
Betran semakin tertekan dengan cara Daniel menginterogasi dirinya. Namun ia juga masih enggan untuk menjawab apa yang sedari tadi di tanya oleh Daniel meskipun Daniel sudah berulang kali memberi siksaan padanya.
"Ternyata kau adalah seekor anjing yang setia pada tuanmu ya" puji Daniel tersenyum sinis.
Sedangkan Jasmine yang tengah memakan makanan mereka bersama Leny hanya melihat dari kejauhan dan sesekali menatap Leny yang tengah asik menikmati makanan yang ada di depan mereka.
"Kamu kenapa Jasmine?, kok gak di makan?" tanya Leny dengan mulut yang masih penuh makan.
"Ha?, tidak apa-apa kok, hehe" jawab Jasmine lingung dengan posisi sendok yang ia gigit.
"Cepat di habiskan, jangan sampai sia-siakan makanan" ucap Leny tersenyum lalu ia memakan makanannya kembali tanpa memperdulikan keadaan sekitar dan jeritan dari Betran yang tengah di siksa oleh suami tampannya itu.
"Kenapa dia masih bisa menikmati makanannya dengan begitu tenang ya?, apa dia tak merasakan takut sedikitpun?" batin Jasmine bertanya-tanya sambil terus memperhatikan Leny yang tengah makan dengan begitu lahap.
"Ah sudahlah, lebih baik aku juga harus cepat-cepat menyelesaikan makanan ini, lalu aku akan membantu mereka" timpalnya dan langsung memakan makanannya dengan lahap.
"Bagaimana?, enak kan?" tanya Leny tersenyum.
"Hehehe, iya enak banget" jawab Jasmine dengan makan yang masih penuh di mulutnya.
"Yaudah, selesaikan saja makanan kamu. Aku mau ke sana dulu" ucap Leny sambil menunjuk ke arah sang suami berada.
Jasmine langsung terbelak saat melihat arah telunjuk Leny, dan bahkan sampai membuatnya tersedak karena sangking terkejutnya.
"Uhuk-uhuk" Jasmine terbatuk-batuk.
"Aduh, kamu kenapa?" tanya Leny khawatir sambil mengambilkan sebotol air untuk membatu Jasmine yang tersedak makan yang ia makan barusan.
Dengan buru-buru Jasmine langsung menenggak air yang di berikan oleh Leny, dan Leny hanya tersenyum sambil menggeleng saja.
"Jangan terburu-buru, pelan-pelan saja. Gak bakal ada yang minta kok" ucap Leny tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Jasmine dengan lembut untuk membantu meredakan tenggorokannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Jasmine setelah menelan makanan yang ia kunyah tadi.
"Aku mau menghampiri suamiku" jawab Leny dengan wajah biasa saja.
"Jangan kesana deh, lebih baik kamu temani aku makan saja" pinta Jasmine dengan raut wajah memohon.
"Aku bosan di sini" jawab Leny sambil menatap ke arah sang suami yang tengah asik bermain dengan mainannya.
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan di sana?" tanya Jasmine sambil menatap ke arah Daniel dan kedua Adiknya.
"Tidak ada. Hanya ingin bertemu kangen dengan suamiku" jawab Leny tersenyum.
"Lebih baik kamu di sini saja" pinta Jasmine memohon.
"Jika aku terus duduk di sini, itu membuat aku semakin merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa" jawab Leny cemberut.
"Tadi di sana suami dan Adik-adik kamu sedang bekerja" ucap Jasmine
"Tenang saja, aku tidak akan menggangu mereka kok" jawab Leny tersenyum sambil melangkahkan kakinya.
"Jika kamu sudah selesai makan, jangan lupa menyusul ya" timpal Leny sedikit berteriak karena jarak mereka lumayan cukup jauh.
Setibanya Leny di tempat biasa Daniel menginterogasi musuhnya, dengan bersilang dada dan wajah santai, ia memperhatikan orang yang sudah babak belur.
"Bagaimana suamiku?, apa sih binatang ini sudah memberi informasi dimana sarang mereka?" tanya Leny.
Daniel menggeleng lalu menjawab "Belum Honey".
"Dia adalah peliharaan yang setia pada tuanya" timpal Daniel.
"Bukan dia yang tak ingin berbicara. Tapi, cara kalian yang terlalu lembut. Sampai-sampai seekor anjing saja tak mau menjawab dimana sarangnya berada" ucap Leny.
"Lalu apa yang harus kami lakukan Kak?" tanya Fauzi meminta saran.
"Sebentar, biarkan Kakakmu yang cantik ini berfikir" jawab Leny sembari melihat kesekelilingnya untuk mencari benda yang akan membuat mainan mereka menjawab semua pertanyaan darinya.
Setelah beberapa saat Leny melihat kesekelilingnya, tiba-tiba kedua bola matanya tertuju pada sebuah kayu dan sebuah paku yang berukuran sangat besar. Lalu ia menatap Betran dengan senyuman manis yang sangat mengerikan.
Melihat ekspresi wajah dari Leny, membuat Betran menjadi berkeringat dingin. Ia bisa merasakan kalau Leny adalah sosok wanita yang sangat mengerikan, bahkan lebih kejam dari Daniel.
"He...hey! A..apa yang kau pikirkan?!" tanya Betran panik karena melihat senyuman manis Leny yang sangat menakutkan.
"Suuuttt!!... Seekor peliharaan tidak berhak bertanya" jawab Leny meletakan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
"Jangan macam-macam kau!. Jika kalian membunuhku disini!, aku jamin kalau Harimau Berdarah tidak akan tinggal diam, dan akan membalas kalian 10 kali lipat" ucap Betran mengancam.
Leny tersenyum sinis, lalu ia melangkah mendekati Betran yang tengah terduduk dengan kaki dan tangan yang terikat. Kemudian Leny menjambak rambut Betran sampai membuatnya mendongak.
"Kau pikir aku peduli?. Kau pikir aku takut dengan ancam yang keluar dari mulutmu barusan?" tanya Leny bernada dingin.
"Kau sudah membuat pagiku menjadi suram, membuat kekacauan di kota ini. Aku sudah muak dengan orang-orang seperti kalian!. Lebih baik orang-orang seperti kalian ini harus di musnahkan sampai tak tersisa" timpal Leny sambil mencampakkan kepala Betran dengan kasar.
Jasmine yang baru pertama kali melihat Leny seperti itu, ia hanya bisa tercengang. Ia tidak tau kalau Leny memliki kepribadian yang berbeda jika berada di depan orang yang tidak dia sukai.
"Apa ini Leny yang sesungguhnya?" gumam Jasmine.
"Hoy kalian berdua!" panggil Leny.
"Kami?" tanya Fauzi dan Kevin secara bersamaan sambil menunjuk diri mereka.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan kedua Adikku yang durhaka?!" ketus Leny.
"Bawa anjing itu ke kayu balok itu, lalu paku kedua tangannya di sana!" timpal Leny memerintah.
"Hah?!" Kevin dan Fauzi terkejut.
"Hah, ho, ha, ho!" ketus Leny. Sedangkan Jasmine yang tengah meneguk sebotol air langsung menyemburkan airnya karena terkejut mendengar perintah dari Leny barusan.
"BURUAN!!!" ucap Leny kesal
"Ba..baik Kak" jawab Fauzi dan Kevin ketakutan. Lalu dengan buru-buru mereka langsung melaksanakan perintah yang di berikan oleh Leny.
"Diam!, dan jangan melawan!" tegur Fauzi sambil menampar wajah Betran.
"DASAR WANITA GILA!" teriak Betran sembari tubuhnya yang di seret paksa oleh Fauzi dan Kevin.
Lalu Daniel dan Leny langsung menuju ke tempat yang sudah di perintahkan oleh Leny tadi. Dengan bersilang dada Leny menyaksikan penyiksaan yang ia perintahkan pada kedua Adiknya itu tanpa rasa takut sedikitpun.
Betran mencoba memberontak saat kedua tangannya hendak di tempelkan ke sebuah balok kayu yang berada di belakangnya. Namun tenaganya sudah terkuras habis saat Daniel memukulinya tadi.
"Apa kalian semua ini tidak memiliki hati nurani hah?!" tanya Betran sambil mencoba memberontak.
"Semua ini salahmu sendiri!. Jika kau tidak keras kepala dan langsung memberi tau keberadaan markas Harimau Berdarah berada, maka semua ini tidak akan kulakukan" jawab Leny menatap dingin ke arah Betran yang sudah berkeringat dingin.
"Siapa kalian sebenarnya hah?!, kenapa kalian sangat menginginkan keluargaku?!" tanya Betran memprovokasi mereka.
"Tidak usah dengarkan!. Paku saja tangannya!" ucap Leny memerintah.
"Oke Kak!" jawab Fauzi bersemangat.
Lalu Fauzi dan Kevin langsung melakukan hal yang di perintahkan oleh Leny tadi. Sedangkan Betran hanya bisa menjerit kesakitan saat paku yang berukuran sangat besar itu menembus kedua telapak tangan sampai tertancap di sebuah balok kayu yang berada di belakangnya.
"Bagaimana?, masih enggan memberitahu kandang kalian?" tanya Leny bersilang dada.
"Ha...ha...ha..." tawa Betran terputus-putus.
"Sampai kalian membuatku matipun, aku tidak akan membahayakan saudara-saudaraku" timpalnya melemah.
"Sudah mau mati, masih saja keras kepala!" ucap Leny geram.
"Ayah!, pinjam pisaunya" timpal Leny.
"Tunggu-tunggu!" sela Jasmine berlari.
"Apa yang ingin kamu lakukan?, apa ini belum cukup untuk menyiksanya?" tanya Jasmine sambil memegangi kedua tangannya Leny yang tengah menggenggam sebuah pisau.
"Aku tidak akan melepaskannya kalau dia masih belum menjawab apa yang ingin aku tau" jawab Leny dengan nada dingin dan tatapan dinginnya.
"Tapi dia sudah hampir mati. Jika dia mati, sama saja kita tidak dapat informasi apapun darinya" ucap Jasmine membujuk.
"Aku tak peduli. Dia sudah menggangguku, dan membuat kerusuhan di kota ini" jawab Leny acuh sembari melepaskan tangannya dari genggaman Jasmine lalu mendorong tubuh Jasmine ke arah samping karena menghalangi dirinya.
"Leny!!" panggil Jasmine.
"Sudahlah. Saat ini dia tidak bisa di hentikan apalagi di bujuk" tegur Daniel menggeleng sambil menyentuh pundaknya Jasmine.
"Dia istrimu!, kenapa kamu tidak bisa membujuknya hah?!" geram Jasmine sambil mencubit pipi Daniel.
"Tidak ada yang bisa menghentikannya jika dia sudah seperti itu, bahkan aku suaminya saja tak mampu menghentikannya" jawab Daniel menggeleng pasrah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?!" tanya Jasmine khawatir.
"Cukup diam dan saksikan saja" jawab Daniel.
"Hmmm" Jasmine menyilangkan kedua tangannya dan membuang mukanya ke arah kanan.
"Apa yang ingin kau lakukan lagi?!" tanya Betran panik saat Leny mendekati dirinya dengan sebuah pisau yang ia genggam.
"Ja...jangan mendekat!, menjauh!" timpalnya semakin panik saat Leny hampir sampai di depannya.
"Ba.. baik!, aku akan mengatakannya. Jadi tolong berhenti!" ucapnya lagi menyerah.
Mendengar perkataan itu, Leny langsung menghentikan langkahnya "Cepat katakan!" perintah Leny.
"Aku akan mengatakannya, tapi jangan bunuh aku, dan lepaskan aku. Aku berjanji aku akan keluar dari Harimau Berdarah dan tak berurusan lagi dengan mereka" jawab Betran ketakutan.
"Jangan buat banyak penawaran!, kau hanya seorang tawanan!" tegur Leny.
"Semua itu tergantung pada jawabanmu!. Jika kau berkata dengan jujur, aku akan melepaskan mu" timpal Leny.
"Ba..baik, baik. Aku akan memberitahu semuanya" jawab Betran ketakutan.
"KATAKAN!" ucap Leny penuh penekanan.
"Saat ini Harimau Berdarah berada di daerah jakarta Timur, markas kami tersembunyi di balik sebuah bar. Sedangkan tempat kami menyimpan barang-barang terlarang dan para wanita yang kami culik, berada di daerah Selatan" jawab Betran menunduk.
"Apa itu semua sudah benar?, tidak ada yang kau sembunyikan lagi?" tanya Leny memastikan.
"Hanya itu yang aku tau. Tidak ada lagi, aku berani bersumpah" jawab Betran ketakutan.
"Baik, terimakasih" ucap Leny tersenyum manis.
"A..apa kalian akan melepaskan aku dari sini?" tanya Betran memastikan.
"Tentu saja" jawab Leny tersenyum manis namun penuh tanda tanya.
"Fuuuhhh" Betran membuang nafas lega.
Saat Betran tengah menutup kedua bola matanya, tiba-tiba Leny bergerak dengan sangat cepat dan ia langsung menusukkan pisau yang berada di tangannya ke kening Betran hingga membuatnya menembus ke tengkorak kepalanya.
"Ke..ke..kenapa kau berbohong?, ka.. kau bilang akan melepaskan ku?" tanya Betran terbata-bata dengan darah yang terus mengalir dari keningnya dan pisau yang masih menancap di keningnya.
"Aku tidak berbohong, aku bilang aku akan melepaskan mu. Tapi aku tidak bilang, akan akan membebaskan mu dari tempat ini kan?" jawab Leny tersenyum sinis.
"A...a..apa yang kau ka...katakan?!" tanya Betran semakin melemah karena mulai kehabisan darah.
"Aku akan melepaskan mu. Tapi yang terlepas itu nyawa dari ragamu! Paham!" jawab Leny tersenyum.
"Jadi, selamat beristirahat" timpal Leny tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Da...dasar wanita psikopat, pe..penipu!" lirih Betran. Secara perlahan pandangannya mulai kabur dan gelap, lalu ia langsung menutup kedua matanya untuk selamanya.