Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PERTUNJUKAN


Fauzi dan Kevin semakin bersemangat melakukan penyiksaan setelah mendapat arahan dari Kakak ipar mereka. Fauzi menatap para mainannya sembari berfikir siapa yang akan ia mainkan terlebih dahulu.


Sedangkan para calon korban sudah ketakutan dan tak sanggup membayangkan nasib mereka untuk beberapa menit kedepan lagi. Air mata mereka seakan sudah tak bisa keluar dari kedua bola matanya.


Nino selaku pemimpin mereka juga sudah pasrah, ia hanya terduduk lemas dan badan yang sedikit membungkuk. Pandangan seakan kosong, pikiran entah terbang jauh kemana, tubuh seperti sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi.


"Zizi, sepertinya kita akan bermain dengan puas" ucap Kevin tersenyum sinis


"Hahaha kau benar saudaraku. Tapi yang mana dulu ini?" tanya Fauzi meminta saran


"Terserah kau saja, kalau bisa bos mereka harus yang paling akhir" jawab Kevin


"Okey!" ucap Fauzi tertawa jahat


Daniel tak menghiraukan kesenangan yang akan di dapatkan oleh kedua Adiknya itu, ia hanya setia sebagai penonton yang tengah asyik menikmati sebuah pertunjukan.


Saat Fauzi ingin melakukan permainannya, tiba-tiba ponsel milik sang Kakak berdering kembali, dan terpaksa Fauzi harus menghentikan aksinya.


Ternyata sang Istri tercinta tengah melakukan panggilan video, Leny juga ingin menyaksikan secara langsung bagaimana kedua Adiknya itu melakukan tugas yang telah ia berikan tadi.


"Siapa Kak?" tanya Kevin


"Kakak kalian berdua" jawab Daniel tersenyum melihat nama si penelepon


"Kali ini dia sedang video call" timpalnya


"Mungkin Kakak Ipar juga ingin menyaksikan pertunjukan ini" ucap Fauzi tersenyum menatap pisaunya


Daniel menaikan tombol hijau keatas, dan terlihatlah seorang wanita cantik yang tengah memangku seorang bayi laki-laki yang sangat mirip dengan seorang pria yang tengah memegang ponsel.


"Apa sudah mereka lakukan tugas yang Bunda berikan tadi Ayah?" tanya Leny penasaran


Daniel langsung menukar posisi kameranya dan ia berkata "Bisa Bunda saksikan sendiri"


Leny melihat para pria yang sudah terikat dengan tali lalu ia berkata "Kenapa belum kalian lakukan hah?!"


"Saat kami ingin melakukan perintah dari Kakak, tiba-tiba Kakak menelpon, jadi kami terpaksa harus menghentikannya dulu" jawab Fauzi


"Alasan" ucap Leny sedikit emosi


"Sudah cepat lakukan!, aku dan keponakan kalian sudah tak sabar" timpalnya menatap Damin asik memainkan ludahnya


"Siap laksanakan bosku!" ucap Fauzi melangkahkan kakinya menuju mainan pertamanya.


Fauzi menarik paksa salah satu pria yang wajahnya masih tertutupi dengan plastik berwarna hitam, kemudian dengan cepat Fauzi langsung membuka plastik yang menutupi wajah dari pria itu, dan terlihatlah wajah dari pria malang itu yang sudah pucat bercampur keringat dingin di sekujur wajahnya.


"Tenang saja, ini tidak akan sakit" ucap Fauzi sembari memainkan pisaunya ke tubuh sang target


Sedangkan sang pria malang itu sudah semakin takut, seluruh tubuhnya bergetar hebat, celana yang ia kenakan sudah basah kuyup karena pria itu sampai mengompol. Namun semua itu tak membuat sang algojo merasa iba, justru ia malah semakin senang melihat ketakutan dari mangsanya itu.


"Haha, lihat ini!. Dia mengompol" tawa Fauzi menunjuk ke arah bagian paha milik pria itu.


"Hoy!, BURUAN" teriak Leny sehingga membuat sang putra cekikikan


Daniel tersenyum melihat tawa dari buah hatinya itu, ia merasa jika sang putra juga sudah tak sabar melihat pertunjukan yang akan di mainkan oleh kedua Pamannya itu.


"I..iya Kak" jawab Fauzi ketakutan


"Gara-gara kau!, aku sampai di marahin Kakak dan keponakanku" ucap Fauzi menarik telinga bagian kiri milik pria itu


"SREEETTTTT" Fauzi langsung memotong telinga kiri milik anak buah dari Gagak Hitam tersebut


Darah terus mengalir di barengi dengan air mata yang tak kunjung habis dari pria itu. Sedangkan baby Damin kembali tersenyum seakan menikmati permainan yang di lakukan oleh Pamannya itu.


"Bagus!" ucap Leny


Selanjutnya Fauzi mencengkram pelipis mata kanan pria malang itu, namun pira itu ingin mencoba memberontak, akan tetapi karena tenaga Fauzi yang lebih besar dari pria itu, akhirnya Fauzi langsung mencongkel sebelah mata bagian kanan pria itu.


"ARKKHHHH SAKIT!!!" teriak pria itu semakin histeris


Fauzi tertawa dan memainkan bola mata milik pria itu kemudian ia menunjukkannya pada sang pemilik dari bola mata itu lalu Fauzi berkata "Lihat ini!, bagaimana nikmat kan?"


"A...ammpun tuan!" lirih pria itu menahan sakit yang amat luar biasa


Fauzi seakan tuli, ia tak menghiraukan permohonan dari pria itu, justru kini Fauzi langsung menarik paksa lidah dari pria itu, saat lidahnya sudah menjulur, Fauzi segera menusukkan ujung pisaunya pada lidah pria itu sampai tertembus.


"HRKMMMM!!!" lirih pria itu menangis


Fauzi membelah lidah pria itu dengan pisaunya, sampai terbelah menjadi dua seperti lidah ular, sampai-sampai membuat tubuh Damin sedikit memberontak dari pangkuan sang Ibunda.


"Anak Bunda ikut senang ya sayang?" tanya Leny melihat sang putra yang tengah tersenyum imut


"Bunda juga senang sayang" ucap Leny menciumi sang putra


"Fauzi, lemparkan dia kepada Gaon!" perintah Daniel dan langsung di anggukan oleh sang Adik


Fauzi tersenyum sinis dan langsung menyeret paksa pria yang sudah cacat itu menuju ke tempat Gaon bersantai.


"Gaonn!!" panggil Fauzi yang tengah memegang sebuah santapan segar untuk sahabat hewan sang Kakak


Gaon langsung bangkit dari duduknya dan langsung menatap kearah mangsanya itu. Kemudian sahabat hewan kesayangannya Daniel langsung menggeraung seakan tak sabar ingin langsung menyantap makanan segar miliknya.


Fauzi membuka kandang milik Gaon, dan langsung melemparkan pria malang itu, kemudian dengan sigap Gaon langsung menerkam mangsanya, sampai membuat pria itu menjerit kesakitan saat merasakan tusukan gigi tajam milik Gaon.


Suara teriakan pria itu sampai terdengar oleh Nino dan anak buahnya yang sedang menunggu giliran untuk mereka mendapatkan hukuman dari Daniel.


Kevin tertawa bahagia mendengar jeritan dari pria malang itu. Kemudian Kevin menatap kearah anak buah Nino yang tersisa 1 lagi. Kevin tersenyum sinis melihat pria itu.


Kevin menyeret pria itu dan langsung mematahkan lengannya dan membuat pria itu menjerit kesakitan merasakan lengannya yang sudah bengkok akibat perbuat Kevin.


Kemudian Kevin menendang dengkul pria itu sampai kaki milik pria itu bengkok kebelakang sehingga pria itu langsung tersungkur karena kakinya sudah tak sanggup menahan beban tubuhnya itu.


belum sampai di situ, Kevin juga menendang wajah pria itu sampai membuat tubuh pria itu terpental menghantam dinding sehingga kepalanya mengeluarkan darah.


Kevin mendekati pria yang tersungkur itu dan menyeret paksa pria malang itu, kemudian Kevin mengangkat pria itu lalu mencekiknya sampai kaki dari pria itu tak menapak ke tanah.


Dengan sekuat tenaga Kevin langsung melemparkan tubuh kekar pria itu ke arah dinding dan membuat suara benturan yang sangat keras.


Pria malang itu langsung memuntahkan darah dari rongga mulutnya, namun tak sedikitpun membuat Kevin merasa kasian pada pria menyedihkan tersebut.


"Kevin cukup!, serahkan pada Gaon!" perintah Daniel


"Baik Kak" jawab Kevin dan langsung menggendong pria malang itu menuju ke tempat Gaon menunggu makanan keduanya.


Tinggal pemimpin mereka yang bernama Nino yang masih belum menerima hukuman itu. Kemudian Leny memanggil sang Suami dan meminta ia yang melakukan hukuman yang terakhir.


"Ayah!, sepertinya putra kita ingin melihat Ayahnya yang melakukan tugas yang terakhir itu" ucap Leny menatap sang putra yang tengah menatap Daniel.


Daniel menghela nafasnya kemudian ia tersenyum dan menjawab "Baik Bunda, demi putra kesayangannya Ayah, akan Ayah lakukan"