Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
HADIAH SPESIAL


Suara dari helikopter itu mulai turun ke bawah, yaitu di halaman luas depan gedung mewah milik Daniel, di sana terdapat sebuah tanah kosong yang pastinya akan muat untuk helikopter itu mendarat dengan mulus.


Angin kencang dari baling-baling helikopter yang begitu kencang sampai membuat rumput-rumput di sekitarnya bergoyang dengan sangat hebat.


Karena merasa hadiah buat sang cucu sudah mendarat dengan mulus di halaman gedung, Ibu Rani mengajak seluruh keluarga serta orang-orang keluar untuk melihat hadiah tersebut.


Mereka yang penasaran pun ikut berbondong-bondong keluar dari dalam gedung mewah itu menuju ke halaman untuk menyaksikan hadiah mewah milik bayi tampan itu.


Suara mesin helikopter yang tadinya begitu keras perlahan mulai mereda dan ayunan baling-balingnya juga perlahan mulai terhenti. keluarga Daniel berdiri tak jauh dari tempat helikopter itu mendarat.


Leny hanya bisa tercengang melihat hadiah milik sang putra pemberian dari mertuanya itu. Hadiah yang sangat mewah, harga yang begitu fantastis, hanya itu saja yang ada dalam pikirannya. Sedangkan Daniel cuma menggeleng dan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.


Leny semakin terkejut saat melihat ada dua pasang orang paruh baya yang keluar dari dalam helikopter itu dan membawa dua buah kotak yang sangat besar ukurannya. Tak hanya Leny yang terkejut saat melihat dua pasang paruh baya yang barusan keluar dari helikopter tersebut, ternyata Ayu dan juga Wulan di buat ikut kaget melihat kedua pasang paruh baya yang tengah tersenyum bahagia melihat mereka semua.


"Mama?!, Papa?!" ucap ketiga wanita cantik itu berbarengan yaitu Leny, Ayu, dan juga Wulan. yang terkejut melihat kedatangan kedua pasang paruh baya itu.


Mereka bertiga langsung berlari menuju ke tempat dimana kedua pasang paruh baya itu tengah melangkah kemudian mereka bertiga langsung memeluk kedua wanita paruh baya itu untuk melepaskan rasa rindu pada diri masing-masing. Leny dan Wulan memeluk sang Mama yaitu Yuni, sedangkan Ayu memeluk Anita selaku mertuanya.


Daniel dan yang lainnya hanya tersenyum lalu ikut menghampiri mereka. Kemudian kedua wanita paruh baya itu langsung memeluk pria tampan yang kembar itu karena merasakan rindu yang amat besar.


"Putra-putra Mama makin tampan saja" ucap Mama Anita sendu.


"Mama juga semakin tua, eh cantik hehehe" jawab Daniel mengejek.


"Kamu ini ya, sudah sekian lama tidak bertemu, sekalinya bertemu sudah berani meledek Mamanya" ucap Mama Anita geram dan mencubit pipi Daniel.


Ibu Rani yang sedari tadi menggendong Damin, kini menjadi sasaran empuk bagi kedua wanita paruh baya itu karena mereka berdua sangat merindukan cucu tampan mereka itu.


"Wah cucu Nenek sudah besar ya" ucap Mama Yuni dan langsung merebut Damin dari gendongannya Ibu Rani, membuat Mama Anita kalah start oleh mertuanya Daniel itu. Sedangkan mereka hanya bisa tersenyum bahagia melihat Damin bisa bertemu dengan ketiga Neneknya itu.


Mama Yuni langsung menciumi seluruh wajah Damin untuk mengobati rasa rindunya itu membuat Mama Anita semakin iri di buatnya karena ia juga sangat merindukan cucu tampannya itu.


"Mbak gantian dong" rengek Anita.


"Sabar dong, kan mbak juga baru menggendongnya" jawab Yuni tak mau kalah.


"Aku juga mau menggendong cucuku" ucap Anita dengan nada manjanya.


"Sudah-sudah, Mama Yuni dan Mama tidak perlu berebut begitu" sela Wulan memotong.


"Memangnya kenapa sayang?, kan Mama kangen sama cucu Mama" tanya Mama Anita dengan wajah imutnya.


"Karena sebentar lagi, Damin akan segera memiliki Adik" sambung Leny tersenyum.


"Kamu hamil lagi sayang?" tanya Mama Anita terkejut.


"Bukan Kak Leny Ma, tapi Kak Ayu" sela Wulan tersenyum.


"Bener dong Ma, bahkan ada dua lagi" jawab Leny tersenyum sedangkan Ayu hanya tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Itu berarti sebentar lagi kita akan memiliki cucu yang kembar" sambung Ibu Rani tersenyum bahagia sambil mengelus kepala Ayu.


"Wah, topcer juga kamu nak" ucap Papa Yoga merangkul bahu Dion.


"Papa sampai kalah" sambungnya dan membuat mereka semua tertawa, sedangkan Dion hanya menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.


"Selamat ya sayang" ucap Mama Anita tersenyum bahagia sambil memeluk Dion dan juga Ayu.


"Sudah, sebaiknya kita masuk kedalam. Tidak baik membuat seorang wanita yang tengah hamil muda terlalu lama berdiri di sini" ucap Papa Galuh.


"Iya bener apa kata mas Galuh. Aku juga sudah lelah membawa kotak besar ini" sambung Papa Yoga mengeluh.


"Kenapa kamu gendong terus tu kotak?, kan bisa kamu letak di bawah dulu" sela Ayah Leo memotong.


"Memangnya isinya apa?, sebuah bom?, sampai-sampai kamu takut untuk meletakkannya di atas lantai?" timpal Ayah Leo bertanya dengan candaannya.


"Dasar joks Bapak-bapak" ucap Fauzi nyeletuk dan membuat mereka semua tertawa mendengarnya.


"Yaudah Ayo masuk" ajak Daniel merangkul bahu Leny yang sedari tadi hanya tersenyum bahagia dengan hati yang berbunga-bunga karena kedatangan dari kedua orang tuanya di pesta ulang tahun putranya yang pertama.


Mereka semua masuk kedalam gedung mewah tersebut dan Damin tetap menjadi rebutan oleh kedua wanita paruh baya yang tak mau kalah satu sama lain.


"Halo Tante cantik?, apa Tante masih mengenali saya?" sapa Joe tersenyum, yang sedari tadi ternyata ia menunggu di depan pintu.


"Tentu saja Tante ingat padamu sayang" jawab Mama Yuni tersenyum.


"Cara bicara kamu dengan berbahasa Indonesia, sudah mulai lancar ya" timpal Mama Yuni tersenyum.


"Tentu saja lancar Tante. Ini semua karena Anak Tante itu" jawab Joe tersenyum menunjuk ke arah Leny menggunakan dagunya.


"Memangnya apa yang di lakukan menantuku?" sela Mama Anita penasaran.


"Menantu Tante sangat mengerikan jika saya berbicara menggunakan bahasa Jepang kalau ada beliau di tengah-tengah obrolan itu. Bahkan beliau tak segan-segan untuk memukul kepala saya jika saya menggunakan bahasa Jepang" jawab Joe mengadu.


"Itu semua juga demi kebaikan kamu tau!. Kan kamu sendri yang ingin paham akan bahasa Indonesia. Agar kamu bisa tau apa yang sedang orang-orang Indonesia bicarakan jika ada kamu di tengah-tengah mereka" sela Leny mengejek.


"Kamu kan tau kalau orang-orang Indonesia itu begitu asing dengan warga negara lain. Pasti orang itu terkadang menjadi bahan gosip para emak-emak jika melihat kamu" timpalnya.


"Iya nona muda, saya paham kok" jawab Joe pasrah.


"Hahaha begitulah sulitnya untuk menang jika berdebat dengan seorang wanita. Jangankan untuk menang, mencari seri saja sulit" sambung Daniel tertawa sambil merangkul sahabatnya yang terkena mental oleh Leny.


"Ya, anda benar bos" jawab Joe pasrah, dan mereka semua hanya mentertawakan Joe yang kalah dari Leny jika soal perdebatan.