Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SINGA VS SERIGALA


Sesuai persyaratan yang Daniel katakan semalam, kini mereka sedang menuju ke markas yang biasa digunakan untuk latihan. Terlihat wajah Dion yang begitu bersemangat karena ia sudah tak sabar untuk membuktikan kalau dia itu bisa dan tidak ingin menjadi beban yang harus di lindungi terus-menerus.


Daniel juga sudah lama tidak melatih tubuhnya, jadi ia akan menyalurkan semuanya pada Dion yang akan ia latih dengan sangat keras agar potensi dalam diri sang Adik bisa keluar seluruhnya.


"Bersiap-siaplah, latihan kali ini tidak semudah dari latihan yang biasanya" ucap Daniel menatap Dion sekilas dan langsung fokus menyetir lagi.


"Aku tidak peduli mau sekeras apa latihan kali ini, aku akan menuntaskan latihan ini" jawab Dion serius.


"Hahaha, aku suka dengan semangatmu itu. Kuharap, semangatmu itu sama dengan kekuatan yang kamu miliki" ucap Daniel tertawa senang.


"Kakak saja bisa, jadi aku juga pasti bisa. Karena kita lahir dari rahim yang sama, dan kita ini saudara kandung" ucap Dion menatap serius ke arah depan.


"Kamu benar, aku yakin kamu pasti bisa. Aku akan melatih mu sampai kamu bisa menjadi kuat, dan mendampingiku sebagai wakil dari Dark Shadow " ucap Daniel tersenyum senang.


Mobil yang di kendarai oleh Daniel akhirnya tiba di sebuah gedung. Namun gedung itu berbeda dari yang kemarin mereka datangi, karena gedung yang ada di depan mereka adalah tempat khusus untuk mereka latihan. Tak lama kemudian mobil Rian dan yang lainnya juga sampai di gedung tersebut.


"Ini dimana Kak?" tanya Dion sedikit bingung melihat gedung yang begitu besar ada di depannya.


"Tempat ini yang akan menjadikan kamu kuat" jawab Daniel sambil membuka pintu mobilnya di ikuti Dion juga.


"Apa kamu sudah siap nak?" tanya Ayah Leo setelah mereka semua sudah berada di depan pintu gedung bertingkat itu.


"1000% aku siap Ayah" jawab Dion tersenyum semangat menatap sang Ayah.


"Bagus!. Tunjukkan pada kami keseriusan kamu, buktikan pada kami kalau kamu itu bisa berubah" ucap Ayah Leo tersenyum menepuk pundak Dion.


"Tentu saja aku bisa Ayah, di dalam darahku mengalir darah kalian juga. Jika Kakak saja bisa, berarti aku juga harus bisa" jawab Dion menatap Leo dengan serius.


"Baiklah, ayo masuk" ajak Daniel berjalan terlebih dahulu masuk menuju ke dalam gedung tersebut di ikuti yang lainnya yang berada di belakangnya.


Setelah mereka berada di dalam, Dion hanya bisa terkejut melihat isi ruangan markas tempat latihan mereka. Banyak terdapat berbagai jenis senjata tergantung di tempat tersebut. Mulai dari senjata api, senjata tajam, dan juga senjata tumpul yang suka di pakai oleh Fauzi.


"Sudah, jangan banyak melamun. Persiapkan dirimu, kita akan memulai latihan keras ini" ucap Daniel sambil membuka pakaiannya dan memperlihatkan tubuh atletisnya.


"Ah, iya-iya" jawab Dion yang ikut dengan apa yang di lakukan oleh Daniel. Namun tubuh Dion belum terlalu memperlihatkan tubuh atletisnya karena ia belum terlalu lama berlatih. Tidak seperti Daniel yang sudah berlatih sejak usia 12 tahun.


"Ayo kita pemanasan terlebih dahulu" ucap Daniel merenggangkan otot-ototnya agar tidak terjadi apa-apa pada tubuh mereka ketika latihan sulit itu di mulai.


"Apa kau sudah siap?" timpal Daniel bertanya dengan senyuman sinis menatap sang Adik.


"Kapanpun aku siap" jawab Dion tersenyum sinis menatap Daniel.


"Silahkan serang aku dari mana saja" ucap Daniel.


"Oke, aku akan menyerang" jawab Dion dan langsung berlari menuju ke tempat Daniel berdiri.


Daniel menatap ke arah atas, kemudian ia menghela nafasnya, lalu tersenyum sinis menunggu Dion yang tengah berlari kearahnya dengan posisi yang siap menerima serangan. Dion melancarkan pukulannya ke arah wajah Daniel. Namun tinjuan yang di berikan oleh Dion bisa di tangkap dengan mudah oleh Daniel.


"Serang aku dengan sungguh-sungguh, gunakan aura pembunuh mu!" ucap Daniel geram dan langsung membalas pukulan dari Dion.


Tinjuan Daniel berhasil tepat mengenai pipi kiri milik Dion hingga kaki Dion sedikit melangkah mundur. Dion langsung memegangi wajahnya, terasa sangat panas dan begitu kebas pada bagian tersebut.


Belum sampai di situ, Dion yang masih menahan rasa sakit pada wajahnya, dengan tiba-tiba Daniel menyerang dan berhasil mengenai wajah yang sebelahnya.


Lagi-lagi Dion harus menerima pukulan dari Daniel. Daniel terus memberikan pukulan demi pukulan dan Dion hanya bisa menerima pukulan itu tanpa adanya perlawanan sedikitpun darinya.


"Kemana semangat yang tadi?!" tanya Daniel sambil terus memukuli Adiknya tanpa rasa kasihan sedikitpun. Sedangkan Dion hanya bisa menahan rasa sakit itu.


"Apa kau sudah menyerah?!" timpal Daniel masih terus memukuli Dion.


Leo dan yang lainnya hanya bisa menatap Dion dengan tatapan tak tega karena sudah banyak luka memar pada wajahnya. Namun mereka tidak bisa menghentikannya karena itu semua demi Dion yang ingin bertambah lebih kuat serta membuktikan kalau dia juga pantas menjadi pendamping dari Daniel sang pemimpin Dark Shadow.


Perlahan kedua kaki Dion mulai bergetar karena sudah tak sanggup menahan berat tubuhnya. Banyak memar pada wajah dan bagian tubuhnya yang lain karena latihan keras dari Daniel. Sedangkan wajah dan tubuh Daniel masih terlihat sangat mulus, karena Dion masih belum berhasil melukainya sedikitpun.


Tiba-tiba Dion berlutut dengan dengkul kanannya yang menyentuh lantai pijakannya. Daniel yang melihat sang Adik yang sepertinya sudah mencapai batasnya hanya bisa menghela nafasnya. Kemudian ia melangkah mendekati Dion yang sudah hampir kehabisan nafasnya. Lalu tanpa berkata apa-apa, Daniel langsung menendang wajah Dion hingga membuat tubuhnya terpental dan terseret di lantai.


"Sepertinya kau masih belum bisa. Kau masih butuh banyak latihan" ucap Daniel menatap dingin ke arah Dion yang tengkurap di atas lantai.


Kemudian Daniel meninggalkan Dion yang masih terkapar di atas lantai. Ia menuju ke sebuah meja yang dimana ia meletakkan pakainya tadi.


Sedangkan Dion yang masih setengah sadar, hanya bisa marah pada dirinya sendiri karena terlalu lemah. Ia mengepalkan tangannya lalu memukul lantai karena kesal dengan dirinya yang lemah. Akan tetapi dia masih belum menyerah dan berusaha untuk bangkit meskipun dengan bersusah payah.


"A...aku masih bi...bisa, a...aku tidak boleh ka...kalah di sini. Ka...karena ada janji yang harus aku tepati" ucap Dion terbata-bata sambil berusaha untuk bangkit.


Daniel yang membelakangi Dion dan hendak menggenakan pakaiannya tiba-tiba terhenti karena mendengar perkataan Dion barusan. Ia tersenyum lalu meletakkan pakainya ke atas meja kembali, kemudian ia berbalik badan dan menatap Dion yang berusaha untuk bangkit.


"A...aku harus bisa menjadi se..seorang Kakak yang melindungi Adiknya. A...aku tidak ingin membuat Wulan melindungi ku terus-menerus. Se... sebagai seorang Kakak laki-lakinya, seharusnya a...aku yang melindungi A..adik perempuannya" ucap Dion terbata-bata namun sudah bisa berdiri.


Wulan yang menyaksikan sendiri perjuangan Dion hanya bisa berkaca-kaca. Ia sangat terharu karena Dion berusaha demi untuk melindungi dirinya juga.


"Kakak" gumam Wulan menatap Dion dengan wajahnya yang terlihat sedih karena terharu.


"Berjuanglah" timpalnya dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.


Tiba-tiba suasana di tempat latihan itu berubah. Aura hitam keluar dari tubuh Dion. Mereka semua terkejut karena melihat ada sosok serigala yang berada di belakang tubuh Dion. Sedangkan Daniel tersenyum sinis melihat Dion yang sudah mengeluarkan potensi dalam dirinya.


"Jadi begitu?. Serigala ya?" gumam Daniel tersenyum sinis menatap Dion yang menatap tajam ke arah dirinya.


Tak mau kalah dari sang Adik, Daniel juga mengeluarkan setengah dari Aura yang ia miliki. Aura yang Daniel keluarkan menggambarkan seekor singa yang terlihat jelas berada di belakang tubuh Daniel. Dion yang melihat sosok bayangan tersebut merasa tidak peduli. Yang ada di dalam pikirannya hanya satu, yaitu mengalahkan Daniel.


"Aku tidak peduli sebesar apa kekuatan yang Kakakku miliki, yang aku inginkan adalah mengalahkannya. Jika tidak bisa, setidaknya aku bisa mendaratkan satu pukulan padanya" gumam Dion menatap tajam ke arah Daniel.


"Serang aku" pinta Daniel tersenyum sinis.


Tanpa berkata apa-apa, Dion langsung berlari menuju ke arah Daniel. Mereka semua terkejut melihat pergerakan Dion yang tiba-tiba menjadi lebih cepat dari yang sebelumnya, bahkan Daniel juga sedikit terkejut melihat Dion yang bergerak begitu cepat.


Secara tiba-tiba Dion sudah ada berada di depan Daniel dengan tatapan mata seperti seorang pembunuh yang haus akan cairan merah yang bernama darah. Dengan cepat Dion langsung meluncurkan pukulannya. Meskipun terkejut, akan tetapi Daniel masih sempat menangkis serangan tersebut dengan melindungi wajahnya menggunakan kedua tangannya membentuk huruf X. Namun Dion masih belum merasa puas karena serangan pertamanya belum berhasil melukai sang Kakak.


Dion mencoba melakukan serangan kedua, dan lagi-lagi Daniel masih bisa menghindarinya. Merasa kesal karena ia masih belum berhasil, Dion berteriak dan teriakan tersebut terdengar seperti aungan seekor serigala oleh mereka yang melihat pertarungan Kakak beradik yang mulai semakin seru.


Kemudian Dion langsung menyerang Daniel secara bertubi-tubi sedangkan Daniel hanya bisa menghindar sambil melindungi dirinya dari serangan Dion yang datang terus-menerus secara acak. Hingga akhirnya salah satu pukulan dari Dion berhasil mengenai wajah Daniel dan sampai membuat tubuh Daniel terpental hingga tubuhnya menghantam sebuah meja yang ada di belakangnya sampai meja tersebut hancur karena tubuh Daniel terpental begitu keras.


Leo dan lainnya langsung bersorak kegirangan karena Dion berhasil mengenai Daniel hingga membuat tubuh Daniel terpental juga. Mereka sangat senang melihat Dion berhasil membuat Daniel sedikit kewalahan, karena mereka semua tau perjuangan Dion yang begitu keras demi membuktikan kalau dia bisa.


Daniel yang masih tergeletak di atas meja berantakan itu cuma bisa tersenyum bahagia karena ia bisa merasakan pukulan dari sang Adik. Kemudian ia mengelus pipi bekas pukulan dari Dion lalu ia langsung bangkit.


"Hahaha, kau memang Adikku" tawa Daniel sambil membersihkan tubuhnya yang terasa sedikit kotor.


"Sudah cukup, kau sudah membuktikannya. Aku percaya padamu" timpal Daniel tersenyum sambil menatap Dion yang sudah ngos-ngosan.


Tiba-tiba Wulan berlari menuju ke arah Dion dan ia langsung memeluknya dengan isak tangis bahagia. Ia merasa bangga karena Dion berhasil membuktikan dirinya.


"Selamat Kak, Kakak telah berhasil membuktikannya" ucap Wulan terisak-isak dalam pelukan Dion.


"Tolong lindungi aku di peperangan nanti ya" timpal Wulan mendongak menatap Dion dengan wajah sedihnya.


Dion tersenyum sambil menyeka air matanya yang membasahi kedua pipi Wulan kemudian ia berkata "Tentu saja Adikku" Kemudian Wulan memeluk Dion kembali dan Dion tersenyum sambil mengelus kepala Wulan. Sedangkan mereka semua hanya bisa tersenyum melihat Dion yang sudah berhasil membuat Daniel percaya padanya.