Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PERINTAH DANIEL


Leny hanya ikut tersenyum melihat kebahagiaan pada Souji meskipun ia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan antara suaminya dengan ketua Yakuza itu.


"Kakak tersenyum seperti itu, apakah kakak paham dengan apa yang mereka bicarakan?" tanya Kevin dan Leny hanya tersenyum sambil menggeleng.


"Sudah kuduga" ucap Kevin memutar bola matanya jengah.


"Kak Daniel berkata akan membawa Kak Alvin ke sini. Hal itulah yang membuat pria bertato itu merasa sangat bahagia karena putranya akan segera bisa di sembuhkan" sambung Wulan menjelaskan.


"Seharusnya jadi seorang Adik itu seperti ini, jangan pula suka menggoda Kakaknya" tegur Leny sambil menjewer telinga Kevin dan Kevin hanya bisa mengadu kesakitan.


"A..a..aduh Kak, ampun Kak" rengek Kevin sambil memegangi telinganya yang masih di jewer oleh Leny hingga membuat Damin yang berada di gendongan Wulan sampai terkekeh geli.


"Loh Damin ikut senang ya sayang melihat Paman capungnya di jewer oleh Bunda kamu ya?" tanya Wulan gemas melihat Damin yang terkekeh menampakkan giginya yang belum seluruhnya tumbuh.


"Apung, Apung" ucap Damin sambil terkekeh, dan perkataan yang keluar dari mulut Damin barusan membuat mereka semakin gemas melihat bayi tampan tersebut.


"Damin, seharusnya kamu bantu Paman dong. Tolongin Paman Damin, sakit banget" keluh Kevin mengadu pada Damin.


"Damin justru semakin senang melihat kamu di hukum oleh Bundanya tau" ejek Wulan tertawa.


"Ampun Kak, ampun. Gak lagi deh" rengek Kevin mengadu kesakitan.


"Huh, untung saja kau itu Adikku" jawab Leny sambil melepaskan tangannya dari telinga Kevin.


"Haduh... aduh... Panas banget telingaku" ucap Kevin sambil memegangi telinganya yang memerah.


"Apung, Apung" ucap Damin sambil terkekeh dan membuat mereka semua tertawa.


"Awas kamu ya Damin. Senang melihat Paman kamu yang tampan ini menderita ya?" tanya Kevin dan langsung menyerang Damin dengan gemasnya menciumi wajah bayi tampan itu hingga tubuhnya Damin menggeliat kegelian.


"Nona muda sangat beruntung ya" ucap Souji tersenyum menatap kegembiraan dari keluarga Daniel.


"Aku yang sebenarnya sangat beruntung karena memiliki istri secantik dia dan putra yang tampan menurun dari wajahnya" sela Daniel menyambung.


"Anda harus menjaga keluarga kecil anda dengan baik tuan muda, jangan sampai anda kehilangan sosok nona muda, seperti saya dulu" ucap Souji sambil memperhatikan kebahagiaan keluarga Daniel.


"Ketika saya kehilangan istri yang sangat saya cintai, rasanya sangat berat dan saya juga seperti sudah tak ingin hidup lagi. Tapi saya harus kuat demi putra kami satu-satunya" timpalnya. Sedangkan Daniel hanya tersenyum menatap Souji yang sedang mencurahkan isi hatinya pada Daniel.


Kemudian Souji menatap Daniel yang sedang menatap dirinya, dan tatapan dari Daniel membuat Souji ketakutan karena sudah berani memberi ceramah pada Daniel barusan.


"Ma..maafkan saya tuan muda, saya tidak bermaksud untuk berkata lancang pada anda" ucap Souji membungkuk.


"Hahaha, apa yang kau lakukan Souji?. Bangkitlah, kau tidak melakukan kesalahan" ucap Daniel mengangkat tubuh Souji yang sedang membungkuk.


"Maafkan saya tuan muda, saya tidak bermaksud untuk menceramahi anda" ucapannya secara terus menerus.


"Tenang saja, aku tidak marah padamu. Justru kisah hidup yang selama ini kau jalankan sangat membuatku terkesan" jawab Daniel tersenyum sambil menepuk pundak Souji.


"Suatu kehormatan dapat sebuah pujian dari tuan muda" ucap Souji tersenyum.


Lalu tiba-tiba Leny datang menghampiri Daniel dan ia langsung merangkul lengan sang suami dengan sangat manja, kemudian ia berkata "Ayah, bukankah Ayah ingin meminta Alvin datang kemari?". Daniel langsung menepuk jidatnya setelah mendengar perkataan dari istrinya barusan.


Kemudian Daniel menelepon sahabatnya itu yang sedang berada di Indonesia tepatnya di sebuah rumah sakit milik Daniel yang kini sudah menjadi milik saudara kembarnya yaitu Dion dan Ayu.


Alvin yang tengah asik menikmati makan siangnya bersama sang kekasihnya Chelsea terpaksa harus terhenti karena ulah Daniel yang menggangu momen romantis mereka berdua.


Pada saat Alvin sedang ingin memberikan suapan pada sang kekasih, tiba-tiba ponsel miliknya berdering hingga membuat tangan Alvin yang tengah memegang sendok harus terhenti. Sedangkan Chelsea yang sudah siap menerima suapan dari sang kekasih harus merasa sedikit kecewa karena sendok yang tengah Alvin pegang berhenti di tengah jalan.


"Ih...!! Aku udah membuka mulut loh sayang" rengek Chelsea dengan manja.


"Maaf sayang, ini ponsel aku tiba-tiba bunyi" jawab Alvin sambil mengambil ponsel miliknya di dalam saku celana.


"Siapa sih?!, ganggu aja deh. Orang lagi bermesraan juga ih!" kesal Chelsea menyilang kan kedua tangannya dengan wajah cemberutnya yang membuat Alvin menjadi gemas karena wajah kekasihnya yang begitu menggemaskan baginya.


"Sabar ya sayang, aku cek dulu" bujuk Alvin membelai kepala sang kekasih.


"Astaga!, ternyata tuan muda yang menelepon" ucap Alvin terkejut setelah melihat layar ponselnya.


"Hah?!, maksud kamu Daniel?" tanya Chelsea ikut terkejut, dan di anggukan oleh Alvin.


"Lebay deh ekspresi wajah kamu itu. Yaudah buruan di angkat, pasti ada hal penting harus di bahas" timpal Chelsea. Kemudian Alvin menggeser icon hijau.


"Halo, ada apa?!" tanya Alvin.


"Kau mengganggu waktuku dengan Chelsea saja" timpalnya dengan nada kesal.


"Hahaha, maaf-maaf" jawab Daniel tertawa.


"Aku ingin kau terbang ke Jepang, kalau bisa segera. Jangan lupa bawa Chelsea, karena istriku sangat merindukannya" ucap Daniel memerintah sambil menatap Leny yang tersenyum menatapnya.


"Oiya, jangan lupa bawa Adikku Dion dan juga istrinya ya!" sambung Daniel.


"Ada apa?!, kenapa mendadak gini?" tanya Alvin penasaran.


"Sudah, kau jangan banyak tanya. Nanti akan ku jelaskan setelah kalian sampai ke sini" jawab Daniel dan langsung menutup ponselnya.


"Ha..halo!, hey Pak Bos!" ucap Alvin akan tetapi panggilan telepon mereka sudah terputus.


"Ahrk!. Kebiasaan banget selalu seperti ini!" ucap Alvin kesal.


"Ada apa sayang?, kenapa kamu terlihat sangat kesal?" tanya Chelsea dengan lembut.


"Ini si kampret satu meminta kita untuk pergi ke Jepang sekarang juga, dia juga meminta kita harus membawa Pak bos dan Buk Bos" jawab Alvin menjelaskan.


"Memangnya ada apa sayang?, kenapa Daniel meminta kita untuk kesana?" tanya Chelsea penasaran.


"Aku juga tidak tau sayang, mungkin nona muda sangat merindukanmu" jawab Alvin.


"Udah Ayo kita harus kembali ke rumah sakit untuk memberi tau kabar ini pada Pak Bos dan Buk Bos" timpal Alvin meraih tangan lembut sang kekasih.


Chelsea dan Alvin langsung kembali menuju ke rumah sakit milik keluarga Syahputra untuk segera mengajak Dion serta istrinya pergi ke Jepang sesuai perintah dari Daniel barusan.