Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SUASANA BARU


Perlahan-lahan para murid-murid yang berada di kelas itu mulai menyukai Daniel setelah ia menjadi wali kelas mereka walau baru satu hari ia menjadi guru mereka. Entah cara apa yang Daniel lakukan pada murid-muridnya sehingga para siswa-siswi di kelas itu sangat nyaman dengan sistem pembelajaran yang Daniel berikan pada mereka.


Awal pertemuan Daniel dengan murid-murid tidak di gunakan olehnya untuk belajar melainkan ia hanya ingin mencoba mendekatkan diri pada para siswa-siswi dan mencari titik permasalahan yang dialami murid-muridnya itu sampai-sampai mereka menjadi seperti itu.


Jam istirahat pun tiba, para murid di sekolah tersebut pada berhamburan untuk istirahat dan pada pergi ke kantin. Daniel juga kembali ke kantor atau ruangan Guru untuk mengembalikan buku yang ia ambil saat ia bertabrakan dengan Guru wanita berkacamata pagi tadi.


Sesampainya Daniel di ruangan Guru, ia melihat wanita itu sedang sibuk memeriksa tugas-tugas yang ia berikan pada murid yang ia didik pagi tadi. Daniel tersenyum dan mendekati Guru tersebut yang nampak terlihat sangat sibuk dengan tumpukan kertas yang begitu menumpuk di mejanya.


Para Guru-guru yang melihat Daniel melangkah menuju wanita itu membuat mereka sedikit iri terutama pada kaum hawa.


"Kenapa Daniel Sensei mendekati Haruka Sensei?" bisik Guru wanita lainnya pada Guru lain.


"Iya tuh. Aku jadi sedikit iri deh" jawab rekannya.


"Wah, kelihatan kamu sangat sibuk ya Sensei?" tanya Daniel tersenyum sambil melihat Guru berkacamata itu sedang memeriksa tugas-tugas dari muridnya.


"Eh, Sensei. Iya nih, Aku sedang mengecek kertas ulangan para murid-murid" jawab Guru berkacamata itu tersenyum lalu fokus pada tugasnya lagi.


"Ini" ucap Daniel sambil menyerahkan sebuah buku milik Guru tersebut.


"Kamu tadi menjatuhkannya dan lupa mengambilnya lagi" timpal Daniel.


"Terima kasih Sensei" jawab Guru itu tersenyum senang dan menerima bukunya.


"Ano.. Kalau Sensei ingin membaca buku ini, ambil saja" timpal Guru itu.


"Iya nanti aku akan meminjamnya" jawab Daniel tersenyum.


"Oh iya, saya Haruka" ucap Guru itu memperkenalkan diri.


"Aku Daniel" jawab Daniel memperkenalkan diri juga.


"Ha, Daniel Sensei" ucap Haruka Sensei tersenyum.


"Mohon kerjasamanya" timpal Haruka Sensei tersenyum.


"Iya, mohon kerjasamanya juga" jawab Daniel ikut tersenyum.


"Sepertinya Sensei sangat sibuk ya?" tanya Daniel sambil melihat lembar jawaban dari para murid-murid di sekolah tersebut.


"Hehehe, iya nih" jawab Haruka Sensei.


"Sampai-sampai ada yang salah tuh" ucap Daniel menunjuk sebuah lembar jawaban dengan dagunya.


"Hah?! salah?" tanya Haruka Sensei dan langsung memeriksa kembali lembaran kertas yang sudah ia beri nilai barusan.


"Haih!. Iya benar hehehe" timpal Haruka Sensei cengengesan setelah mengecek kembali lembaran kertas tersebut.


Tiba-tiba ponsel milik Daniel berdering, dan Daniel langsung mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Saat ia melihat ponselnya, ia langsung tersenyum karena sang istri sedang memanggilnya dengan panggilan video.


Daniel langsung pergi menuju ke luar dari ruangan Guru untuk mengangkat panggilan video dari sang istri.


Setelah ia berada di luar, ia langsung menaikan icon hijau pada ponselnya dan terlihatnya seorang wanita cantik sedang memangku seorang bayi yang mirip dengan Daniel.


"Halo Ayah" sapa Leny menirukan suara bayi.


"Eh anak Ayah" sapa Daniel tersenyum melihat putranya yang sedang mencoba meraih ponsel yang di genggam oleh Leny.


"Itu Ayah kamu sayang, dari tadi terus manggil mulu" ucap Leny mengadu pada sang suami.


"Yayah Yayah" panggil Damin dan membuat Daniel tersenyum.


"Iya sayang, Ini Ayah nak" jawab Daniel dan membuat Damin terkekeh.


"Mungkin sekitar jam 3 deh Honey" jawab Daniel sambil melihat arlojinya.


"Yah, Bunda sama Damin bakal kangen berat ni sama Ayah" keluh Leny dengan nada sedih yang di buat-buatnya.


"Hahaha, Bunda lebay banget" ucap Daniel mengejek.


"Pasti Ayah menjadi pusat perhatian para murid-murid dan Guru-guru di sana kan?" tanya Leny cemberut.


"Entah, Ayah gak tau sih Honey" jawab Daniel yang memang tak tau kalau dirinya memang menjadi sebuah pusat perhatian di sekolah itu karena ia tak memperdulikannya.


"Lagi pula Ayah kan udah punya Bunda dan Damin, jadi Ayah gak bakal tertarik dengan wanita lain" timpal Daniel tersenyum menggoda.


"Idih, Bapak satu Anak ini sok ngegombal" ucap Leny terkekeh.


"Lihat tu Ayah kamu sayang, udah pinter menggombal" timpal Leny berbicara pada Damin dan Damin hanya terkekeh-kekeh seperti bayi yang sedang kegirangan.


"Ayah udah makan siang?" tanya Leny.


"Belum nih, Ayah sih kangen masakannya Bunda" jawab Daniel memelas dengan nada sedih yang di buat-buatnya.


"Hahaha Ayah rindu hasil masakan Bunda?" tanya Leny tertawa dan di anggukan oleh Daniel.


"Ini sudah bunda siapkan bekal buat Ayah" timpal Leny sambil menunjukkan sebuah Tupperware yang berisikan sebuah makanan yang ia masak tadi.


"Lah, kapan Bunda membuatnya?" tanya Daniel sedikit terkejut.


"Tadi, setelah Ayah berangkat. Bunda berinisiatif pergi ke dapur untuk memasak buat Ayah" jawab Leny cengengesan.


"Wah, istriku memang yang terbaik" ucap Daniel tersenyum bahagia.


"Sebentar lagi Bunda, Damin, dan Kevin bakal ke sana buat mengantarkan bekal untuk Ayah" ucap Leny tersenyum penuh cinta.


"Wulan kemana Honey?" tanya Leny.


"Tadi dia izin pamit pergi ke tempat Dark Shadow, ada yang mau dia cek katanya" jawab Leny.


"Apa mungkin ia ingin mencari tau tentang suaminya Zahra yang berbuat ulah kemarin ya Ayah?" tanya Leny penasaran.


"Mungkin aja sih Honey. Wulan itu, dari dulu paling enggak suka melihat Kakaknya di rendahkan dan di hina oleh orang lain. Dia pasti langsung mencari informasi tentang orang tersebut. Setelah ia menemukannya, pasti langsung ia habisi" jawab Daniel menjelaskan.


"Aduh Ayah, Bunda jadi khawatir sama Wulan" ucap Leny berubah menjadi cemas setelah mendengar penjelasan dari suaminya tentang kebiasaan dari sang adik.


"Bunda tenang saja, Wulan itu bukan wanita lemah kok. Di antara adik-adik Ayah, dia yang paling fokus jika bertarung dengan musuh, dan pasti bakal menang" jawab Daniel menenangkan sang istri agar tidak terlalu memikirkan Wulan.


"Lagian banyak juga yang akan menjaganya kok, apalagi kita berada di negara ini Honey, tempatnya Dark Shadow. Bahkan para Yakuza sangat menghormati Dark Shadow kok" timpal Daniel dan membuat Leny menjadi sedikit lebih lega setelah mendengar penjelasan dari sang suami.


"Di luar hotel juga pasti banyak bawahan Ayah yang akan menjaga Bunda kok. Para bawahan kita sudah bersiap di berbagai tempat untuk menjaga kita dari jarak jauh, tanpa Ayah perintahkan" ucapannya lagi.


"Jadi, ketika nanti Bunda keluar dari Hotel ini untuk menemui Ayah, para bawahan kita akan mengawalnya?" tanya Leny dan di anggukan oleh Daniel.


"Tapi mereka menjaganya tidak secara terang-terangan. Mereka menjaga kita layaknya seorang ninja yang melindungi kita dari balik bayang-bayang" ucap Daniel.


Tak lama kemudian pintu kamar Leny di ketuk dan ada suara seorang lelaki yang sangat ia kenal sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Ayah, udah dulu ya. Sepertinya Kevin udah ada di depan kamar kita. Bunda dan Damin mau siap-siap buat bertemu dengan Ayah di sekolah itu" ucap Leny tersenyum bahagia.


"Iya Honey, hati-hati di jalan" jawab Daniel.


"Iya Ayahku" jawab Leny menirukan suara bayi seakan-akan yang berbicara itu putra mereka yang sedari tadi hanya terkekeh bahagia saja.