
Setelah sekian lama Leo membujuk Elang, akhirnya hati sang kakak luluh juga. Ketulusan Leo membujuk kakaknya membuatnya tidak tega membantah permintaan sang adik.
"Apa ibu juga ada di sana?" tanya Elang
"Ada kak, ibu juga menunggu kalian" jawab Leo sambil meminum minumannya
Elang melihat tubuh Leo yang sangat memperhatikan. Meski mereka kembar, akan tetapi sepertinya Leo sangat tertekan di sana. Ini dia lakukan demi melindungi cita-cita kakaknya.
Elang menatap sang adik dengan tatapan sendu, ada rasa bersalah dalam benaknya karena memberikan hal yang harus dia pertanggung jawabkan sebagai seorang kakak.
"Sudahlah kak, aku senang dengan pekerjaan ini, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku" ucap Leo karena tau isi hati Elang
Elang menghela nafasnya lalu mendekati sang adik tercinta.
"Maafkan aku, karena keegoisan diriku ini sampai membuatmu menjadi seperti ini. Seharusnya aku yang di posisi itu sebagai pemimpin dark shadow" ucap Elang menepuk-nepuk pundak Leo
"Tidak masalah kak, aku harus mendukung apa yang kakak pilih. Hanya kau saudaraku satu-satunya, jadi aku harus sepenuhnya mendukungmu" jawab Leo tegas
"Makanlah, aku tak tega melihat tubuhmu yang kurus ini" ejek Elang
"Hahaha" Elang dan Leo tertawa
Setelah selesai bertemu kangen dengan sang adik, Elang buru-buru kembali kerumah sakit untuk menemui wanita yang ia cintai. Meski Elang tidak pernah menyatakan perasaannya terhadap Aqila, namun perlakuannya sangat menunjukkan kalau Elang sangat mencintai Aqila.
Di dalam kamar rawat Aqila...
Wanita cantik itu tengah sibuk dengan ponselnya, dia melihat foto-foto sang pujaan hati. Diam-diam dia sering memotret gambar Elang saat ia sedang memeriksa keadaanya
Meski hasil gambarnya tidak sebagus foto zaman Daniel, namun itu sudah terbilang keren pada masanya.
TOK TOK...
Aqila gelagapan dan langsung menyembunyikan ponselnya.
"Ma..masuk" ucap Aqila gugup
"Halo cantik" sapa Elang membuka pintu
"E...eh dok" jawab Aqila sedikit gugup
"Bagaimana keadaannya" tanya Elang tersenyum
"Ya seperti dokter lihat, aku tidak pernah bosan di sini selama ada dokter yang memeriksaku" ucap Aqila malu-malu
"Haha kamu bisa aja" jawab Elang menycolek ujung hidung Aqila
Aqila terkejut, jantungnya berdebar kencang, wajahnya memerah, dan ada perasaan yang sangat bahagia dalam hatinya.
"Ini kamu sudah membaik, mungkin nanti sore sudah boleh pulang" ucap Elang memeriksa denyut nadi Aqila
Mendengar perkataan itu bukanya merasa senang, namun dia tak rela bila harus berpisah dari Elang. Aqila sebenarnya senang jika dirinya jatuh sakit dan pastinya akan terus bertemu dengan Elang, hanya itu alsanya agar dirinya bisa berada dekat dengan pangerannya.
"Kok sedih? seharusnya kamu senang dong kalau dinyatakan sembuh" ucap Elang
"E..eh enggak kok dok, saya senang kalau sudah sehat kembali" jawab Aqila memaksa senyumannya
Elang menghela nafasnya dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatur kata-katanya yang akan ia sampaikan kepada Aqila
"Cantik.. Minggu depan aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" Elang berbicara serius
"Kemana dok?" tanya Aqila penasaran
"Ada deh, pokonya spesial. Kamu mau atau tidak?" tanya Elang sekali lagi
"Mau dok mau" jawab Aqila tersenyum semangat
Satu Minggu telah berlalu, dan Elang sudah berada di depan gerbang rumah mewah milik Aqila. Tak lama wanita cantik itu keluar dari rumahnya dan dengan semangat menghampiri Elang sang dokter tertampan menurutnya.
"Maaf lama" ucap Aqila
"Ah tidak masalah" jawab Elang mengelus kepala Aqila dan menyelipkan rambutnya pada telinganya.
Mendapat perilaku seperti itu membuat Aqila tersipu malu, timbul rasa yang sangat bahagia dalam hatinya.
"Tembak dong, jangan di gantungi mulu akunya, masa aku yang harus nyatakan cinta" batin Aqila
"Ayo masuk cantik" ucap Elang membuka pintu mobil bagian belakang
Aqila masuk, dan Elang berputar lalu membuka pintu di samping Aqila.
Elang tersenyum dan tidak menjawab.
"Jalan pak" ucap Elang tegas
"Baik tuan" jawab pak sopir lembut
Sedangan Aqila menyebikkan bibirnya karena pertanyaannya tak di jawab Elang.
"Kenapa tu bibirnya" tanya Elang menggoda Aqila
Aqila hanya menggelengkan kepalanya dan menatap jendela di sampingnya.
Elang tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Aqila dengan lembut. Sedangkan wajah Aqila lagi-lagi memerah dan dia semakin tidak berani memalingkan wajahnya ke arah Elang.
"Duh, dokter tampanku" batin Aqila kegirangan
Setelah 15 menit di dalam mobil dan tanpa adanya obrolan mereka, membuat mata Aqila menjadi berat. Elang menyadarinya dan langsung menarik kepala Aqila untuk bersandar dalam pelukannya.
"Tidurlah" ucap Elang mengelus kepala Aqila
Aqila tidak berani menunjukkan wajahnya yang sudah memerah, dia hanya mengangguk dan menenggelamkan wajahnya pada dada Elang.
Terdengar detak jantung yang beraturan dari dalam dada doker tampannya itu, membuat senyuman indah tergambar di wajah cantik Aqila dan dengan berani dia memeluk pinggang Elang, lalu ia tertidur pulas dalam pelukan sang dokter tampannya itu, terdengar dengkurannya oleh telinga Elang, Elang tersenyum lalu mengelus kepala Aqila dengan lembut.
"Aku sudah tidak sabar untuk mempertemukan kamu dengan kedua orang tuaku" gumam Elang sambil membelai kepala Aqila yang sedang tertidur pulas.
Setelah menempuh sekitar hampir 2 jam, akhirnya mereka sudah sampai di bandara.
Elang menepuk lembut pipi Aqila untuk membangunkannya, perlahan Aqila membuka matanya dan menatap wajah Elang yang tersenyum manis padanya.
Deg...
Jantung Aqila berdetak tak beraturan, melihat senyuman Elang dengan jarak yang begitu dekat di wajahnya, membuat tubuh Aqila seperti enggan untuk beranjak dari pelukan Elang.
"Gimana tidurnya cantik?" tanya Elang membelai kepala Aqila
"Nya..nyaman kok" jawab Aqila gugup
"syukur deh" ucap Elang mengacak rambut Aqila dengan pelan
Aqila langsung melepaskan pelukannya dan melihat ke arah luar mobil mereka, sedangkan sang supir sudah mengeluarkan koper milik Elang.
"Dok, ini kita kok di bandara" tanya Aqila bingung
"Iya. Dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan dokter, kita bukan berperan sebagai dokter dan pasien" pinta Elang
"Hehe, lalu kamu mau ku panggil apa?" tanya Aqila tersenyum
"Ya terserah, mau panggil aa, mas, sayang pun juga boleh" jawab Elang santai
"Hmm.. kalau untuk yang terakhir itu sepertinya belum saatnya deh" ucap Aqila memegangi dagunya
"bagaimana mana kalau paman" timpal Aqila menaik turunkan alisnya
"Pltakk" (Elang menyentil kening Aqila dengan lembut)
"Sejak kapan aku menikah dengan bibimu" ucap Elang geram
"Aduh... ih... ini udah tindakan kdrt" ucap Aqila menyebikkan bibirnya dan memegangi keningnya
"Uluh uluh cup cup cup" ucap Elang gemas mencubit kedua pipi Aqila
Sontak membuat wajah Aqila merah padam karena perlakuan dari Elang.
"Ya udah ayo" ucap Elang menggandeng tangan Aqila
Aqila hanya pasrah saat tangannya di pegang dan di tarik dengan lembut oleh Elang, dia hanya mengikuti Elang tanpa melepaskan tangannya yang di genggam Elang.
"Ma...mas?, kita mau kemana sih? mengapa harus ke bandara?" tanya Aqila
Elang memutar badannya dan tangannya membelai lembut kepala Aqila dan berkata
"Kita akan ke Jepang" Tersenyum
"Apa?! Jepang?!" tanya Aqila kaget
Dan di balas dengan anggukan lalu tersenyum manis...