
Daniel dan Dion di bawa ke ruang yang berbeda karena Dion hanya mengalami luka yang tidak terlalu serius, sedangkan Daniel berada dalam tahap menengah.
Daniel yang tadinya memuntahkan darah, jadi Alvin membawanya ke ruang UGD dan ia akan memeriksa tubuh Daniel dengan cara yang selalu ia lakukan terhadap tubuh Daniel setiap ia mengalami luka sehabis berperang.
"Semoga saja Ayah kamu baik-baik saja ya sayang" ucap Leny sambil mengelus kepala Damin yang berada di atas pangkuannya.
Tak lama kemudian Ayu dan yang lainnya tiba di rumah sakit. Terlihat raut wajah Ayu yang begitu khawatir setelah mendengar kabar bahwa suaminya mengalami luka lagi.
Dengan buru-buru ia langsung masuk kedalam ruangan yang dimana sang suami di rawat. Ia ingin memeriksa keadaan sang suami dengan menggunakan kedua tangannya sediri agar ia langsung tau keadaan dari tubuh suaminya itu.
Tak ada yang berani menghalangi langkahnya Ayu saat ia memasuki ruangan tersebut, bahkan para suster yang bekerja di rumah sakit itu hanya menunduk saat Ayu menerobos masuk ke ruangan itu karena mereka tau kalau wanita cantik itu adalah seorang dokter dan juga ipar dari pemilik rumah sakit tersebut.
"Sa...sayang?" Dion terkejut saat melihat Ayu yang tiba-tiba masuk ke dalam.
"Ka...kamu kok?" pertanyaan terhenti karena Ayu langsung memotongnya.
"Sudah jangan banyak bicara, aku akan memeriksa keadaan kamu. Sebaiknya kamu istirahat saja" jawab Ayu dengan nada dinginnya hingga membuat Dion menelan ludahnya secara kasar.
Ayu langsung memeriksa seluruh area tubuh Dion, sedangkan Dion hanya bisa ketakutan melihat wajah serius Ayu karena bercampur dengan ekspresi seakan menahan sedih maupun amarah.
"Ma...maaf" ucap Dion merasa bersalah.
"Maaf?, maaf buat apa?" tanya Ayu dingin tanpa melihat wajah sang suami dan terus fokus memeriksa keadaan tubuh Dion.
"Untuk semuanya" jawab Dion.
Tangan Ayu yang tadinya sibuk mengotak-atik tubuh Dion tiba-tiba terdiam. Ia menundukkan kepalanya dan perlahan air matanya menetes membasahi pipinya hingga lantai.
"Hiks...hiks... dasar suami bodoh!. Kenapa kamu sampai seperti ini hah?!, apa yang kamu lakukan?!, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari aku ha?!...hiks...hiks..." tangis Ayu pecah bercampur rasa sedih sedihnya dan membuat Dion semakin merasa bersalah.
"Se... sebenarnya a...aku.." lagi-lagi omongan Dion harus terpaksa terhenti karena secara tiba-tiba Ayu merasa mual dan ia langsung berlari menuju toilet untuk.
Dion semakin merasa bersalah karena baru pertama kali ia melihat Ayu menangis sampai seperti itu. Ia yang juga sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri yang sedang mengalami muntah-muntah di dalam toilet.
Dion berusaha bangkit meskipun rasa nyeri pada punggungnya masih terasa begitu sakit, namun dia tak peduli karena rasa khawatirnya lebih besar dari sakit yang ia alami.
Dokter dan suster yang memeriksa keadaan Dion sebelum Ayu masuk tadi, mereka semua langsung bergegas untuk membantu Dion yang tengah berusaha berjalan menuju ke arah toilet walaupun ia berjalan dengan keadaan pincang dan lemah.
"Aku tak apa, jangan khawatir" ucap Dion tersenyum ( Menggunakan bahasa Inggris ) saat seorang suster ingin membantu Dion berjalan.
"Se... sebaiknya kalian semua keluar saja. Biarkan wanita cantik tadi yang memeriksa dan mengobati tubuhku" timpalnya dengan tatapan meminta tolong.
"Kumohon percayalah pada wanita cantik tadi. Dia itu istriku, dia juga dokter hebat" sela Dion memotong dan tersenyum.
"Ba...baiklah tuan" jawab sang dokter lalu itu mengajak para suster untuk keluar agar bisa memberi waktu berdua pada Dion dan juga Ayu.
"Jika terjadi apa-apa pada anda, tolong segera panggil kami" timpal sang dokter karena merasa khawatir dengan kondisi tubuh Dion yang ia paksa untuk berjalan.
"Kalian tenang saja, istriku tidak akan melukai atau bahkan sampai membunuh suaminya sendiri" jawab Dion tersenyum.
Setelah mendengar perkataan dari Dion, dokter serta para suster langsung keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Dion dan Ayu berdua di dalamnya. Mereka berharap Dion dan Ayu bisa menyelesaikan masalah mereka tanpa ada yang harus terluka lagi, karena mereka merasa tidak tenang jika harus meninggalkan Dion dan Ayu di dalam.
Kini hanya Dion dan Ayu saja yang berada di dalam kamar tersebut. Dion yang semakin merasa khawatir dengan kondisi sang istri karena ia sedari tadi mendengar suara Ayu yang terus muntah-muntah di dalam toilet tersebut.
Dion memaksakan kakinya untuk terus melangkah menuju ke arah toilet. Meskipun terasa sangat berat, namun dia tak ingin menyerah karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Keluarga Daniel yang berada di luar ruangan merasa terkejut saat melihat dokter dan beberapa suster yang tadinya berada di dalam ruangan tersebut tiba-tiba keluar.
"Kenapa kalian semua keluar?!, apa yang terjadi pada putra dan menantuku di dalam sana?!" tanya Ibu Rani sedikit emosi.
"Ma...maaf nyonya besar, ta..tadi tu..tuan muda meminta ka...kami semua keluar dari ruangannya" jawab dokter itu ketakutan.
"Lalu apa yang terjadi pada mereka berdua?!" tanya Ibu Rani lagi masih dalam keadaan emosi.
"Pa...pada saat sa..saya ingin memeriksa keadaan tu... tuan muda, tiba-tiba saja nona muda masuk dan langsung mengambil alih tugas saya, beliau juga melarang kami untuk menyentuh tubuh suaminya sehelai rambut pun" jawab sang dokter menjelaskan dengan raut wajah takut.
"Ke...kita nona muda sedang fokus memeriksa tubuh tuan muda, tiba-tiba nona muda mengalami mual dan langsung berlari ke toilet. Setelah itu tuan muda menyuruh kami semua untuk keluar dari ruangannya" timpalnya gugup.
Mendengar jawaban barusan, sontak membuat emosi dari Ibu Rani memuncak " Dasar bodoh!, tidak berguna!" emosi wanita paruh baya itu sudah tak tertahan karena dokter itu meninggalkan ruangan yang dimana ada sang putra berada. Sedangkan dokter dan para suster itu hanya bisa menunduk ketakutan mendengar amarah serta makian dari Rani.
Leo menghela nafasnya dan langsung memeluk sang istri agar emosi mereda karena ia merasa tidak enak pada dokter serta para suster itu yang terlihat sangat ketakutan.
"Sudahlah istriku. Jangan salahkan mereka, mereka hanya menuruti perintah dari putra kita saja. Biarkan saja mereka berdua yang menyelesaikan masalah rumah tangganya. Dion dan Ayu itu sudah dewasa, sudah menjadi pasangan suami-istri, lebih baik kita percayakan saja pada mereka berdua" ucap Leo dengan lembut sembari mengelus kepala Rani yang berdasar pada pundaknya.
"Dokter, sebaiknya kalian semua kembali saja bekerja. Tolong maafkan ucapan dari istri saya tadi ya, aku yakin dia tidak sengaja berkata seperti itu pada kalian" timpal Leo dengan nada yang begitu lembut.
"Ti...tidak apa-apa kok tuan besar, kami semua paham kalau nona besar sedang berada dalam kondisi emosi. Jadi kami paham kok" jawab dokter itu masih belum berani menatap wajah Rani.
"Yaudah, kalian kembali bekerja saja" ucap Leo memerintah.
"Ba...baik tuan. Kalau begitu kami izin mohon pamit" jawab sang dokter penuh dengan sopan santun dan langsung bergegas pergi untuk menyelesaikan tugas yang sesuai dengan pekerjaan mereka di rumah sakit tersebut.