
Pukul 3 sore akhirnya Daniel pulang kerumahnya, terlihat raut wajahnya sangat lelah setelah melakukan permainan yang membuat tenaganya terkuras hampir sepenuhnya.
Namun saat melihat senyum masih dari bibir sang istri, membuat lelahnya Daniel berangsur-angsur menghilang.
Leny telah menunggu kepulangan sang suami di depan pintu. Saat ia mendengar suara mobil yang masuk kedalam pekarangan rumahnya, Leny yang sudah sangat hafal dengan suara mobil tersebut, tentu saja itu milik sang suami tercinta.
Daniel keluar dari mobil dengan raut wajah yang sangat kelelahan dan berjalan seperti tak bersemangat. Leny yang sadar akan hal itu langsung berjalan menghampiri Daniel, jika ia berlari, dia takut dengan bayi yang sudah berusia hampir 8 bulan di dalam perutnya sampai kenapa-kenapa, dan pasti akan membuat Daniel marah besar, jadi dia hanya berjalan perlahan menghampiri sang suami dengan senyuman yang sangat hangat untuk hati Daniel itu sendiri.
"Suamiku sudah kembali" ucap Leny langsung memeluk lengan Daniel dengan manja.
"Hmm. Honey" jawab Daniel lemas mengelus kepala Leny
"Kamu pasti lelah ya sayang?, ayo kita ke kamar. Kamu harus istirahat, karena nanti malam Ayah dan Ibu akan berkunjung" ucap Leny bersemangat
"Padahal tadi aku ingin minta gendong oleh kamu, tapi aku lihat kamu sangat lelah" timpal Leny sendu
Tanpa menjawab perkataan sang istri, Daniel dengan semangat langsung menggendong sang istri dan langsung menuju ke kamar mereka, Leny yang terkejut karena Daniel tiba-tiba mengangkat tubuhnya, langsung mengalungkan tangannya pada leher sang suami tercinta.
"Sayang, pasti aku makin gendut deh, dan semakin berat kan?" tanya Leny manja menyandarkan kepalanya pada dada sang suami saat di gendong
"Enggak ah honey, kamu tetap ringan dalam gendonganku ini" jawab Daniel santai seperti tak ada beban dalam tangannya.
Leny tersenyum dan langsung menghujani puluhan ciuman pada wajah Daniel, dan Daniel tersenyum bahagia mendapatkan hadiah itu dari sang istri.
Sampai di dalam kamar, Daniel membaringkan tubuh sang istri secara perlahan di atas ranjang dan dia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang sangat menempel pada tubuhnya itu.
Setelah 10 menit bertapa di dalam kamar mandi, akhirnya Daniel keluar hanya dengan balutan handuk yang menutupi benda pusaka miliknya itu.
Leny yang melihat tubuh atletis milik sang suami begitu terpesona sampai matanya tak sanggup untuk berkedip sekali pun. Dada yang bidang, dan perut yang terbentuk 6 petak. Membuat hasrat Leny memuncak ingin segera menikmati seluruh tubuh milik suami sahnya itu.
Kini mata Leny terfokus mengarah pada handuk yang hanya menutupi benda pusaka sang suami. Benda pusaka itu selalu membuat Leny terlena dan sangat menikmati benda tersebut. Tanpa ia sadari air liurnya hampir keluar dari rongga mulutnya.
Daniel tau arah mata sang istri tertuju itu. Dengan senyuman menggoda, Daniel langsung masuk lagi kedalam kamar mandi dan membuat wajah Leny langsung murung karena pemandangan indahnya telah hilang, sedangkan Daniel tertawa di dalam kamar mandi karena telah berhasil mengerjai sang istri cantiknya itu.
Leny yang kecewa dengan perilaku sang suami menjadi sangat kesal dan terus saja menggerutu sendri.
"Awas aj kamu suamiku, akan ku minta pertanggungjawaban atas perbuatanmu yang telah menodai mataku ini" gumam Leny geram
Leny turun dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi untuk menghukum suami nakalnya itu. Dengan kasar dia membuka pintu kamar mandi dan membuat Daniel sedikit terkejut mendengarnya.
"Astaga honey!, hampir copot jantungku, untung di tahan oleh paru-paru" ucap Daniel mengelus dadanya.
Tanpa sepatah kata Leny langsung mendorong sang suami sampai terpentok ke dinding dan langsung mengunci pergerakan Daniel. Sebenarnya dengan sangat mudah Daniel bisa melawan kuncian yang di berikan sang istri, namun dia hanya menuruti permainan Leny agar sang istri tidak merajuk.
Leny menatap Daniel dengan sangat tajam, dia sangat emosi karena membuat kenikmatan matanya hilang begitu saja.
"Kau harus tanggung jawab suamiku!" ucap Leny dengan nada penekanan
Leny semakin menajamkan tatapannya dan membuat Daniel menelan ludahnya karena takut melihat ekspresi wajah sang istri tercinta.
"Kau telah menodai mataku sayang!" ucap Leny penuh penekanan
"A..apa yang kamu maksud honey?" tanya Daniel gugup
Tanpa menjawab Leny langsung membuka paksa handuk yang terlilit pada pinggang sang suami, dan hanya memperlihatkan CD yang menutupi benda pusaka milik sang suami.
Leny menatap Daniel dengan senyuman sinis dan membuat Daniel semakin gugup dengan perlakuan istrinya yang begitu agresif itu.
Leny langsung menurutkan sebuah kain yang menutupi benda pusaka milik sang suami, dan terlihatlah sebuah benda yang sangat Leny sukai itu. Benda itu membuat Leny mabuk kepayang dan serasa ingin terbang jika telah terkena permainan dari benda pusaka itu.
"Ya Tuhan! apa sekarang dunia sudah terbalik?, kenapa justru aku yang di p3rk054 oleh istriku sendri" gumam Daniel menelan ludahnya.
"Sa..sayang, tolong dong jangan sekarang. Masa aku harus mandi lagi sih" Daniel merayu Leny agar tidak menerkamnya sore ini.
"Tidak bisa!, ini salah kamu suamiku!. Jadi kamu harus tanggung resikonya. Kalau soal mandi, kita bisa mandi bersama, intinya kamu harus tanggung jawab titik!." jawab Leny serius menatap Daniel dengan tajam
Leny langsung menyerang sang suami dengan nikmat, dan memainkan benda pusaka milik sang suaminya itu. Karena Leny sedang mengandung, jadi dia tak berani melakukannya secara bar-bar, ia takut bayi mereka sampai kenapa-kenapa.
pergulatan mereka sampai hampir satu jam, dan setelah Leny puas memakan sang suami. Mereka berdua pun harus mandi bersama.
Malam hari pun tiba. Mereka sudah tak sabar menunggu kedatangan Rani dan yang lainnya, terutama Wulan yang sudah sangat merindukan sosok wanita yang sudah ia anggap sebagai Ibunya sendri.
Satu persatu tamu yang di tunggu-tunggu akhirnya hadir di pekarangan rumah mewah milik Daniel tersebut. Mereka bertiga menyambut kedatangan keluarga besarnya dengan semangat dan sangat bahagia.
"Wah wah, ternyata calon adik iparku ikut hadir" goda Daniel saat melihat Dion bersama dengan Ayu.
Perkataan Daniel membuat wajah Ayu merah merona seperti tomat yang sudah sangat matang. Sedangkan Dion merasa sangat senang karena Daniel menyukai hubungannya dengan si Dokter cantiknya itu.
Mereka semua pun berkumpul di meja makan untuk melakukan makan malam bersama dan Dion sudah merencanakan sesuatu untuk membuat bahagia Dokter cantiknya itu.
Sebelum berangkat, Dion sudah memberitahu kepada Anita dan juga Yoga kalau dia ingin melamar sang Doker cantik yang telah menyuntikkan cairan-****** ***** dan kasih sayang yang sangat mendalam pada hatinya, sehingga membuat hatinya menjadi sangat hangat ketika ia sedang bersama Ayu.
Tentu saja Anita Dan juga Yoga sangat senang dengan perkataan Dion, mereka memang sangat menyukai Ayu dan berharap Dion dan Ayu akan segera bersatu dalam hubungan suami istri.
"Ehem, ehem. A..ayu?" panggil Dion sedikit ragu
"Iya, kenapa?" tanya Ayu tersenyum
Dion mengatur nafas serta detak jantungnya yang berdetak tak beraturan itu dan berfikir untuk mengeluarkan kata-kata manis agar si Dokter cantiknya itu mau menerima lamarannya itu.
"Aku suka sama kamu, aku jatuh cinta padamu, apakah kamu ingin menjadi pendamping hidupku dan menua bersamaku?" tanya Dion serius dan memegangi kedua tangan Ayu.