
Daniel langsung bersiap-siap untuk segera pergi ke kelas di mana dia akan mengajar murid-muridnya itu setelah perbincangan ia dengan Joe usai.
Di setiap lorong yang Daniel lewati, ia langsung menjadi pusat perhatian para murid-murid dan Guru-guru yang melihat ketampanannya terutama kaum hawa.
Lalu ada seorang Guru wanita cantik berkacamata terlihat sedang berjalan dengan buru-buru berada di depan Daniel, karena terlalu buru-buru ia tak sengaja menabrak Daniel yang sedang berpapasan dengannya. Namun dengan reflek dari pemimpin Dark Shadow itu, Daniel langsung menangkap tubuhnya agar Guru tersebut tak terjatuh ke lantai.
Kejadian itu langsung menjadi pusat perhatian para murid-murid dan juga para Guru yang melihatnya, tak banyak dari mereka yang merasa iri melihat kejadian yang menurut mereka semua itu sangat romantis.
"Wah romantis banget, aku jadi iri deh" ucap salah satu siswi yang melihat kejadian tersebut.
"Andai saja aku yang berada di posisi itu" batin seorang Guru lainnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Daniel yang masih menahan tubuh Guru wanita berkacamata itu.
"E...e..eh. Iya aku tidak apa-apa kok, maaf" jawab Guru itu tersadar dari lamunannya yang sedari tadi menatap wajah Daniel.
"Waduh... Maaf ya, aku tadi sedang buru-buru" timpal wanita itu sambil memunguti buku-bukunya yang terjatuh akibat bertabrakan dengan Daniel.
Daniel juga ikut membantu mengambil beberapa buku-buku yang masih berserakan di lantai. Saat Ia memungut sebuah buku, ia langsung terdiam dan terus memandangi buku tersebut ketika tau judul dari buku tersebut.
"Sejarah Dark Shadow?" batin Daniel
"Kok ada?" timpalnya.
Wanita berkacamata itu terus memperhatikan Daniel yang sedang termenung sambil menatap sebuah buku yang ada di tangannya. Guru wanita tersebut menjadi sedikit bingung kenapa pria yang ia tabrak itu terus termenung.
"Ano... Apakah kamu tertarik dengan buku itu?" tanya Guru tersebut.
"Jika kamu tertarik, maka baca saja, aku tidak keberatan kok" timpal wanita itu tersenyum.
Daniel tersadar dari lamunannya dan ia menjawab "Eh, tidak kok"
"Kamu suka membaca buku ini?" timpal Daniel bertanya.
"Iya suka banget" jawab wanita itu tersenyum bahagia.
"Dark Shadow juga kan memang ada di negara ini. Dark Shadow semakin berkembang karena pemimpin yang sekarang sangat kuat dan hampir tak terkalahkan. Dia mendapat julukan sebagai... pria nomor satu di Asia" timpal Guru itu menjelaskan dengan semangat.
"Ternyata dia tau banyak tentangku" batin Daniel tersenyum.
"Jika kamu tertarik, maka aku akan meminjamkan kamu buku itu" ucap Guru itu tersenyum.
"HAAAA!!!. Aku lupa, aku harus mengajar, aduh... telat, telat, telat," timpal wanita itu yang terus menatap arlojinya sambil berlari menuju ke kelas yang akan ia lakukan pembelajaran.
"Hey Sensei, buku kamu!" panggil Daniel sedikit berteriak namun Guru berkacamata itu semakin menjauh dan tak mendengar panggilan Daniel.
"Yaudah deh, nanti aku kembalikan aja pas di ruangan. Sekarang waktunya mengajar" ucap Daniel tersenyum sinis sambil memasukkan buku itu ke dalam tasnya.
Daniel berjalan dengan sangat santai menuju ke tempat ia akan mengajar. Menjadi seorang Guru untuk para murid-murid yang terkenal dengan ke berandalannya bukanlah hal yang sulit bagi Daniel, karena ia juga seorang yang lebih beringas di banding murid-murid yang menurutnya masih bau kencur itu.
Setelah Daniel berada di depan pintu kelas kegelapan tersebut, ia menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum sinis sambil membuka handle pintu kelas tersebut. Pada saat ia sudah berhasil membuka pintu tersebut, ternyata para murid-murid itu sudah menaruh sebuah jebakan di atas pintu yaitu sebuah ember yang berisikan air.
Para murid tersebut sudah tersenyum bahagia ketika Daniel membuka pintu kelas tersebut. Karena mereka berpikir kalau Guru baru mereka akan terkena jebakan konyol itu. Akan tetapi semua itu di luar ekspektasi mereka semua. Ember yang berisikan air itu malah di sikut oleh Daniel sampai malah mengenai teman mereka yang sedang tertidur pulas, dan mereka semua hanya bisa tercengang melihat refleks Daniel yang begitu peka akan jebakan tersebut.
"Siapa yang memasang jebakan jadul seperti itu?" tanya Daniel sambil berjalan santai menuju mejanya.
"Baiklah!. Perkenalkan nama saya Daniel Syahputra, saya adalah wali kelas baru kalian. Mohon kerja samanya" ucap Daniel tersenyum memperkenalkan diri.
"Hoi Sensei!" teriak salah satu siswa kelas itu.
"Ya?" jawab Daniel santai.
"Apa kau sudah bosan hidup ya?" tanya siswa tersebut seakan meremehkan Daniel.
"Kenapa kau mau mengantarkan nyawamu dengan suka rela ke tempat ini?" timpalnya bertanya.
"Ya!. Apa kau tidak tau kalau kelas ini sangat berbahaya kan?" tanya siswa lainnya menyambung.
"Sudah banyak wali kelas yang tak tahan dengan kami. Tapi kenapa Joe Sensei masih memberikan seorang wali kelas untuk kelas ini?!" timpalnya.
"Aku yang meminta pada Joe Sensei untuk menjadi wali kelas di kelas ini" jawab Daniel dengan santai sambil bersandar di kursinya dan tangan yang bersilang dada.
"Sombong sekali orang ini!" ucap seorang siswa yang terlihat seperti pemimpin di kelas itu.
Kemudian siswa itu menendang mejanya lalu berjalan menghampiri Daniel dengan tatapan seperti seorang pembunuh. Namun Daniel hanya tersenyum pahit saja menatap siswa tersebut seakan tak takut sedikitpun pada siswa yang katanya terkuat di kelas.
"Apa kau sudah pernah merasakan apa itu kematian hah Sensei?!" bentak siswa tersebut sambil menggebrak meja Daniel dan membuat murid-murid yang lain terkejut, namun Daniel masih santai menghadapinya.
"Dasar manusia sombong!" ucap siswa itu geram dan ingin mencoba memukul Daniel.
Namun Daniel langsung berdiri dan hanya menjentikkan jarinya di telinga murid tersebut. Dengan gerakan cepat Daniel langsung menggeser mejanya dan siswa dengan tiba-tiba siswa tersebut sudah di piting oleh Daniel dengan jari telunjuk yang menusuk lehernya.
Siswa-siswi yang melihat kejadian secepat kilat itu langsung terbelak. Mereka semua terkejut dengan apa yang mereka lihat, karena gerakan Daniel yang begitu cepat dan salah satu siswa itu sudah gemetar berada di tangan Daniel.
"Jika kau itu musuhku, jari ini bisa saja merobek lehermu dengan mudah, dan kau akan mati" ucap Daniel dengan nada dinginnya.
Ekspresi mereka yang tadinya meremehkan Daniel kini langsung berubah seratus persen terutama siswa yang masih berada di pitingan Daniel itu. Keringat dingin membasahi wajahnya, kaki tak bisa berhenti bergetar, kehebatan yang ia miliki langsung berubah menjadi ketakutan yang amat sangat luar biasa.
Daniel melepaskan siswa yang ia piting tadi lalu mendorongnya dan menyuruhnya untuk kembali ke tempat duduknya karena Daniel ingin memulai pembelajaran pertamanya untuk murid-muridnya itu.
"Kalian tidak perlu menatapku dengan rasa ketakutan seperti itu" ucap Daniel tersenyum.
"Anggap saja itu salah satu bentuk perkenalan dariku untuk kalian. Jika kalian ingin menjadi seorang pembunuh, jangan lakukan itu pada orang lain. Kalian bisa melakukan hal tersebut padaku, tapi aku yakin kalian tidak akan mampu untuk melakukannya, bahkan menyentuhku saja tidak akan mungkin" timpal Daniel mengejek agar para murid-muridnya punya tujuan dalam belajar.
"Jika kami bisa melakukan itu, apa Sensei akan memberikan kami imbalan?" tanya salah satu siswinya.
"Pertanyaan yang bagus" jawab Daniel tersenyum ramah.
"Baiklah. Jika salah satu dari kalian mampu membuatku terluka, aku akan memberikan sebuah hadiah berupa uang 2 miliar untuk pemenangnya" timpal Daniel dan membuat mereka semua terkejut.
Mendengar ucapan barusan, mereka semua langsung bersorak kegirangan dan menjadi bersemangat.
"Tapi, kalian harus berubah menjadi lebih baik, jangan melakukan hal-hal yang aneh lagi, dan tujuan kalian datang kemari itu untuk belajar, bukan berbuat onar, paham?!" ucap Daniel bertanya.
"Paham Sensei" ucap mereka semua bersemangat.
"Welcome to my class" ucap Daniel tersenyum.