Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
HIDUP YANG BARU


Alvin sampai saat ini memang belum mampu melupakan Aisyah sang pujaan hatinya. Meski sudah hampir 4 tahun Aisyah pergi, namun kenangan indahnya bersama Aisyah selama 5 tahun lebih tak bisa ia lupakan begitu saja.


"Sayang... Aku sangat merindukanmu" lirih Alvin sembari membungkukkan tubuhnya di atas meja.


______________________________


Alvin tengah luntang-lantung berjalan seorang, ia seakan tak karuan di tengah malam. Entah kenapa ia selalu memikirkan Aisyah.


Disaat ia tengah berada di dalam keputusasaan, berjalan seakan tak semangat lagi untuk hidup. Tiba-tiba ada seorang wanita lewat sepintas di depannya.


Wanita itu menggunakan sebuah hijab yang sangat di kenali oleh Alvin. Mata Alvin sampai terbelak, ia terus menatap wanita itu yang terus berjalan menjauh meninggalkan Alvin.


"Aisyah?" gumamnya.


"AISYAH! HEY! TUNGGU SAYANG!" teriak Alvin merenggangkan sebelah tangannya.


Namun sayangnya wanita itu tak menghiraukan panggilan dari Alvin barusan, ia terus berjalan menjauh dari Alvin, dan Alvin terus mencoba mengejar wanita yang menurutnya itu adalah Aisyah.


Semakin Alvin berlari untuk mengejarnya, ia seakan merasa kalau wanita itu semakin menjauh darinya meskipun wanita itu hanya berjalan kaki saja. Alvin semakin mempererat larinya, namun wanita itu semakin menjauh bahkan sampai menghilang dari pandangan Alvin.


"Aisyah... huft... tunggu.. huft.." panggil Alvin dengan nafas yang sudah tersengga-sengga.


Alvin langsung terkejut saat tau wanita itu sudah menghilang dari pandangannya. Ia terus mencari keberadaan wanita itu berjalan di seluruh arah, namun mata Alvin tetap tak mampu menemukannya.


"Kok hilang?, kamu pergi kemana sayang?" gumam Alvin bertanya-tanya kebingungan.


Kemudian ia tak sengaja melihat sebuah kursi besi yang kosong, tiba-tiba kenangan indahnya terulang kembali saat melihat kursi besi itu. Karena kursi itu juga pernah menjadi tempat duduk Alvin dan Aisyah sewaktu berjalan-jalan dulu.


Alvin menyunggingkan senyumnya saat menatap kursi besi itu, dan bayangan dirinya bersama Aisyah langsung tergambar dalam matanya yang tengah asyik bercanda di kursi besi tersebut.


"Sayang, coba kamu coba bakso ini " sepintas ingatan dari Alvin terbayang saat melihat kursi itu.


Alvin menghela nafasnya dan berjalan menuju kursi besi itu untuk beristirahat sejenak karena kelelahan akibat mengejar seorang wanita yang menurutnya itu adalah Aisyah.


Alvin terduduk lemah, dengan badan yang sedikit membungkuk dan kepala yang menunduk. Kemudian tanpa ia sadari perlahan air mata mulai menetes dari kedua bola matanya.


"Apa itu tadi Aisyah?" ucapnya dengan nada sedih.


Air matanya terus menerus menetes ke tanah di bawahnya. Ia masih yakin kalau wanita yang ia lihat tadi itu adalah Aisyah.


"Assalamualaikum pangeran tampanku" ucap seorang wanita memberi salam.


Alvin sedikit tersentak, dan perlahan mengangkat kepalanya sembari menjawab salam dari wanita tersebut "Walaikumsalam"


"A..Aisyah?" timpalnya langsung terkejut saat melihat seorang wanita yang memberikan salam padanya tadi.


"Apa kabar pangeran tampanku" tanya wanita itu tersenyum manis, sedangkan Alvin hanya termenung melihat sosok wanita itu tanpa berkedip.


"Boleh aku duduk?" tanya Aisyah lagi karena sedari tadi Alvin hanya terdiam.


"Eh.. I..iya boleh bidadariku" jawab Alvin begitu gugup.


"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Aisyah dengan senyuman yang begitu manis.


"Ah?. A..aku baik kok" jawab Alvin yang masih dalam keadaan gugup tak percaya.


"Ka..kamu Aisyah? kan?, kamu bidadariku?" tanya Alvin yang masih belum yakin jika wanita yang duduk di sampingnya adalah Aisyah.


Aisyah tersenyum kemudian menjawab "Iya, ini aku pangeran tampanku".


"Kamu kemana aja sayang hiks... hiks... aku sangat merindukanmu" tangis Alvin dalam pelukan Aisyah.


Aisyah tersenyum dan mengelus-elus kepala Alvin sembari menjawab "Aku gak kemana-mana kok, aku akan selalu ada untukmu"


Alvin melepaskan pelukannya lalu ia bertanya "Lalu kenapa kamu pergi meninggalkan aku sayang?"


"Yang meninggalkan kamu hanya ragaku saja sayang. Hatiku tetap ada untuk kamu" jawab Aisyah tersenyum sembari membelai pipi Alvin.


"Kalau begitu, ayo kita langsungkan pernikahan kita" ajak Alvin dengan penuh semangat.


"Maaf sayang, aku tidak bisa" jawab Aisyah dengan wajah sedih.


"Kenapa?, kan kamu pernah berkata kalau kamu sangat ingin menikah denganku" tanya Alvin dengan wajah yang sedih juga.


"Sulit untukku menjawabnya" jawab Aisyah tersenyum pahit.


"Kamu harus membuka hati untuk wanita yang baru sayang. Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi" ucap Aisyah dengan lembut.


"Apa yang kamu katakan sayang, kamu saat ini berada di depanku. Mengapa pula kita tidak bisa bersama?" tanya Alvin kebingungan.


"Dunia kita sudah berbeda sayang. Bukalah lembaran baru, jangan bersedih lagi. Jika kamu bersedih, aku jadi merasa bersalah" jawab Aisyah sembari menggenggam erat tangan Alvin.


"Dengar, apapun yang kamu lakukan, dan apapun yang di katakan orang-orang di luar sana. Aku akan selalu mencintaimu" timpalnya.


Alvin melihat tubuh Aisyah mulai memudar dari pandangannya, membuat Alvin menjadi bingung dan semakin panik melihat tubuh sang kekasih lama kelamaan mulai transparan.


"Sayang!. Kamu kenapa?, kenapa tubuh kamu memudar begini" ucap Alvin yang panik dan semakin menggenggam erat tangan Aisyah.


Namun genggaman yang Alvin rasakan serasa menghilang dan Aisyah hanya tersenyum menatap wajah Alvin tanpa berkata apapun lagi.


"Sayang... sayang...!!" panggil Alvin lagi sesaat kemudian Aisyah langsung menghilang dari hadapan Alvin.


"SAYANG!!" teriak Alvin dan langsung terbangun dari tidurnya.


Kepala Alvin tiba-tiba terasa sedikit pusing akibat terkejut dan langsung terbangun. Kemudian ia memijit pelipisnya secara perlahan.


"Ternyata hanya mimpi" lirihnya sembari memijat pelipisnya.


"Apa maksud dari mimpi tadi ya?" Alvin bertanya-tanya.


"Sepertinya aku harus pergi ke makam Aisyah, mungkin dia merindukanku" timpal Alvin dan langsung melanjutkan pekerjaannya.


Akibat mimpinya tadi, membuat Alvin menjadi tak konsentrasi melakukan pekerjaannya lagi. Sedari tadi ia hanya termenung dan memainkan bolpoinnya saja.


"Arkhhhhh!. Besok aku harus ke makam Aisyah" ucap Alvin dengan frustasi mengacak-acak rambutnya.


_____________________________


Keesokan harinya, sebelum pergi ke rumah sakit, Alvin berniat untuk mengunjungi makam sang kekasih yang sudah hampir 4 tahun meninggalkannya untuk selamanya. Tak lupa juga ia memberikan sebuah bunga mawar kesukaan Aisyah ketika ia masih hidup dulu.


Setelah mobilnya terparkir rapih di sekitar tempat pemakaman umum tersebut, Dengan semangat Alvin mengambil bunga yang ia belikan tadi dan langsung berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir Aisyah.


"Sayang, aku datang" gumamnya sembari menuju ke dalam tempat pemakaman umum tersebut.


Dengan perlahan dan sebuah senyuman terpancar di wajahnya saat berjalan menuju makam sang kekasih, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ada seorang wanita yang sedang berada di depan makam Aisyah, dan terpaksa Alvin harus memberhentikan langkahnya dan melihat wanita itu dari kejauhan.


"Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Alvin bertanya, seakan-akan sudah mengenali siapa wanita tersebut.