
Jam menunjukkan pukul 16.20 waktu setempat. Daniel memutuskan untuk mengantarkan keluarganya untuk kembali ke hotel mereka karena ada sesuatu hal yang ingin ia lakukan terhadap pengendara motor yang hampir membuat istrinya terluka siang tadi.
Ini sudah sore, sebaiknya kita kembali ke hotel. Jika kita pulang malam, aku takut cuaca berubah menjadi dingin seperti kemarin. Kasian Damin kedinginan nanti" ucap Daniel mengajak mereka semua kembali ke hotel dan mereka semua hanya setuju dengan apa yang di katakan Daniel karena mereka juga harus membersihkan diri masing-masing.
Daniel meminta tolong kepada sang ibu untuk berada di samping Leny, dan Chelsea yang menggendong Damin karena permintaan dari Chelsea sendiri. Daniel hanya setuju dengan perkata dari Chelsea mengingat musuh-musuh lamanya tidak akan mengenali kekasih dari sahabatnya itu. Sedangkan Daniel berjalan di paling belakang bersama Kevin untuk menjaga-jaga situasi.
Keluarga Daniel berjalan menuju ke mobil mereka masing-masing dengan Daniel dan Kevin selalu waspada dengan keadaan sekitarnya karena ia takut akan ada lagi pembuat onar yang menyerang.
Mereka sampai di hotel pukul 17.50 setempat. Memakan waktu satu jam lebih karena jalan raya kota tengah ramai-ramainya warga yang berlalu lalang hingga menyebabkan kemacetan yang lumayan panjang.
Setelah semu mobil yang di bawa oleh keluarga Daniel terparkir. Daniel mengajak Kevin, Dion untuk segera pergi ke markas besar milik Dark Shadow untuk melakukan interogasi pada pengendara motor yang hampir membuat istrinya celaka.
Ketika henda ingin melajukan mobilnya, tiba Leny berlari dan langsung berdiri di depan mobilnya Daniel hingga membuat Daniel menginjak pedal rem secara spontan karena terkejut melihat sang istri yang sudah berdiri di depan secara tiba-tiba.
"Astaghfirullah Honey" ucap Daniel terkejut dan langsung mematikan mesin mobilnya.
Dengan wajah yang cemberut Leny mendekati Daniel dan sedikit membungkuk karena mereka mengobrol melalui jendela mobil Lamborghini milik sang suami.
"Bunda mau ikut" rengek Leny dengan nada manjanya dan wajah yang begitu imut menurut matanya Daniel.
Daniel keluar dari dalam mobilnya lalu ia langsung memeluk Leny sambil membujuknya agar sang istri tak ikut dengannya.
"Jangan deh Honey" bujuk Daniel sambil mengelus kepala belakangnya Leny.
"Kenapa Bunda gak boleh ikut?" tanya Leny cemberut.
"Bahaya Bunda. Ayah takut Bunda tidak akan kuat jika melihatnya" jawab Daniel menjelaskan sambil terus membujuk istri tercintanya.
Ibu Rani yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan antara putra dan menantunya akhirnya angkat bicara. Ia merasa tak tega melihat wajah menantunya yang terus merengek pada putranya karena ingin ikut mengintrogasi pengendara motor itu.
"Sudahlah sayang, bawa saja istrimu ini. Masalah Damin, Ibu yang akan menjaganya" ucap Ibu Rani sambil mengelus kepala sang menantu.
Daniel menghela nafasnya dan mau tak mau harus membawa istri ke markas besar yang dimana sudah banyak bawahannya Daniel menunggu kedatangannya untuk mengeksekusi pria yang masih pingsan di bagasi mobil milik Daniel.
Dion yang merasa penampilan dengan markas besar milik sang Kakak ia juga meminta ikut kesana dan di anggukan oleh Daniel karena ini juga untuk memperkenalkan Dion pada anggota Dark Shadow lainnya.
Daniel membukakan pintu mobil untuk sang istri dan Leny tersenyum lalu mencium pipi Daniel kemudian ia masuk ke dalam mobil di ikuti Dion serta Kevin yang membawa mobil sendiri.
Lalu Daniel melajukan mobilnya pergi ke markas besar miliknya untuk segera mengetahui maksud dari pengendara motor itu yang hampir membuat istrinya terluka.
Perjalanan menuju ke markas miliknya tidak memakan waktu lama. Setelah 20 menit menempuh perjalanan, akhirnya kedua mobil mewah itu sudah tiba di depan sebuah gedung yang begitu mewah dan sangat besar.
Daniel memanggil bawahannya yang tengah berjaga di depan pintu untuk mengangkat pria yang ada di dalam mobilnya. Dengan buru-buru kedua bawahannya Daniel langsung membawa pria yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri menuju ke dalam markasnya.
Kemudian Daniel menyuruh bawahannya untuk segera mengikat pria yang masih tak sadarkan diri itu di sebuah tiang besi yang berbentuk seperti gawang sepak bola dengan posisi tangan terangkat dan tubuh berdiri.
Lalu Leny meminta pada bawahannya untuk memindahkan kursi milik Daniel di depan pria yang tengah pingsan itu. Setelah kursi milik sang suami sudah berada di depan pria tersebut, Leny duduk dengan bersilang dada dan bersilang kali sembari menunggu pria tersebut tersadar.
Tak lama kemudian pria yang babak belur itu tersadar dari pingsannya, dan Leny yang menyadari kalau pria itu tersadar, ia langsung melihat arloji miliknya.
"19.50. Terlalu nyenyak tidurnya ya?" tanya Leny tersenyum penuh arti menggunakan bahasa Inggris.
"Siapa kalian?" tanya pria itu menggunakan bahasa Inggris.
"Apa kau lupa siapa orang yang hampir kau buat terluka?" tanya Leny.
"Langsung ke intinya saja!" sela Daniel memotong.
"Apa maksud dan tujuanmu melakukan itu pada istriku?!" tanya Daniel dengan nada dinginnya.
"Cih!. Itu bukan urusanmu" decak pria itu menjawab.
Leny berdiri dari kursinya dan langsung menjambak rambut pria itu karena pria itu membuat kesabaran dirinya habis.
"Jawab!" bentak Leny geram.
"Mau kalian siksa seperti apapun aku, aku tidak akan pernah mau menjawabnya" ucap pria itu menantang.
"Oke" jawab Leny dan langsung melepaskan tangannya dari kepala pria tersebut.
Leny tersenyum psikopat lalu ia pergi mencari sesuatu di kotak senjata milik Daniel yang berada di dalam markas miliknya. Setelah ia menemukan senjata yang tepat, ia langsung tersenyum senang lalu menghampiri pria yang terikat itu.
"Ma..mau apa kau?!" tanya pria itu ketakutan saat Leny mendekati dirinya dengan senjata di tangannya.
"Kau sendiri yang berkata. Meskipun aku menyiksamu, kau tidak akan mau buka mulut" ucap Leny sambil memainkan sebuah senjata yang ada di tangannya yaitu sebuah pisau.
Dion hanya bisa menelan ludahnya secara kasar melihat Kakak iparnya yang nampak begitu mengerikan. Ia tak pernah tau kalau Leny memilik sifat seperti itu dan ini kali pertamanya ia melihat Kakak iparnya yang begitu menyeramkan.
"Aku baru tau kalau Kakak ipar seperti ini" batin Dion merasa ngerih.
"Kau tau sedang berada dimana?" tanya Leny semakin mendekati pria itu yang sudah berubah menjadi ketakutan karena Leny menempelkan pisaunya pada leher pria itu.
"Kau memasuki kandang seekor singa yang tengah kelaparan. Kau pasti sudah tau apa yang akan terjadi pada mangsanya" timpal Leny tertawa psikopat.
Pria itu langsung berubah menjadi berkeringat dingin. Yang tadinya ia begitu percaya diri dan menantang. Kini malah berbuah seperti seekor tikus yang tertangkap kucing.
"Aku ingin tau sampai dimana kau akan bertahan" ucap Leny sambil memainkan pisau yang berada di tangannya.
"Baiklah-baiklah, aku akan mengatakannya" jawab pria itu ketakutan melihat benda tajam yang berada di tangannya Leny.
"Semua ini perintah dari grup Valkery" timpal pria itu gugup
"Valkery?" gumam Daniel bertanya-tanya.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Daniel kebingungan.
"Ketua grup Valkery yang bernama William, ia adalah putra dari pemimpin green gun" jawab pria itu menunduk pasrah.
"Jadi dia mencoba membalas dendam terhadapku?" tanya Daniel lagi dan di anggukan oleh pria itu.
"Cari informasi tentang William dan grup Valkery, besok aku ingin bertemu dengannya. Akan ku selesaikan masalah ini secepatnya agar tidak ada korban lagi" perintah Daniel pada Kevin.