
"Jadi kebenarannya kedua orangtua kami bukan murni kecelakaan" tanya Daniel
"Tidak nak, kedua ban mobil belakang ayah kalian di tembak hingga mengalami kecelakaan dan harus merenggut nyawa mereka" jawab Leo sendu
"Siapa yang melakukannya ayah?" tanya Daniel geram
Leo menghela nafasnya dan masih belum sanggup menjawab karena masih teringat kenangannya bersama sang kakak.
"Jawab ayah!" tanya Daniel sekali lagi penuh penekanan
"Petir hitam" jawab Leo menatap serius Daniel
"mereka punya dendam pada Dark Shadow yang saat itu di pegang oleh kakek kalian. Karena Dark Shadow selalu menggagalkan rencana mereka untuk melakukan penjualan barang haram dan juga organ dalam manusia"
"Mereka mengira orang yang di dalam mobil itu adalah aku, ternyata mereka salah, dan yang terbunuh adalah kakakku" ucap Leo sendu
"Setelah berhasil membuat mobil yang di kendarai kak Elang kecelakaan, pemimpin mereka yang bernama Eko menelepon kakek kalian dan memberi tau kalau mereka telah berhasil membunuh keturunannya. Mereka tidak tau kalau kakek dan nenek kalian memiliki anak kembar, jadi dengan kematian kak Elang yang menurut mereka adalah pewaris tunggal Dark Shadow, lalu mereka berfikir bisa mengambil kekuasaan kakek kalian"
"Akibat ulah mereka juga membuat kakek kalian terkena serangan jantung dan harus masuk ke rumah sakit"
Daniel semakin geram mendengar cerita dari ayah angkatnya itu, dalam pikirannya dia hanya ingin membumi hanguskan seluruh kelompok petir hitam. Berbeda dengan Dion, matanya sudah berkaca-kaca karena mendengar kisah sadis yang membuat kedua orangtuanya meninggal.
"Nenek dan Rani juga sangat terpukul saat mengetahui Kak Elang dan Aqila mengalami kecelakaan hingga membuat mereka kehilangan nyawanya. Nenek kalian menjadi pemurung, saat melihat wajahmu (Daniel) yang sangat mirip dengan Elang, hatinya semakin hancur. Rani sampai jatuh sakit karena ia harus kehilangan kak Aqila yang dia sangat sayangi itu"
"Setelah 2 minggu pemakaman kedua orangtua kalian, kakek kalian juga ikut menyusul kepergian mereka. Dia sudah tidak bisa bertahan melawan penyakit yang terus mengeroyoknya ( jantung, lambung, diabetes )"
"nenek kalian semakin terpukul saat kehilangan kakek kalian, dia hanya berharap ingin segera menyusul kakek dan kedua orangtua kalian. Tapi terus memikirkanmu ( Daniel ) hanya kamu alasannya untuk tetap bertahan menjalani hidup yang menurutnya sangat tidak adil"
"Semenjak kematian kakek dan kedua orangtua kalian, nenek tidak mau lagi kembali ke Jepang atau tinggal di rumah kak Elang yang berada di Indonesia, dia selalu teringat kenangan indah bersama suami dan anak serta menantu yang sangat ia sayangi itu. kenangan indah itu berubah menjadi pahit menurutnya.
"Ayah langsung melacak para anggota dari Petir hitam, dan sebagian dari mereka sudah ayah musnahkan, namun sampai sekarang ayah belum bisa menghabisi pemimpin mereka. Ayah belum bisa memaafkan diri ayah sendri jika terus mengingat kematian keluarga kita, sampai sekarang ayah masih belum bisa menepati janji ayah sebagai seorang adik dan seorang anak untuk membalaskan dendam kakek, nenek, dan kedua orangtua kalian"
Daniel berdiri dari duduknya dan berjalan keluar untuk mencerna pikirannya agar bisa lebih tenang. Dia butuh taktik untuk memancing Eko sang pemimpin dari petir hitam yang telah menyebabkan kakek dan kedua orangtuanya meninggal dunia.
Daniel menatap Dion dan tersenyum penuh arti
"Hanya kau saudaraku yang memiliki darah yang sama denganku Dion, aku tidak akan mengulangi kesalahan ayah Leo yang tidak bisa melindungi saudaranya sendiri, aku berjanji akan menjagamu adikku" batin Daniel
"Dion, maafkan paman karena tidak bisa melindungi Papa dan mama kalian" ucap Leo
"Ini bukan salah paman, ini sudah takdir sang pencipta, aku ihklas kok paman, setidaknya aku masih punya saudara kandung" jawab Dion tersenyum
"Sayang ayo kita makan siang dulu" ucap Rani memanggil ketiga lelaki tampan itu
Daniel menghela nafasnya, dia harus bisa mengontrol emosinya, dia tidak mau membuat Leny dan Rani mengkhawatirkannya.
"Iya ibu" jawab Daniel masuk ke dalam
Seperti biasa, Leny pasti menunggu sang suami masuk kedalam dan menggandeng lengannya.
"Melihat senyummu aku menjadi tenang istriku, aku berjanji aku akan menjaga senyuman itu agar tidak memudar" batin Daniel mengelus kepala Leny
"Ayo Dion sayang, jangan sungkan-sungkan dengan ayah dan ibumu ini" ucap Rani menggandeng lengan Dion
"Te.. terimakasih bi" jawab Dion gugup
"Ih jangan panggil bibi dong" ucap Rani tidak terima
Leny yang mendengar dan melihat adik iparnya seperti itu hanya menghela nafasnya sambil menggeleng saja, dia sudah menyerah dengan sifat dari Dion.
"Wah senangnya bisa merasakan masakan ibu lagi" ucap Daniel untuk mencairkan suasana
"Hahahaha" mereka semua tertawa
Rani mengambilkan piring dan meletakkan nasi beserta lauk pauknya kedalamnya lalu di berikan pada Leo sang suami. Di ikuti juga oleh Leny yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh mertuanya itu.
"Enak ya yang sudah memiliki istri, makan saja di layani" sindir Dion
"Hahahaha, anak ibu mau di ambilkan juga makannya?" tanya Rani yang peka akan keadaan
"I..iya Bu, jika ibu tidak keberatan" jawab Dion malu-malu
Dengan senang hati Rani melayani sang keponakan dengan cekatan dan penuh kasih sayang.
"Ini sayang, apa kurang?" tanya Rani yang memang tidak tau porsi makan Dion
"Cu..cukup Bu, terimakasih banyak" jawab Dion tersenyum manis
"Sama-sama sayang" jawab Rani mengelus pipi Dion
"Wah enak sekali Bu, Dion suka" ucap Dion setelah merasakan hasil masakan Rani
"Hmmm.. kamu bisa aja sayang" jawab Rani karena tidak ingin besar kepala
"Ini beneran enak Bu, Dion bisa nambah terus ni" ucap Dion terus terang
"Jika kamu suka, makanlah sepuasnya sayang" ucap Rani tersenyum bahagia
Oh iya, apa kamu sudah memiliki kekasih atau sudah menikah Dion?" tanya Rani to the point
"Uhuk-uhuk" Dion terkejut mendengar pertanyaan Rani barusan
"Ti..tidak ada Bu" jawab Dion tersenyum
"Wah sayang sekali, kamu kan tampan sayang, masa masih belum memiliki pasangan sih?" goda Rani
"Dion gak PD Bu, Dion tidak mau membuat pasangan Dion merasa malu karena sifat dari Dion ini" ucap Dion menjelaskan
"Cari lh yang tulus dan mau menerima segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki. percaya dirilah pada dirimu kalau kau itu bisa, jangan dengarkan omongan-omongan sekelompok sampah masyarakat yang tidak pernah tau seluruh pengorbananmu selama in.i" ucap Leo memberi nasehat.
"Jangan menyerah di tengah jalan, teruslah maju, jangan pernah menatap kebelakang, karena pasti bakal ada orang-orang yang ingin menjatuhkan semua usaha yang selama ini kamu bangun" timpal Leo lagi
"Iya ayah, Dion akan mendengarkan nasehat ayah, dan Dion sudah bertekad untuk berubah. Aku ingin kak Daniel melatihku dan merubah sifat burukku" jawab Dion percaya diri
"Kamu yakin?, latihan yang akan ku berikan sangat berat, aku tidak yakin kamu bisa menerima latihan dariku" goda Daniel bercanda
"Apa salahnya untuk mencoba terlebih dahulu kak?, masalah sanggup tidak sanggup, tahan tidak tahan, kuat tidak kuat itu urusan belakangan kak. Aku sudah bertekad untuk maju dan merubah masa depanku. Aku tidak mau membuat kalian malu dengan sifat lamaku" ucap Dion percaya diri
"Bagus!!! aku suka semangatmu itu adikku, aku akan melatihmu beladiri dan akan ku ubah sifat anehmu itu!" tegas Daniel menatap serius ke arah Dion
"Kakak tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu karena di latih olehmu" jawab Dion percaya diri...