Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
AKHIRNYA


Chelsea sangat senang ketika Alvin mau menerima tawarannya itu. Ada yang aneh dalam hatinya, seperti perasaan nyaman saat berada di dekat Alvin.


"Ehkem, hmm. Makasih ya kamu mau aku traktir, hehe" ucap Chelsea memulai pembicaraan.


"Hehe. Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih" jawab Alvin tersenyum.


"Kita mau makan di mana?" tanya Chelsea.


"Aku ikut kamu saja, kan kamu yang mengemudi. Asal jangan terlalu mahal, aku gak mau merepotkan kamu" jawab Alvin tersenyum.


Senyuman itu membuat jantung Chelsea lagi-lagi merasa aneh dan hatinya terasa hangat, sampai membuat kedua pipinya memerah karena malu.


Setelah awal pertemuan itu, hubungan mereka semakin hari semakin dekat, dan tentunya membuat Chelsea semakin nyaman saat berada di dekat Alvin.


Alvin juga mulai bisa membuka hatinya setelah sekian lama tertutup dan terkunci. Karena menurutnya, setelah kepergian Aisyah, tidak ada lagi wanita yang bisa memenangkan hatinya lagi. Namun setelah bertemu dengan Chelsea dan sering bersama, perlahan Alvin mulai merasakan kehangatan saat bersama dengan Chelsea.


Setengah bulan kemudian...


Alvin memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya yang selama ini ia pendam terhadap Chelsea. Alvin mengajak Chelsea makan malam berdua di sebuah tempat yang sudah di sediakan oleh Alvin.


"Duh, apa dia mau menerima perasaan dari seorang pria sederhana sepertiku ya?" gumam Alvin bertanya-tanya.


Setibanya Alvin di depan rumah mewah dan besar serta di kelilingi dengan pagar besi. Alvin mencoba menenangkan diri dan terus-menerus membuang nafas panjang agar tidak terlalu tegang.


10 menit Alvin menuggu, dan tak lama wanita yang ia tunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari kandangnya. Mata Alvin sampai tak percaya ketika melihat kecantikan Chelsea yang mendatangi dirinya dengan menggunakan sebuah gaun yang sangat cantik di matanya.


Chelsea sampai salah tingkah saat mendapati perhatian seperti itu dari Alvin yang terus memperhatikannya tanpa berkedip.


"Udah dong, jangan ngeliatin seperti itu. Aku jadi malu ni" tegur Chelsea tersipu malu.


"Eh, maaf hehe. Oh iya aku mencari Chelsea, kok malah bidadari yang muncul?" tanya Alvin menggoda Chelsea.


"Ih..!, Alvino!" ucap Chelsea semakin tersipu.


"Udah ah, jangan ngegombal terus" timpal Chelsea mencoba untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Hehe, iya deh iya" ucap Alvin terkekeh.


"Ayo" ajak Alvin meminta tangan Chelsea agar di gandeng.


Chelsea tersenyum dan langsung menggandeng lengan Alvin dengan senyuman yang begitu bahagia.


"Kita mau kemana sih?" tanya Chelsea penasaran.


"Ada deh, pokonya spesial" jawab Alvin tersenyum menggoda.


"Ih, nyebelin!" ucap Chelsea menyebikkan bibirnya sembari mencubit pinggang Alvin dengan gemas.


"Maaf ya Chelsea, aku yang mengajak kamu jalan. Tapi malah menggunakan mobil kamu" ucap Alvin merasa tidak enak.


"Ah!, tidak masalah kok. Lagian aku gak pernah menuntut kamu untuk bisa memiliki ini" jawab Chelsea tersenyum tulus.


"Aku nyaman sama kamu, tak peduli dengan apa yang kau punya" timpalnya dengan senyuman yang sama.


Alvin sampai terharu mendengar perkataan itu. Selama hidupnya, baru 2 orang wanita yang berkata seperti itu padanya.


"Aisyah, aku seperti melihat kamu dalam diri Chelsea" batin Alvin tersenyum.


"Heee, malah bengong!. Ayo buruan dong" tegur Chelsea dan langsung membuyarkan lamunan Alvin.


Kemudian dua sejoli yang saling jatuh cinta itu pergi meninggalkan rumah mewah milik keluarga Chelsea, dan mereka berdua segera menuju tempat yang sudah di siapkan oleh Alvin untuk menyatakan cintanya pada wanita yang duduk di sampingnya.


Setibanya di tempat tujuan, Alvin menuntun Chelsea menuju ke sebuah meja makan yang sudah di hias seindah mungkin agar suasana dinner mereka berdua semakin romantis, dan Alvin semakin berani untuk mengucapkan niatnya.


Chelsea sangat terkesima melihat usaha yang telah dilakukan oleh Alvin hanya untuk dirinya, ia juga sudah tak sabar mendengar kata cinta dari Alvin. Karena ia yakin kalau Alvin akan menyatakan cinta padanya.


"Wah, tempatnya romantis banget, suasana seakan hangat" ucap Chelsea terkesima.


"Kamu suka?" tanya Alvin tersenyum sembari menggeser kursi untuk Chelsea duduk


"Suka banget, apa lagi ada kamu di sampingku, hehe" jawab Chelsea menggoda.


"Haha. Bisa aja kamu" ucap Alvin sembari mencolek hidung Chelsea.


Tak lama, makan yang sudah di siapkan sudah tiba di meja mereka berdua. Karena sudah sama-sama merasa lapar, mereka berdua memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum membicarakan hal yang serius.


Setelah selesai makan malam, Alvin menunjukkan niatnya pada Chelsea. Ia terus menatap wajah Chelsea sampai membuat yang di tatap tersipu malu dan salah tingkah.


"Kamu cantik sekali malam ini" ucap puji Alvin tersenyum menatap Chelsea penuh rasa cinta.


"Ka...Kamu juga tampan sekali" balas Chelsea namun ia malah gugup.


Kemudian Alvin menggenggam kedua tangan Chelsea yang berada di atas meja, dan membuat Chelsea sedikit terkejut karena Alvin menggenggam tangannya secara tiba-tiba.


"Chelsea..." panggil Alvin


"I..iya?" jawab Chelsea.


"Kamu taukan aku pernah bercerita tentang Aisyah?. Bagaimana hancurnya aku saat kehilangan dia untuk selamanya?" ucap Alvin bertanya.


"Iya aku tau, dan aku juga bisa merasakan betapa lukanya hatimu" jawab Chelsea yang ikut menggenggam tangan Alvin.


"Setelah kepergian Aisyah, aku sempat berpikir kalau tidak mungkin ada lagi wanita lain yang seperti dirinya, dan aku juga berfikir jika aku kehilangannya, maka hidupku juga sudah usai" ucap Alvin dengan wajah sedihnya, dan Chelsea semakin menggenggam erat tangan Alvin.


"Tapi, setelah aku bertemu dengan kamu, menghabiskan hari-hariku bersamamu, bercanda tawa, dan berbagi sedih bersama. Aku merasa sudah hidup kembali setelah bertahun-tahun mati" timpalnya.


"Alvino.." lirih Chelsea yang sudah menangis.


"Aku tau, derajat kita beda, status sosial kita juga berbanding jauh. Tapi perasaanku tidak bisa di bohongi." ucap Alvin.


"Mungkin aku terlalu egois, memaksakan diri untuk terus berada di sampingmu. Meskipun banyak orang yang menentangnya." timpal Alvin.


"Alvino!. Sudah berapa kali ku katakan padamu. Aku tidak peduli apa status kamu, dari keluarga mana kamu berasal, apapun kata orang-orang, aku tidak akan mendengarkan itu semua!. Karena aku sangat nyaman bersama kamu yang seperti ini" jawab Chelsea dengan lembut.


"Kedua orangtuaku juga tidak mempermasalahkan itu semua. Mereka menyukai kamu, mereka tidak peduli darimana asal usul kamu" timpalnya.


"Aku mencintai kamu Chelsea, kamu wanita kedua yang mampu melelahkan hatiku yang keras ini" ucap Alvin.


"Aku berharap kamu mau menerima cinta dari seorang pria yang tidak sederajat dengan kamu, pria yang sederhana, pria yang harus berjuang keringat untuk memenuhi keinginan kamu, pria yang..." ucapan Alvin terhenti karena di sela oleh Chelsea


"Suuuttt!" tegur Chelsea meletakkan jari telunjuknya pada bibir Alvin.


"Iya aku mau menjadi kekasihmu, aku mau menjadi Ibu dari anak-anakmu kelak, aku ingin hidup menua bersama dengan kamu" jawab Chelsea.


"Sudah lama aku menunggu momen ini tau" timpalnya menangis haru dan langsung memeluk Alvin.