Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MASIH ADA KESEMPATAN


"HAH?! 35%?!" ucap Ibu Rani yang sudah terduduk lemas di lantai karena mendengar keadaan sang putra yang sangat mengkhawatirkan.


"Enggak!, enggak! suamiku harus sembuh!" ucap Leny yang sudah menangis histeris


Mama Yuni juga sangat syok mendengar kalau nyawa menantunya dalam keadaan kritis. Leny juga sudah tak bisa membendung air matanya lagi, ia semakin menangis saat mengetahui tentang persentase dari sang suami.


Hyuga sangat tidak tega melihat mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaan Daniel yang sedang berjuang bertahan dari maut yang semakin mendekat. Dengan wajah yang sangat emosi, ia mendatangi dokter yang memeriksa Daniel dan langsung menarik kerah baju sang dokter tersebut.


"Apa kau tidak bisa menyelamatkan dia ha?!, apa tak ada cara yang lain?! B4J1N64N!" ucap Hyuga panjang lebar dengan geramnya.


Sang dokter di buat sangat ketakutan ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Meski Kevin dan Fauzi sudah menarik tubuh Hyuga agar melepaskan cengkeramannya, namun Hyuga masih mencengkram kerah baju milik dokter tersebut.


"Hyuga sudah tenang dulu, kau jangan memperkeruh keadaan!" ucap Fauzi menegurnya


"Kau ini seorang dokter!, tapi kenapa kau tidak bisa menyelamatkan sahabatku ha?!" ucap Hyuga dengan dan ia sudah mengepalkan tangannya untuk memukul sang dokter.


Saat Hyuga ingin melancarkan pukulannya, tiba-tiba tangan Ayah Leo menahannya dan sontak membuat Hyuga langsung terdiam karena di tegur oleh Ayah Leo.


"Tenang!. Jangan marah-marah seperti itu, ini rumah sakit, bukan pasar!" tegur Ayah Leo


"Tapi tuan, dia ( dokter ) tidak bisa menyembuhkan kapten" protes Hyuga menunjuk ke arah sang dokter yang hanya terdiam ketakutan.


"Kalau tuan itu tidak menahannya, mungkin wajahku sudah bonyok" batin sang dokter menatap Hyuga dengan berkeringat dingin


"Se..sebenarnya ada seorang dokter yang mampu menyembuhkan pasien" ucap dokter itu sedikit gugup


Mata Leny langsung terbelalak ketika mendengar kalau ada orang yang mampu menyembuhkan sang suami.


"Siapa dia dok?, aku siap membayarnya berapapun yang dia minta asalkan suamiku bisa sembuh" tanya Leny dengan mata yang berbinar


"Ta..tapi sangat sulit untuk bertemu dengannya" ucap dokter itu semakin gugup


"Siapa namanya?" tanya Hyuga dengan tatapan dinginnya


"Do..dokter Alvin" jawab sang dokter yang semakin takut melihat tatapan dari mata Hyuga


"Maksud anda si tangan ajaib?" tanya Leo


Dokter itu terkejut dan langsung menatap Leo seakan tak percaya kalau ia mengetahui julukan dari dokter Alvin.


"Ba.. bagaimana tuan bisa tau julukan dokter Alvin?" tanya dokter itu


"Dia itu bawahan putraku, pasien yang sedang kau rawat di dalam" jawab Leo dengan santainya


"Jadi pasien yang sedang berada di dalam adalah orang yang sangat berjasa untuk tuan Alvin?" tanya dokter itu terkejut


"Mungkin" jawab Leo


"Sebenarnya ini ada apa?!, apa hubungannya suamiku dengan si Alvin itu?!" tanya Leny yang sedari tadi hanya menyimak saja


"Kak Daniel dulu sudah membiayai sekolah Alvin, dan ia sampai menjadi dokter yang sangat hebat" jawab Fauzi memotong perdebatan itu


Rani bangkit dari duduknya dan mulai membuka suara "Ibu sampai lupa kalau masih ada Alvin"


Kini kesempatan untuk kesembuhan Daniel sudah ada di depan mata, namun sang dokter yang memeriksa Daniel tadi tidak tau dimana si tangan ajaib itu berada.


"Maaf ni tuan dan nona, saya sendiri juga tidak mengetahui dimana dokter Alvin itu berada" ucap dokter itu


Kevin tersenyum tipis dan berkata "Itu masalah kecil, kami akan mengurusnya"


"Benar sekali" sambung Fauzi dan langsung merangkul leher Kevin


"Oy!. Ini rumah sakit!, bukan taman bermain" tegur Leny


"Iya ni, tingkahnya seperti anak kecil" sambung Wulan ikut mengejek mereka


"Tega sekali kamu berkata seperti itu pada kekasihmu ini" ucap Kevin dengan wajah memelasnya


"Ih!. Sejak kapan kita menjadi pasangan kekasih?" jawab Wulan dengan nada suara seperti jijik


"Sudah!. Jangan bercanda mulu!, kita harus segera menolong menantuku!" sela Mama Yuni menghentikan perdebatan yang menurutnya tak penting


"Kalau begitu kita harus segera membawa kapten ke tempat Alvin" ucap Hyuga memberi usul


"Jangan, sebaiknya kak Daniel di rawat di sini dulu. Aku akan mencari keberadaan Alvin dan akan menghubunginya terlebih dahulu" jawab Kevin


Leny juga setuju dengan usul yang di berikan oleh Kevin barusan. Kevin pun langsung pergi keluar untuk segera mencari tau keberadaan dari sahabat mereka yang sudah lama tak ada kabar.


"Ayah, apa benar suamiku bisa di sembuhkan olehnya?" tanya Leny dan di iyakan oleh oleh Leo dengan sangat yakin


Leny tersenyum bahagia dan ia berkata "Suamiku, sebentar lagi kamu akan sembuh. Bunda dan Damin akan setia menemani Ayah"


"Dok!. Apa aku bisa melihat keadaan suamiku?" tanya Leny penuh harap.


"Maaf nona, untuk saat ini pasien harus istirahat penuh, jadi tidak boleh di jenguk" tolak dokter itu dengan se sopan mungkin


Leny menyebikkan bibirnya dan berkata "Baiklah, yang penting suamiku baik-baik saja"


"Leny sayang, sebaiknya kamu pulang dan istirahat juga, lagi pula Damin juga pasti sudah sangat merindukan kamu" ucap Ibu Rani menyarankan


"Tapi Bu, Leny harus menjaga Ayahnya Damin" tolak Leny sembari memanyunkan bibirnya


"Kan ada Ibu dan yang lainnya yang akan menjaga suami kamu sayang" bujuk Ibu Rani lagi


"Tapi Bu..." ucapan Leny terhenti karena sudah di sela oleh Mama Yuni


"Sudah kamu tenang saja sayang, ada Mama dan yang lainnya kok" sela Mama Yuni mengelus kepala putri semata wayangnya


"Iya-iya, aku pulang. Tapi kalau ada apa-apa pada suamiku, kalian semua harus memberitahu padaku" jawab Leny dan sedikit mengancam mereka dan di balas dengan anggukan oleh mereka semua.


Dengan berat hati Leny harus melangkahkan kakinya meninggalkan sang suami yang tengah berjuang bertaruh nyawa di dalam ruangan ICU itu sendirian. Kemudian ia membalikkan badannya lagi dan menatap semua anggota keluarganya yang tersenyum padanya.


"Kenapa lagi sayang?" tanya Mama Yuni


"Entah kenapa kakiku tak ingin beranjak dari tempat ini" jawab Leny dengan wajah yang penuh kesedihan


"Kakak tenang saja, aku akan menjaga suamimu" ucap Fauzi


"Kamu juga harus butuh istirahat sayang. Masalah Daniel, biar kami yang menjaganya" ujar Ibu Rani tersenyum


"Tapi Bu, aku sangat mengkhawatirkannya" jawab Leny


"Suami kamu akan baik-baik saja kok nak" bujuk Ayah Leo sembari menepuk-nepuk kepala Leny dengan lembut


"Tolonglah sayang, kamu juga harus butuh istirahat, dan Damin juga butuh asi dari kamu" bujuk Mama Yuni memohon


"Iya, kasian cucuku dari pagi belum bertemu denganmu" sambung Ibu Rani.


"Iya-iya Leny pulang" jawab Leny menyebikkan bibirnya