Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MEMBUKA MATA


Sosok wanita tersebut sudah menyerah dan mengatakan dengan jujur. Dia sudah tau kalau tidak akan menang melawan seorang manusia yang memiliki kekuatan iblis itu.


"Siapa yang memakai jasa dukun itu?" tanya Daniel dengan nada dingin.


"Aku tidak kenal" jawab sosok wanita tersebut.


"Aku hanya budak yang harus menuruti perintah dari dukun itu" timpalnya.


"Sepertinya setan busuk ini berkata jujur" batin Daniel menatap dingin sosok wanita tersebut.


"Bawa aku ke tempat kau di kirim" ucap Daniel memerintah.


"Aku tidak berani tuan" jawab setan tersebut.


"Apa yang kau takutkan?, kau kan setan" tanya Daniel.


"Dukun sesat itu bakal menyiksaku kalau aku kembali" jawab sosok wanita tersebut.


"Kau jangan takut, aku yang akan menghadapinya" ucap Daniel.


"Tapi tuan, dukun sesat itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari tuan" ucap sosok wanita itu ketakutan.


"Kami para setan selalu di siksanya kalau tidak menuruti perintahnya, apa lagi sampai kembali ke sana, bisa-bisa di bunuh aku" timpal sosok wanita itu.


"Setan pun takut mati?" tanya Daniel


"Bagaimanapun juga, kami para jin dan setan itu makhluk hidup. Kita juga di ciptakan oleh Tuhan yang sama, hanya saja kita berbeda alam. Kami para bangsa jin bisa melihat kalian, tapi kalian para manusia tidak semuanya yang bisa melihat kami" jawab sosok wanita itu panjang lebar.


"Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan ceramahmu itu. Cepat bawa aku ke tempat dukun gila itu" ucap Daniel sembari mengelus kepala sosok wanita tersebut dengan senyuman yang membuat wanita itu ketakutan.


"I..iya baik tuan baik. A..akan saya lakukan" jawab sosok wanita itu gugup karena ketakutan.


"Aneh, aku merasakan hawa yang sangat menakutkan. Bahkan lebih kuat dari dukun gila itu" batin sosok wanita tersebut.


"Bagus-bagus" ucap Daniel sembari mengelus kepala sosok wanita tersebut.


"Bau banget rambutmu" timpal Daniel menoyor kepala sosok wanita tersebut. Sedangkan sosok wanita itu hanya menunduk saja.


Kemudian Daniel mengikat rantai itu di leher sosok wanita itu lagi, dan membawanya keluar dari ruangan Nenek Ani untuk segera menuju ke tempat dukun yang mengirimnya ke Nenek Ani.


"Kenapa rantai ini lagi tuan?, aku tidak mau kekuatanku di serapnya lagi" ucap sosok wanita itu sembari mengikuti langkah Daniel.


"Kau tenang saja, rantai ini tidak akan melakukan itu lagi" jawab Daniel santai.


"Tapi kalau kau mencoba melawan, maka rantai ini akan langsung membunuhmu" ancam Daniel.


"Tidak tuan, aku tidak akan melakukan apa-apa" ucap sosok wanita itu ketakutan, dan Daniel tersenyum jahil.


"Udah berwujud setan, bodohnya gak ketulungan" gumam Daniel menggeleng.


Leny yang sedari tadi menunggu di depan pintu kamar rawat Nenek Ani dibuat terkejut melihat sang suami yang keluar dari dalam kamar dan ia langsung memeluk Daniel.


"Ayah kok lama banget sih" ucap Leny yang masih terus memeluk Daniel.


"Hehe, maaf Honey" jawab Daniel.


"Lalu bagaimana keadaan Nenek?" tanya Mama Yuni menyela.


Disaat mereka tengah sibuk membicarakan tentang keadaan Nenek Ani, Ayah Leo justru melihat ke arah tangan kiri Daniel yang seakan menggenggam sesuatu. Ayah Leo juga mencium bau yang sangat aneh, seperti bau busuk dan wangi melati bercampur jadi satu sampai membuat perut Ayah Leo terasa mual.


Karena penasaran dan semakin aneh, Ayah Leo membaca sebuah doa lalu memejamkan matanya sejenak. Setelah matanya ia buka, ia langsung mampu melihat sosok wanita yang berada di samping Daniel dengan rantai terikat di lehernya seperti hewan peliharaan.


"Ternyata kau pelakunya" batin Ayah Leo sembari menatap sosok wanita itu dengan tatapan tajam.


Saat mata Ayah Leo dan mata setan itu bertemu, sontak sosok wanita tersebut langsung memalingkan wajahnya karena ketakutan melihat tatapan mata dari Ayah Leo. Meskipun sosok wanita itu bisa merasakan kekuatan yang di miliki Ayah Leo ada di bawahnya Daniel, akan tetapi ia tau kalau kekuatan yang di miliki Ayah Leo jauh di atas dukun yang memeliharanya.


"Ketiga manusia ini seperti iblis. Tidak, tidak. Bahkan bayi manusia itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Masih bayi saja bisa memiliki kekuatan sebesar ini, apa lagi sudah seumuran dengan orang yang merantai leher ku ini, bisa langsung mati aku" ucap sosok wanita itu yang hanya di dengar oleh Daniel dan juga Ayah Leo.


Kemudian Damin melihat ke arah setan tersebut, dan tiba-tiba Damin terkekeh melihat sosok wanita itu. Damin sepertinya sudah tidak takut lagi saat melihat wajah sosok wanita yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tawa Damin yang secara tiba-tiba itu membuat mereka menjadi gemas melihat wajah Damin yang sangat imut.


"Bahkan seorang bayi manusia tidak takut padaku" keluh sosok wanita tersebut menundukkan kepalanya. Tingkah setan tersebut membuat Damin semakin tertawa dan mengejutkan para orang dewasa yang berada di sekitarnya.


"Loh, loh. Cucu Nenek ini kenapa" tanya Ibu Rani yang tengah menggendong Damin.


"Damin kenapa Bu?, kok tiba-tiba dia tertawa lepas seperti itu?" tanya Leny.


"Ibu juga gak tau sayang. Tiba-tiba putra kamu tertawa bahagia seperti ini" jawab Ibu Rani dan langsung mencium pipi Cucunya itu.


"Yah, Yayah " panggil Damin.


"Iya sayang?" jawab Daniel tersenyum setelah mendengar Damin memanggil dirinya.


"Haih. Kenapa selalu Ayah bisa kau sebut sayang?. panggil Bunda dong sekali-kali" ucap Leny.


"Yayah " panggil Damin lagi.


"Bunda Damin, Bunda...." sela Leny menekan kata Bunda agar Damin bisa mengatakannya. Akan tetapi Damin malah tetap memanggil sang Ayah, dan membuat Leny sedikit kesal.


Daniel hanya terkekeh geli melihat istrinya yang seakan tidak menerima kalau putra mereka hanya bisa memanggil kata Ayah saja. Leny berharap kalau putranya itu bisa menyebutkan kata Bunda.


"Nda.." panggil Damin dan membuat mereka terkejut, bahkan Leny sampai terbelak mendengar putranya memanggil kata itu.


"Apa tadi?, kamu tadi menyebut apa sayang?" tanya Leny mencoba memastikan. Namun Damin malah mengulurkan kedua tangannya berharap Leny menggendongnya.


Leny langsung mengambil alih gendongan Damin dari Ibu Rani dan langsung menciumi putranya yang semakin menggemaskan itu.


Sedangkan di dalam ruangan, Nenek Ani mulai membuka matanya secara perlahan. Saat matanya sudah mulai terbuka dan kesadarannya hampir sepenuhnya kembali, ia terkejut karena tidak tau sedang berada di mana.


"Ini dimana?, kok aku ada di sini?" gumam Nenek Ani sembari memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.


"Kenapa aku di infus?. Apa ini di rumah sakit?" tanya Nenek Ani lagi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?, kenapa aku tiba-tiba bisa berada di tempat ini?. Tapi tadi aku bisa mendengar suara orang-orang yang aku kenal. Leny?, Daniel?, Yuni?" gumam Nenek Ani bertanya-tanya.


Lalu Nenek Ani melihat sebuah tombol yang berada di dekat ranjangnya. Kemudian Nenek Ani langsung menekan tombol tersebut.


Tiba-tiba seorang dokter dan perawat datang menuju ke tempat Daniel. Mereka semua bertanya-tanya kenapa tiba-tiba ada dokter yang mendatangi mereka.


"Ada apa ini?, kenapa kalian terlihat terburu-buru?" tanya Leny kebingungan.


"Ada sebuah sinyal saat saya sedang berada di dalam ruangan, dan sinyal itu berasal dari ruangan di dalam itu. Mungkin pasien sudah sadarkan diri dan menekan tombol alarm tersebut" jawab sang dokter menjelaskan.


"Apa?!, Nenek sudah sadar?" tanya Leny terkejut dengan raut wajah yang nampak senang.