
Kemudian Leny mencium kening Daniel dan termenung. Dia tidak bisa lepas dari kejadian siang tadi, dia terus saja gelisah. batinnya terus berbicara tidak tenang
"Aku harap ini baik-baik saja, semoga inspektur bisa melindungi kami"
Tiba-tiba telepon milik Leny berbunyi, dia menatap layar ponselnya dan melihat nama si penelepon itu. Dia langsung terkejut.
Teman kuliahnya tiba-tiba menghubunginya. Dia bingung mengapa tiba-tiba temannya meneleponnya, karena tidak biasanya dia dapat telepon dari teman kuliahnya semenjak dia berkarier sebagai seorang aktris
Dia mengangkat teleponnya
"Iya halo ada apa Nov tiba-tiba meneleponku?"
Novi menjawab
"Haha. Ternyata kamu masih mengenaliku Len"
Leny berbicara
"Haha. Tentu saja aku masih menyimpan nomormu"
Mereka terus berbincang panjang sembari mengenang masa kuliah dulu. Karen Novi dan Leny adalah teman baik semasa kuliah, namun dia tidak tau kalau Leny sudah memiliki seorang suami
"Lalu apa yang ingin kamu katakan" tanya Leny
Novi menjawab
"Baiklah langsung ke intinya saja. Aku dan teman kita yang lainya ingin mengadakan reuni teman kuliah, kuharap kamu bisa datang"
Leny berkata
"Hah?. Reuni? kapan?"
Novi menjelaskan
"Di karenakan kamu yang begitu sibuk dengan syuting. Kami ingin meminta jadwal cuti kamu, jadi kami bisa menentukan harinya"
Leny menjawab
"Haha. Kapanpun aku bisa, tinggal atur saja, aku pasti akan hadir"
Lalu Novi menggoda Leny
"Haha. Baiklah sayang. Jangan lupa membawa pasangan ya, jika kamu sendirian, kemungkinan Aidil masih memiliki kesempatan"
Leny menjawab dan sedikit mengejek
"Haha. Kamu jangan terus menyebutkan namanya, jangan-jangan kamu yang sudah jatuh cinta padanya"
"Hahaha. Kamu jangan begitu, Aidil itu sangat menyukaimu, jadi berilah sedikit kesempatan untuknya" ejek Novi
Leny menjadi jenuh karena Novi terus membahas Aidil itu, jadi dia mencari alasan agar bisa menutup telponnya
"Oiya aku lupa, aku harus mempersiapkan berkas untuk keperluan syuting. Sampai jumpa Nov" (*mematikan telepon*)
Leny menjadi sedikit kesal karena Novi membahas tentang Aidil. Bagaimanapun Leny sudah memiliki seorang suami, namun Daniel terus memintanya untuk merahasiakan pernikahan mereka tanpa memberikan alasan yang jelas.
Leny mengomel sendiri
"Ih!. Kalau bukan karena perintah suamiku untuk merahasiakan pernikahan kami, sudah aku umumkan di media"
......AIDIL......
Aidil adalah putra dari seorang pemilik perusahaan terkemuka di Jakarta. Ayahnya adalah Dimas Pratomo, dia adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang alat elektronik. Tidak ada yang tidak tau perusahaan yang bernama "Erlangga elektronik".
Setiap hari di kampus Aidil terus menggoda dan menggangu Leny. Setiap hari juga Leny tidak memberikan respon yang baik untuknya. Pada saat pengumuman kelulusan, Aidil berencana untuk melamar Leny di saat wisuda. Namun Leny justru menolaknya mentah-mentah, dan membuat Dimas menjadi kesal dan sangat malu karena ada yang berani menolak lamaran anaknya.
Leny terus melamun tentang masa yang sangat menjijikkan pada saat kuliah dulu. Padahal dia sudah sangat beruntung bisa lulus dan berpisah jauh dari Aidil tersebut. Namun mereka akan bertemu lagi di saat reuni kelak, itu membuat Leny menjadi merasa malas untuk datang
"Jika aku tidak datang, sama saja aku tidak menghargai Novi. Dan jika aku datang, aku malas banget bertemu lelaki itu" (*batin Leny*)
Lalu Leny menatap Daniel yang tertidur dan dia tersenyum lalu berkata
"Buat apa aku pusing mikirin masalah lelaki itu, kan aku sudah memiliki seorang suami yang begitu hebat. Aku akan membawanya untuk ikut di acara reuni nanti"
Waktu menunjukkan jam 22.15, dan perlahan kelopak mata Leny menjadi semakin berat. Dia langsung menghampiri Daniel dan tertidur pulas dalam dada bidang suaminya itu.
Keesokan harinya, Leny membicarakan soalnya rencananya untuk mengajak Daniel ke acara reuninya kelak
Leny berkata
"Suamiku. Dua Minggu dari sekarang teman kuliahku ingin mengadakan reuni"
Daniel memotong pembicaraan Leny dan berkata
"Yaudah jika kamu ingin pergi, aku akan mengizinkannya"
Leny kesal dan mencubit perut Daniel
"Iihhh. Dengar dulu suamiku!"
"Hehe. Ampun nyonya, lanjutkan" jawab Daniel
Leny menghela nafas lalu berkata
"Mereka meminta agar siapa yang telah memiliki pasangan, harus membawanya. Jadi aku minta kamu ikut sayang"
Daniel mengangguk dan berkata
"Baiklah-baiklah istriku aku akan menemanimu, siapa tau ada teman kamu yang cantik di sana" (*tertawa jahat*)
Wajah Leny berubah menjadi sadis dan berkata
"Kamu!, mau aku potong itu kamu ha?!" (*cemberut*)
Daniel langsung mencium kening Leny dan pergi ke kamar mandi. Leny membereskan semua yang berada di meja makan. Setelah selesai mandi Daniel bersiap-siap untuk pergi menuju kantor
Leny mengantarkan suaminya ke depan
"Berhati-hatilah di jalan, jangan sampai membunuh orang lagi" (*merapikan dasi Daniel*)
Daniel tertawa dan menjawab
"Haha. Kamu tenang saja istriku. Oh iya nanti adik kamu Wulan akan datang, aku sudah menelponnya untuk menemanimu di rumah"
Leny mendongak dan berkata dengan wajah gembira
"Benarkah?, akhirnya aku punya teman di rumah"
Daniel mencium kening, pipi dan bibir Leny kemudian sedikit berlutut lalu mencium perut Leny dan berkata
"Anak ayah, ayah pergi bekerja dulu ya sayang. Kamu jaga bunda ya, jangan nakal-nakal di dalam situ" (*mencium perut Leny*)
Daniel pergi dengan perasaan bahagia dan Leny memberikan lambaian kasih sayang kepada suaminya. Ketika dia berbalik menuju ke dalam rumah, tiba-tiba Wulan datang dan langsung berlari menuju Leny dan memeluknya.
"Ih. Kamu adik kakak yang nakal" (*mencubit pipi Wulan*)