
Daniel menggelengkan kepala dan tersenyum membaca pesan dari sang istri
"Dasar istriku, biasanya dia sangat risau kalau aku tengah bertarung. Ini justru malah mengidam"
Hasan menatap Daniel yang tersenyum sambil menatap layar ponselnya, semakin geram karena seperti tidak di anggap oleh Daniel
"Hey!, kau ingin bertarung atau membalas pesan wanitamu?!"
Daniel memasukkan ponselnya kedalam sakunya lagi dan meregangkan tubuhnya seakan ingin pemanasan. Dia semakin semangat untuk bertarung karena istrinya sedang mengidam. Auranya perlahan semakin meningkat dan memberi efek berat kepada Hasan yang berdiri didepannya.
Daniel melangkah secara perlahan kearah Hasan. Hasan yang berada didepannya sangat terkejut karena ada sosok seperti malaikat maut sedang berada di belakang Daniel, dan malaikat itu mengacungkan senjata seperti bulan sabit kearah Hasan.
Hasan perlahan melangkah mundur, namun di belakangnya sudah tidak ada pijakan lagi untuk menopang keduanya kakinya. Hasan menghela nafas panjang dan menepuk-nepuk pipinya dan berkonsentrasi. Dia berfikir positif kalau itu hanya halusinasi.
"Dia lemah!, aku hanya kelelahan saja. Untuk apa aku mundur, ilmu yang kumiliki jauh lebih hebat dari pria itu" batin Hasan
Senyuman khas milik Daniel telah muncul. Tubuh pria yang berdiri di ujung lantai dua tepat di depan Daniel seperti akan jatuh karena tidak sanggup menahan beratnya aura milik Daniel.
Daniel melompat dan melempar Hasan ketengah, dia tak ingin musuhnya mati karena jatuh dari ketinggian. Dia harus menyiksa orang-orang yang telah berani membuat istrinya terluka hingga koma.
"Kau tidak boleh mati karena jatuh dari situ. Aku harus mencabut nyawamu dan mengirimmu untuk segera menyusul sepupu dan anak buahmu ke neraka"
Hasan yang masih terkapar karena menerima bantingan dari Daniel tadi semakin tidak berdaya. Dia harus melarikan diri dan menyembuhkan luka-luka yang ia terima dari Daniel.
Dia mengambil serpihan abu yang ada di sampingnya dan langsung melemparkannya ke wajah Daniel. Abu itu membuat Daniel tidak bisa melihat untuk sementara, namun Daniel tidak panik, dia hanya membersihkan abu yang menempel pada wajah dan kelopak matanya.
Hasan mencoba untuk berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki saat ini. Meski tubuhnya sudah mati rasa dan penuh luka, dia harus berusaha kabur dari Daniel. Karena mata Daniel sudah tidak bisa melihat, dia perlahan melangkah mundur dan tidak membuat suara sedikitpun pun.
Namun karena indera pendengaran Daniel di atas manusia pada umumnya, sangat mudah baginya untuk mendengar suara walau sekecil apapun. Hasan terus mundur perlahan, saat jaraknya sudah sekitar 15 meter dari tempat Daniel berdiri, dia langsung mencoba berlari.
Namun Daniel bisa mendengar langkah kaki Hasan dengan sangat jelas. Dia mengeluarkan pisau andalan miliknya dan "Cush" pisau itu tepat mengenai betis kiri Hasan. Hasan langsung terjatuh dan menjerit kesakitan, Daniel hanya tertawa seperti orang yang mengalami penyakit psikopat.
Saat terjatuh, Hasan melihat pistol miliknya yang di buang oleh Daniel tadi. Ekspresi senyuman terlihat pada mimik wajah Hasan. Dia langsung mengambil pistol itu dan langsung menembak kearah Daniel.
Meski dalam keadaan buta sementara, Daniel masih mampu menghindar. Hasan menjadi geram karena tembakan jitu miliknya bisa Daniel hindari dengan mudah. Hasan berteriak dan menembaki Daniel, namun Daniel mampu menghindari semua peluru yang berterbangan.
Sampai peluru yang ada di dalam pistol itu habis, namun semua tembakan Hasan meleset. Daniel seperti penari profesional yang hebat saat menghindari peluru demi peluru yang Hasan tembaki.
Karena sudah sangat emosi, Hasan melemparkan pistol kosong itu kearah Daniel. Meski dalam keadaan terpejam, Daniel bisa mengetahui dimana lemparan Hasan itu. Dia menangkis pistol itu dengan kakinya, dan pistol itu melayang di atas Daniel. Ketika pistol itu belum menyentuh tanah, Daniel langsung menendangnya ke arah Hasan.
Dan "Pluak!" kepala Hasan terhantam pistol yang ia lemparkan ke arah Daniel tadi. Dia memegangi kepalanya dan perlahan darah mulai membanjiri kepala Hasan.
Daniel perlahan membuka matanya dan melihat Hasan sudah semakin parah karena ulahnya sendiri melawan pemimpin Assassin Dark Shadow yang ditakuti banyak sebagian negara.
Daniel tertawa menatap Hasan seperti itu
"Haha. Jadi hanya segitu doang ilmu dari pemimpin Black Dragon?"
Hasan berkata dengan tenaga yang hampir habis
"Si..siapa kau sebenarnya?! baru kali ini aku kalah telak dalam pertarungan"
Daniel mendekati Hasan dan berjongkok di depannya
"Anggap saja malaikat maut untukmu"
"Sial!, sepertinya aku akan segera menyusul Hendry" batin Hasan
Daniel mengangkat Hasan dan mencekik lehernya sampai kakinya tidak menyentuh tanah. Dengan pandangan geram Daniel melempar Hasan sampai jatuh dari tangga. Rekan Daniel yang sedang bertarung di dalam terkejut karena ada sesuatu yang jatuh dari atas.
Novi yang sedang mati-matian melawan Indra juga ikut terkejut karena Hasan jatuh tepat di mana mereka bertarung. Indra sangat syok melihat bos andalannya bisa kalah.
"Bos kamu baik-baik saja?" Indra memapah Hasan
Daniel berjalan santai menuruni anak tangga dengan tangan kiri masuk dalam saku dan tangan kanan tengah memegang sebatang rokok yang ia hisap. Dengan santai dia berjalan kebawa seperti tidak melakukan apa-apa.
"Dia manusia atau monster?, kejam sekali." batin Novi
Leo menghampiri Novi yang tengah memandangi Daniel tanpa berkedip sedikit pun
"Dia memang seperti itu jika sudah mengamuk, apa lagi ada sangkut pautnya dengan orang yang dia cintai"
Novi terkejut dengan kedatangan Leo yang telah mengikat beberapa anak buah dari Hasan
"Eh paman" ucap Novi
Fauzi dan Rian menghampiri Daniel yang tengah santai dengan sebatang rokoknya.
Fauzi menepuk pundak Daniel dan berkata
"Wah kakak memang yang terkuat"
Rian bertanya
"Bagaimana tuan? sudah puas?
Daniel tersenyum dan menjawab
"Sedikit lebih lega"
"Novi cepat selesaikan tugasmu. Istriku sudah menunggu, dia tengah mengidam" timpal Daniel memandang Novi
Fauzi meletakkan tangan pada bahu Rian dan berkata
"Apa perlu aku saja yang membereskan dia untukmu?"
Novi tersenyum dan menjawab
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya. Biarkan aku membalaskan dendam rekanku yang tewas di tangan mereka"
Indra yang tadinya sombong dan meremehkan Novi kini menjadi keringat dingin. Di otaknya hanya ada kata lari dan menyelamatkan diri lalu meminta perlindungan pada gang Gagak Hitam kelompok pembunuh bayaran peringkat satu.
Indra bangkit dan tidak menghiraukan keadaan Hasan yang sudah hampir kehilangan nyawa dan berniat untuk melarikan diri dari markas Black Dragon. Ketika ingin berlari tiba-tiba Daniel sudah ada di depanya dan langsung menendangnya sampai tersungkur 10 meter dan sudah tengkurap di depan kaki Novi. Novi yang terkejut melihat Indra sudah terkapar di depannya langsung di kejutkan oleh Daniel.
"Cepat selesaikan, jika dia masih melawan injak lehernya!. Dia sudah tidak bisa apa-apa itu"
Novi terkejut dan refleks langsung menginjak tengkuk leher Indra. Indra menjerit kesakitan karena terkena injakan dari sepatu Novi yang sangat keras dan berat. Injakan kaki Novi membuat Indra tak sadarkan diri.
"Tenang saja, dia tidak mati. Cepat bawa dia kekantormu dan berikan pada atasan kalian" timpal Rian
Novi langsung memborgol Indra. Dia sangat senang melihat buronannya yang selama ini sulit untuk ditangkap olehnya akhirnya sudah terborgol dengan tangannya sendiri.
Sebelum pergi dari tempat itu, Leo menyuruh mereka untuk membereskan semua anak buah Hasan yang masih tersisa. Dan tak lupa juga untuk membawa Hasan lalu mengirimnya kedalam jeruji besi.
"Ingat!, jangan ada yang terbunuh lagi. Cukup buat pingsan saja lalu ikat mereka semua" ucap Leo
Daniel dan yang lainnya menuruti perintah Leo. satu persatu dari anak buah Hasan sudah di ikat oleh mereka, bahkan ada yang langsung menyerahkan diri karena takut babak belur.
Ketika beres, Daniel menyuruh Novi untuk menelepon kakaknya dan membawa mereka semua kekantor polisi. 20 menit kemudian Yuddy sampai dengan membawa 2 mobil truk untuk mengangkut puluhan anak buah Hasan itu.
"Terimakasih kasih tuan telah membantu adik saya yang cengeng itu dan melindunginya" ucap Yuddy
Daniel tersenyum dan menjawab
"Tidak masalah inspektur, Leny juga menitipkan adikmu kepadaku, jika terjadi apa-apa padanya maka aku akan habis di marahi istriku"
"Sudah ayo pulang, istriku memintaku untuk membelikannya sate, jika terlambat nanti dia ngambek" timpal Daniel