
Leny sampai terkejut dan matanya langsung terbelak saat mendengar perkataan itu dari sang Suami. Ia memang belum tau penyebab sebenarnya atas kematian dari kedua mertuanya itu.
"Jadi pak tua itu yang sudah membunuh mertuaku?!" gumam Leny dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Daniel menjadi brutal setelah ia mengatakan kepada Edi jika Kakaknya lah yang menyebabkan Daniel menjadi seorang yatim-piatu. Daniel terus menerus memukul wajah Edi tanpa henti sampai pria malang itu sudah tak sanggup lagi mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Sedangkan Leny hanya terdiam terpaku dengan pipi yang sudah di basahi dengan air mata setelah ia mengetahui siapa dalang dari penyebab kematian kedua orangtua kandung Suaminya itu. Ia tau betapa perihnya kehidupan sang Suami ketika ia masih kecil, dan yang Daniel miliki pada waktu itu hanyalah seorang Nenek yang sudah sangat tua.
Leny mengepalkan kedua tangannya dengan geram, dan menatap Edi dengan amarah yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
Daniel terus menerus menghantam wajah Edi tanpa henti. Walau tubuh milik Edi sudah terjatuh kelantai, Daniel langsung menarik tubuh pria malang itu dan memaksanya berdiri, kemudian Daniel menghujani pukulannya lagi.
"Kau telah berani menculik Istriku" geram Daniel sambil terus memukul wajah pria paruh baya itu
"Kau sentuh dia!, kau sakiti dia!" timpalnya yang masih tetap mengayunkan pukulannya
Orang-orang yang melihat amarah dari Daniel menjadi takut. Karena jika sudah begitu, maka tak ada yang mampu untuk menghentikannya lagi, selama korbannya masih bernafas.
Daniel mencengkram wajah Edi, dan Daniel langsung membenturkan kepala Edi ke arah tembok, Daniel juga membenturkan kepala Edi ke sebuah jendela kaca, sampai membuat kaca tersebut hancur berkeping-keping.
Wajah Edi sudah di penuhi memar dan sepertinya juga sudah tak di kenali lagi. Lebam di wajahnya sangat parah, darah juga sudah membasahi seluruh wajah pria malang itu.
Meski lawannya sudah tak berdaya dan hampir tewas, Daniel tetap belum merasa puas untuk menyiksa mangsanya itu.
"AYAH! STOP!" teriak Leny dan Daniel langsung menghentikan aksinya setelah mendengar suara sang Istri.
Leny langsung berlari dan memeluk Daniel dari belakang, agar sang Suami bisa merasa lebih tenang. Kemudian Leny berkata "Udah Ayah!, jangan buang tenaga kamu!"
Leny semakin mempererat pelukannya pada sang Suami, dan amarah Daniel perlahan-lahan mulai mereda. Daniel membuang nafasnya beberapa kali untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah dirasa kalau amarah sang Suami sudah mulai mereda, dengan perlahan Leny melepaskan pelukannya dan langsung berdiri di depan Daniel.
Leny tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Daniel, kemudian ia berkata "Sudah ya Suamiku, jangan sampai hilang kendali lagi"
Daniel tersenyum dan membelai kepala sang Istri dengan penuh kasih sayang, kemudian ia juga berkata "Aku hanya ingin memberikan sebuah pelajaran pada orang-orang yang telah berani menyentuh kamu Honey"
Leny tersenyum, kemudian ia langsung mencium bibir Daniel di depan Hyuga dan yang lainnya. Meski mereka menyaksikan ciuman Daniel dan Leny, namun mereka tak ingin menegurnya, mereka hanya tersenyum lega karena pemimpin mereka sudah bisa lebih tenang.
Leny melepaskan ciumannya, lalu menatap tubuh pria malang yang bernama Edi itu yang sudah terkapar di lantai, dan wajahnya sudah di penuhi darah bahkan beberapa giginya sudah copot.
"Apa dia masih hidup Suamiku?" tanya Leny sambil menggoyang-goyangkan tubuh Edi dengan kakinya.
"Sepertinya" jawab Daniel menatap Edi yang sudah hampir kehabisan nafas
Leny berjongkok di samping Edi, dan iya menatap seluruh tubuh pria tua itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian ia berkata "Ayah, apa Ayah membawa pedang yang kemarin?"
"Untuk apa Bunda?" tanya Daniel penasaran
Leny mendongak, sambil tersenyum manis, kemudian ia berkata "Bunda ingin merasakan bagaimana rasanya memutilasi manusia"
"APA?!" mereka semua terkejut mendengarnya
"Kak!, gak usah macam-macam deh!" tegur Kevin
"Ih gapapa dong" keluh Leny menyebikkan bibirnya
"Cukup Suamimu aja yang seperti itu Kak" sambung Fauzi sembari menyembunyikan pedang milik Daniel
"Apa itu?!" tanya Leny yang sadar dengan apa yang berada di belakang sang Adik.
Leny memicingkan matanya menatap sang Adik, dan sampai membuat yang di tatap menjadi semakin gugup menanggapinya.
"Itu pedang kan?" tanya Leny memastikan
"Ah, bukan Kak!" jawab Fauzi
"Jadi apa?" tanya Leny lagi
"Ini.. ini.. hmm.." jawab Fauzi bingung mencari alasan
"Ini, ini?! apaan?!" tanya Leny sedikit emosi
"Ini.. ini kemoceng!. Ha! iya Kak ini kemoceng, hehehe" jawab Fauzi
"Tadi Angel memintaku untuk membelikan sebuah kemoceng" timpalnya cengengesan
"Dasar bodoh!, kalau buat alasan itu yang masuk akal dikit dong!" batin Kevin menepuk jidatnya
"Kau pikir aku ini anak kecil ya?" tanya Leny tak terima jika dirinya di bohongi
"Sejak kapan kemoceng memiliki sarung seperti pedang?!" timpalnya.
"Bawa kemari!" pinta Leny
Fauzi semakin menyembunyikan benda yang berada di tangannya ke belakang tubuhnya sambil bergeleng, dan membuat Leny semakin geram.
"Fauzi....!" panggil Leny dengan geramnya.
Fauzi menatap Daniel, seakan meminta jawaban, sedangkan Daniel hanya tersenyum dan mengangguk saja, pertanda jika ia mengizinkannya.
Fauzi langsung menelan ludahnya, bisa-bisanya sang Kakak malah mengizinkan jika Kakak iparnya ingin memotong organ tubuh manusia.
"Buruan!" ucap Leny sudah geram
Dengan perasaan ragu-ragu, Fauzi berjalan menuju tempat dimana sang Kakak menunggu. Semakin dekat, semakin berat pula langkah kaki milik Fauzi, dan membuat Leny semakin geram melihatnya.
"LAMA..." ucap Leny penuh penekanan
Ketika sudah sampai, Fauzi hanya diam saja dan enggan untuk memberikan pedang yang berada di genggamannya. Sedangkan Leny sudah menadah tangannya seakan meminta pedang yang Fauzi pegang itu.
"Mana?!..." tanya Leny semakin geram
Dengan perlahan Fauzi menyerahkan senjata milik Daniel, saat Leny menerimanya dan ingin mengambil alih dari genggaman tangan sang Adik. Fauzi justru malah semakin mencengkram erat genggamannya pada pedang itu, sampai Leny harus menarik dengan paksa.
"Lepaslah Adik durhaka!" ucap Leny menarik-narik pedangnya pada genggaman Fauzi yang semakin erat.
Leny mengangkat satu kakinya yang di sandarkan pada tubuh Fauzi yang berdiri di depannya, agar kaki itu bisa membatu Leny untuk mendapatkan sebuah benda tajam yang di cengkram Fauzi.
"Grrrkkkk!!!!" keluh Leny dengan geram semakin menarik paksa pedang itu
"Lepas gak!" ancamnya menatap tajam Fauzi
Daniel tersenyum, lalu ia memegang pundak Fauzi, dan pada saat Fauzi menatap sang Kakak, Daniel hanya menganggukkan kepala, seakan memerintahkan untuk melepaskan pedang itu pada cengkeramannya.
Fauzi langsung melepaskan cengkeramannya itu, dan hal hasil membuat Leny langsung terjatuh. Namun dengan refleks yang cepat, Daniel segera menangkap tubuh Istrinya yang hampir terjatuh kelantai di bawahnya.