
Sesuai yang sudah di katakan oleh Alvin malam tadi. Kondisi tubuh Daniel perlahan sudah mulai membaik, dan dia sudah bisa di pindahkan ke ruangan rawat VVIP di rumah sakit tersebut.
Kekhawatiran keluarga pada Daniel berangsur-angsur mulai hilang, dan mereka semua sudah bisa lebih tenang karena kondisi tubuh Daniel sudah mulai membaik.
Semenjak Daniel di pindahkan, Leny dengan setia terus berada di sampingnya, berharap sang suami bisa sadarkan diri dan orang yang pertama Daniel lihat adalah Leny yang tersenyum manis menyambut dirinya, hanya itu saja yang ada di pikiran Leny pada saat ini.
Alvin menyarankan pada mereka untuk sering-sering mengajak Daniel mengobrol, karena meskipun matanya masih terpejam dan dalam keadaan koma, akan tetapi indera pendengarannya masih dapat mendengarkan apa yang terjadi pada sekitarnya.
Di dalam kamar hanya ada Leny dan Daniel yang masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan mata yang terpejam. Leny tak henti-hentinya berbicara pada sang suami mengikuti saran dari Alvin.
"Ayah.. Ayah bangun dong, kamu apa gak rindu pada istri dan anakmu?" pinta Leny sembari mengelus-elus wajah Daniel dengan penuh kasih sayang
"Bunda dan Damin sangat merindukan Ayah. Apalagi Damin belum bertemu dengan Ayahnya, pasti dia sudah sangat ingin bermain denganmu suamiku" timpalnya lagi dengan raut wajah yang penuh kesedihan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan masuklah Ibu Rani beserta sang adik Wulan yang membawakan sebuah makanan untuk Leny. Karena semenjak Daniel masuk rumah sakit, pola makan Leny mulai tidak teratur. Bahkan ia pernah makan hanya sekali saja dalam satu hari, membuat mereka semua menjadi khawatir dengan keadaan tubuh Leny kedepannya.
"Leny sayang, ayo kamu makan dulu nak. Biar Daniel, Ibu dan Wulan yang menjaganya. Kamu juga kan harus istirahat, kasian tu cucu Ibu, pasti dia merindukan kamu" bujuk Ibu Rani agar Leny mau makan dan kembali pulang untuk mengurus Damin.
"Iya kak. Kasian juga kamunya kak, kakak juga butuh istirahat" sambung Wulan ikut membujuk
"Apa kamu tega melihat Windy yang sudah hamil delapan bulan harus mengurus putra kamu?" ucap Ibu Rani menambahkan
"Tapi Bu. Kalau nanti terjadi apa-apa pada suamiku bagaimana?" tanya Leny merasa khawatir jika harus berjauhan dengan sang suami yang masih terbaring lemah di rumah sakit
"Kamu pikir Ibu dan adik kamu bakal tinggal diam sayang?!. Daniel juga kan putra Ibu, gak mungkin Ibu akan membiarkannya begitu saja jika terjadi apa-apa padanya" jawab Ibu Rani agar bisa meyakinkan menantunya itu.
"Iya kak. Kakak tenang aja deh, di jamin suami kamu bakal baik-baik saja kok" timpal Wulan tersenyum
"Yaudah Leny menurut. Tapi kalau terjadi sesuatu, kalian harus segera memberi tahu padaku, okey?" ucap Leny seperti mengancam
"Iya bawel" jawab Ibu Rani mengelus kepala menantunya
"Ayah, Bunda pulang dulu ya. Damin pasti mencari-cari Bunda, nanti Bunda ke sini lagi kok" ucap Leny meminta izin pada sang suami.
Kemudian Leny mencium pipi Daniel lalu mencium tangannya, dan tak lupa juga iya mencium punggung tangan sang mertua, bahkan iya juga masih sempat mejaili Wulan sebelum pergi dari kamar sang suami.
"Hati-hati ya sayang. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya" ucap Ibu Rani menasehati
"Iya Ibuku sayang" jawab Leny dan memeluk mertuanya lagi, kemudian ia perlahan pergi meninggalkan sang suami dengan perasaan yang masih ragu.
"Kok malah berhenti sayang?" tanya Ibu Rani
"Gak tau ni Bu, kakinya kok berat banget ya" jawab Leny cengengesan
"Lebay banget" sambung Wulan sembari mencubit pipi kakaknya
"Ih, beneran loh dek" ucap Leny
"Hehe. Yaudah kakak pulang" ucap Leny sembari mencubit hidung sang adik dengan gemasnya.
Dengan perasaan ragu, mau tak mau Leny harus pulang kerumah menemui sang putra namun harus meninggalkan sang suami sendirian di rumah sakit.
"Sabar Leny, ini hanya sebentar" gumamnya sembari berjalan menuju tempat parkir mobilnya
Saat ingin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba ia di kejutkan dengan kedatangan dua sahabatnya Silvia dan Koury yang datang menghampiri Leny. Mereka bertiga langsung berpelukan seperti sudah beberapa tahun lamanya tidak bertemu.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Koury pada Leny
"Aku harus pulang terlebih dahulu, Damin harus minum asi" jawab Leny
"Yah. Kami baru sampai, masa kamu pulang" sambung Silvia dengan nada seakan kecewa
"Uluh uluh sayangku" goda Leny memainkan dagu Silvia dengan gemas
"Aku sudah dari pagi di sini sayang-sayangku. Damin juga butuh asi dariku, Windy juga sedang hamil tua, tidak mungkin aku terus menerus menitipkan putraku pada. Lagipula di kamar suamiku ada mertuaku dan juga Wulan kok" timpalnya menjelaskan
"Tapi, tidak ada kamu tidak seru" keluh Silvia yang kekeh menginginkan agar Leny tetap tinggal
"Silvia sayang, biarkan saja dong Leny kembali kerumahnya sebentar saja. Dia juga butuh istirahat, Damin pasti merindukan Bundanya, suatu saat kamu bakal mengerti kok ketika kamu sudah menjadi nyonya Ronny" bujuk Koury
"Apa kamu tidak ingin berkumpul bertiga Koury?" tanya Silvia menyebikkan bibirnya
"Utut utut" ucap Koury dan langsung menarik Silvia dalam pelukannya
Namun Silvia ingin melepaskan pelukan dari Koury, dengan sedikit tenaga akhirnya pelukan Koury untuknya terlepas juga dari Silvia. Kemudian Silvia mengibas-ngibaskan hidungnya sembari berkata "Bau ketek"
"Hahaha" tawa Koury dan Leny
Koury merasa puas sudah mengerjai Silvia sahabatnya yang terlalu manja itu terhadap Leny dan dirinya. Diantara mereka bertiga, Silvia lah yang ingin selalu di manja oleh Leny dan Koury. Namun ia juga yang sering di kerjai oleh kedua sahabatnya itu, membuat hubungan mereka semakin dekat.
"Leny, liat tu Koury nakal" ucap Silvia dengan manja mengadu pada Leny seperti anak yang mengadu pada Ibunya.
"Uluh, uluh sini sayang, cup, cup" goda Leny yang langsung memeluk Silvia sembari mengelus-elus kepala Silvia seperti anak kecil
"Siapa yang nakal sayang?" tanya Leny dengan gemasnya pada Silvia yang seakan-akan di tindas
"Itu, tu. Tante itu Ma" jawab Silvia mengadu dengan menunjuk ke arah Koury
"Eh enak aja kamu panggil aku Tante" ucap Koury seakan tak terima kalau di panggil Tante
Kemudian Koury mendekati Silvia yang masih dalam pelukan Leny, dengan gemas Koury ingin melakukan sesuatu pada Silvia. Silvia semakin histeris dan semakin erat memeluk Leny. Tingkah Silvia yang seperti itu semakin membuat mereka berdua semakin gemas pada Silvia.
"Aduh duh. Udah dong sayang-sayangku, aku harus pulang ini loh, kok malah bercanda begini" tegur Leny sembari mencubit pipi kedua sahabatnya.