
Setelah berdiskusi, Leny langsung turun dari mobilnya. Ia memang sengaja datang terlambat agar bisa bertemu dengan manager yang katanya sering berbuat sesuka hatinya pada bawahannya.
Ternyata di saat Leny berjalan menuju lobby kantornya, sudah banyak karyawan yang tengah ditindas oleh sosok wanita yang sedikit lebih tua darinya. Para karyawan itu hanya diam menunduk saja saat wanita itu tengah memarahi mereka.
"Mungkin wanita itu manager di kantor ini" gumam Leny.
"Ternyata dia seorang wanita" timpalnya tersenyum sinis sambil berjalan santai menuju lobby kantornya.
"Berhenti kamu!" ucap wanita itu sedikit membentak dan Leny langsung berhenti.
"Sana, bergabung sama teman-temanmu yang tidak berguna itu!" timpalnya menunjukan ke arah karyawan lainnya.
Dengan malas Leny harus menuruti perintah dari wanita tersebut, dia langsung bergabung dengan para karyawan yang terlambat lainnya. manager itu langsung meminta uang denda keterlambatan pada mereka semua.
"Sudah berapa kali kalian terlambat hah?!" ucap wanita itu membentak.
"Sesuai peraturan, bayar uang denda keterlambatan kalian!" timpalnya memarahi.
"Baru tau aku kalau terlambat harus bayar denda. Lagian kami juga hanya terlambat 10 menit, bukan berjam-jam" sela Leny melihat arlojinya.
"Siapa kau?!. Berani sekali kau melawan aturan ku?!" tanya wanita itu emosi menunjuk Leny.
"Oo.. Kamu karyawan baru ya?!" timpalnya menunjuk Leny.
"Sabar Leny sabar" batin Leny menahan emosi.
"Di sini! aku yang berkuasa!. Sampah-sampah seperti kalian harus mengikuti apa yang aku katakan!" ucap wanita itu menyombongkan dirinya.
Di saat wanita itu sedang memarahi Leny serta karyawan yang lainnya, tiba-tiba ada sosok pria yang masih terlihat sangat muda datang dan menyelonong masuk seenaknya. Namun wanita yang menjabat sebagai manager itu hanya membiarkan pria itu masuk ke dalam kantor tersebut.
"Loh!. Kenapa dia anda perbolehkan masuk?!, seharusnya dia harus di hukum dan kena denda juga dong?!" tanya Leny protes.
"Itu bukan urusanmu anak baru!" jawab wanita itu emosi.
"Tidak bisa begitu dong!. Kamu sebagai pemimpin harus adil!, jangan pilih kasih begitu!" ucap Leny protes.
"Kamu hanya anak baru di tempat ini!. Jadi jangan coba-coba berani menentang apa yang sudah ku atur di perusahaan ini!" ucap wanita itu menegur sambil menunjuk Leny.
"Sebaiknya kamu bayar saja denda ketebalannya atau kamu akan mendapatkan ganjarannya" timpalnya mengancam Leny.
"Anda mengancam ku?!" tanya Leny menantang.
"Kamu...!" ucapan wanita itu terhenti karena di potong oleh karyawati yang berdiri di sebelah Leny.
"Sudah-sudah, ini aku bayarkan denda ku dengan dia juga" ucap wanita itu melerai dan menyerahkan uang cash pada si manager.
"Untuk apa kamu melakukannya?!" tanya Leny tidak terima.
"Sudah tidak apa-apa" jawab wanita itu membawa Leny masuk ke dalam kantor.
"Urusan kita belum selesai ya anak baru!" tegur sang manager kejam itu.
"Dasar Nenek lampir" ejek Leny menjulurkan lidahnya lalu mempercepat langkahnya.
Setelah keributan tadi, kini Leny bersama rekan kerjanya yang menolongnya tadi sedang bekerja mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing, dan sesekali wanita itu membantu pekerjaan yang sedang Leny kerjakan.
"Untuk yang di depan tadi, terimakasih ya" ucap Leny tersenyum.
"Nanti aku akan mengganti uang denda yang kamu bayar tadi" timpalnya.
"Tidak usah di pikirkan" jawab wanita itu tersenyum.
"Lain kali, kamu jangan membantah aturan yang di buat oleh Bu Sarah ya" timpal wanita itu memperingati.
"Jadi nama Nenek sihir itu Sarah?" tanya Leny menahan tawanya.
"Hust!. Kalau dia denger gimana?" tegur wanita itu berbisik.
"Biarin aja. Aku yang akan berhadapan dengan dia" jawab Leny tertawa.
"Dasar kamu. Baru hari pertama saja sudah berani memberontak" ucap wanita itu tersenyum sambil menggeleng.
"Hehehe" kekeh Leny.
"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya Leny.
"Aku Olivia" jawab wanita itu menjulurkan tangannya.
"Aku Leny" ucap Leny menjabat tangan wanita yang bernama Olivia itu.
"Kamu bekerja di tempat ini, sudah berapa lama?" tanya Leny.
"Jadi, selama 2 tahun ini kamu selalu ditindas seperti ini?" tanya Leny terkejut, dan di anggukan oleh rekannya.
"Kenapa kalian tidak memberontak?" tanya Leny sedikit geram.
"Aku takut kalau Bu Sarah sampai memecat ku" jawab Olivia dengan raut wajah sedihnya.
"Jujur, aku adalah tulang punggung keluarga. Aku harus membiayai sekolah Adik-adikku, dan pengobatan Ibuku" timpal Olivia menunduk.
Seketika suasana berbuah menjadi sedih Leny juga ikut prihatin dengan nasib yang dialami oleh teman barunya itu. Leny mencoba menenangkan Olivia dengan mengelus pundaknya.
"Kalau boleh tau, memangnya Ayah kamu kemana?" tanya Leny lembut.
Olivia menggeleng sambil menyeka air matanya lalu ia menjawab "Aku tidak tau".
"Pria sampah itu telah berpisah dengan Ibuku sejak aku berusia 10 tahun" timpalnya menitihkan air matanya.
"Jadi kamu tidak bisa berbuat apa-apa di sini?, dan tidak bisa melawan karena takut kehilangan pekerjaan?" tanya Leny dan di anggukan oleh Olivia sambil membersihkan air matanya.
"Maaf ya aku sudah membuat kamu sampai sedih begini" timpal Leny mengelus pundak Olivia.
"Tidak apa-apa kok, kan kita teman" jawab Olivia tersenyum paksa, dan Leny hanya bisa ikut tersenyum.
Tiba-tiba sosok yang selalu di sebut Nenek lampir oleh Leny menghampiri meja kerja mereka dan ia langsung membanting sebuah map sampai membuat mereka berdua terkejut.
"Hey anak baru!" panggil Sarah agak membentak.
"Kau kerjakan proposal ini!, dan harus siap hari ini juga!" timpalnya sambil menunjuk sebuah map yang lumayan tebal.
"Selain Nenek sihir, ternyata anda seorang penjajah juga ya!" jawab Leny menegur.
"Dari pagi tadi kau terus saja membantah perintahku ya!" ucap Sarah semakin emosi menunjuk-nunjuk Leny.
"Kenapa? gak terima?" tanya Leny berdiri dan menantang balik.
"Sudah-sudah" potong Olivia melerai.
"Biar saya saja yang mengerjakannya, dia masih baru di sini" ucap Olivia mengambil map tersebut.
Belum selesai permasalahan antara Leny dengan manager kejam itu. Seorang pria yang pagi tadi di tegur oleh Leny tiba-tiba menghampiri mereka lalu ia sepertinya memihak pada manager tersebut.
"Ada apa ini Tante?, kenapa dari tadi pagi Tante terus marah-marah?" tanya pria itu.
"Eh keponakanku" sapa Sarah berkata manis.
"Ini, ada anak baru yang sudah berani melawan Tante mu ini sayang" jawab Sarah menunjuk ke arah Leny sambil mengadu pada keponakannya itu.
Pria itu langsung menatap Leny, dan tiba-tiba timbul pikiran kotor dalam otaknya setelah melihat kecantikan dari Leny.
"Maksud Tante, wanita cantik ini?" tanya pria itu mencoba menyentuh dagu Leny namun tangan Leny langsung menepisnya.
"Jangan sok akrab" tegur Leny menyilang kan kedua tangannya.
"Duh, cantik. Jangan galak-galak dong" ucap pria itu menggoda.
"Kau pikir aku tertarik denganmu?" tanya Leny menatap jijik.
"Sombong banget kamu ya!" tegur Sarah merasa emosi karena Leny sudah berani menghina keponakannya itu.
"Terus anda mau apa?!" tanya Leny menantang.
"Apa kau tidak tau aku siapa?!" tanya Sarah mengancam.
"Aku tau kok. Kau itu hanya seorang manusia bersifat binatang yang menyalahgunakan jabatan mu untuk menginjak-injak semua orang yang bekerja di sini!" jawab Leny yang sudah tak tahan.
Kegaduhan antara Leny dengan manager itu langsung menjadi pusat perhatian para pekerja lainnya. Ada yang merasa takut dan ada juga yang merasa senang karena akhirnya ada seseorang yang berani menentang manager kejam itu.
"Hahaha. Kau memang benar kalau aku ini adalah seorang manager di tempat ini. Tapi aku juga calon istri dari Direktur utama dari kantor Wijaya Syahputra ini, dan kamu akan segera pergi dari perusahaan milik calon suamiku ini" ucap Sarah dengan sombongnya.
"Apa? calon istri?" tanya Leny menahan tawanya.
"Hahaha, mimpimu terlalu tinggi Nenek lampir. Kamu pikir Direktur utama mau menikah dengan wanita tua sepertimu?" tawa Leny mengejek.
Sarah menjadi semakin emosi karena Leny terus mengejek dirinya. Ia tak percaya kenapa orang baru sudah berani merendahkan dirinya sampai seperti ini. Lalu ia mengangkat tangan kanannya dan berniat ingin menampar wajah Leny. Namun tiba-tiba suara seorang pria membuat ia mengurungkan niatnya.
"BERHENTI!" ucap pria itu sedikit membentak.
Kedatangan pria itu membuat suasana menjadi hening dan seluruh staf yang bekerja di kantor itu hanya menunduk ketakutan saat melihat wajah pria itu yang terus mendekati mereka. Namun Sarah malah tersenyum seakan ia sudah menang dengan kedatangan pria itu, dan Leny hanya bersilang dada saja seakan-akan tidak ada rasa takut sama sekali.