Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
RUANGAN ICU DAN UGD


Leny terus menerus mencoba memanggil Daniel masih tak sadarkan diri dalam pelukannya, namun alhasil Daniel masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka matanya, membuat Leny semakin histeris.


"Ayah... hiks... bangun Ayah... hiks... AYAHHH!!!" teriak Leny semakin erat memeluk sang suami yang masih tak sadarkan diri


"Apa yang aku takutkan ternyata terjadi juga" ucap Hyuga dengan mata yang sudah sayup


"Tubuh bagian dalamnya pasti terluka parah" timpalnya menatap kebawah


"Ayah bunda mohon!, bangun Ayah!" lirih Leny yang sudah di banjiri dengan air mata


"Apa ayah gak mikirin Bunda dan Damin hmm..?" timpalnya lagi semakin menangis


"Kita harus membawanya kerumah sakit!" ucap Fauzi


"Mungkin masih ada waktu untuk kak Daniel bertahan hidup" sambung Kevin


"Apa maksud kamu berkata seperti itu Kevin?!" tanya Leny dengan datar namun matanya masih menatap sang suami


"APA KAU PIKIR SUAMIKU ADALAH LELAKI YANG LEMAH HAH?!" tanya lagi yang sudah emosi karena mendengar perkataan seperti itu dari sang adik


"Bu..bukan seperti itu kak. Organ tubuh kak Daniel sudah rusak parah, kalau kita tidak segera membawanya kerumah sakit, aku takut akan fatal" jawab Kevin menjelaskan


Leny meletakkan kepala sang suami secara perlahan di atas tanah kemudian ia langsung bangkit dan mendekati Kevin.


"Jangan berkata seperti itu lagi Kevin!. Kita harus yakin kalau kakak kamu bisa selamat!" protes Leny sembari memukuli dada Kevin, namun pukulan itu tak berasa apapun bagi Kevin.


"Aku dan Damin belum siap untuk kehilangan dia" lirih Leny yang sudah melemah


Kevin hanya terdiam dan menatap Leny dengan rasa sedih dan sangat kasian pada sang kakak. Ia tau betapa besarnya rasa cinta Leny pada kakaknya Daniel, Kevin bisa merasakan luka yang sangat mendalam pada hati sang kakak iparnya pada saat ini.


Tiba-tiba pandangan Leny menjadi kabur dan berkunang-kunang, kepalanya mulai terasa sangat berat, penglihatannya juga sudah mulai gelap, tak lama kemudian Leny pun ikut tak sadarkan diri karena terlalu syok melihat keadaan sang suami.


Tubuh Leny perlahan mulai jatuh ke atas tanah, namun dengan refleks yang cepat dari Kevin, tubuhnya langsung di tangkap dan di gendong oleh sang adik. Perlahan air mata Kevin ikut menetes melihat keadaan pasangan itu yang sama-sama tak sadarkan diri.


"Kak!, kau lihat keadaan istrimu ini!. Dia sangat mengkhawatirkan kamu" lirih Kevin menatap kearah Daniel yang masih memejamkan mata


"Ayo buruan kita bawa mereka berdua kerumah sakit!" pinta Silvia merasa khawatir dengan keadaan dari kedua sahabatnya itu.


"Iya ayo!" sambung Koury


Dengan buru-buru Hyuga dan Ronny membopong tubuh Daniel, mereka berdua langsung membawa Daniel menuju ke dalam mobil, dan Kevin juga menggendong Leny menuju ke dalam mobil mengikuti Rony yang tengah membopong Daniel bersama dengan Hyuga.


Kevin sangat mengkhawatirkan keadaan Leny yang tiba-tiba pingsan. Bahkan Leny masih mengerutkan keningnya dalam keadaan pingsannya, Kevin berfikir kalau Leny sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami meski dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Mereka memang pasangan yang sangat cocok, meski sama-sama gila" gumam Kevin tersenyum tipis menatap sang kakak


Rian dengan sangat kencang mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan hutan belantara dan para mayat dari orang-orang Petir Hitam itu. Mereka sudah tak memperdulikan lagi keadaan tempat yang mereka tinggalkan tadi, mereka hanya mementingkan keadaan Daniel dan juga Leny yang sama-sama tak sadarkan diri.


"Kak kita cari rumah sakit terdekat saja!" ucap Hyuga semakin panik melihat Daniel yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya


"Iya. Kalian semua jangan panik, aku jadi ikutan panik" jawab Rian semakin melajukan mobilnya


"Kapten kau harus sadar!" ucap Hyuga sembari terus membersihkan darah pada rongga mulut Daniel


Kevin mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Wulan dan segera memberi tahu kepadanya tentang keadaan kakak-kakaknya yang dalam keadaan bahaya. Kevin menekan tombol hijau dan menunggu sang kucing kecil menjawab panggilannya.


Wulan yang tengah asyik bermain dengan Damin dan kedua neneknya Damin di buat sedikit heran karena jarang-jarang kalau si capungnya menelpon dirinya.


"Kevin?" gumamnya menatap layar ponselnya


"Ma, Bu, sebentar ya Wulan angkat telepon dulu" ucap Wulan meminta izin


"Iya sayang!" jawab Ibu Rani dan Mama Yuni


"Halo!. Ada apa capung?!, dengaren kamu meneleponku, kangen ya?" goda Wulan


"Maaf ya kucing kecil, kali ini aku sedang tak ingin berperang denganmu" jawab Kevin dengan suaranya yang lirih


"Aku tidak apa-apa, tapi kedua kakakmu dalam bahaya" jawab Kevin sembari menatap Leny yang masih dalam keadaan pingsan


"Kakak?, maksud kamu siapa?!" tanya Wulan lagi semakin panik


"Kak Daniel sedang sekarat, dan kak Leny tengah pingsan karena terlalu syok melihat keadaan suaminya" jawab Kevin lirih


"APA?!" teriak Wulan terkejut


"Nanti aku jelaskan, kalian menyusul kami ke rumah sakit. Aku akan memberikan lokasinya" ucap Kevin dan langsung mematikan ponselnya


"Kevin woy!, capung!" panggil Wulan yang semakin panik karena Kevin tiba-tiba mematikan teleponnya


"Ada apa sayang?" tanya Ibu Rani yang khawatir melihat wajah putrinya yang sudah mulai berkaca-kaca


"Tadi Kevin memberi tahu kalau kak Daniel sedang sekarat, dan kak Leny tengah pingsan karena syok melihat suaminya..hiks..hiks.." jawab Wulan yang sudah meneteskan air mata


"APA?!" teriak Ibu Rani dan Mama Yuni


"Bagaimana bisa?" tanya Ibu Rani menjadi panik


"Apa yang terjadi dengan putri dan menantuku?!" tanya Mama Yuni tak kala paniknya


"Wulan juga gak tau Bu, Ma. Kevin belum sempat menjelaskan dan tiba-tiba dia teleponnya mati" jawab Wulan semakin sedih.


"Kita harus menyusul mereka ke rumah sakit" ucap Ibu Rani yang semakin panik mendengar keadaan anak dan menantunya.


30 menit kemudian mobil yang di kemudikan oleh Rian sudah tiba di sebuah rumah sakit terdekat, dan dengan cepat mereka semua membawa pasangan suami-istri itu masuk kedalam agar segera mendapatkan pertolongan.


Setelah keduanya mendapatkan perawatan di ruangan yang berada, tak lama kemudian Rani beserta rombongan juga tiba di rumah sakit dan langsung menanyakan keadaan dari anak dan menantunya itu.


"Bagaimana keadaan Daniel dan juga Leny nak?!" tanya Ibu Rani yang sudah sangat panik


"Kak Leny sedang berada di ruangan UGD, sedangkan kak Daniel sedang berada di ruangan ICU" jawab Fauzi


"Apa yang sebenarnya terjadi?, kenapa mereka berdua sampai seperti itu?!" tanya Ayah Leo yang sedikit lebih tenang, namun hatinya masih memikirkan keadaan sang putra


"Kak Daniel sudah melebihi batas saat melawan orang-orang dari Petir Hitam, dan kak Leny sangat menghawatirkan keadaan suaminya sampai ia ikut pingsan" jawab Kevin menjelaskan.


Pintu ruangan UGD terbuka, dan keluarlah seorang dokter berjenis kelamin perempuan dan mencari keluarga Leny untuk menyampaikan keadaannya.


"Maaf apa kalian dari keluarga pasien?" tanya dokter yang bernama Jasmine


"Iya dok, saya Mamanya" jawab Mama Yuni


"Bagaimana keadaan menantu saya dok?" sambung Ibu Rani yang ingin tau keadaan Leny


"Pasien tidak mengalami cidera yang berat, ia hanya syok saja" jawab sang dokter tersenyum ramah


"Syukur Alhamdulillah" ucap mereka semua merasa lega dengan keadaan Leny


"Namun dia terus mengigau memanggil kata Ayah" ucap sang dokter


"Ah, iya dok. Dia pingsan seperti itu, karena suaminya sedang kritis dan ia sedang berada di ruangan ICU" jawab Silvia menjelaskan


"Astaghfirullah, pantas saja" ucap dokter Jasmine merasa kasian pada keadaan Leny


"Dok apa kami boleh melihat pasien?" tanya Wulan yang ingin tau keadaan dari sang kakak


"Boleh, silahkan saja. Tapi jangan sampai Pasian terganggu ya" jawab dokter Jasmine tersenyum


"Baik dok" jawab Wulan dan langsung menuju ruangan dimana sang kakak dirawat


"Kalau ingin menjenguk, tolong bergantian ya" ujar sang dokter memperingati