Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MIMPI ITU LAGI


Daniel dan Dion masih terkapar di atas tanah Sembari menatap langit-langit yang mulai mendung. Daniel terlihat terlalu lemas karena ia mengeluarkan terlalu banyak tenaga serta seluruh auranya. Sedangkan Dion masih terlihat lemah akibat pukulan telak dari salah satu bawahan William.


Rian dan yang lainnya masih menikmati pertarungan mereka karena masih belum merasa puas, bahkan para saudaranya Daniel malah semakin ganas menghajar para bawahannya William.


Petir dan gemuruh mulai terdengar di area gunung tempat pertarungan mereka. Akan tetapi sama sekali tidak membuat mereka harus menghentikan kesenangan tersebut.


"Sepertinya akan hujan" ucap Dion yang masih lemas.


"Anggap saja ini hujan kemenangan untuk kita" sambung Daniel yang sama-sama lemas.


Nasib William terlihat semakin memperhatikan, ia bagaikan hidup segan mati tak mau. Pukulan yang diberikan oleh Daniel memberikan efek trauma yang sangat mengerikan buatnya, namun Daniel juga mendapatkan efek samping yang lebih besar untuk tubuhnya karena mengeluarkan aura melebihi batas.


Rintikan hujan perlahan mulai turun di barengi dengan tubuh Daniel yang semakin melemah akibat amukannya tadi.


Lama kelamaan kesadaran Daniel mulai melemah, pandangannya mulai kabur, dan nafasnya mulai menghilang.


Karena sudah merasa terlalu lemah, Daniel menutup matanya berharap tubuhnya yang lemah bisa kembali normal.


Perlahan hujan mulai turun membasahi area tempat pertarungan mereka. Tanah yang tadinya di banjiri dengan noda darah, kini sudah mulai di sapu bersih oleh air hujan yang turun sangat lebat itu.


"Daniel, sayang, bangun nak" panggil seorang wanita paruh baya.


Perlahan kelopak mata Daniel bergerak lalu secara perlahan Daniel membuka matanya dan iya melihat sosok wanita paruh baya itu tengah memangku kepalanya.


Pandangannya masih kabur karena Daniel terlalu lama memejamkan matanya, jadi dia masih belum tau siapa wanita yang tengah memangku kepalanya.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum sambil terus membelai kepala pria yang tengah berada di pangkuan pahanya.


"Ini dimana?, kenapa aku disini?" gumam Daniel bertanya-tanya.


Lalu Daniel menatap ke arah wanita paruh baya yang tengah membelai kepalanya. Wanita paruh baya itu tersenyum manis ketika Daniel terus menatap dirinya.


"Ma...Mama" Daniel terkejut.


"I..ini beneran Mama?" Daniel masih belum percaya.


"Iya sayang, ini Mama kamu" jawab wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


Daniel langsung bangkit dari pangkuan sang Mama dan langsung memeluk wanita paruh baya itu untuk melepaskan rasa rindunya selama ini yang telah lama terpendam.


"Daniel sangat merindukan Mama" ucap Daniel menangis senggugukan dalam pelukan sang Mama.


"Iya sayang" jawab sang Mama dengan nada lembut dan membalas pelukan dari putranya.


Daniel melepaskan pelukannya dan berbicara panjang lebar pada sang Mama tentang apa yang sedang ia hadapi selama ini.


"Daniel sangat bingung Ma, apa yang harus Daniel lakukan?" keluh Daniel mengadukan semua yang baru saja ia alami.


"Apa salah jika Daniel membunuh demi melindungi keluarga kita dari orang-orang yang berniat jahat?" timpalnya. Sedangkan sang Mama hanya menjadi pendengar.


"Menurut Mama, kamu tidak salah sayang. Tapi, kamu juga tidak boleh sampai menghilangkan nyawanya seseorang nak" jawab sang Mama.


Daniel menggeleng sembari menjawab "Tidak tau Ma. Mungkin lebih dari seratus manusia".


Mama Aqila tersenyum dan hanya membelai lembut kepala putra pertamanya itu. Daniel juga ikut tersenyum menikmati belaian yang di berikan oleh sang Mama.


"Apa Mama ingin menjemput Daniel?" tanya Daniel.


"Tidak sayang, kamu belum boleh ikut dengan Mama" jawab sang Mama menggeleng.


"Kenapa Ma?, apa Daniel tidak boleh tinggal bersama Mama dan Papa?" tanya Daniel dengan wajah sedihnya.


"Bukan tidak boleh sayang, tapi belum waktunya" jawab Mama Aqila menjelaskan dengan lembut.


"Kenapa Ma?, Daniel ingin berkumpul bersama kalian. Papa, Mama, Kakek, dan juga Nenek. Daniel sangat merindukan kalian" rengek Daniel merasa tak terima.


"Nak, suatu saat nanti kita semua pasti bakal berkumpul kok. Kamu, Adikmu, istrimu, Leo, Rani, dan keluarga kita yang lainnya pasti akan berkumpul di sebuah istana yang megah" jawab Mama Aqila menenangkan Daniel.


"Tapi kapan Ma?!, Daniel sudah tak sanggup jika terus menerus menanggung beban besar ini!. Menjadi incaran banyak musuh itu sangat melelahkan Ma. Daniel juga ingin hidup normal seperti orang-orang, Daniel ingin seperti itu Ma. Kasihan menantu dan cucu Mama yang selalu menjadi incaran musuh Ma!. Daniel ingin membawa mereka bersama Daniel dan kita akan berkumpul lagi" Daniel mengutarakan keluh kesah yang selama ini ia pendam seorang diri.


"Maafkan kami yang harus terpaksa meninggalkan beban tersebut padamu sayang. Mama paham sekali dengan apa yang kamu rasakan selama ini nak, maafkan Papa kamu juga ya sayang" ucap sang Mama yang masih terus mengelus pipi putra tampannya.


"Tidak masalah Ma. Lagi pula aku ini putra dari pemimpin Dark Shadow, jadi aku pasti bisa menyelesaikan semua ini" jawab Daniel tersenyum setelah ia menyeka air matanya dengan lengannya.


Tiba-tiba seluruh tubuh Mamanya Daniel bercahaya dan mulai memudar seperti transparan. Daniel yang masih memegang tangan sang Mama di buat terkejut karena melihat tubuh Orang tuanya mulai memudar.


"Loh?, ini kenapa?" Daniel bertanya-tanya kebingungan.


Sedangkan Mama Aqila tersenyum dan langsung mencium kening putranya pertanda bahwa ia akan pergi dari putra tampannya itu.


"Waktunya berpisah sayang, Mama harus pergi" ucap sang Mama mengelus kedua pipi putranya yang postur tubuhnya lebih tinggi darinya.


"Mama mau pergi kemana?!" tanya Daniel seakan tidak terima.


"Mama harus kembali ke tempat dimana Papa, Kakek, dan juga Nenek kamu menunggu Nak" jawab sang Mama tersenyum.


"Hanya satu pesan Mama. Jadilah pemimpin yang bijak nak, jaga istrimu putramu, serta keluarga kamu yang lainnya. Sekali lagi Mama titipkan Dion Adik kamu padamu sayang, kalian berdua harus saling melindungi satu sama lain. Mama begitu mencintai kalian" timpal sang Mama di barengi dengan tubuhnya yang semakin memudar dari pandangan dan juga pegangan Daniel.


"Ma!, jangan tinggalkan Daniel lagi. Ma tunggu Ma!" rengek Daniel sembari mencoba meraih sang Mama yang terbang ke atasnya.


"Kembalilah nak, mereka semua saat ini sangat mengkhawatirkan kamu" ucap Mama Aqila setelah itu sosok wanita yang sangat Daniel cintai itu menghilang dari pandangannya.


"Ma!...Ma!...MAMA!" teriak Daniel histeris dengan tangan Kanannya yang seakan meraih sesuatu.


"Kak!.. Kakak!" panggil Wulan sambil meraih tangan kanan Daniel tadi dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya Daniel.


Daniel langsung membuka matanya, lalu ia melihat kalau dia sudah berada di lingkaran keluarganya yang sangat mengkhawatirkan dirinya.


Hujan juga masih belum berhenti hingga membasahi seluruh orang yang menunggu Daniel siuman.


"Kakak!!!" teriak Wulan histeris lalu ia langsung memeluk Daniel yang masih dalam keadaan syok dan terlihat seperti sedang kebingungan setelah ia tersadar dari pingsannya.