
Setibanya Leo dan yang lainnya di dalam kantin itu, mereka terkejut saat melihat Daniel tengah menyiksa seorang pria yang sudah babak belur dan hampir tak sadarkan diri.
Sedangkan Leny hanya melihat saja seakan tak takut dengan apa yang sedang di lakukan oleh sang suami. Lalu Wulan langsung menghampiri Leny yang tengah berdiri tak jauh dari Daniel.
"Pantas saja kalian berdua begitu lama" ucap Wulan menyilangkan kedua tangannya setelah ia tiba di sebelah sang Kakak.
"Apa yang terjadi nak?, kenapa kamu harus sampai mengeluarkan energi sebesar ini?" tanya Leo terkejut.
"Baguslah kalau kalian juga berada di sini" jawab Daniel tersenyum sinis namun kakinya masih menginjak kepala Betran yang merupakan salah satu petinggi di kelompok Harimau Berdarah itu.
"Siapa orang ini Kak?" tanya Kevin penasaran.
"Iya, kenapa orang-orang ini pada bergeletakan di lantai?" sambung Fauzi bertanya.
"Mereka adalah sisa-sisa sampah dari Harimau Berdarah yang sedang berkeliaran di sini" jawab Daniel menjelaskan.
"Apa?!, Harimau Berdarah?" tanya Fauzi terkejut, dan di anggukan oleh Daniel.
Lalu Fauzi berjalan menghampiri salah satu dari pria yang sudah terkapar di lantai kantin itu. Kemudian tanpa berkata apa-apa, ia langsung menendang salah satu dari mereka dan membuat pria itu menjerit tak berdaya.
"ARKKKHHHH!!" teriak pria yang baru saja di tendang oleh Fauzi.
"Mereka jugalah yang membuat aku dan suamiku sampai terlalu lama di tempat ini" sambung Leny menjelaskan.
"Berani sekali kalian berbuat onar di sini!, sampai-sampai membuat mood Kakakku jelek!. Jika Moodnya sedang tidak bagus, Kamilah yang menjadi samsaknya!" ucap Fauzi geram dan terus menendangi pria yang ada di hadapannya.
"ARRRKHHHH!!" teriak pria itu lagi.
"Sudah, jangan di pukuli lagi. Jika mereka mati di sini, kita juga yang susah mencari kandang mereka nantinya" ucap Leo menasehati.
"Dan kamu Daniel. Sebaiknya kamu turunkan emosi kamu itu, jangan buang-buang energi yang begitu besar demi kronco-kronco ini" timpal Leo.
"Baik Ayah" jawab Daniel melepaskan kakinya dari Betran, lalu ia menghela nafasnya sembari menurunkan aura yang sudah ia keluarkan terlalu banyak.
"Bawa mereka ke tempat kita. Lalu akan aku perlihatkan apa itu yang namanya interogasi yang menyiksa" ucap Daniel membelakangi Betran yang sudah hampir pingsan.
"Hahaha, dengan senang hati" jawab Fauzi bersemangat karena mendapatkan mainan baru.
Setelah Betran dan para bawahannya sudah di angkut oleh saudaranya Daniel, mereka semua langsung pergi meninggalkan kantin yang semakin ramai itu karena keributan yang di buat oleh Daniel.
Saat Daniel melangkah melewati para kerumunan, terlihat dari wajah para pengunjung yang berada di tempat itu. Ekspresi wajah yang menggambarkan penuh rasa takut akan yang terjadi pada mereka setelah Daniel menghajar orang-orang yang selama ini menindas mereka.
Daniel yang tengah merangkul sang istri langsung menghentikan langkahnya. Kemudian ia berkata pada para pengunjung yang sedari tadi terus memasang wajah takut itu.
"A...anu... Ka...kamu Leny Wijaya kan?" tanya salah satu wanita dari pengunjung yang berada di sana.
"Iya, aku Leny" jawab Leny tersenyum sambil memegang pundak wanita yang terlihat gugup itu.
"Aku tidak menyangka kalau Kakak adalah istri dari pria tampan dan hebat itu" ucap wanita itu tersenyum bahagia karena bisa bertemu dengan idolanya.
"Aku juga kagum dengan keberanian anda dalam menghadapi orang-orang seperti mereka, yang jelas-jelas memiliki kekuatan untuk menindas kota ini" sambungnya semakin kagum.
"Sudah seharusnya kita melawan orang-orang yang selalu meresahkan masyarakat yang lainnya. Jika kita hanya diam dan membiarkan mereka begitu saja, nanti lama kelamaan mereka akan menjadi semakin besar kepala karena tidak adanya yang berani menegur serta menentang mereka" jawab Leny tersenyum.
"Bagaimana caranya kami ingin melawan?. Mereka semua bukan orang sembarangan, sedangkan kami hanya manusia lemah yang hanya bisa menuruti mereka saja" tanya salah satu dari pengunjung yang lainnya.
"Sudah hampir setengah tahun orang-orang dari Harimau Berdarah itu berbuat seenaknya di kota ini. Mereka adalah orang yang tidak memiliki hati nurani, dan bahkan tega menculik anak-anak serta menyiksa para wanita" sambung pengunjung lain.
"Tapi kali ini kami sangat bersyukur karena akhirnya ada orang yang berani menentang mereka, bahkan bisa memberi pelajaran pada orang-orang yang selama ini meresahkan kota ini" timpalnya.
"Iya, bener" sambung para orang-orang yang selama ini harus menahan dendam pada kelompok Harimau Berdarah atas perbuatan mereka selama ini.
"Apa kalian dengar itu sampah!. Seluruh warga di Ibukota ini sama sekali tidak menginginkan kalian berada di sini!" ucap Fauzi geram sambil mencengkram lengan pria yang tengah ia pegangin ke arah belakang.
"Berani-beraninya kalian kabur dari Jepang dan ingin menjajah Negera ini!. Bersiap-siaplah untuk musnah!" sambung Fauzi mengancam.
"Jika saja aku tidak membiarkan beberapa dari kalian kabur dari peperangan besar 8 tahun yang lalu, mungkin tidak akan ada lagi permasalahan ini" ucap Daniel menatap dingin ke arah Betran.
"Sia-sia aku memberikan kesempatan untuk kalian. Berharap kalian bisa berubah menjadi lebih baik, ternyata kesempatan yang sudah aku berikan malah kalian jadikan menjadi sampai sejauh ini!. Mungkin sudah saatnya untuk Harimau Berdarah lenyap tak tersisa" timpal Daniel menatap dingin ke arah Betran, hingga membuat pria itu semakin ketakutan.
"Kali ini tidak ada satupun dari kalian yang bisa lolos dari kami lagi. Kalian sudah terlalu meresahkan warga yang tinggal dengan damai di kota ini!" ucap Fauzi.
"Musnahkan Harimau Berdarah!" teriak para pengunjung yang sudah emosi pada kelompok tersebut.
"Bawa mereka ke tempat kita!. Jangan biarkan mereka mati di sini" ucap Daniel memerintah. Lalu ia berjalan terlebih dahulu bersama sang istri menuju ke luar.
"Oh tidak!!!!, sarapanku yang berharga!!!" ucap Leny penuh dramatis sambil melihat ke arah kantin itu dari arah luar.
"Maafin Ayah ya Honey" ucap Daniel sambil mengelus kepala Leny yang tengah cemberut sambil terus menatap ke arah kantin tersebut dari depan pintu.
Setibanya Fauzi dan yang lainnya di luar, Leny langsung berjalan menghampiri orang-orang yang tengah di tahan oleh sang Adik. Dengan tatapan penuh emosi, Leny langsung memukul kepala Betran karena sudah mengacaukan waktu sarapannya.
"Dasar sampah tidak berguna!. Gara-gara kalian aku jadi tidak bisa menikmati makanan itu!" ucap Leny penuh emosi.