
Keesokan harinya sesuai yang di katakan oleh inspektur Yuddy. Daniel juga yang ikut terlibat dalam peperangan kemarin pun pergi ke kantor polisi untuk memberi keterangan tentang kejadian yang ada di kantornya kemarin.
Tidak seperti Daniel, Kevin, dan juga Ronny, kedua satpam baru yang bernama Rendi dan Haikal merasa sangat gugup karena harus berurusan dengan polisi.
Padahal Kevin dan Ronny sudah berkali-kali menenangkan mereka, namun rasa parno dalam diri mereka masih saja membuat mereka berdua merasa ketakutan jika harus berurusan dengan pihak aparat.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Daniel.
"Kami takut tuan, kami gak mau masuk penjara" jawab Rendi menunduk.
"Hahaha. Tidak ada yang akan masuk penjara" ucap Daniel tertawa.
"Semalam kan kita sudah membuat puluhan manusia babak belur dan bahkan ada yang sampai mati tuan. Gak mungkin polisi mau melepaskan kita begitu saja" sambung Haikal.
"Kalian tenang saja, tidak akan ada yang masuk penjara kok" ucap Daniel dengan yakin.
"Aku yang akan menanggung semua ini" tambahnya.
"Ti..tidak bisa begitu dong. Kita semua harus menanggung semuanya, aku juga gak mau pak bos yang menanggung semuanya" bantah Rendi yang meskipun ia dalam keadaan rasa takut.
"Sudah kalian tenang saja, semua akan aman. percayalah sama pak bos kita" sambung Ronny.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya Daniel beserta rombongan sudah sampai di pusat kantor polisi di daerah tersebut.
Dengan santai Daniel dan ketiga pria yang sudah lama ikut Daniel bejalan menuju ke kantor polisi tersebut. Sedangkan Haikal dan Rendi merasa gemetar saat melihat banyak orang yang menatap mereka berdua.
Saat ingin masuk, tiba-tiba Daniel berpapasan dengan Novi yang sedang berkunjung juga di kantor tersebut. Novi langsung terkejut melihat kedatangan dari suami sahabatnya itu.
"Astaga pak guru Daniel" sapa Novi.
"Kebiasaan deh, jangan panggil seperti itu dong. Kesannya aku seperti bapak-bapak" ucap Daniel memutar bola matanya jengah.
"Lah, kan kakak memang sudah menjadi seorang bapak. Damin kan putramu" sela Kevin membenarkan.
"Oh iya, selamat ya atas kelahiran putra kalian. Maaf juga aku belum sempat berkunjung, karena banyak banget kasus yang harus ku selesaikan. Sampaikan maaf dariku untuk istrimu ya" ucap Novi panjang lebar.
"Bawel deh. Kamu harus datang dong, istriku juga pasti akan mengerti, gak mungkin dia bakal marah sama kamu" ucap Daniel.
"Iya, aku juga kangen banget sama istrimu. Apalagi aku ingin bertemu dengan putra kalian itu. Aku mau tau lebih tampan kamu atau putramu" ucap Novi mengejek.
"Haha. Putraku itu bibit unggul, lihat dong induknya aja produk bagus, pastinya bibitnya bagus dong" jawab Daniel mengejek.
Tiba-tiba inspektur Yuddy datang dan menyela pembicaraan antara adiknya dengan pemimpin Dark Shadow itu.
"Permisi tuan, apa bisa langsung kita selesaikan masalah ini" ucap inspektur Yuddy menyela.
"Ih kakak ni ganggu aja deh" ucap Novi menyebikkan bibirnya.
"Kalau kamu mau mengobrol santai, nanti saja waktu kamu berkunjung ke rumah tuan Daniel" ucap sang kakak.
"Iya-iya" jawab Novi dengan nada malas.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak guru" sambung Novi mengejek dan langsung berlari menuju mobilnya.
"Awas kau ya!. Dasar murid durhaka" ucap Daniel sedikit berteriak.
"Bos kita itu sebenarnya siapa sih?, kok bisa seakrap gitu sama para petinggi polisi" bisik Haikal pada Rendi.
"Iya, aku juga heran sama pak bos itu. Bukan cuma hebat, tapi banyak orang-orang kuat di belakangnya, bahkan mereka sangat menghormati bos kita" tambah Rendi.
Lalu kemudian Inspektur Yuddy meminta Daniel menuju ke ruangannya dengan sopan dan di ikuti orang-orang yang bersama Daniel. Saat melangkah menuju ke ruangan tersebut, Haikal dan Rendi semakin gugup karena mereka memang takut berurusan dengan polisi.
"Kalian kenapa?" tanya Kevin yang melirik ke arah belakang.
"Ta.. takut pak" jawab Rendi.
"Apa yang kalian takutkan?, di sini tidak ada hantu" ucap Kevin bertanya.
"Tapi berada di sini rasa takutnya melebihi saat ketika melihat hantu pak" sela Haikal.
"Haha, ada-ada aja kalian berdua ini. Udah tenang saja semua bakal aman" ejek Kevin tertawa.
"Ya mau gimana lagi, namanya takut pak" ucap Rendi cemberut.
"Kalau ada pak bos, semua bakal beres, percayalah" sambung Ronny yang sedari tadi hanya menyimak saja.
Kemudian inspektur Yuddy meminta mereka semua untuk duduk dan meminta Daniel beserta orangnya menjelaskan kejadian kemarin.
Satu persatu dari mereka di tanya, dan mereka menjawab dengan jujur karena mereka memang tidak tau kenapa para preman itu tiba-tiba menyerang kantor Daniel.
"Apa tuan Daniel tau apa penyebab penyerangan kantor anda?" tanya inspektur Yuddy dengan sopan.
"Semua kejadian kemarin adalah ulah dari mantan karyawan saya di kantor pak Inspektur. Dia tidak senang kalau dia saya pecat, dan alasan saya memecat dia adalah kesalahan dia sendiri karena sudah menggelapkan dana kantor dan menghambat gaji-gaji para rekannya yang lain" jawab Daniel menjelaskan.
"Apa orang yang anda maksud mayat kemarin?" tanya inspektur Yuddy dan di anggukan oleh Daniel.
"Bagiku uang hanyalah sebuah kertas dan tidak terlalu penting. Tapi rasa kepercayaan yang sudah di rusak tidak akan bisa kembali lagi" ucap Daniel.
"Kenapa tidak tuan serahkan kepada kami atau laporkan ke pihak KPK saja?" tanya inspektur Yuddy.
"Awalnya saya sudah memberi dia satu kesempatan dan masalah ini tidak saya berpanjang. Tapi dengan bodohnya dia malah mengantarkan nyawa padaku" jawab Daniel.
"Kalau dia tidak berbuat bodoh, mungkin dia masih bisa bernafas dan masih menikmati uang hasil kejahatannya" timpal Daniel.
"Tapi entah bodoh atau memang tidak memiliki otak. Dia malah mencoba menghancurkan kantorku dan ingin menghajar rekan-rekanku" tambah Daniel lagi.
"A..apa ka..kami akan masuk penjara pak polisi?" tanya Rendi ketakutan.
"Kalian tenang saja, kalian akan aman. Semua akan saya urus. Toh bukan kalian juga penjahatnya. Dalam kasus ini kalian itu korban dan saksi" jawab inspektur Yuddy tersenyum.
"Jadi kami semua tidak akan masuk bui kan?" tanya Haikal penuh harap dan di anggukan oleh inspektur Yuddy sembari tersenyum.
"Tu kan apa yang aku bilang" ucap Ronny sembari menepuk-nepuk pundak Rendi.
"Hehe. Iya, Alhamdulillah kami aman" ucap Rendi tersenyum lega.
"Tuan Daniel tenang saja, masalah ini akan saya selesaikan secepatnya. Dan masalah mayat itu kami sudah mengirimkannya ke rumahnya" ucap inspektur Yuddy.
"Baiklah, terima kasih pak" ucap Daniel tersenyum.
"Oh iya. Aku akan memberikan dispensasi pada keluarga para preman yang mati dan terluka itu serta mantan karyawanku yang ku siksa itu" tambah Daniel.
"Untuk apa tuan memberikan itu, kan di sini yang menjadi korban tuan dan rekan-rekan tuan" ucap inspektur Yuddy bertanya-tanya.
"Tapi yang terluka dan yang mati kan berada di pihak mereka, sedangkan orang-orangku aman-aman saja" jawab Daniel dan di anggukan oleh yang lain.
"Baiklah, kalau memang itu mau tuan. Saya akan melaksanakannya" ucap inspektur Yuddy.