kamu"


Daniel terus menatap layar televisi dan bertanya


"Katakan saja sayang"


Leny menjawab dengan tegas


"Aku ingin Wulan tinggal bersama kita mulai saat ini. Dia juga adikku, aku juga butuh teman dirumah"


Lalu Daniel menatap Wulan dan bertanya


"Apa kamu mau tinggal bersama singa betina ini adikku?"


Wulan tertawa dan menjawab


"Haha. jika kakak mengizinkannya, maka aku akan senang bisa menjadi bagian rumah kalian"


Leny yang di sebelah Daniel terus menatap Daniel dengan wajah kejamnya karena ucapannya tadi. Ketika Daniel menatap Leny dia jadi takut karena ingin di terkam oleh istrinya


Leny menjewer telinga Daniel dan berkata


"Apa yang kamu katakan tadi suamiku?, aku tidak dengar" (*Senyuman ingin membunuh*)


Daniel menjawab dengan nada ketakutan


"Hehe. Tidak istriku, baiklah-baiklah aku akan mengizinkannya, ampun nyonya ampun"


Leny berkata lagi


"Coba ulangi lagi kata yang tadi suamiku"


Daniel menatap Wulan dan ingin meminta bantuannya


"Adik tolong kakakmu ini, aku mau di telan oleh kakak iparmu"


Wulan melambaikan tangan dan menjawab


"Maaf kak, aku tidak ingin ikut campur. Kalian selesaikan saja sendiri, dan itu salah kakak sendiri mengapa bilang kalau kakak iparku adalah singa betina" (*menahan tawa*)


Leny langsung menjewer dan mengigit hidung Daniel. Wulan hanya tertawa bahagia melihat kakaknya di siksa oleh Leny.


Wulan mengejek Daniel


"Haha. akhirnya kakakku yang tak pernah kalah di kalahkan oleh kakak iparku"


Leny berkata dan meminta Wulan untuk membantunya


"Sayang, tolong bantu kakak ipar kamu ini untuk menghajar lelaki ini"


Wulan menjawab dengan tegas


"Siap kak, aku akan senang hati" (*tertawa jahat*)


Daniel tertawa dan berkata


"Haha. Ampun sayang, aku menyerah aku menyerah"


Leny duduk di pangkuan Daniel dan berkata


"Berani kamu berkata seperti itu, maka kamu harus menerima amukan dari dua singa betina" (*tertawa jahat*)


Wulan juga menggelitik Daniel. Daniel hanya pasrah di siksa oleh kedua wanita yang ia sangat sayangi itu. Tiba-tiba ponsel milik Daniel berdering, Leny mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Matanya melotot melihat nama penelepon itu.


Daniel bingung dan bertanya


Leny berkata dengan terbata-bata


"I..ini inspektur Yuddy"


Daniel terkejut dan mengambil ponselnya


"Apa?, sini aku saja yang mengangkatnya


Leny memberikan ponselnya dengan wajah ketakutan, dan jantungnya berdetak kencang. Batinnya menjadi tak tenang, bahkan dia tak mau bangkit dari pangkuan Daniel.


Leny bertanya dengan ekspresi ketakutan


"Ada apa suamiku? semua baik-baik saja kan?"


Daniel menutup ponselnya lalu tersenyum dan membelai kepala Leny


"Tidak apa istriku, inspektur Yuddy hanya ingin aku datang ke kantornya besok pagi"


Leny berkata dengan takut


"Apa yang aku takutkan akhirnya menjadi nyata. Sayang aku tak ingin kamu berurusan dengan hukum" (*memeluk Daniel*)


Daniel tersenyum dan menenangkan Leny


"Tidak ada yang perlu di takutkan istriku, besok akan ku selesaikan masalah ini" (*mencium kepala Leny*)


Wulan yang duduk disampingnya pun ikut merasa cemas, dia tak mau kakaknya terseret masalah ini


"Kak. Aku akan ikut, aku juga terlibat"


Daniel melihat Wulan dan mengelus kepalanya


"Tidak perlu adikku, kamu dirumah saja temani kakak ipar kamu. Masalah ini bisa kakak urus sendiri"


Lalu Daniel berkata kembali


"Aku minta keluarga kita jangan sampai tau tentang masalah ini. Terutama ayah dan ibu"


Leny dan Wulan mengangguk dan akan merahasiakan masalah ini. Daniel terus menenangkan mereka, lama kelamaan mereka sedikit tenang dan melupakan hal itu.


"Sudah ya sayang, tidak masalah, aku akan berkumpul kembali dengan kalian kok" (*tersenyum*)


Leny dan Wulan langsung memeluk Daniel, dan terus berdoa untuk keselamatan Daniel besok. Karena sudah malam Daniel mengajak mereka untuk tidur, dan Daniel mengantarkan Wulan ke kamarnya.


Ketika Daniel ingin pergi, tangannya ditahan oleh Wulan dan Wulan memeluk Daniel lagi. matanya berkaca-kaca karena takut kakaknya sampai kenapa-kenapa.


"Kak aku takut kakak sampai terkena hukum"


Daniel melepaskan pelukannya dan memegang pipi Wulan


"Kamu tenang saja adikku, kakak kamu ini bukan orang biasa. Masalah ini sangat mudah untuk di selesaikan" (*mencium kening Wulan*)


Wulan mengangguk dan memeluk Daniel lagi


"Sudah 3 tahun kita terpisah, aku tak mau terpisah lagi kak" (*menangis*)


Daniel tersenyum dan menghapus air mata Wulan


"Tidak sayang, kita tidak akan terpisah lagi. Kakak akan menjaga kalian semua, kakak sayang kalian"


Wulan melepaskan pelukannya dan menuju ke tempat tidurnya, Daniel mengucap selamat tidur dan mencium kening Wulan lalu menutup pintu kamarnya.


Daniel melihat Leny yang terus gelisah terduduk di atas sofa. Daniel menghampiri istrinya dan menenangkannya


"Istriku, tenang saja, jangan membuat diri kamu menjadi stress. Kasian junior kita" (*mengelus perut Leny*)


Leny tak bisa lagi menahan air matanya dia langsung memeluk Daniel dan menangis dalam pelukannya


"Aku takut sayang, aku tak mau terpisah dari kamu. Aku, bayi kita, dan Wulan beserta keluarga kita sangat membutuhkan kamu di sisi kami semua"


"Sayang kamu jangan takut, aku tidak akan pergi dari kalian semua. Aku pasti akan tetap berada di sisi kalian" (*mengelus kepala Leny*)


Leny melepaskan pelukannya dan mengancam


"Janji ya, jangan pergi dari kami lagi. 14 tahun yang lalu kamu sudah menghilang, kali ini kamu harus terus berada di sini bersamaku"


Daniel menghapus air mata Leny dan menenangkannya


"Iya istriku, aku berjanji besok aku akan pulang"


Lalu Daniel menggendong Leny menuju kamar mereka dan tertidur dalam pelukan. Keesokan harinya Daniel bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi dimana dia di panggil tadi malam


Leny dan Wulan masih merasa cemas. Di depan pintu mereka tidak bisa beranjak dari tempat itu dan terus memandangi mobil Daniel yang telah melaju.


Wulan dan Leny saling berpelukan dan mengkhawatirkan Daniel. Mereka berdua tidak bisa berfikir dengan tenang, Mereka terus memandangi jam dan menunggu kepulangan Daniel.