
Di hari Senin yang sangat cerah terdapat seorang pria yang beberapa Minggu lagi akan menjadi seorang Ayah. Sudah sekian lama ia menunggu kehadiran seorang malaikat kecil dalam hidupnya.
"Honey.. Aku berangkat ke kantor dulu ya" ucap Daniel membelai kepala Leny yang tengah duduk di meja riasnya.
Leny berdiri dan langsung memeluk leher sang Suami lalu berkata dengan manja "Jangan kekantor dong Suamiku. Aku ingin ke Bandung"
"Hah?!" Daniel terkejut
"Jauh banget sayang, aku takut kamu dan bayi kita kenapa-kenapa" ucap Daniel mencoba menolak permintaan sang Istri cantiknya itu
"Ihhh. Aku dan bayi kita pasti bakal baik-baik saja kok. Kan Anak kamu ini pasti kuat seperti Ayahnya" jawab Leny semakin manja
"Aku rindu Nenek" timpal Leny dengan raut wajah sedihnya
Daniel menghela nafasnya dan berkata "Jangan sedih dong Istriku. Iya-iya kita bakal kerumah Nenek Ani"
"Yeay!" Leny menciumi seluruh wajah sang Suami
"Terimakasih Suamiku" ucap Leny tersenyum bahagia dan memeluk Daniel
"Yaudah ayo kita berangkat" timpal Leny semangat.
"Sebentar Honey, aku kabari Kevin dan Riski dulu" ucap Daniel mengeluarkan ponselnya, kemudian Daniel menghubungi nomor Kevin dan Riski lalu memberi tau mereka kalau dia akan cuti untuk beberapa hari
"Sudah belum Suamiku" tanya Leny memeluk Daniel dengan manja
"Udah, ayo" jawab Daniel
"Leny memeluk lengan sang Suami lalu berkata "Kita ajak Wulan juga ya, kasian dia kalo di tinggal sendirian dirumah"
"Iya Istriku" ucap Daniel langsung menggendong sang Istri menuju ke meja makan, dan ternyata sudah ada sang Adik yang telah menunggu Kakaknya.
"Lama banget, aku sudah lapar tau" protes Wulan menyebikkan bibirnya
Daniel menurunkan sang Istri, lalu Leny langsung memeluk kepala sang Adik yang tengah terduduk "Maaf ya Adikku sayang, jangan ngambek lagi dong"
"Iya-iya Kakakku sayang" jawab Wulan tersenyum manis
Leny langsung menarik kursi di sebelah Daniel dan duduk di samping sang Suami. Lalu mereka bertiga mulai sarapan bersama.
"Kakak apa gak terlambat?" tanya Wulan sambil mengunyah makanannya
"Kakakmu gak kekantor Sayang" jawab Leny
"Loh kenapa?" tanya Wulan
"Hari ini kita akan berangkat ke Bandung, dan kamu setelah selesai sarapan harus bersiap-siap ya" jawab Leny santai
"Uhuk-uhuk uhuk-uhuk" Wulan tersedak, lalu Daniel memberikan segelas air untuk Adik kesayangannya itu
"Pelan-pelan dek" ucap Daniel mengelus kepala Wulan
Wulan langsung meminum air yang di berikan sang Kakak lalu berkata "Terimakasih Kak"
"Kenapa mendadak banget Kak" protes Wulan
"Gak tau ni, tiba-tiba Kakak rindu sama Nek Ani" jawab Leny dengan raut wajah yang sedih namun di sekitar pipinya terdapat selai yang belepotan dan membuat Daniel tersenyum melihat sang Istri.
"Kamu sebentar lagi bakalan di panggil bunda loh Honey. Masa makan masih belepotan gini" ucap Daniel membersihkan selai yang menempel pada pipi sang Istri.
"Hehe. Khilaf Suamiku" jawab Leny dengan senyuman tanpa rasa bersalahnya dan sang Suami hanya menggeleng saja
"Gimana Dek?" tanya Leny memastikan
"Iya deh iya, aku bakal ikut" jawab Wulan yang tak ingin membuat sang Kakak kecewa dan sedih.
Setelah selesai sarapan, mereka bertiga bersiap-siap untuk berangkat ke tempat tujuan yang ingin mereka kunjungi itu.
Leny sengaja tidak memberi kabar pada sang Nenek kalau dia ingin berkunjung ke sana, ia ingin memberikan sebuah kejutan untuk Sang Nenek tercintanya yang telah menjodohkannya pada Suaminya 14 tahun yang lalu.
"Semoga aja Nenek senang kita bakal berkunjung" ucap Leny tersenyum bahagia
"Apa Nenek bakal menerima aku Kak?" tanya Wulan sedih
"Waktu acara 7 bulan Kakak kemaren aja Nenek gak mau menyapa atau berbicara padaku" lirih Wulan sedih.
"Kamu tenang aja Sayang, Nenek pasti bakal senang dan menerima kamu sebagai cucunya kok" ucap Leny menenangkan sang Adik yang tengah bersedih.
"Ya semoga aja Kak" jawab Wulan pasrah
"Benarkah Kak?" tanya Wulan dengan mata yang berbinar, dan di balas dengan anggukan oleh Leny
"Yaudah ayo kita berangkat" ucap Daniel
Mereka bertiga berangkat meninggalkan rumah Mewah itu dan menuju ke Bandung tempat dimana sang Nenek tinggal.
Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 2 jam lebih jika menggunakan mobil, kalau dengan motor atau kereta, bisa memakan waktu sampai 4 jam lebih.
Karena hari ini hari bekerja dan sudah sekitar pukul 10, jadi keadaan jalan gak terlalu macet, dan mereka bisa cepat sampai menuju rumah sang Nenek.
"Honey.. Kalau Kamu mengantuk, tidur aja, perjalanan kita masih jauh. Tu liat Adik kamu udah molor, malah molornya gk ada cantik-cantiknya pula tu" ucap Daniel menatap Wulan yang tertidur dengan mulut yang ternganga.
"Biarkan saja Suamiku, mungkin dia kecapean. Lagian aku gak ngantuk kok, aku mau nemenin kamu nyetir" jawab Leny tersenyum dan memeluk lengan Daniel
"Anak Ayah seneng gak?" tanya Daniel mengelus perut besar sang Istri.
"Ceneng dong Yayah, macih ya Yayah" ucap Leny tersenyum manis yang tengah menirukan suara anak kecil dan sukses membuat Daniel tersenyum.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lebih, akhirnya mereka bertiga sampai di pekarangan rumah mewah milik sang Nenek yang berada di Bandung.
Nek Ani hanya tinggal sendirian dan di temani oleh beberapa pelayannya saja. Papa dan Mama Leny sudah mengajak Nek Ani untuk tinggal bersama dengan mereka di Jakarta agar sang Nenek enggak kesepian, namun Nek Ani selalu bersikeras menolak dengan alasan gak mau merepotkan Anak dan Cucunya.
Mobil mewah milik Daniel terparkir rapih di halaman rumah milik sang Nenek setelah di bukakan oleh seorang satpam yang berjaga di depan gerbang rumah mewah milik Nek Ani.
"Dek, bangun Dek, kita udah sampe ni" ucap Leny membangunkan sang Adik yang tengah bermimpi indah
"Hmm.. Nanti, kamu jangan ganggu aku capung!" ucap Wulan dengan mata yang masih terpejam
"Hey! ini aku Kakakmu!, bukan kekasihmu Sayang!" ucap Leny menarik hidung Wulan dan sukses membuat Wulan membuka matanya
"Eh Kakak!" ucap Wulan menggaruk kepalanya
"Lagi mimpiin Kevin ya?" tanya Leny menggoda dan membuat Wulan menjadi salah tingkah
"A..apa yang Kakak katakan?. U.. untuk apa aku memikirkan si capung pengerusuh itu" ucap Wulan gugup
"Wah kenapa tadi kita gak mengajak Kevin aja ya" ucap Daniel menggoda sang Adik yang wajahnya sudah merah merona.
"Ah.. Ja..jangan Kak!, nanti dia hanya membuat keributan aja" protes Wulan gugup
"Cie cie. Yang rindu sama capungnya" ejek Daniel mencubit hidung sang Adik
"Kak, lihat tuh Suami kamu" ucap Wulan mengadu dengan manja pada Leny
"Udah-udah!. Ayo kita masuk" ucap Leny menggandeng tangan Wulan.
Mereka bertiga pun berjalan menuju rumah sang Nenek. Setelah Leny sampai di depan pintu utama rumah sang Nenek, Leny merasa sedikit gugup untuk masuk kedalam. Ia menghela nafasnya lalu memencet bel.
Lalu pintu terbuka dan terlihatlah seorang wanita tua yang terlihat masih cantik itu. Saat sang wanita tua itu melihat tamunya, ia di buat terkejut melihat siapa yang berkunjung ke rumahnya.
"Nenek!!!!" ucap Leny tersenyum bahagia
"Cucuku!!!" ucap sang Nenek dan langsung memeluk Cucu kesayangannya itu.
"Aku sangat merindukanmu Nek" ucap Leny dalam pelukan sang Nenek.
Setelah puas berpelukan, mereka melepaskan pelukannya dan manik mata sang Nenek tertuju pada seorang wanita cantik yang berada di sebelah kanan Leny.
"Kamu Wulan kan?" tanya Nek Ani
"I..iya nek" jawab Wulan tersenyum gugup
"Wah Cucuku" ucap Nek Ani dan langsung menarik Wulan dalam pelukannya
"Nenek ingin sekali bertemu dengan kamu Wulan Sayang" lirih nek Ani masih memeluk Wulan
"Maafkan Nenek yang mengabaikan kamu waktu acara 7 bulan Cicitnya Nenek ya nak" timpal Nek Ani masih memeluk Wulan
"Iya gapapa Nek" jawab Wulan tersenyum dan membalas pelukan Nek Ani.
Mereka berdua melepaskan pelukannya dan Nek Ani melihat sosok pria yang tengah tersenyum berada di belakang kedua wanita cantik itu.
"Nenek.." ucap Daniel mencium punggung tangan Nek Ani
"Eh Cucu menantuku makin tampan aja" ucap Nek Ani dan memeluk Daniel juga
"Yaudah Ayo masuk, pasti kalian lelah" ajak Nek Ani..