Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SEDIKIT OLAHRAGA


Setelah Daniel sembuh dari lukanya, kini belum ada ancaman lagi dari para musuh-musuh Dark Shadow. Daniel dan seluruh keluarganya juga menjalankan hari-hari mereka dengan santai tanpa adanya ancaman.


Hubungan para wanita juga semakin lama semakin akrab dengan Leny yang di anggap sebagai pemimpin mereka, padahal ada Anna yang merupakan kakak tertua mereka namun mereka semua meminta Leny yang memegang gang mereka karena menurut mereka Leny dan suaminya sama-sama yang paling kejam jika berhadapan dengan musuhnya.


Pada saat ini Daniel dan yang lainnya tengah berada di sebuah restoran untuk membahas rencana liburan mereka semua yang sudah di janjikan oleh Daniel pada saat Leny hamil dulu.


mereka semua masih menunggu kedatangan Alvin yang di minta Daniel untuk ikut serta dalam liburan mereka kelak. Alvin juga berkata akan memberikan sebuah kejutan untuk mereka semua.


Selang beberapa waktu, akhirnya Alvin datang bersama seorang wanita cantik yang berada di gandengan tangannya. Leny dan para wanita yang lainnya bertanya-tanya siapa wanita yang tengah di gandeng oleh Alvin.


"Ayah, siapa wanita yang di bawa oleh Alvin itu?" tanya Leny berbisik.


"Nanti Bunda juga bakal tau jawabannya" jawab Daniel tersenyum.


"Damin, siapa ya wanita yang di bawa paman Alvin kamu itu?" ucap Leny bertanya kepada sang putra yang tengah asyik memakan rotinya dalam pangkuan Leny.


"Aduh, maaf ya semuanya. Aku sedikit terlambat, hehe" ucap Alvin cengengesan.


Chelsea yang berdiri di samping Alvin hanya terdiam sambil tersenyum ramah saja saat Leny yang terus menatap dirinya.


"Tidak masalah. Coba kamu jelaskan siapa wanita cantik yang berdiri di samping kamu itu?" tanya Leny penasaran.


"Oh ini. Perkenalkan dia Chelsea" jawab Alvin.


"Ooo... Jadi dia yang namnya Chelsea?. Wanita yang selalu membuat kamu galau terus ya?" ucap Leny mengejek Alvin.


"Mulai deh. Baru juga sampai, udah di godain" ucap Alvin memutar bola matanya jengah.


"Suami-istri sama saja" timpalnya menatap Daniel.


"Heee... Aku dari tadi gak ada berkata apapun ya!" protes Daniel.


"Oh iya sampai lupa. Sayang, perkenalkan wanita yang cerewet tadi itu istrinya tuan Daniel" ucap Alvin mengejek Leny balik.


"Apa kamu bilang?, coba katakan sekali lagi?" tanya Leny sedikit geram.


"Hust!. Kamu ini" tegur Chelsea memukul lengan Alvin dengan lembut, dan membuat Alvin hanya cengengesan.


"Chelsea, bagaimana ceritanya? kenapa kalian berdua bisa bertemu dan sudah baikan seperti ini?" tanya Daniel.


"Ceritanya panjang, Bisa-bisa habis satu episode ini kalau aku ceritakan" ucap Alvin yang menjawabnya.


Kemudian Chelsea menceritakan semua yang telah mereka berdua alami, dan cerita itu membuat Leny sedikit tersentuh akan perjuangan cinta Chelsea yang begitu besar untuk Alvin.


"Gak ada otak kau ya Alvin!. Kau sia-siakan wanita yang begitu tulus cinta sama kamu itu ya!" tegur Leny menatap tajam ke arah Alvin.


"Nona jangan memarahi Alvino dong, kan ini salah aku" ucap Chelsea membela sang kekasih.


"Leny, panggil saja aku Leny. Apaan nona, nona" tegur Leny yang merasa geli jika di panggil nona.


"Uluh-uluh. Ada keponakan paman rupanya" ucap Alvin yang begitu gemas melihat Damin yang tengah sibuk dengan rotinya.


"Itu anak kalian?" tanya Chelsea yang langsung terpesona melihat baby Damin.


"Oh iya. Ini putraku, namanya Damin" ucap Leny sembari mengelus-elus kepala sang putra.


"Halo Damin" sapa Chelsea yang begitu gemas saat melihat Damin yang begitu gembul.


"Boleh aku menggendongnya?" tanya Chelsea penuh harap.


"Tentu saja" jawab Leny tersenyum dan menyerahkan Damin ke gendongan Chelsea.


"Wah ganteng banget sih kamu sayang" ucap Chelsea yang semakin gemas melihat Damin yang begitu tenang dalam gendongannya.


"Padahal baru bertemu, tapi dia seakan tidak takut padaku" timpalnya tersenyum bahagia.


"Anakku itu bijak. Dia bisa tau mana yang jahat, dan mana yang baik" ucap Daniel.


"Bukan, Damin itu tau kalau yang menggendongnya itu wanita cantik" sela Alvin menyambung, dan membuat mereka semua tertawa.


"Alvin, kamu dan Chelsea harus ikut ya!" ucap Daniel memerintah.


"Wah kalau ada si kecil yang tampan ini, aku pasti akan ikut dong" jawab Chelsea yang sudah langsung begitu menyayangi Damin.


"Haduh! lama banget sih makanannya sampai, udah lapar kali aku ni" ucap Fauzi yang tiba-tiba bersuara.


"Heee!. Yang lain pada bahas liburan ini, kamu malah mikirin perutmu itu aja" tegur Kevin yang langsung menjitak kepala Fauzi.


Tiba-tiba ada segerombolan orang datang dan langsung berbuat rusuh di restoran tersebut. Fauzi yang merasa sedikit kesal pun berkata.


"Ya ela, yang di tunggu makanannya. Eh malah sampah-sampah yang datang" keluh Fauzi dengan kesal.


"Jangan ada yang berani bergerak!" ucap salah satu dari perusuh itu sembari menyodorkan senjata apinya.


Sebagian pengunjung restoran langsung ketakutan dan hanya menuruti perintah dari preman-preman itu. Namun meja yang di tempati oleh Daniel malah santai saja dan tidak memperdulikan para preman itu.


"Pelayan!" ucap Fauzi mengangkat satu tangannya. Sedangkan para pelayan hanya menatap kearah Fauzi sembari ketakutan.


"Apa pesanan kami sudah selesai?. Buruan dong, lapar ni" timpalnya.


"Woy!. Apa kau tuli?!" tegur salah satu dari preman itu.


"Mana makanannya?" tanya Fauzi lagi tanpa memperdulikan ancaman dari preman itu.


"Wah-wah, udah bosan hidup ni orang" ucap preman itu.


"Kalian jangan berisik, aku sedang lapar" ucap Fauzi menegur.


"Hey, hey!. Apa kau tidak sadar akan posisi?" tanya preman tersebut.


Daniel menghela nafasnya, kemudian ia berdiri. Chelsea yang belum mengetahui siapa orang-orang yang duduk di satu meja bersamanya merasa ketakutan dan ia melindungi Damin karena takut bayi mungil itu kenapa-kenapa.


Leny tersenyum dan memegang pundak Chelsea sembari berkata "Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja".


"Ta..tapi mereka banyak, dan membawa senjata" ucap Chelsea berbisik.


"Semua akan baik-baik saja" sambung Anna.


"Tapi kak.." ucapan Chelsea terhenti karena di tenangkan oleh Alvin.


Daniel berjalan dengan santai mendatangi para preman itu tanpa adanya rasa takut sedikitpun dalam dirinya. Sedangkan para preman itu mengancam Daniel dengan menembakkan pistolnya ke arah atap agar Daniel ketakutan.


Akibat tembakan tersebut, beberapa pelanggan dan para pekerja di restoran itu menjadi semakin ketakutan. Namun Daniel sama sekali tidak memiliki rasa takut itu dalam dirinya. Ia justru semakin mendekat ke arah para preman itu.


"Diam di situ!, atau kau akan ku..." ucapan pria itu terhenti akibat Daniel yang tiba-tiba sudah berada di depannya dan langsung memegangi pergelangan tangan pria yang tengah menyodorkan pistol ke arahnya.


"Atau apa hmm?" tanya Daniel dengan santai dan semakin mencengkram erat pergelangan tangan si preman.


"ARKKKKHHH!!!" keluh pria itu berteriak.


Terdengar suara yang sangat nyaring dari tulang yang retak milik pria yang berani berbuat masalah di restoran tersebut. Kemudian Daniel memukul wajah pria itu sampai tersungkur dan langsung pingsan di atas lantai.


Lalu Daniel menatap ke arah rekan dari salah satu preman yang sudah ia kalahkan barusan. Dengan senyuman aneh yang tergambar dari wajahnya, dengan gerakan cepat Daniel sudah menumbangkan salah satu preman itu lagi.


Chelsea dan para orang yang belum tau tentang Daniel, di buat sangat terkejut bahkan mata mereka tak ingin berkedip karena ingin terus menyaksikan kehebatan Daniel.


"Gimana?, suamiku hebat kan?" tanya Leny tersenyum menatap Chelsea dan di anggukan oleh Chelsea.


Tak butuh banyak waktu, Daniel sudah berhasil menumbangkan semua para preman itu dan hanya tinggal tersisa satu orang saja yang masih mampu berdiri karena Daniel memang belum bermain dengannya.


Pria itu ketakutan melihat rekan-rekannya sudah pingsan dan tak berdaya berserakan di atas lantai. Lalu Daniel menatap pria itu dan membuat si preman semakin ketakutan melihat mata Daniel yang seakan mampu membunuhnya.


"Hey kau!" panggil Daniel dan membuat pria itu semakin gugup dan ketakutan.


"Kau ingin hidup kan?" timpal Daniel bertanya dan di anggukan oleh pria itu.


"Kau bawa sampah-sampah ini pergi dari sini!" ucap Daniel memerintah.


"Ta.. tapi bagaimana aku membawa mereka semua tuan?" tanya pria itu ketakutan.


"Itu bukan urusanku!. Jika kau ingin tetap bernafas!. Bawa mereka dan jangan pernah berbuat onar lagi di manapun!" jawab Daniel seakan tidak peduli.


"Jika kau melakukannya lagi, ku bakar kalian semua hidup-hidup!. ucap Daniel mengancam.