
Setibanya Daniel dan keluarganya di bandara internasional Soekarno-Hatta, mereka semua langsung berjalan menuju ke tempat dimana terletaknya restoran terdekat mengingat mereka semua baru tiba pukul 8 pagi dan harus mengisi perut.
Saat Daniel dan yang lainnya melewati koridor, mata Leny tak sengaja melihat banyak orang yang sedang mengantri di sebuah kantin di dekat bandara tersebut.
"Ada apa Honey?" tanya Daniel yang memperhatikan kalau tatapan sang istri mengarah ke sebuah kantin yang begitu ramai pengunjung.
"Kantin itu menjual apa ya Ayah?, kok ramai banget yang mengantri?" tanya Leny penasaran.
"Mie level?" tanyanya lagi.
"Sepertinya enak deh suamiku, pagi-pagi begini makan mie level yang super pedas" sambungnya sambil merangkul lengan Daniel dengan manja, berharap sang suami ingin mengantri untuknya.
Daniel tersenyum menggeleng sambil mengelus kepala Leny. Lalu ia melihat ke arah arloji yang berada di pergelangan tangannya sembari berkata "Sepertinya masih sempat kalau Ayah mengantri". Jawaban dari Daniel membuat Leny tersenyum bahagia dan semakin manja di dalam pelukannya.
"Suamiku memang yang terbaik deh" ucap Leny tersenyum sambil menyubit pipi Daniel dengan gemas.
"Yaudah, kalian semua tunggu di sini ya. Biar aku ke sana" ucap Daniel dan di anggukan oleh mereka semua.
"Ayah, Bunda ikut" ucap Leny dan langsung merangkul lengan Daniel, lalu mereka berdua berjalan menuju ke kantin yang sangat ramai pengunjung itu dengan mesranya.
Sudah lebih dari 10 menit pasangan Syahputra itu berdiri sembari menunggu antrian mereka. Namun pada saat Daniel dan para pengunjung tengah sabar mengantri, tiba-tiba ada beberapa pria datang dan langsung menyerobot antrian itu.
Perlakuan dari beberapa pria itu membuat Leny menjadi kesal, sedangkan para pengunjung lainnya tak berani berbuat apa-apa dan hanya bisa mengalah saja seakan-akan mereka semua tau siapa para pria yang menyerobot antrian tersebut.
"Hey!, apa kalian tidak bisa membaca hah?!" tanya Leny kesal karena antriannya juga di potong oleh para pria tersebut.
"Apa maksudmu?!" tanya salah satu pria itu merasa tak terima ketika dirinya di tegur oleh Leny.
"Ternyata selain buta huruf, kau juga tuli ya?!" tanya Leny kesal.
"Budayakan mengantri" sambungnya geram.
"Ha?, apa mengantri?, Hahahaha" tawa dari salah satu pria yang di tegur oleh Leny barusan.
"Bro, lihat wanita ini. Dia menyuruh kita untuk mengantri?" tanya pria itu masih tertawa dan di ikuti dengan teman-temannya.
"Apa itu mengantri?, tidak ada di dalam kamusku yang namanya mengantri" timpal pria itu menatap bejat ke arah Leny. Sedangkan para pengunjung yang lainnya hanya bisa memasang wajah takut karena ada orang yang sudah berani menentang para pria tersebut.
"Mbak, biarkan saja mereka. Sudah biasa bagi mereka melakukan hal semena-mena di sini" bisik salah satu pengunjung yang berdiri di belakangnya Leny dan Daniel.
"Jika kita terus membiarkan mereka, nanti lama kelamaan, mereka bisa menjadi besar kepala dan semakin berbuat sesuka hati" jawab Leny masih tak terima.
"Hey, hey, nona cantik. Apa kamu tidak tau siapa kami?" tanya salah satu dari pria itu semakin mendekati Leny, namun Daniel masih belum bereaksi dan hanya diam saja.
"Dilihat-lihat kamu cantik juga ya. Sudah lama aku tidak bermain dengan wanita secantik kamu" timpal pria itu dan mencoba untuk menyentuh pipinya Leny.
"Hahaha, bro, coba lihat. Ternyata ada yang tidak terima jika wanitanya aku sentuh" ucap pria itu menatap remeh Daniel, dan mencoba untuk melepaskan lengannya yang masih di genggam oleh Daniel.
Akan tetapi pria itu tidak mampu melepaskan lengannya dari genggaman tangannya Daniel. Semakin keras ia memaksa untuk melepaskannya, semakin kuat pula genggaman Daniel menahan pergelangan pria tersebut.
"Hoy!, lepaskan tanganmu!. Apa kau sudah bosan hidup hah?!" ancam pria itu dan masih mencoba untuk melepaskan lengannya dari genggamannya Daniel.
"KRAKKK" suara tulang patah.
"ARKKKHHHH TANGANKU" teriak pria itu kesakitan.
"Yang sudah bosan hidup itu, justru kau!" jawab Daniel sembari melepaskan cengkeramannya.
"Bos, kau tidak apa-apa?" tanya para bawahannya khawatir.
"B4N5AT!. Apa kau tidak tau siapa aku hah?!" tanya pria itu emosi dan sambil terus memegangi lengannya yang sudah patah.
"Aku tidak tau, dan aku juga tidak peduli kalian ini siapa" jawab Daniel acuh tak peduli.
"Wah, pria itu berani sekali menentang mereka. Apa tidak berbahaya?" ucap salah satu dari pengunjung itu berbisik.
"Kak, sebaiknya Kakak jangan pernah berurusan dengan mereka. Lebih baik Kakak dan istri Kakak meminta maaf saja pada mereka, sebelum masalah ini semakin mereka perpanjang" ucap salah satu dari pengunjung itu memberi saran.
"Untuk apa kami harus meminta maaf?" tanya Leny tak peduli.
"Itu salah mereka, siapa suruh membuat keributan di sini" timpalnya semakin menantang.
"Mulutmu tidak bisa berkata dengan manis ya?!" tanya pria itu dengan geram, sambil terus memegangi lengannya karena telah di patahkan lengannya oleh Daniel tadi.
"DASAR JAL" ucapan pria itu langsung terhenti karena Daniel langsung mencengkram wajah pria tersebut.
"Jangan pernah kau sebut kata-kata itu pada istriku!. Jika kau berani berkata seperti itu. Aku jamin, tadi itu adalah terakhir kalinya kau bisa menggunakan mulutmu untuk berbicara" ucap Daniel sambil terus mencengkram wajah pria itu tepatnya di bagian dagu dan bibirnya.
Daniel masih terus mencengkram wajah pria itu, sedangkan pria itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Daniel yang membuatnya.
Lalu pria itu hanya memberikan sebuah kode pada seluruh bawahannya yang ia bawah. Setelah menerima kode dari pria tersebut, mereka semua langsung mencoba untuk menyerang Daniel.
Saat salah bawahan dari pria itu mencoba berlari untuk menyerang Daniel. Namun saat pra itu hampir di dekat Daniel, tiba-tiba dengan cepat Daniel langsung menendang tubuh pria tersebut tepatnya bagian perut dari pria itu. Sampai membuatnya menyeret di atas lantai bandara tersebut.
Melihat salah satu rekannya bisa di kalahkan oleh Daniel dengan sangat mudah. Para pria pembuat onar itu langsung menyerang Daniel secara keroyokan.
Namun Daniel masih bisa menumbangkan para pria pembuat onar itu dengan sangat mudah, meskipun dalam posisi masih mencekam wajah bos dari para pembuat onar itu.
Setelah para bawahan dari pembuatan onar itu tumbang tak berdaya, Daniel langsung melemparkan tubuh pria yang sedari tadi itu ia cengkram dan membawa Leny pergi dari tempat yang sudah menghilangkan mood mereka.