
Daniel sudah masuk kedalam mobil dan memberikan pesanan adik dan istrinya. Sedangkan Dion masih terbengong saat mengingat sosok kembarannya yang sangat hebat menurutnya tadi.
"Dion, Dion, Dion!" ucap Daniel mengagetkan Dion dan menyerahkan botol minuman miliknya
"Ah i...iya kak, ma...maaf" ucap Dion menerima pemberian Daniel
"Te.. terimakasih kak" timpal Dion
Daniel tersenyum dan menggeleng saja melihat sifat kembarannya itu. Namun tidak dengan Leny, dia semakin kesal melihat Dion yang begitu lembek dan seperti tidak semangat untuk hidup.
Daniel melajukan mobilnya kembali dan segera menuju rumah sang ayah.
Daniel melihat Dion dari spion atas, terlihat raut wajah yang menggambarkan kegelisahan seperti ingin menceritakan sesuatu atau bertanya kepada dirinya.
"Ada apa Dion? sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Daniel dari balik spionnya.
"Eh.. Ti..tidak ada kak hehehe" jawab Dion menjadi salah tingkah
Daniel hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menghadapi sifat dari kembarannya yang berbanding terbalik dengan dirinya, dia harus ekstra sabar dengan Dion sang adik kandungnya.
"Pasti kamu tadi melihatku sedang di keroyok kan?" tanya Daniel
"Hehehe, i..iya kak. Ma..maaf tidak membantu" jawab Dion gugup
Leny menatap Dion dengan tatapan sinis, karena dia sudah semakin geram mendengar nada bicara sang adik iparnya itu. Sedangkan Dion menjadi semakin gugup dan takut melihat ekspresi wajah dari Leny.
"Sudah, jangan begitu istriku" ucap Daniel membelai kepala Leny
Leny menghela nafasnya dengan kasar dan menghadap kearah depan lagi dan mengabaikan Dion.
Melihat ekspresi Leny Dion semakin tidak percaya diri dan menjadi semakin gugup karena sikapnya sendiri.
"Maaf ya kakak ipar, aku membuat kakak marah dengan sikapku ini. Aku juga bingung bagaimana caranya aku merubah sikapku ini, aku sudah berusaha mati-matian namun tetap aja gagal" ucap Dion sedih dan dia hanya menatap ke bawah meratapi sifatnya yang begitu lemah
Leny menghela nafas dan mencoba mengatur emosinya lalu menghadap kebelakang melihat sang adik iparnya untuk menghiburnya.
"Tidak, aku tidak marah padamu. Aku hanya sedikit risih dengan sifatmu yang berbanding jauh terbalik dari kembaran kamu ini. Tapi kamu tenang saja, aku akan meminta suamiku untuk merubah sifatmu dan melatihmu beladiri" ucap Leny tersenyum manis pada Dion
Dion mendongak dan menatap Leny. Terlihat raut wajah yang bahagia dari dirinya, dia begitu sangat senang mendengarnya.
"Benarkah? terimakasih kasih banyak kak" jawab Dion tersenyum
"Iya sama-sama. Tapi kamu harus merubah sikapku yang selalu berkata maaf terus, kamu tidak ada membuat kesalahan namun terus saja meminta maaf. Ini bukan suasana lebaran jadi jangan seperti itu, aku sudah jenuh mendengarnya" ucap Leny sedikit kesal
"Hahaha" tawa Daniel mendengar perdebatan mereka
Dion pun ikut tertawa...
"Oiya kak, apa tadi kakak mengenal keempat pria yang mengeroyok kamu?" tanya Dion
Daniel menggelengkan kepalanya..
"Mereka sepertinya sangat mengenal kamu, dan mereka menyebutmu si cupu. Sepertinya kamu selalu di tindas oleh mereka. Karena mereka meminta jatah padamu, aku juga tidak paham maksud mereka" jawab Daniel
Wajah Dion menjadi sedih mendengarnya, dia seperti merasa bersalah karena melibatkan Daniel.
"Apa itu tadi Edward dan teman-temannya?" gumam Dion
"Tapi kamu tenang saja, sepertinya mereka tidak akan berani lagi untuk menganggumu dan menindasmu lagi" ucap Daniel tersenyum untuk menghibur Dion
"Hehehe. Iya kak, terimakasih sudah membantuku" jawab Dion tersenyum
Daniel hanya mengangguk dan fokus menyetir lagi.
Leny keluar dari mobil dan langsung berlari menghampiri Rani lalu memeluknya dengan erat untuk melepaskan kerinduan dirinya pada sang mertua, dan Rani juga menyambut pelukan Leny dengan senang.
"Hmmm... Menantu ibu yang paling cantik" ucap Rani sambil memeluk Leny
Tak lama Daniel keluar dari dalam mobil, dia melihat Dion yang enggan keluar dari mobil karena merasa gugup dan takut untuk bertemu dengan paman dan bibinya. Daniel memaksa Dion dan menarik tangannya keluar dari dalam mobil.
Rani melihat anaknya seperti menarik seseorang dari dalam mobil, dia mengerutkan keningnya karena penasaran siapa yang sedang Daniel paksa keluar.
"Sayang, kalian datang bersama siapa?" tanya Rani terhadap Leny yang berada dalam rangkulannya
"Nanti Ibu juga tau sendiri" jawab Leny tersenyum
"Sayang...! siapa itu?" tanya Rani pada Daniel
"Sebentar ya Bu, harus sedikit paksaan hehehe" jawab Daniel sambil menarik-narik tangan Dion
Akhirnya pertahanan dari Dion kalah oleh tenaga dari Daniel, dia di keluarkan dari dalam mobil secara paksa oleh sang kakak.
"Ih! dasar oon!" ucap Daniel geram memukul kepala Dion
"Hehehe maaf kak" jawab Dion memegang kepalanya yang telah di pukul Daniel tadi
Rani terdiam terpaku melihat kedatangan Daniel bersama Dion sang kembaran dari anak angkatnya itu. Sedangkan Leo tersedak kopinya yang baru ia tenggak tadi.
"Uhuk..uhuk..uhuk.." Leo terbatuk-batuk melihat Daniel dan Dion
Daniel merangkul paksa Dion, sedangkan Rani masih terdiam terpaku menatap Daniel dan Dion. Sudah hampir 20 tahun dia tidak pernah bertemu dengan keponakannya itu.
Leo juga terkejut melihat Daniel membawa saudara kembarnya, dalam pikirannya pasti mereka akan minta penjelasan tentang keluarga mereka yang sesungguhnya.
"Ha..halo paman, bibi.." sapa Dion sedikit gugup
"Di..Dion?" ucap Rani terkejut
Rani mendekati Dion dan Daniel, dia meraba bagian wajah mereka berdua, perlahan air matanya menetes melihat dua orang tampan yang berada di depannya. Tak lama kemudian dia langsung memeluk mereka berdua dengan tangisan yang pecah.
"Hiks..hiks..hiks.. anak-anak ibu" tangisan Rani pecah dalam pelukan Daniel dan Dion
Daniel membelai punggung Rani dengan lembut untuk menenangkan sang ibu, sedangkan Dion masih ragu untuk menyentuh bibinya.
Tangannya ingi menyentuh Rani namun ada rasa takut untuk melakukan itu.
Leo mendatangi mereka dan menepuk-nepuk pundak Dion dan berkata
"Kamu sudah dewasa nak"
Leny juga tak sanggup menahan air matanya, dia berlari menuju Daniel dan langsung memeluknya dengan erat, terasa sesunggukannya dalam pelukan Daniel, Daniel tersenyum dan membelai lembut kepada istrinya.
Tangisan Rani membuat Dion merasakan kesedihan juga, walau baru pertama kali bertemu, tapi Dion sepertinya sudah mengenal lama sosok Rani dan Leo.
"Ayo sayang kita masuk kedalam" ucap Rani mengajak mereka masuk
Mereka semua masuk kedalam rumah. Ada raut wajah penasaran pada mereka berdua, seakan ingin meminta penjelasan yang sebenarnya pada Leo dan Rani, Rani yang paham akan hal itu dia langsung beralasan mengajak Leny untuk membantunya memasak dan membiarkan sang suami menjelaskan semua kebenarannya.
"Ayah, mohon beri penjelasan dengan jujur" ucap Daniel to the point
Leo membuang nafas kasar sedangkan Dion hanya menjadi pendengar untuk mereka.
"Huffff....! Sebenarnya ayah dan kak Elang adalah saudara kembar" ucap Leo menundukkan kepalanya
"Ha?! apa?!" Dion dan Daniel terkejut....