
Fauzi di buat terkejut oleh tutur kata dari sang Kakak ipar barusan. Bagaimana mungkin sifat kekejaman Suaminya bisa langsung menurun ke Istrinya?.
Sedangkan Eko di buat menjadi berkeringat dingin mendengar ucapan itu. Bisa-bisanya seorang wanita yang tengah hamil bisa berfikiran hal kejam seperti itu.
"H..hey!. Kau sebagai seorang wanita jangan berkata seperti itu!" ucap Eko sedikit membentak
"Jaga bicaramu tua bangka!, jangan membentak Istriku!. Nyawamu sudah dalam genggamanku!" ucap Daniel penuh penekanan
"Hahaha!.. Kau terlalu polos atau bodoh bocah?!. Kau bertindak sok hebat di kandang orang?" tawa Eko meremehkan
"Hahahaha hahaha hahaha" Daniel tertawa terbahak-bahak
"KAU SUDAH GILA YA BOCAH?!. KARENA KALIAN MAU MATI, JADI KAU TERTAWA UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA?" bentak Eko dengan suara lantang
"Hahaha, Fauzi hahaha.. si..pft.. tua bangka sepertinya salah minum obat.. hahaha" tawa Daniel semakin pecah
"Kau benar Kak hahaha. Dia sudah tua, jadi wajar ngomongnya ngelantur" jawab Fauzi ikut tertawa
"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Leny kebingungan
"Ha..ha.. haha.. Orang tua di sana sepertinya sudah putus asa sayang, jadi ngomongnya entah kemana larinya" jawab Daniel dengan sisa-sisa tawanya
"Iya tapi apa yang lucu dari pria tua itu Suamiku?" Leny semakin bingung
"Hahaha... Kakak lihat dia tu, dia sudah gak bisa apa-apa, tapi malah mengancam kita" jawab Fauzi
"Cih! dasar bocah!. Kalian hanya anak kemarin sore, jangan menentang aku yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup di jalan hitam ini" ucap Eko tak terima.
Daniel menatap dingin kearah Eko, namun tatapan dingin itu penuh dengan hasrat pembunuh yang kuat, dan membuat Eko semakin tertekan oleh pria kejam yang berada di depannya.
"Apa peduliku?!. Mau kau seribu tahun di dunia hitam, aku tetap gak takut sama orang lemah yang sok bos sepertimu!. Di sini yang kuat yang memangsa, tak peduli di kandang siapapun itu" ucap Daniel dengan nada yang dingin
"Siapa kau sebenarnya bocah?!" tanya Eko semakin emosi
"Aku takut nanti kau akan kesulitan bernafas jika kau tau identitasku" jawab Daniel
"Hahaha!. Memangnya siapa yang lebih hebat dariku?. Semenjak pemimpin Dark Shadow tewas di tanganku, seluruh organisasi di dunia hitam sudah tunduk kepadaku" tawa Eko meremehkan
"puftt" Daniel dan Fauzi menahan tawanya
"Apa yang lucu hah?!" tanya Eko semakin emosi
"Hey, hey!. Pak tua sebaiknya kau ingat umur!, jangan terlalu emosian. Nanti kena stroke loh" ejek Fauzi
"Hahaha. Membunuh pemimpin Dark Shadow?. Kau menggunakan cara kotor dengan menyabotase mobil mereka!" raut wajah Daniel berubah menjadi menyeramkan
"Apa pedulimu bocah?!. Bagiku, aku akan melakukan apapun untuk mewujudkan rencanaku!. Jangan ikut campur urusan masalahku dengan Dark Shadow" ucap Eko tak terima.
Daniel diam tak menjawab, namun dia tiba-tiba menghilang dari meja yang ia duduki dan dia sudah ada didepan pria paruh baya yang sudah terluka itu.
Daniel memaksa Eko berdiri dengan mencengkram lehernya dan langsung mengangkatnya sehingga kaki pria tua itu tak menapak tanah.
"Kau bilang bukan urusanku?!. Kau tau siapa yang kau bunuh 20 tahun yang lalu?!" tanya Daniel datar dan semakin erat mencengkram genggamannya
"Arkhhhhh" Eko kesakitan di bagian lehernya dan kesulitan bernafas
Daniel mendekati telinga Eko dan mulai membisikkan sesuatu untuknya "Mereka adalah kedua orangtuaku"
Mata Eko langsung terbelalak mendengar perkataan pria yang mencekik dirinya.
"Jadi dia anak dari pemimpin Dark Shadow yang ku bunuh dulu?. Pantas saja dia begitu dendam padaku" gumam Eko menjadi ketakutan karena merasakan hawa yang sangat berat di sekujur tubuhnya.
Daniel langsung melemparkan tubuh Eko kearah meja yang baru ia duduki tadi, hingga meja itu hancur karena menahan berat badan dari pria tua itu.
Tubuh Eko seakan mati rasa, luka di seluruh tubuhnya seperti tak bisa di rasakan lagi. Fauzi mematahkan Kaki kiri Eko dan membuat pria tua itu menjerit kesakitan.
"Eh, ups maaf. Aku pikir tadi ranting pohon" ucap Fauzi meremehkan.
"Ah Suamiku gak keren ih. Buat lebih ekstrim lagi dong!" rengek Leny merasa tak puas melihat pertunjukan yang di sajikan oleh sang Suami.
Fauzi sampai di buat melongo mendengar perkataan dari Kakak iparnya itu.
"Ini ngidam?. Ngerih banget keponakanku, masih di dalam perut aja udah sampe segitunya" gumam Fauzi
Leny melihat Adik iparnya yang tengah terbengong sambil mulut yang terbuka lebar. Dia mendekati sang Adik lalu ia langsung memukul kepalanya dan sukses membuyarkan lamunannya.
"Apa yang kau pikirkan!. Cepat kau angkat pria tua itu. Aku masih belum puas menyaksikan pertunjukan yang di suguhkan oleh Suamiku" ucap Leny geram
Leny menatap Daniel dan sedikit mengancamnya "Ingat ya Suamiku, harus ada adegan yang lebih ekstrim!, aku gak mau seperti tadi!. Gak ada manfaatnya di mataku" Leny menyilangkan kedua tangannya
"Haha. Oke-oke tuan putri, saya akan lakukan sesuai permintaan nyonya" jawab Daniel tersenyum
"Bagus" Leny mengacungkan jempolnya.
Leny melangkah dan duduk di kursi seperti seorang penonton yang tengah menyaksikan adegan action yang menegangkan itu.
"Oke sudah siap semuanya?, Fauzi bawa pria tua tak berguna itu dekat Suamiku. Dan kamu sayang, buat pertunjukan yang lebih menegangkan. Cabut saja lidahnya atau congkel salah satu bola matanya bila perlu. HEY TUA BANGKA! KAU DENGAR YA! JANGAN MELAWAN! KAU TAK SEBANDING DENGANKU!" ucap Leny seperti seorang sutradara psikopat.
Fauzi sampai menelan ludahnya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut manis Kakak iparnya itu.
"Gila, gila, gila!. Ini pasangan psikopat!" gumam Fauzi
"Oke para pemain ready?, lighting oke?, cameraman? oh maaf cameramannya saya sendiri. Ready.. rolling and action!" teriak Leny bak seorang sutradara film yang mengatur semuanya.
Daniel tersenyum melihat tingkah Istrinya yang sangat ia cintai itu. Bisa-bisanya aksi penyiksaan Suaminya di jadikan sebagai adegan Film action.
Saat Daniel ingin melancarkan pukulannya, tiba-tiba Leny memberhentikan aksinya lagi.
"CUT..CUT..CUT..", teriak Leny
"Ada apa lagi Honey?" tanya Daniel
"Propertinya mana?!. Hey kau ( Fauzi ) yang disana!. Cepat ambil propertinya!. seperti pisau, pedang, gunting, tongkat besi, dan jangan lupa bensin" ucap Leny memerintahkan Adik iparnya.
"Maaf Buk sutradara!. Bensin untuk apa ya?" tanya Fauzi mengikuti permainan mereka
"UNTUK MEMBAKAR MAYATNYA!" teriak Leny
"Udah buruan ambil saja apa yang ku minta tadi!" timpal Leny
"Ba..baik nyonya" jawab Fauzi gugup, dan langsung melaksanakan perintah dari sang sutradara dadakan itu
"Mereka bertiga memang sudah tak waras!, aku di jadikan seperti mainan saja" batin Eko
Fauzi sudah kembali serta membawa semua apa yang di perintahkan oleh Leny barusan, dan membuat Leny menjadi sangat senang.
"Ayo kita lanjutkan lagi adegan yang sempat tertunda barusan!. Ingat Suamiku! yang lebih ekstrim!, jika tidak memuaskan ku!. Jangan harap dapat jatah!" ancam Leny
"Si..siap nyonya. Akan saya buat mata anda terpuaskan" ucap Daniel memberi hormat
"ACTION!" teriak Leny
Daniel mengambil benda-benda yang telah di sediakan oleh sang Istri tadi. Ia mulai dari pisau yang sangat tajam. Daniel mencoba membuka paksa mulut pria paruh baya itu.
Dengan sedikit usaha, akhirnya pertahanan mulut kokoh dari pria tua yang sudah terluka itu terbuka juga. Dengan senyuman kejam Daniel langsung menarik keluar lidah si pria tua itu, lalu langsung memotongnya dan potongan itu di buangkan ke arah Fauzi.
"ARRRRHHHKKKKKK!!" teriak Eko kesakitan
"Kumpulkan!, kasih makan untuk Gaon!" perintah Daniel tegas
"Oke bagus!" gumam Leny masih fokus merekam
Kini pandangan mata Daniel beralih ke telinga milik pria tua itu, dan "Srett". Telinga kanan sudah terpotong.
"ARKHHHHHHH!!" teriak pria tua itu lagi
"Srett". Kini telinga kirinya menjadi sasaran Daniel
"ARKKKHHHHH!!"
"Kalau mau membunuh! langsung saja B4J1N64N!" batin Eko
Kini Daniel memaksa tubuh pria itu telentang, dan Daniel menyalakan sebatang rokoknya lalu membuang uapnya ke arah wajah si pria tua itu. Daniel menyuruh Fauzi untuk mengambil botol yang berisi bensin yang ia bawa tadi.
Setelah botol bensin di tangan Daniel, ia menatap pria yang sudah berlumuran darah dan tentu saja sudah tak berdaya itu dengan senyuman psikopatnya. Daniel mencengkram wajah milik pria tua itu dan memaksa untuk ia membuka mulutnya.
Ketika mulut sudah terbuka secara paksa, Daniel langsung menuangkan isi botol bensin itu kedalam mulut milik pria tua itu, lalu meletakkan puntung rokok miliknya kedalam mulut milik Eko yang tengah penuh dengan bahan bakar tersebut dan menutup paksa mulutnya.
"MRGKKMMMMM" teriak pria tua itu, ia merasakan seperti ada yang meledak didalam tubuhnya.
Organ dalam dari pria tua itu sudah hancur dan mungkin sudah tak bisa di gunakan kembali. Air mata terjatuh dari pupil matanya karena sakit yang begitu amat luar biasa yang ia rasakan.
"Oke lanjutkan!" teriak Leny bersemangat
Daniel mengambil pedang kesayangan dan membuka sarung yang melindungi Kilauan dari pedang miliknya itu.
Ia melihat seluruh tubuh pria yang hampir tak di kenali lagi tubuhnya. Dengan senyuman khasnya, Daniel langsung menebas satu persatu tubuh pria tua malang tersebut. Jeritan dari pria itu membuat Daniel semakin semangat mengayunkan pedang miliknya yang sangat tajam.
Darah bercucuran, sampai membanjiri sepatu yang di kenakan Daniel. Walaupun pria itu sudah tak bernyawa lagi, Daniel masih terus saja mencincang tubuhnya hingga tulangnya halus.
"CUTTTT!!!!" teriak Leny
"Oke!, itu sangat memuaskan hahaha" tawa Leny.