
Setiba mereka berdua di ruangan guru, Saki terus menceramahi Daniel karena guru tampannya itu yang selalu menjadi pusat perhatian para wanita yang berada di sekolah itu dan sampai membuat mereka yang merupakan muridnya Daniel menjadi sedikit jengkel karena guru yang seharusnya milik mereka, malah menjadi rebutan para siswi dari kelas lainnya.
"Pokoknya Sensei tidak boleh tebar pesona lagi, jangan membuat keributan di sekolah ini" ucap Saki terus mengomeli Daniel.
Joe hanya terkekeh melihat sang kapten terus di marahi oleh muridnya sendiri, sedangkan Daniel hanya tersenyum melihat muridnya berani memarahi dirinya.
"Sa.. Saki-Chan, sudah jangan marah-marah terus" tegur Haruka melerai mereka.
"Haruka Sensei, tolong di kawal yang ketat guru kita yang tampan ini. Jangan sampai mereka sampai tergila-gila padanya" ucap Saki memohon.
"Yaudah, sekarang kamu kembali ke kelas ya. Biar saya saja yang mengurus guru kalian ini" ucap Joe terkekeh sambil merangkul Daniel.
"Baik Sensei, mohon bantuannya" jawab Saki membungkuk lalu pergi dari ruangan guru.
Setelah Saki pergi dari ruangan guru, Joe langsung tertawa melihat sahabatnya habis di marahi oleh muridnya sendiri. Karena selama mereka bersama, Joe hanya tau kalau yang berani memarahi Daniel hanya Leny dan Wulan saja. Namun ternyata ada satu wanita lagi yang berani melakukan itu pada sang kapten.
"Hahaha. Baru kali ini aku melihat ada seorang guru di beri ceramah oleh siswinya sendiri" tawa Joe mengejek.
"Itu tandanya dia sayang pada gurunya" jawab Daniel sambil mendorong kening Joe.
"Hahaha baiklah-baiklah" jawab Joe masih terus tertawa.
"Tapi aku senang kapten. Semenjak kehadiran anda di sekolahku. Murid-murid itu yang tadinya tidak niat sama sekali untuk belajar, kini mulai bersemangat lagi untuk menuntut ilmu, bahkan selama kau tidak berada di sini, mereka selalu datang ke ruangan ini hanya demi menanyakan keberadaan mu" timpal Joe tersenyum senang.
"Aku juga senang karena sudah menjadi wali kelas mereka. Sebenarnya mereka murid-murid yang cerdas, dan tidak kalah dengan murid-murid yang lain, namun karena para siswa-siswi yang terus memandang mereka sebelah mata oleh karena itu mereka menjadi malas dan selalu berbuat onar agar mendapatkan perhatian dari yang lainnya" jawab Daniel menjelaskan.
"Mereka sebenarnya memang baik, namun mereka semua berubah karena teman-teman kelas lainnya selalu memandang rendah mereka. Itu semua karena julukan kelas yang mereka tempati" sambung Miu menambahkan.
"Kalian tenang saja, aku akan merubah pandangan mereka pada murid-murid ku" jawab Daniel tersenyum.
Sepulang sekolah, Daniel yang hendak masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba di panggil oleh Haruka dan Miu.
"Daniel Sensei..." panggil Miu.
Daniel yang membuka pintu mobilnya dan hendak ingin masuk ke dalam, sontak langsung mengurungkan niatnya karena dua guru cantik itu memanggil namanya.
Daniel menoleh lalu ia bertanya pada kedua wanita cantik itu "Iya, ada apa Haruka Sensei?, Miu Sensei?" Daniel menutup pintu mobilnya kembali.
"Sebaiknya Sensei berhati-hati" jawab Miu memperingatkan Daniel.
"Hati-hati?, memangnya ada apa?" tanya Daniel lagi.
"Ini tentang kejadian tadi. Ketika Sensei sudah mempermalukan Takaoka Sensei didepan umum, pasti dia tidak akan tinggal diam setelah mendapatkan kekalahan kelak tersebut" jawab Haruka yang menjelaskan.
"Kami semua sangat tau bagaimana si Takaoka itu, dia orang yang tidak bisa terima dengan kekalahan. Dia pasti akan terus mengejar musuhnya sampai ia berhasil membuatnya tak berdaya" sambung Miu menjelaskan.
"Oh gitu. Baiklah, terima kasih karena kalian berdua sudah memberi tau saya. Kalau begitu saya pamit pulang ya, pasti istri dan putraku sudah menungguku" jawab Daniel pamit pulang pada mereka berdua.
"Hati-hati Daniel Sensei. Jika ada yang tidak beres, jangan berhenti, terus melaju saja" ucap Haruka yang merasa khawatir.
Setelah berbincang dengan rekan kerjanya, Daniel melajukan mobilnya pergi meninggalkan sekolah milik Joe untuk segera kembali ke hotel menemui istri serta putranya yang sudah sangat ia rindukan.
Ternyata di belakang mobil milik Daniel, ada 4 mobil Jeep yang sedang membuntuti. Mobil itu bukan mobil Jeep biasa yang sering di gunakan oleh warga biasa. Mobil itu merupakan mobil milik para anggota militer.
Daniel hanya tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya melihat ke empat mobil Jeep tersebut. Daniel malah memperlambat laju mobilnya seakan menunggu keempat mobil militer itu menyalip mobil miliknya.
Mengetahui kalau mereka merasa di remehkan oleh pemilik mobil mewah yang berada di depannya. Keempat mobil Jeep itu langsung menancapkan gas dan seketika mobil mereka sudah berhasil menghadang mobil milik Daniel.
Salah seorang dari keluar dari mobil Jeep itu dengan menggunakan pakaian militer yang lengkap dan tatapan mata serta ekspresi wajah yang nampak sangat penuh dengan amarah sambil berjalan mendekati mobil milik Daniel.
Bukanya merasa takut, Daniel justru malah tertawa di dalam mobil melihat ekspresi wajah dari pria tersebut. Ia merasa geli dengan orang yang berani memasang wajah seperti itu.
"Hadeh, dasar orang bodoh!. Apa dia gak sayang nyawa apa?" gumam Daniel sambil membuka pintu mobilnya.
Setelah Daniel keluar dari mobilnya, ia berjalan menuju ke depan mobilnya lalu bersandar pada mobilnya dengan bersilang dada sambil menunggu pria yang tengah marah tersebut.
Dengan ekspresi wajah malas Daniel menatap pria yang terus berjalan menuju ke arahnya. Kemudian beberapa rekan dari pria itu ikut keluar dari dalam mobil dan ikut mendatangi Daniel yang hanya bersandar seorang diri pada mobilnya tanpa ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya.
Sesampai kedelapan pria itu hadapan Daniel, mereka semua langsung mengelilingi Daniel agar mereka bisa menahan Daniel dan tidak akan membiarkan ia pergi dari mereka. Namun Daniel hanya menatap kedelapan pria yang menggunakan pakaian militer dengan tatapan malas kemudian ia menghela nafasnya.
"Apa mau kalian?" tanya Daniel malas dengan tangan yang masih bersilang dada.
"Hebat juga kau bisa sesantai ini menghadapi maut yang sudah mendekat?" tanya salah satu dari pria itu meremehkan Daniel.
"Apa kau masih belum bisa menerima kekalahan mu Takaoka Sensei?" tanya Daniel menyindir.
"Hahaha, itu hanya keberuntungan anda saja Daniel Sensei. Kali ini anda akan tamat" jawab Takaoka tertawa seakan merasa bisa mengalahkan Daniel.
"Hachim" Daniel bersin seakan tak mendengarkan perkataan dari Takaoka barusan.
"Aduh, hidung aku gatal" ucap Daniel sambil menggosok hidungnya dengan telunjuknya.
"Hoy!. Apa kau tidak mendengar perkataan dia tadi?" tanya salah satu temannya Takaoka geram karena merasa kalau Daniel tidak memperdulikan mereka.
"Apa tadi?, kalian membicarakan apa memangnya?" tanya Daniel sambil menggosok hidungnya lagi.
"Kau memang minta di musnahkan dari muka bumi ini ya?!" tanya salah satu dari mereka merasa geram karena Daniel begitu meremehkan mereka.
"Apa kau tidak tau siapa kami Daniel Sensei?!" tanya Takaoka tersenyum licik.
"Apa peduliku?, mau kalian dari kelompok badut manapun aku tidak peduli" jawab Daniel santai dan membuat mereka semakin emosi setelah mendengar jawaban dari Daniel barusan.
"Kami ini adalah anggota militer dari rembulan Hijau. Kau akan tamat karena sudah berani mengganggu salah satu dari anggota kami!" jawab salah satu dari mereka menegaskan.
"Rembulan Hijau?" batin Daniel bertanya.
"Tcih!, dasar Pak tua itu memang tidak pernah bisa mencari bawahan yang benar" batin Daniel kesal.
Setelah mendengar perkataan mereka, Daniel langsung mengeluarkan ponselnya kemudian ia menghubungi seseorang dan masih tetap tidak memperdulikan mereka.
"Datang, dan temui aku sekarang juga!. Ada yang harus kita selesaikan, nanti akan ku kirimkan lokasinya" ucap Daniel dengan nada dinginnya dari balik panggilan telepon kemudian ia langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan mengirimkan lokasi dia berada pada orang yang telah telepon.