
Daniel tersenyum dan menjawab
"Tidak masalah inspektur, Leny juga menitipkan adikmu kepadaku, jika terjadi apa-apa padanya maka aku akan habis di marahi istriku"
"Sudah ayo pulang, istriku memintaku untuk membelikannya sate, jika terlambat nanti dia ngambek" timpal Daniel
Semua anak buah Hasan dan termasuk dirinya sudah di masukan kedalam truk, kecuali Indra yang duduk disebelah Fauzi dan Daniel secara khusus. Ketika Indra tersadar dari pingsannya, dia terkejut karena sudah tertangkap dan dia mencoba memberontak namun gagal karena ada Fauzi dan Daniel yang menjaganya.
"Jangan memberontak!, jika kau melawan maka akan ku patahkan kaki dan kedua tangannmu! " bentak Daniel
Indra langsung terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia sudah pasrah karena sudah masuk perangkap. Kini seluruh anak buah Hasan dan Hasan sendiri sudah mendapatkan bayarannya atas perbuatan mereka selama ini.
"Enak ya, nanti di sana bisa makan gratis dan tidur dengan nyenyak haha" timpal Fauzi
Novi sangat bahagia karena sudah menangkap Indra yang dua bulan ia buron. Rian melirik Novi yang tersenyum sendiri sambil memperhatikan Daniel, dan Rian langsung menegurnya.
"Ingat dia suami sahabat kamu sendiri"
Novi menjawab dengan cemberut
"Ih. Iya aku tau kak, aku hanya mengaguminya saja. Leny sangat beruntung bisa menjadi istri Daniel"
Pukul 20.12 rombongan Novi dan para tersangka sudah sampai di kantor polisi Jakarta pusat. Leo menyeret para bajingan itu masuk dan Daniel menggendong Hasan yang sudah pingsan karena banyak mengeluarkan darah.
Novi dan Fauzi menyeret Indra masuk kedalam. Sifat jail milik Fauzi tak pernah hilang dari dulu, dia sesekali menendang bagian belakang milik Indra. Rian hanya menggeleng saja melihat tingkah adik seperguruan yang sudah dia anggap adiknya sendiri.
Sesampainya di dalam, mereka disambut dengan bahagia oleh jenderal Rangga. Wajahnya sangat ceria hari ini karena Novi berhasil menyelesaikan tugas yang selama dua bulan tak kunjung usai.
"Selamat malam pak" tegas Novi memberi hormat
"Wah wah akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, dan kamu sudah berhasil membawa si kancil itu. Selamat-selamat" jawab Rangga dengan mimik wajah gembira
"Lalu siapa pria yang berada di pundak tuan Daniel?" tanya Rangga
Daniel membanting Hasan ke bawah dan menjawab
"Ini sampah yang telah membuat istriku koma"
Rangga melihat Hasan yang sudah tak berdaya. Tubuh penuh luka dan memar di mana-mana, pisau milik Daniel masih tertancap dan menembus betis kiri Hasan. Meski dia mengalami luka serius namun nyawanya masih ada di dalam tubuh.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit, dan di jaga dengan ketat. Setelah sembuh kita akan memberikan dia hukuman" tegas Rangga
Rangga mendekati Daniel dan yang lainnya. Dia tak tau harus mengatakan apa untuk membayar jasa mereka yang begitu besar untuk kota kebanggaannya.
"Aku tidak tau harus dengan apa aku mengapresiasikan rasa bahagiaku karena jasa tuan Daniel beserta keluarga tuan sangat besar untuk kota ini"
Daniel menepuk pundak Rangga dan menjawab
"Apa yang bapak katakan? ini juga sudah kewajiban kami sebagai masyarakat kota ini untuk membantu aparat negara seperti kalian"
"Ya betol" timpal Fauzi mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan kedua jempolnya
Rian langsung memukul kepala Fauzi dan membuat Novi tertawa kecil melihat tingkah kakak beradik yang kocak itu. Daniel di telpon oleh sang istri untuk menagih apa yang ia pesan tadi. Setelah selesai menelepon wajah Daniel berubah seperti anak kecil yang di marahi oleh orangtuanya.
Novi mengejek Daniel
"Haha. Jadi begini kalau singa betina sudah marah, bahkan orang hebat seperti dirimu pun sampai takut"
Daniel tersenyum dan menggaruk tengkuk lehernya
"Hehe. Aku tidak takut padanya, aku hanya menghargai dia sebagai seorang istri"
Hati Daniel menjadi senang dan bahagia karena pesanan istrinya sudah ada ditangan. Dia pulang kerumah dengan perasaan gembira membawa 2 porsi sate yang Leny minta.
"Jika aku terlambat, maka dia akan minta 3 porsi ni. Tadi saja yang awalnya dia minta satu porsi, eh malah menghukumku untuk menambah satu porsi lagi. Ah aku harus cepat ini kalau tidak bakal tidur diluar" batin Daniel
Sesampainya dirumah, Wulan langsung memeluk Daniel. Dia tau kalau mereka akan menang, namun yang namanya seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya pasti akan khawatir jika sang kakak sedang bertempur. Berbeda dengan Leny, dia malah menunggu pesanan sate yang Daniel bawa.
"Lama sekali!, lihat ini anak kamu sudah menangis ingin makan sate" gerutu Leny cemberut
Daniel tersenyum dan menarik hidung Leny lalu memberikan 2 porsi sate pada istrinya. Leny sangat bahagia seperti memenangkan sebuah lotre besar. Leny langsung menarik tangan Daniel masuk kedalam dan menemaninya untuk makan.
Sesampainya di meja makan, Leny langsung membuka bungkus sate itu dan langsung melahapnya tanpa memperdulikan sang suami yang ada di sebelahnya. Daniel hanya tertawa kecil melihat tingkah laku dari istrinya yang seperti anak kecil.
Daniel membelai kepala Leny dan berkata
"Biasanya kamu khawatir jika aku bertarung?, ini malah tidak peduli dan meminta membelikan sate"
Leny menjawab dengan mulut yang di penuhi lontong sate
"Untuk apa khawatir?, aku pasti tau kalau suamiku akan baik-baik saja" Leny terus memakan sate itu tanpa memandang Daniel.
Daniel termenung dan memikirkan sesuatu. Dia merindukan sahabat koplaknya itu, dulu ketika kecil mereka sering melakukan hal sedikit nakal dengan mencuri mangga milik orang yang mereka jumpai di pinggir jalan sewaktu pulang sekolah.
Leny menatap Daniel yang tengah termenung dan kedua tangannya masih tetep memegangi tusuk sate. Dengan wajah yang belepotan bumbu sate membuat wajah cantiknya semakin lucu.
Leny bertanya dengan mulut penuh makanan
"Ada apa suamiku? mengapa kamu melamun?"
Daniel tersadar dari lamunannya dan melihat wajah Leny yang belepotan karena makanan yang ia makan itu. Dia langsung tertawa melihat istrinya yang mirip anak kecil ketika makan ice cream.
Daniel membersihkan kotoran bekas makanan di pipi Leny dan menjawab
"Aku merindukan Riski, bagaimana keadaan dia di Hawaii ya?"
"Dia kan sedang berbulan madu suamiku, biarkan lah mereka berbahagia" jawab Leny dan langsung memakan sate itu dengan lahap.
Pagi hari yang cerah di negara Hawaii
Riski dan Windy berbulan madu di negara Hawaii. Ini adalah hadiah dari sang ibu angkatnya Riski. Windy berdiri di jendela hotel sembari menikmati pandangan indah sebuah pantai yang berada tepat di dekat hotel mereka. Angin pantai yang bercampur aroma dari air pantai membuat suasana semakin nyaman dan pikiran Semakin tenang.
Riski yang baru bangun tidur, melihat sang pujaan hati tengah termenung menatap pantai nan indah itu. Riski menghampiri Windy dan langsung memeluknya dari belakang, sontak membuat Windy tersadar dari lamunannya.
Riski mencium pundak Windy dan bertanya
"Ada apa sayang? kenapa kamu termenung pagi-pagi begini?"
"Aku tengah memikirkan keluarga Daniel sayang" jawab Windy
Riski mengerutkan keningnya dan bertanya lagi
"Apa yang kamu pikirkan tentang mereka?"
Windy menghela nafas dan berkata
"Apa kamu sudah lupa dengan hadiah-hadiah yang mereka berikan pada kita waktu menikah?"
Riski tersenyum dan mengangguk saja
"Daniel yang memberikan sebuah cek dengan jumlah uang yang sangat banyak, Ayah Leo yang memberikan sebuah rumah, dan ibu Rani yang memberikan sebuah mobil serta tiket kita untuk berbulan madu. Semua itu membuatku tak bisa tenang, bagaimana caranya membalas kebaikan mereka"