Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENUJU KANDANG MUSUH


Setelah meluapkan emosinya, Leny langsung terduduk lesu di kursi milik sang suami sembari memijit pelipisnya yang menegang. Daniel hanya menghela nafas melihat istrinya yang terlihat sangat tidak senang dengan masalah ini.


Kemudian Wulan mendekati sang kakak, ia berusaha untuk menenangkan Leny yang masih dalam keadaan emosi. Dengan perlahan Wulan memijat pundak sang kakak yang nampak ikut menegang.


"Udah dong kak, jangan marah-marah. Entar cepat tua loh" ucap Wulan sembari memijat pundak Leny.


"Bagaimana kakak gak emosi coba dek. Tujuan kakak kesini itu ingin berlibur, bukan harus mengurusi masalah seperti ini. Kenapa anak buah kakakmu yang berada di negara ini tidak ada yang berguna sih?!, menangkap beberapa ekor tikus saja tidak mampu" jawab Leny panjang lebar.


"Masalah kecil seperti ini kenapa harus kalian juga yang turun tangan coba?" timpal Leny bertanya-tanya.


"Sabar Honey, Ayah berjanji masalah ini tidak akan sampai menggangu waktu liburan kita kok" ucap Daniel menenangkan.


"Bunda gak mau tau ya Ayah. Pokoknya sampah-sampah itu harus di tangkap hari ini juga" ucap Leny mengancam.


"Akan Bunda kulitin mereka semua" timpal Leny dengan mimik wajah penuh amarah.


"Iya Honey, Ayah akan menyerahkan mereka ke tangan Bunda nanti ya" jawab Daniel sembari mengelus kepala sang istri.


"Aku sudah menemukan mereka kak" sela Fauzi yang sedari tadi hanya berfokus pada laptop di tangannya.


"Menurut data, mereka sedang berada di salah satu tempat gelap di daerah Annecy" sambung Kevin menambahkan.


"Sudah kuduga kalau kedua adik dari tuan muda sangat hebat melacak lokasi targetnya" gumam si kepala hotel


"Lumayan jauh, dari sini bisa memakan waktu 5 jam" ucap Daniel melihat sebuah titik lokasi yang berada di layar laptopnya.


"Kalau begitu kita harus cepat Ayah. Bila perlu kita musnahkan tempat mereka" sela Leny yang langsung berdiri dari duduknya.


"Nona muda benar. Jika kita buang-buang waktu, nanti takutnya target sudah pergi dari tempat itu" tambah sang kepala hotel menyarankan.


"Mau sejauh manapun mereka, tetap akan terjangkau oleh jariku" bantah Fauzi tersenyum sinis.


"Udah gak usah banyak omong lagi. Ayo kita langsung kesana aja" ucap Leny.


"Kemungkinan kita sampai sana malam jika kita berangkat sekarang" ucap Kevin melihat ke arloji di pergelangan tangannya.


"Apa Bunda yakin ingin ikut?, Damin bagaimana?" tanya Daniel yang mengkhawatirkan sang putra jika kedua orangtuanya jauh darinya.


"Tentu saja Bunda harus ikut, Bunda ingin menghancurkan mereka dengan tangan Bunda sendri. Damin juga bukan anak yang cengeng, dia itu darah daging dari seorang pria nomor satu di Asia, jadi Ayah tidak usah takut" jawab Leny panjang lebar.


"Yaudah terserah Bunda aja deh" ucap Daniel pasrah karena tidak ingin berdebat dengan sang istri.


"Yaudah kita naik helikopter aja" ucap Leny.


"Memangnya kita ada helikopter Honey" tanya Daniel bingung.


"Beli dong suamiku" jawab Leny menyilangkan kedua tangannya.


"Beli pesawat mewah aja Ayah bisa, masa beli helikopter aja tidak mampu" timpal Leny.


"Beli helikopter udah seperti beli kerupuk aja ya" ucap Daniel tertawa sembari mengeluarkan ponselnya.


Kemudian Daniel menelpon seseorang dan orang tersebut berbicara menggunakan bahasa Prancis, sedangkan Leny hanya melongo mendengar percakapan antara sang suami dengan orang yang ia telpon.


Setelah selesai melakukan panggilan telepon, Daniel tersenyum sembari meletakkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Tadi Bunda ingin sebuah helikopter kan?" tanya Daniel.


"Sesuai permintaan sang tuan putri, helikopter sudah siap kita gunakan" timpal Daniel.


"Memang benar-benar bukan manusia biasa tuan muda ini" gumam sang kepala hotel.


Setelah itu mereka semua langsung buru-buru menuju ke tempat helikopter itu berada. Setelah sampai, Daniel langsung naik terlebih dahulu, lalu dia membantu istrinya untuk naik ke atas helikopter tersebut.


Sedangkan si kepala hotel tidak ikut karena ia harus mengawasi hotel milik Daniel, dan mereka juga memaklumi si kepala hotel itu.


"Apa semua sudah siap tuan?" tanya sang pilot helikopter.


"Sudah. Bawa kami ke kota Annecy secepatnya" ucap Leny memerintah.


"Baik nona, dengan senang hati" jawab sang pilot.


Setelah dirasa cukup aman, sang pilot mulai menerbangkan helikopternya menuju kota tujuan agar masalah masalah yang menurut Leny sangat sepele itu bisa cepat selesai dan agar mereka juga bisa kembali menikmati hari liburan mereka di negara menara Eiffel tersebut.


"Bagaimana? sudah menemukan tempat pasti mereka berada?" tanya Daniel.


"Sudah kak, mereka berada di sebuah tempat seperti diskotik kak. Namun sepertinya di dalam sana terdapat hal yang mencurigakan" jawab Fauzi namun matanya masih fokus pada layar laptopnya.


"Mencurigakan bagaimana?" tanya Leny.


"Tempat itu memang terlihat seperti tempat hiburan biasa, jika kita melihatnya dari luar. Namun jika kita memasuki tempat tersebut, tempat itu adalah salah satu sarang narkoba" jawab Kevin menjelaskan.


"Darimana kamu tau?" tanya Leny lagi.


"Menurut orang-orang yang tidak di sekitar tempat itu, di sana memang terdapat seorang pria yang menjadi bandar narkoba yang sangat licin dan berbahaya" jawab Fauzi.


"Sulit menangkapnya, dan dia juga mengaku sebagai tangan kanan dari pemimpin Dark Shadow yang tidak lain adalah kak Daniel" sambung Kevin.


"Kurang ajar!, b4n6s4t!, otak binatang!" ucap Leny tak terima, sedangkan Daniel hanya menghela nafasnya sambil menggeleng.


"Berani sekali dia membawa-bawa Dark Shadow dan juga suamiku!. B*j*ngan ini sudah kelewatan batas!. Aku akan congkel kedua bola matanya, ku patahkan kaki tangannya, aku potong-potong semua jemari tangan dan kakinya, pokonya akan aku..." ucapan Leny terhenti karena Daniel menutup mulut Leny dengan tangannya.


"Tenang Honey, tenang. Jangan terbawa emosi" ucap Daniel mencoba menenangkan sang istri.


"Bagaimana Bunda bisa tenang dan diam saja Ayah?!. Mereka sudah lancang menggunakan nama Dark Shadow demi kepentingan mereka sendiri. Bahkan ada lancang mengaku sebagai tangan kanan Ayah!" ucap Leny merasa tidak terima.


"Iya Honey iya. Ayah paham apa yang Bunda rasakan. Tapi, kita juga tidak boleh terbawa emosi dan melakukan hal yang gegabah. Kita harus tenang dan memikirkan bagaimana cara menghadapi mereka" jawab Daniel tersenyum santai.


"Ayah juga akan membersihkan nama baik dari Dark Shadow dan mereka juga pasti bakal Ayah musnahkan, Ayah berjanji" tambah Daniel agar sang istri bisa tenang dan berfikir dengan jernih.


"Apa yang di katakan kak Daniel itu benar kak. Wulan juga tidak terima dengan apa yang mereka lakukan. Merusak nama Dark Shadow, mengaku-ngaku sebagai tangan kanan kak Daniel. Itu semua tidak bisa di maafkan begitu saja" sambung Wulan menambahkan.


Leny terdiam dan meresapi apa yang di katakan oleh sang suami. Akhirnya secara perlahan kepala Leny yang tadinya memanas, sudah mulai dingin dan emosinya juga sudah mulai stabil kembali.


"Yaudah kalau begitu, Bunda mau tidur dulu Ayah, toh perjalanan masih jauh juga" ucap Leny sedikit menguap dan langsung menyandarkan kepalanya pada pundak Daniel.


Daniel tersenyum sembari mengelus kepala sang istri dan ia berkata "Iya Honey, tidurlah. Jika sudah sampai, Ayah akan membangunkan Bunda".